Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 95


__ADS_3

"Aku tanya sekali lagi, apa kau hamil?!!!" sentak Sagara marah. Ia mencengkeram dengan kuat tubuh kembarannya itu.


Juni menunduk, tak sanggup menatap saudara kembarnya itu.


Meskipun ia berusaha berbohong, ia yakin Sagara akan menyadari kebohongannya itu. Namun jika ia mengungkapkan yang sesungguhnya, itu pasti akan sampai pada orangtuanya. Dan pasti akan menyakiti mereka juga.


"Katakan!!!!" bentak Sagara marah. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi! Bagaimana mungkin saudaranya bisa hamil, padahal ia sudah bercerai dari suaminya? Apa ini anak Eric atau anak Abraham atau mungkin anak orang lain?!


Sagara dipenuhi oleh beragam pertanyaan yang membingungkan!! Ia ingin mendengar jawabannya segera!!!


"Pergilah!" ucap Juni pada akhirnya. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Sehingga hanya berusaha mengusir Sagara. Suara Juni bergetar, menandakan bahwa ia tengah tertekan.


Sagara menghela nafas. Berusaha meredam gejolak di hatinya yang membuncah.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakan yang sebenarnya padaku!" Sagara yang awalnya sudah bangkit dari duduknya itu, kembali melemparkan tubuhnya ke sofa. Ia bertekad tak akan bangun dari sana sebelum mendengar penjelasan dari Juni.


"Kau dan aku, kita saudara!" ujar Sagara kemudian. "Papa dan mama juga, mereka adalah orangtua kita. Mereka berhak tahu atas apa yang terjadi padamu!"


"Walaupun sulit, tapi lebih baik kau mengatakannya pada kami! Kami tak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi!!" sambung Sagara.


Meski Sagara adalah pria yang ceroboh, keras kepala dan egois. Tapi jika itu menyangkut orang-orang yang ia cintai, ia akan membelanya bahkan hingga titik darah terakhirnya.


"Kau tidak perlu takut!" bujuk Sagara lagi. "Katakan saja padaku!"


Sementara Sagara tengah menunggu penjelasan dari saudara kembarnya, di tempat lain seseorang juga tengah meminta penjelasan akan hal yang sama pada Abraham.


Ialah Raka, dokter muda spesialis kanker yang tengah dilanda kegalauan.


Raka tak bisa fokus melaksanakan tugasnya. Ia terus terbayang-bayang oleh perkataan Dirga.


Disiksa oleh ribuan kemungkinan yang terjadi antara Abraham dan Juni, Raka akhirnya menemui Abraham di ruangannya.


Meski harus menerima kenyataan pahit dan berakhir dengan sakit hati, Raka bertekad untuk menemukan kebenaran.


"Aku tahu, aku tak berhak untuk menanyakan hal ini padamu!" Raka memulai, "Tapi apa benar Juni hamil?!"


Abraham yang masih kaget dengan kedatangan Raka ke dalam ruangannya, kini tersentak mendengar pertanyaan sahabatnya itu.


Namun kemudian, Abraham menjawabnya dengan anggukan singkat.


"Benar" sahut Abraham.


Netra Raka membulat. Walaupun sudah menduga sebelumnya, tapi mendengar langsung kenyataannya membuat Raka syock berat. Sesungguhnya di relung hatinya yang terdalam, ia menyimpan harapan bahwa Dirga hanya salah paham.


"Tunggu!" seru Raka saat melihat Abraham akan mengatakan sesuatu lagi. "Tunggu! Aku masih berusaha untuk menerima ini!"

__ADS_1


Abraham yang ingin menjelaskan kebenaran diantara dirinya dan Juni, akhirnya terdiam. Ia membiarkan sahabatnya itu untuk menenangkan diri.


Sejenak, Raka hanya terdiam. Menatap kosong pada ubin di bawah kakinya. Lalu setelah ia merasa lebih tenang, Raka melontarkan pertanyaan lain pada sahabatnya itu.


"Apa dia akan menikah?!"


"Iya!" sahut Abraham, "Dia akan menikah!!"


Dheg!!!


Kembali lagi Raka dihantam oleh kenyataan pahit yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Cintanya baru saja bersemi. Tapi ia malah harus menguburnya dalam-dalam sekarang?!! Kenapa nasibnya miris sekali?!


"Apa calon suaminya adalah dirimu?!" tanya Raka lagi. Kali ini Raka sangat berharap bahwa kata yang muncul dari mulut Abraham adalah kata lain selain 'iya'.


Namun harapannya sirna saat Abraham mengangguk, dan berkata, "Iya, akulah yang akan menikahi Juni!"


Raka tertunduk lesu. Bagaimana ini bisa terjadi?! Dari sekian banyak orang, kenapa ia harus jatuh cinta pada Juni?!


"Dengar.. ini tidak seperti yang kau pikirkan!" ujar Abraham. "Aku akan menjelaskannya padamu!"


"Aku mengerti!" sahut Raka kemudian. Bibirnya mengungkap kalau ia mengerti. Tapi hatinya tidak!!


"Apa kalian saling mencintai?!" tanya Raka kemudian. Kali ini Raka tak mau berharap. Ia takut akan menahan perih saat mendengar jawaban Abraham lagi.


"Tidak!" sahut Abraham jujur, "Kau tahu kan orang yang aku cintai adalah istriku!"


"Lalu bagaimana dengan Juni?!" penasaran, Raka bertanya "Apa dia mencintaimu?!"


"Mana mungkin.. dia hanya menganggapku sebagai suami dari sahabatnya!!" aku Abraham terus terang, "Tak lebih dan tak kurang!"


Mendengar ucapan Abraham itu, entah kenapa secercah harapan muncul di hati Raka. Ia merasa sedikit lega. Ternyata mereka menikah bukan karena cinta atau perselingkuhan.


Pikiran mengenai perselingkuhan diantara keduanya, juga sempat melintas di benak Raka. Untungnya itu tak seperti yang ia bayangkan.


"Lalu kenapa kalian menikah jika tak saling mencintai?!" tanya Raka kemudian.


"Kau tahu, pernikahan tak melulu soal cinta!" ujar Abraham, "Ada sebuah situasi yang mengharuskan kami untuk menikah! Dan lagi, pernikahan kami juga adalah permintaan terakhir istriku!"


"Permintaan terakhir istrimu?!" Raka terkejut. Ia tak pernah mengetahui hal itu.


"Istriku... dia merasa kasihan padaku dan juga Brandon. Ia tak mau meninggalkan kami sendirian, sehingga ia memilih pendamping untukku sebelum dia meninggal!" tutur Abraham, "Dan wanita yang ia pilih untuk menjadi istriku, adalah Juni!"


Raka terkesiap. "Aku tidak tahu ada hal semacam itu!"


"Aku tak menceritakannya padamu karena aku ragu akan permintaan terakhir istriku itu!" ungkap Abraham, "Namun karena sebuah situasi... kami memutuskan untuk menikah!"

__ADS_1


"Jika kalian menikah karena Juni hamil, aku.. biarkan aku yang melakukannya!" ujar Raka, "Jika kau hanya kasihan pada Juni dan menikahinya karena simpati, biar aku yang menikahinya!"


"Ketimbang dirimu yang tak mencintainya, bukankah lebih baik ia menikahi diriku yang mencintainya?!" ucap Raka kemudian.


Entah darimana pikiran itu terlintas, namun Raka dengan yakin mengungkapkannya.


"Aku tidak peduli siapa ayah dari anak itu! Tapi aku berjanji akan mencintai anak itu sepenuh hati seperti anakku sendiri!" sambung Raka.


****


Thomas yang tengah makan siang di kantin dan berusaha berbaur dengan para karyawan 'Cleve', mengernyit mendengar desas-desus aneh mengenai Yoshi yang tertarik pada cucu menantunya.


"Apa yang mereka bicarakan?!" ujar Thomas bingung.


"Ada rumor yang beredar mengenai Yoshi yang tertarik pada nyonya, tuan!" ujar Illyas menjelaskan.


"Rumor macam apa itu?!" Thomas tidak percaya. Ia tahu, Yoshi itu sebelas dua belas dengan cucunya. Tak begitu tertarik pada wanita!!


Thomas mengabaikan pikirannya. Ia hendak kembali menikmati makanannya. Tapi saat ia berusaha melahap ikan tuna ke dalam mulutnya, pikiran Thomas kembali dihinggapi oleh rumor itu lagi. Apalagi kasak-kusuk di meja sebelahnya, terdengar semakin seru.


"Iya, dia bahkan memuji kecantikan nyonya. Berkata bahwa nyonya adalah gadis cantik dengan bibir yang penuh. Nyonya Nawang katanya sangat sensual dan se ksi!" ucap salah seorang gadis dengan semangat.


"Apa?!" dua gadis lainnya yang duduk di seberangnya ternganga lebar, "Kau serius?!"


Gadis yang menjadi biang gosip itu mengangguk antusias, lalu berkata dengan yakin. "Aku mendengarnya sendiri! Saat Sahna bertanya padanya tipe kesukaan Yoshi seperti apa. Ia mengungkap dengan yakin bahwa orang itu adalah nyonya. Dia bahkan memuji tubuh nyonya yang indah dan kulitnya yang putih bak pualam!"


"Bruushhhh!!!"


Illyas yang juga ikut mendengarnya, tersedak dan dengan sukses menyemburkan air yang hendak ia minum.


"Apa?!" geram Thomas. Dengan mata merah khas orang yang marah. Ia berucap pada Illyas.


"Bawa Yoshi keruanganku, segera!!"


Sementara itu Yoshi yang tengah dirumorkan, sedang sibuk menyiapkan peluncuran produk baru.


Ia tidak tahu bahwa ucapan asalnya itu akan menjadi malapetaka yang mencoreng namanya.


"Asisten Yoshi!" seru salah seorang tim perencanaan. "Ada yang mencari anda!"


Melihat dari jauh sosok tegap Illyas yang tengah menatapnya tajam, perasaan tidak enak langsung menyerangnya. Ia tahu ada yang tidak beres. Illyas adalah pertanda tuan Thomas yang berarti adalah pengawas.


Jika sang pengawas mencarinya, apa lagi yang terjadi selain kesalahan dan kesalahan!!


"Ada apa?!" tanya Yoshi was-was.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Yoshi, Illyas berkata, "Ikut aku!"


__ADS_2