
Meskipun tidak diletakkan secara sejajar, Nawang dapat mengenali bahwa dua benda itu adalah serupa. Namun dengan melakukan hal itu, Cleve seolah-olah menunjukkan padanya bahwa benda itu memang merupakan benda yang sama.
Smartphone hitam yang ia pikir milik istri Cleve itu, terlihat sama dengan benda yang diambil Cleve dari laci mejanya.
"Ini milik istri saya" ujar Cleve kemudian.
Sebuah perasaan aneh yang menyakitkan menyerang Nawang. Tiba-tiba panas menyerbu matanya. Seperti ombak yang menghantam pantai, gelombang air mata siap melesak keluar dari sudut matanya.
Namun dengan sekuat tenaga, Nawang berusaha menelannya. Ia gigit bibirnya kuat-kuat. Takut isak tangis keluar dari sana.
Cleve yang melihat Nawang bertarung dengan emosinya, hanya diam dengan tenang seolah-olah tidak ada yang terjadi di depannya.
"Saya sudah mengkonfirmasi sebelumnya. Yang ini adalah milik istri saya, jadi tidak mungkin tertukar!" Ucap Cleve lagi.
Kata-kata Cleve yang merujuk 'yang ini' entah kenapa membuat Nawang berfikir bahwa yang dibawanya adalah milik Sagara.
Sejak fakta bahwa Sagara tidak sendirian di mobil itu terungkap, Nawang tahu ada sesuatu yang tidak beres pada tunangannya. Nawang menyadari ada sebuah rahasia yang tidak ia ketahui, yang disimpan Sagara darinya.
Namun Nawang membohongi dirinya. Ia ingin mempercayai bahwa apa yang ia pikirkan salah!!
"Tidak...." Air mata yang ditahannya kemudian tumpah. Tangis yang ia telan pun pecah. Ia tidak sanggup lagi dan menangis tersedu di depan Cleve. "Tidak mungkin!!"
Saat tangis Nawang semakin kencang, suara teriakan seorang wanita dari balik pintu memekakkan telinga.
"Cleve!! Biarkan aku masuk!!" Teriaknya.
Cleve yang sedari tadi hanya diam, bangkit dari duduknya kemudian membuka pintu ruangannya.
Seorang wanita cantik berpakaian modis masuk dengan garang. Wajahnya terlihat sedikit pucat, namun make up tebalnya berhasil menutupinya.
Ia langsung melontarkan makian saat melihat wajah Cleve di depannya.
"Si*lan!! Kembalikan ponselku!! Kau tidak berhak mengambil apa yang bukan milikmu!!" Geram wanita itu ganas. Ia menunjuk-nunjuk Cleve dengan tangannya.
Cleve hanya diam, tidak berkata apapun dan membiarkan wanita itu masuk. Namun saat ia melihat seorang gadis lain tengah menangis di ruangan itu. Ia tersentak.
Bukannya kaget karena ada seorang gadis menangis di kantor suaminya, Lalita terhenyak karena mengenali siapa gadis itu.
'Nawang Anjani'
Nama yang membuatnya iri selama setahunan ini.
Nawang yang kaget melihat kemunculan wanita itu pun berdiri tanpa sadar. Ia mengusap kasar air mata di pipinya kemudian mengucap pamit pada Cleve seadanya.
__ADS_1
Dengan hati yang kacau balau, Nawang berlari meninggalkan gedung perusahaan Cleve yang megah.
****
Rumor demi rumor bermunculan di perusahaan. Rani dan rekan-rekannya semakin cemas setiap kali rumor baru muncul.
Ketidak hadiran Sagara beberapa hari di kantor mengundang tanda tanya besar bagi karyawannya.
Di tengah peluncuran produk baru yang amat sangat penting, bagaimana bisa seorang pimpinan perusahaan menghilang tanpa kabar?!
Tentu saja spekulasi-spekulasi aneh muncul.
Awalnya di hari pertama Sagara absen, orang-orang berfikir Sagara tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya. Namun kemudian Nawang yang merupakan calon pengantinnya, tidak pernah absen barang sehari pun. Membuat spekulasi lain bermunculan.
Apakah ada masalah pada rencana pernikahan mereka berdua?!
Ditambah lagi kondisi Nawang yang terlihat buruk belakangan ini, gosip-gosio miring mengenai pernikahan keduanya yang batal pun menyeruak.
Rani dan teman-temannya yang sangat mengkhawatirkan Nawang, merasa sangat penasaran. Mereka ingin membantu Nawang apapun masalahnya, namun mereka tidak memiliki keberanian untuk bertanya.
Takut menyinggung Nawang, mereka akhirnya hanya bisa diam dan menunggu Nawang untuk mengungkapkan masalahnya.
Walaupun mereka merasa tidak nyaman mendengar gosip-gosip aneh yang muncul di kalangan para karyawan mengenai Nawang dan Sagara.
Agung mengetahui hal itu dengan baik, sehingga ia memilih untuk segera mengumumkan keadaan Sagara pada karyawannya.
Sebelumnya Agung tidak sempat melakukannya karena masih sibuk mengurus keadaan kedua anaknya yang kritis. Namun sekarang saat keadan Juni mulai membaik dan Sagara mulai stabil, Agung melakukannya.
Kabar yang langsung disampaikan oleh sang CEO, menggemparkan seluruh karyawan.
Cemoohan yang awalnya dilontarkan oleh sebagian orang untuk Sagara dan Nawang, berubah menjadi keprihatinan.
Rani dan kawan-kawannya terutama, merasa sangat sedih untuk Nawang.
Rani baru menyadari kemudian, sikap aneh Nawang tempo hari. Saat Nawang pergi dengan linglung, meninggalkan Rani seorang diri.
"Jangan-jangan hari itu..." Gumam Rani.
Sementara 'the last' dihebohkan dengan berita mengenai Sagara, Juni yang tengah di rawat di rumah sakit mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Keadaan Juni kian membaik, dokter menyarankan agar Juni mulai berjalan-jalan di sekitaran rumah sakit. Sehingga hari ini, ia berniat melakukan apa yang diperintahkan oleh sang dokter.
Namun ibunya yang mengaku pergi ke kantin untuk membeli air mineral, tidak kunjung kembali.
__ADS_1
Ini tidak terjadi sekali dua kali, sangat sering ibunya mengaku pergi ke kantin membeli sesuatu. Namun kembali tanpa membawa apapun dan dalam jangka waktu yang sangat lama.
Saat pertama kali itu terjadi, Juni sempat merasa cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada ibunya. Namun ternyata ibunya mengaku sempat bertemu dengan salah satu temannya di kantin rumah sakit, sehingga mengobrol dan lupa akan waktu.
Tapi anehnya itu terjadi terus menerus. Juni jadi curiga, tidak mungkin kan ibunya terus bertemu 'tanpa sengaja' dengan temannya?! Apa mungkin ibunya bertemu dengan temannya yang lain?!
Berniat mencari ibunya sembari jalan-jalan, Juni melangkahkan kakinya keluar kamar. Namun ia terganggu oleh kata-kata perawat yang keluar dari ruang sebelahnya.
Seorang perawat yang keluar dari ruangan sebelah mengobrol dengan temannya yang kebetulan ia temui di lorong.
Juni tidak berniat mengupingnya. Namun jarak mereka lumayan dekat dan arah yang mereka tuju sama, sehingga Juni mendengarnya tanpa sengaja.
"Gimana si ganteng, sudah siuman belum?!" Ujar salah seorang perawat.
"Belum! Kondisinya sih stabil tapi tidak ada peningkatan sama sekali. Ganteng begitu tapi malah koma!" Jawab perawat yang satunya.
"Eh, tahu gak.. dia kan sodaraan sama pasien di ruang sebelahnya itu!" Ujar perawat itu.
"Hah?! Sodaraan?! Sama yang mana?!" Perawat itu nampak terkejut.
"Itu tuh, pasien yang tempo hari dipindahkan dari RS. Harapan. Yang keracunan itu!"
Dheg!!
Jantung Juni seakan melompat, nendengar nama rumah sakit yang merawatnya sebelumnya.
Perasaan aneh menyelimutinya. Awalnya ia tidak berfikir sama sekali dengan kata-kata perawat itu. Ia hanya mendengarnya sambil lalu.
"Kasihan banget ibu itu, anaknya yang satu keracunan terus yang lainnya koma!" Ujar perawat tersebut.
"Tapi kok bisa kebetulan banget ya, keduanya bisa kena musibah bersamaan?!" Celetuk perawat itu.
"Maksud kamu?!"
"Katanya anaknya itu kembar, apa memang benar anak kembar itu punya sinergi satu sama lain ya?!" Tanggap temannya.
Anak kembar?! Keracunan?! Tiba-tiba firasat buruk menghantamnya. Fakta bahwa Sagara tidak pernah menjenguknya dan ibunya yang sering menghilang, juga kepindahannya ke rumah sakit ini.
Juni yang merasa bahwa ada yang tidak beres telah terjadi, berlari menuju ke ruangan yang bertepat di sebelahnya itu.
Dengan tangan gemetar ia berusaha membuka pintunya. Di dalam hati dia berdoa, semoga saja kecurigaannya salah.
Namun saat ia membuka pintu itu, ia melihat sosok yang mirib dengannya terbaring lemah di ranjang ditempeli dengan bermacam-macam alat. Di sebelahnya seorang wanita tua terduduk lesu sembari menangis.
__ADS_1
"Sagara!!!" Teriak Juni.