Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 96


__ADS_3

"Kau dipecat!!"


Yoshi terbelalak. Tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba saja tuannya mengumumkan pemecatan untuk Yoshi.


Masih linglung, Yoshi hanya menatap Thomas dengan bingung.


"Aku bilang, kau dipecat!!" ulang Thomas.


"Ya?!" Yoshi tersentak, kembali pada kenyataan. "Saya dipecat kenapa tuan?! Apa saya berbuat salah?!"


"Kau jatuh cinta pada cucu menantuku kan?!" tukas Thomas, "Kau dipecat!"


"Huh?!" Yoshi terperangah, "Tunggu tuan, apa maksudnya itu?!"


Thomas tidak menjawab, ia melirik Illyas sebagai gantinya.


Memahami maksud tuannya, Illyas buka suara kemudian menjelaskan.


"Ada rumor yang beredar bahwa kau jatuh cinta pada nyonya. Seorang gadis bersaksi, katanya kau mengungkap hal itu pada nona Sahna di parkiran!" tegas Illyas.


Barulah saat Illyas mengungkapnya, pikiran Yoshi terbuka. Ia tahu, kata-kata asalnya telah membuatnya terkena masalah.


"B-begini tuan.. Ini semua salah paham!" ujar Yoshi kemudian, "Nona Sahna meminta saya untuk menjadi asistennya. Dia menawarkan sejumlah uang yang cukup besar. Namun saya menolaknya!"


"Dia mengaku menyukai saya dan bertanya tipe ideal saya!" Yoshi berusaha menjelaskan. "Saya hanya mengungkapkan ciri-ciri yang berkebalikan dari nona Sahna. Saya tidak tahu kalau itu akan mengacu pada nyonya!"


"Sungguh tuan, saya tidak memiliki perasaan apapun pada nyonya!" ucap Yoshi kemudian.


Thomas terdiam. Memikirkan perkataan Yoshi dalam-dalam.


Jika dipikirkan lebih lanjut, memang benar. Nawang dan Sahna adalah dua orang yang sangat berkebalikan. Bisa saja seperti yang dikatakan Yoshi, ia hanya tanpa sengaja mengacu pada Nawang.


Lagipula Yoshi itu adalah anak yang memiliki sifat hampir mirib dengan Cleve. Tapi berbeda dengan Cleve yang memiliki trauma terhadap perempuan, Yoshi sepertinya lebih ke arah tidak peduli pada perempuan.


"Benar juga!" gumam Thomas kemudian.


Mendengar gumaman Thomas, Yoshi merasa sedikit lega. Ia yakin Thomas menyadari kebenarannya. Sehingga ia berusaha lebih baik lagi untuk membela diri.


"Saya tidak menyukai nyonya tuan! Sedikitpun tak ada ketertarikan di hati saya untuk nyonya!" ujar Yoshi meyakinkan tuannya lagi.


Namun bukannya tambah yakin, Thomas malah bertambah murka.

__ADS_1


"Apa maksudmu?! Apa kau berkata bahwa cucu menantuku itu tidak menarik?!" tukas Thomas. Bagaimana bisa si Yoshi mengatakan tak memiliki ketertarikan pada Nawang?! Cucu menantunya itu sangat cantik. Makanya cucunya yang seperti kayu kaku itu bisa jatuh cinta. "Apa maksudmu cucuku tak bisa memilih perempuan?!"


Mendengar tuduhan absurd yang muncul tiba-tiba dari tuannya, Yoshi tergidik seketika.


"Mak-maksud saya bukan begitu tuan!!" keringat dingin mengucur di seluruh tubuh Yoshi. Ini adalah kali pertama baginya, merasa takut dan putus asa secara bersamaan, selama bekerja di bawah 'Cleve'.


"Ti-tidak ada yang bisa menyangkal pesona nyonya, tuan! Namun saya sadar diri, tuan. Untuk nyonya yang begitu luar biasa, saya yang rendah ini bukanlah apa-apa! Sehingga apalagi untuk tertarik pada nyonya, memiliki rasa kagum pada nyonya saja saya tidak pantas!" Sambung Yoshi, "Bukannya maksud saya, nyonya yang tidak menarik tuan! Tapi sayalah yang tidak pantas! Saya, tuan!!"


Mendengar tutur panjang lebar Yoshi di hadapannya. Thomas manggut-manggut.


Yoshi yang telah bermandikan peluh akhirnya menjadi lebih tenang.


"Baiklah!" ujar Thomas, "Sepertinya ini hanya salah paham!"


"Kalau begitu, kau tidak jadi dipecat!" sambung Thomas santai.


Kata-kata Thomas yang diucapkan dengan enteng itu, seolah-olah telah mengangkat beban yang sangat berat dari tubuh Yoshi. Ia seketika merasa lega.


"Terimakasih, tuan!" de sah Yoshi senang.


****


Ia menyerah pada kekeras kepalaan kembarannya itu. Juni yakin Sagara tak akan pergi meski apapun yang terjadi. Juni paling tau tabiat saudaranya itu.


Sehingga mau tak mau, Juni menjelaskannya juga.


"Aku hamil... "ujar Juni jujur, "Aku hamil anak Abraham!"


Sagara terbelalak, ia terkejut luar biasa.


'Anak Abraham?! Bukan anak Eric?!' batin Sagara bingung. Ia pikir anak di dalam kandungan Juni adalah anak Eric.


Ia pernah mendengar kejadian seperti itu, dimana seorang istri, baru menyadari bahwa dirinya hamil setelah bercerai dari suaminya.


Itu hal yang mungkin saja terjadi!! Jika memang begitu, Juni tak perlu menikahi siapapun. Semua orang akan menerima anak itu dengan baik.


Tapi apa yang Juni katakan ini?! Anak Abraham?! Bagaimana mungkin!!?


"Bagaimana bisa kau mengandung anak Abraham?! Apa kalian berse lingkuh?!!" sentak Sagara garang.


Juni mendelik, "Jangan sembarangan kau, Sagara!!!!"

__ADS_1


"Aku tidak sama sepertimu!!" geram Juni berujar, "Abraham juga bukan pria yang tak setia!! Ia sangat mencintai Odelia!!"


"Huh!" Sagara mencibir. Emosinya terpancing karena Juni menyebutnya selayaknya orang yang begitu rendah, "Jika memang dia begitu suci, kenapa kau bisa hamil dibuatnya?!"


Juni menghela nafas berat. Ia ingin sekali mengurungkan niat untuk mengatakan yang sebenarnya pada Sagara. Namun jika ia melakukannya sekarang, akan ada kesalah pahaman yang lebih besar lagi nanti!!


Dengan berat hati, Juni menceritakan apa yang terjadi padanya dan Abraham. Mulai dari teror yang dilakukan oleh mantan kekasih Abraham, hingga Juni yang berusaha menyelamatkan Abraham, serta insiden di kamar mandi itu.


Seketika Sagara murka mendengar Abraham telah meno dai saudaranya.


"Breng sek Abraham!!" geram Sagara marah. Ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Ingin rasanya ia menghantam wajah Abraham sekarang juga.


"Ini bukan kesalahan Abraham semata, Sagara!" ujar Juni lembut, "Aku juga bersalah disini!!"


"Seandainya saja aku tidak membawanya masuk ke apartemenku, seandainya saja aku langsung mengantarnya ke rumah sakit!" sesal Juni, "Hal ini tak akan pernah terjadi!"


"Bagaimanapun papa dan mama harus mengetahui hal ini!!" ujar Sagara tiba-tiba.


Mendengar ucapan Sagara, Juni terkesiap. "Kau sudah berjanji tak akan mengatakannya pada mereka tadi!!!"


"Tapi ini sudah bukan hal biasa! Perbuatan Abraham itu kriminal, Juni!!" sentak Sagara. Baginya apa yang telah Abraham lakukan adalah perbuatan kriminal. Apapun alasannya, pria itu telah mele cehkan Juni. "Kita harus melaporkannya ke polisi!"


"Tidak!!" Juni berteriak, "Dia melakukannya tidak dengan sengaja!!! Dia tidak sadar dan dalam pengaruh obat! Itu bukan keinginannya. Dia tidak pantas dihukum untuk itu!!"


"Kenapa tidak pantas?!!" Sagara masih kekeuh, "Sengaja ataupun tidak, fakta bahwa kau dile cehkan tetaplah ada! Kau tetap mengalami Keke rasan se ksual!! Hal itu tidak berubah meski ia melakukannya tanpa keinginannya sendiri!"


Juni memalingkan wajahnya, buliran bening luruh di sudut matanya. Kata-kata Sagara menghantamnya. Kebenaranya memang, hal yang dilakukan oleh Abraham adalah keke rasan se ksual dan layak untuk dipolisikan.


Tapi tetap saja, bagi Juni itu terlalu berlebihan!


"Abraham sudah minta maaf dan dia juga mau bertanggung jawab, jadi itu sudah bukan masalah lagi sekarang!" Berusaha membuat saudaranya memahami pilihannya, Juni terus berujar, "Tidak ada manusia yang sempurna Sagara, begitu juga dengan Abraham. Diriku dan Kamu!"


"Jika semua tindak kejahatan bisa dimaafkan hanya dengan sebuah permintaan maaf, maka tidak akan ada satupun tahanan di penjara, Juni!!!" ujar Sagara. "Aku akan mengatakannya pada papa dan mama!"


"Sagara!!" Juni kehabisan kesabaran. Ia berteriak dengan garang. Namun kemudian ia merasa perutnya nyeri. Ia merintih memegangi perutnya dengan kuat.


Sagara yang masih trauma dengan apa yang terjadi pada bayinya, segera bereaksi dan menghampiri Juni.


"Kau tidak apa-apa?!" tanya Sagara berubah lembut, "Ayo, aku antar ke rumah sakit!"


Juni menggeleng, "Tolonglah, coba mengerti pilihanku, Sagara! Aku sudah memutuskan! Aku akan menikah dengan Abraham!"

__ADS_1


__ADS_2