Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 56


__ADS_3

Garang, Lalita berteriak "Keluar kau, Cleve!!!"


Seketika, saat pintu terbuka, Lalita telah bersiap untuk menampar pria itu. Namun yang muncul di depannya bukanlah Cleve, tapi seorang pria asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Bersama dengan seorang perempuan yang juga tak ia kenal, pria itu bertanya dengan heran.


"Apa yang anda lakukan?!!" geram pria itu.


Lalita membeku, ia tak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri mematung sembari menatap pria itu.


"Siapa itu, pa?!" wanita itu bertanya sembari menghampiri pria itu.


"Mantan istri bosku!" sahut pria itu kemudian.


Mendengar kata-kata pria itu, Lalita kemudian berujar, "Siapa anda?! Kenapa anda melakukan tindakan tidak sen*n*h di kantor?!"


"Saya direktur keuangan 'Cleve' nama saya Rian!!" sahut pria itu, "Dan itu adalah Saritha, istri saya! Saya minta maaf jika telah melakukan hal yang kurang berkenan!"


Rian memang melakukan kesalahan, ia dan istrinya adalah pengantin baru. Sehingga hubungan mereka sedang panas-panasnya. Ia kalap, dan dengan beraninya menc*um istrinya tadi. Namun mereka tak melakukan tindakan lain selain itu.


"Ah.. ma-maaf!" ujar Lalita gagap. lalu tanpa mengatakan apapun, ia langsung berlari. Kabur dari situasi.


Rian mengernyit. Ia geleng-geleng kepala melihat tingkah polah mantan istri dari bosnya itu.


Cerita mengenai tingkah ganas Lalita sudah menjadi rahasia umum di perusahaan. Namun baru kali ini ia melihatnya. Ia bersyukur bosnya telah bercerai dari wanita itu.


"Kenapa dia tiba-tiba menggila seperti itu?!" tanya Saritha.


"Dia memang agak gila!!!" ujar Rian, "Tapi sepertinya dia berpikir, aku adalah mantan suaminya!"


Saritha mengernyit, ia tidak mengerti maksud suaminya. "Apa maksud papa?!"


"Mobilku mirib dengan mobil Porsche tuan 'Cleve', dia pasti mengira aku mantan suaminya yang berc*MB* dengan wanita lain!" duga Rian.


Mobil yang dikendarai Rian bukanlah Porsche seperti milik Cleve, itu hanyalah mobil yang serupa. Mungkin karena gelap, Lalita tak menyadarinya.


"Tapi kenapa dia marah?! Toh mereka sudah berpisah!!" celetuk Saritha, "Tidak ada hubungannya, mau mantan suaminya itu menikah lagi atau berkencan dengan perempuan lain kan?!"


Rian mengedikkan bahunya, kemudian mengajak istrinya untuk pergi.


Sementara itu, Lalita yang tengah malu bukan kepalang karena salah mengenali orang. Bergegas menuju ke kantor Cleve. Namun aksesnya diblokir.

__ADS_1


Jalan menuju ruangan Cleve diblokir segera setelah ia pergi. Tak ada satu orang pun yang boleh masuk. Itu berarti Cleve tak ada di kantor.


"Ha..." Lalita menghela nafas lega. "Bodohnya aku!!"


Meski ia merasa malu, ia sebenarnya lega. Ia senang karena orang itu bukan Cleve. Hatinya terjun bebas saat memikirkan Cleve tengah Berg*l*t dengan wanita lain di depannya.


Ia sepertinya akan menggila, jika memang benar Cleve dan Nawang memiliki hubungan.


Namun kelegaan Lalita itu sia-sia belaka. Karena di tempat lain, hal yang ia pikirkan benar-benar terjadi.


****


Abraham segera bergegas menuju ke rumah Juni, saat menerima kabar bahwa Brandon mengalami demam.


Memang bukan hal yang aneh jika anak kecil seusia Brandon, mengalami sakit seperti flu atau demam. Itu adalah hal yang wajar. Namun bagi Juni, ini tentu membuatnya panik. Karena anak itu adalah titipan sahabatnya. Ia takut melakukan sesuatu, jika tak seijin sahabatnya itu.


"Kamu sudah memberinya obat?!" tanya Abraham setelah bertemu dengan Juni.


"Aku hanya mengompresnya! Aku tidak tahu obat apa yang biasa dikonsumsi Brandon!" ujar Juni. "Aku takut Brandon punya alergi!"


Odelia memiliki beberapa alergi terhadap obat, Juni takut jika Brandon juga memiliki alergi yang serupa. Sehingga ia menahan diri untuk memberinya obat-obatan sembarangan.


"Bagus! Dia memang memiliki alergi terhadap obat tertentu, sama seperti ibunya!" sahut Abraham. ia kemudian menyerahkan beberapa botol sirup yang biasa dikonsumsi Brandon.


Melihat hal itu, Abraham teringat dengan ucapan istrinya yang ia dengar tak sengaja.


Meskipun dirinya tak butuh siapapun!! Tapi Brandon berbeda.


Walaupun Abraham yakin bisa melimpahkan banyak cinta untuk Brandon kelak, tapi Abraham yakin bahwa ia tak bisa menggantikan sosok seorang ibu untuk anaknya.


'Apakah itu pilihan yang tepat?!' batin Abraham. Ia menatap Juni dalam diam.


Kata-kata Odelia yang ia dengar kembali menggema di benaknya.


'Permintaan terakhir!!'


Abraham merasa pilu. Seolah-olah yakin, Odelia mengatakan keinginannya yang terakhir kali. Melebihi dirinya sendiri, Odelia malah memikirkan Abraham dan anaknya yang akan ia tinggal pergi.


Betapa Odelia sangat mencintai dirinya dan Brandon?!

__ADS_1


Saat Abraham tercenung, Juni menyadari guratan kesedihan yang terlintas di wajah Abraham. Ia memahami rasa sakit pria itu. Pikirannya mengenai Abraham yang telah berselingkuh, luruh seketika.


"Kamu tenang saja! Fokus saja menyembuhkan Odelia, aku akan menjaga Brandon disini!" ujar Juni.


Abraham mengangguk, lalu mengucapkan, "Terimakasih!" dengan tulus untuk Juni.


****


"Kau?!" Odelia tersenyum tipis saat mengenali wanita yang masuk ke dalam ruangannya.


Meski samar-samar, ia ingat bahwa wanita itu adalah Zeline. Mantan kekasih suaminya yang telah berselingkuh.


Abraham sempat mengungkapkan bahwa ia telah dipaksa oleh atasannya, untuk mengurusi suami dari mantan kekasihnya yang mengalami kanker.


Odelia tahu bahwa suaminya tengah sibuk dan tertekan selama sebulanan ini karena wanita itu.


"Aku pikir kau sedang tidur!" ucap Zeline dengan bibir yang mengerucut.


"Tidak.. aku punya firasat akan ada tamu yang datang!" ucap Odelia. Ia tak bisa tidur karena mendengar isak tangis suaminya di luar.


Untungnya itu terjadi. Jika tidak, ia pasti sudah tertidur dan tak akan menyadari kedatangan Zeline.


"Yah, sayang sekali!" des*h Zeline kemudian. "Aku dengar.. kau juga mengalami sakit yang serupa dengan suamiku! Suamiku sudah berpulang, dia akan dimakamkan besok pagi!"


"Kau kapan?!" sambungnya.


Odelia tersenyum, "Kenapa?! Apa kau sudah tidak sabar?!"


Odelia tahu, wanita itu memiliki maksud tertentu.


Kedatangannya yang ganjil ke ruangan istri dari mantan kekasihnya saja, sudah menjadi pertanda bahwa perempuan itu memiliki niat busuk.


"Cepatlah!" titah Zeline, "Apa kau tidak kasihan pada suamimu?!"


"Suamiku begitu pengertian. Dia tahu aku menderita akibat merawatnya siang dan malam, makanya ia berpulang dengan cepat!" sambung Zeline. Suaranya terdengar sedih, tapi bibirnya menyeringai lebar, "Kau bagaimana?! Apa kau bukan tipe istri yang pengertian?! Kau tidak kasihan dengan mas Abraham!?"


Odelia tidak menjawab, namun senyum tipis yang tersungging di bibirnya yang kering tak pernah sirna.


"Mas Abraham masih muda, ia tampan dan gagah. Sayang sekali jika ia harus terikat, oleh seorang istri yang penyakitan. Jika aku jadi kau, aku akan mati dengan ikhlas!" ucap Zeline kemudian, "Dia seharusnya bersama dengan perempuan yang sehat, yang bisa melayaninya dengan baik!!"

__ADS_1


"Kau tak perlu khawatir!" sahut Odelia, "Aku akan membantunya untuk mendapatkan perempuan sehat yang bisa melayaninya dengan baik!"


"Kau cukup urusi saja pemakaman suamimu itu!" pungkas Odelia.


__ADS_2