Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 53


__ADS_3

Thomas mengernyit, ia menatap cucunya yang bersenandung dengan heran. Ia pikir cucunya itu sedang tidak waras.


Biasanya bahkan untuk tersenyum saja Cleve enggan, tapi sekarang apa?! Dia bersenandung?! Sungguh tidak masuk diakal.


"Apa ada yang bagus?!" tanya Thomas kemudian.


Cleve mengangguk senang, "Aku sudah memastikannya kek! Aku memang menyukainya!"


"Oh!" ujar Thomas datar, ia sudah mengetahui perasaan cucunya itu dari ucapan Yoshi. Yoshi adalah orang yang cermat dan cerdas, ia peka jadi bisa memahami situasi dengan sangat baik.


Ia malah akan merasa aneh, jika Cleve sendiri tidak bisa memastikannya. Namun Thomas penasaran, apa yang Cleve lakukan untuk memastikan perasaannya."Bagaimana caramu memastikannya?!"


"Aku memintanya untuk menyentuhku!" sahut Cleve.


Thomas terbelalak, "Kau apa?!"


"Aku memintanya untuk menyentuhku!" ulang Cleve. "Awalnya aku bingung, aku suka menyentuhnya tapi aku tak suka disentuh olehnya. Aku pikir, aku hanya salah sangka terhadap perasaanku!"


"Tapi tadi aku memintanya untuk menyentuhku!" sambung Cleve, "Dan saat aku menyadari bahwa dialah orang yang menyentuhku, aku merasa senang. Tubuhku seperti terbakar! Sangat berbeda dengan disentuh oleh orang lain sebelumnya!"


"Hah?!T-tubuhmu terbakar?!" Thomas gelagapan mendengar ucapan blak-blakan cucunya. "B-baguslah kalau begitu!"


"Bagus?!"


Thomas mengangguk. Sepertinya keinginannya untuk menimang bayi dari Cleve akan terwujud sebentar lagi.


Ia sudah tidak sabar menemui gadis itu dan langsung meminangnya untuk cucunya.


Namun Thomas mengingat perkataan Yoshi. Bahwa gadis itu masih begitu terpukul dengan penghianatan tunangannya terdahulu. Pasti akan membutuhkan waktu sampai gadis itu membuka pintu hatinya kembali.


"Kau harus bersabar!" ujar Thomas menasehati cucunya. "Dia pasti masih terpukul oleh penghianatan tunangannya itu!"


Cleve terdiam. Ia juga memikirkan hal yang sama, bahwa Nawang sebenarnya masih mencintai Sagara. Gadis itu bahkan sangat terguncang, hanya dengan melihat undangan pernikahan mantan tunangannya itu.


"Apa yang harus aku lakukan, kakek?!" tanya Cleve kemudian. Ini adalah kali pertamanya Cleve jatuh hati pada perempuan, ia tidak tahu bagaimana cara mengejarnya.


"Jangan terlalu menunjukkan perasaanmu padanya untuk saat ini! Sepertinya dia gadis yang baik, jadi jangan terlalu tergesa-gesa. Itu akan membebaninya!" ucap Thomas kemudian, "Bersabarlah, berikan dia perhatian-perhatian kecil yang tak terlalu berlebihan!"


****

__ADS_1


Nawang tak bisa menghempaskan pikirannya dari kejadian tadi di ruangan Cleve. Sensasi yang ia rasakan saat bersentuhan dengan Cleve tak pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan ketika bersama dengan Sagara.


'Apa itu...?!' batin Nawang.


Meski samar-samar ia menyadari perasaan apa itu, namun Nawang terus menolaknya.


'Tidak mungkin! Tidak boleh!!' ia mendikte dirinya.


Ia menghela nafas panjang, sebelum berusaha membuka pintu ruangan.


Kini ia berada di rumah sakit, ia ingin menjenguk sahabatnya.


Namun ia terhenti oleh suara yang samar-samar di dengarnya.


Itu adalah suara Abraham dan juga dokter Raka, yang tengah mendiskusikan sesuatu dengan serius.


"Jadi apa keputusanmu?!" suara bariton berat terdengar, itu adalah suara milik dokter Raka.


"Aku akan tetap melakukan terapi!" ujar suara yang lebih rendah, itu milik Abraham.


"Tapi kau sudah memikirkan efek sampingnya kan?!" tanya Raka. "Kemungkinan infeksi yang akan diterimanya, bisa menyebabkan kematian!"


"Apa yang mereka bilang?!" gumam Nawang, 'Bukankah dokter Raka bilang, Odelia bisa disembuhkan?!"


Saat itu Raka hanya mengungkapkan akan melakukan upaya sebaik-baiknya. Tidak pernah menyebutkan akan kesembuhan. Namun Nawang telah salah paham dan mempercayai bahwa Odelia akan sembuh.


"Lalu aku harus apa?!" suara Abraham bergetar, sepertinya ia sangat tertekan, "Aku tidak sanggup melihatnya menahan rasa sakit!"


Odelia terbiasa menahan rasa sakitnya. Setelah kematian ayahnya, ibu Odelia mengalami gangguan kejiwaan. Setiap kali ia mengetahui ada yang sakit di sekitarnya. Ia akan panik dan menggila. Itulah sebabnya, Odelia tak pernah mengungkapkan jika ia merasa sakit. Ia cenderung menahannya seorang diri. Bahkan terhadap suaminya dan sahabat-sahabatnya, Odelia tak pernah mengungkapkan rasa sakitnya.


"Dia meringis di setiap tidurnya! Tapi setiap kali aku bertanya, dia selalu bilang tidak apa-apa!" ujar Abraham, "Jika aku bisa meringankan rasa sakitnya, aku rela mati untuknya!"


"Kau benar!" ucap Raka, "Kita harus berusaha meningkatkan kualitas hidupnya!!"


"Meskipun ada resikonya, tapi tingkat keberhasilannya masih ada kan?!" sambung Abraham kemudian. "Kita tinggal membuat tingkat keberhasilannya menjadi lebih tinggi! Aku akan melakukan apapun untuk membuat istriku bertahan hidup!"


Mendengar kata-kata Raka dan Abraham, Nawang kemudian memahami semuanya. Ternyata apa yang selama ini ia pikirkan salah! Yang dimaksud oleh dokter Raka bukanlah upaya untuk menyembuhkan Odelia, tapi upaya untuk membuat Odelia tetap bertahan hidup.


Hati Nawang seketika sakit!! Ia menangis tersedu sembari berlari menjauhi ruangan Odelia.

__ADS_1


Sementara itu, Juni yang tengah menimang-nimang Brandon dalam dekapannya, juga merasakan kepedihan yang sama dengan Nawang.


Setelah menidurkan Zoe, ia mengambil alih Brandon dari Indah.


Seolah-olah telah menunggu Juni untuk memeluknya, Brandon terkekeh saat Juni meraihnya. Senyumnya yang manis dan matanya yang bulat berbinar, sungguh persis dengan Odelia.


Melihat itu, hati Juni teriris.


'Bagaimana bisa dia meninggalkan bocah selucu ini begitu saja?!'


Juni benar-benar merasa pedih. Hatinya seolah teriris. Setiap kali memikirkan bahwa dalam waktu dekat, ia akan kehilangan sahabatnya. Ia tak akan bisa lagi melihat wajahnya, tak akan ada canda usilnya dan tak bisa memeluknya.


"Ha..." Juni menahan air matanya. Ia tak ingin menangis lagi hari ini. Namun rasa sesak di dadanya tak mau menghilang. Kepalanya pusing seperti dijejali sesuatu.


Juni mengingat kata-kata Odelia, yang mengungkapkan keinginannya untuk menitipkan suami dan anaknya pada Juni.


"Dasar konyol!!" keluh Juni. Air matanya akhirnya luruh.


Tak terbayangkan oleh Juni, perasaan Odelia saat mengatakan hal itu. Betapa putus asanya ia, yang berusaha menyerahkan orang yang sangat ia cintai pada orang lain. Sungguh, itu pasti sangat menyakitkan.


Namun Juni yang tak memahami hal itu, malah kabur meninggalkan Odelia karena begitu terpukul.


'Aku bodoh!' sesal Juni kemudian.


****


Dirga berlari secepat kilat menuju ke apartemen wanita itu. Berbeda dengan saat ditangani oleh Abraham, wanita itu jarang menghubungi Dirga. Sehingga tak ada perubahan dalam setiap jadwalnya setelah menerima tugas itu.


Namun hari ini, tiba-tiba wanita itu menghubunginya dan berkata bahwa ada sesuatu yang salah telah terjadi pada suaminya.


Dirga pun dengan tergesa berlari menuju ke apartemen wanita itu.


Saat Dirga datang, tubuh kurus Nicky sudah tak bergerak. Bahkan ia sudah tak terlihat bernafas. Saat Dirga mengeceknya, denyut nadi pria itu sudah tak terasa.


Namun Dirga tetap mengirimnya ke rumah sakit secepatnya.


Tapi seperti yang Dirga perkirakan, Nicky telah berpulang.


Zeline menangis dengan histeris di luar kamar jenazah, ia terduduk lesu sembari menatap ke dalam ruangan dimana tubuh suaminya terbujur kaku.

__ADS_1


Dengan kedua tangannya ia membekap wajahnya, menyembunyikan air mata dan senyum melengkung di bibirnya.


__ADS_2