
Mata seluruh tamu undangan tertuju pada pasangan sejoli yang berjalan beriringan.
Seolah mereka berasal dari dunia yang berbeda, mereka memancarkan aura misterius yang mampu menyedot seluruh perhatian.
Bagaikan sebuah lukisan, dua sejoli itu terlihat serasi satu sama lain.
Sang pria, sangat tampan dengan wajah yang bak pahatan. Matanya yang tajam menatap dengan angkuh, seolah-olah seluruh dunia ada di bawah kakinya. Namun segera, saat pandangannya teralih pada wanita di sampingnya, netranya melembut menyiratkan cinta.
Tak kalah dari sang pria, wanita dalam rengkuhannya juga sangat mempesona. Wajahnya sangat cantik, kulitnya putih bak pualam, gaun biru langit yang dikenakannya tak terlalu terbuka. Namun terlihat sangat s*ns*al. Mencetak seluruh lekuk tubuhnya yang sempurna.
Itu adalah Cleve dan juga Nawang. Kedatangan mereka, bagai sebuah bom yang meluluh lantakkan setiap perhatian orang-orang yang ada.
Bisikan demi bisikan, seruan demi seruan mencuat. Menjadi gema yang meledakkan suasana.
Bagaimana tidak, mantan tunangan dan mantan suami pengantin, datang bergandengan bersama.
Itu bak tayangan sinetron yang terjadi di dunia nyata. Setiap orang penasaran dengan ceritanya.
Tak terkecuali kedua pengantin yang berdiri di atas panggung.
Lalita mengernyit, matanya memicing menatap gaun yang dikenakan oleh Nawang. Itu warna biru!!!
Bagaimana pun ia melihatnya, warna itu adalah warna biru. Ia tahu, ia tak buta warna.
Seketika, obrolan dua sejoli yang di dengarnya tempo hari di butik kembali melayang ke benaknya. Amarahnya tiba-tiba membuncah. Ia merasa amat terhina. Berarti wanita yang dikecup Cleve dengan mesra disana adalah Nawang?!
Selama bertahun-tahun berumah tangga tak sekalipun Cleve mengecup atau merengkuhnya. Bahkan dalam acara formal dimana seharusnya Cleve memperlihatkan keharmonisan dengannya, Cleve tak pernah sedikitpun menyentuhnya.
Bagaimana bisa, sekarang Cleve merengkuh wanita itu dengan mesra. Bahkan di depan ribuan orang seperti ini!? Apakah ini semua mimpi?!
Tak jauh berbeda dari Lalita, Sagara juga merasakan hal yang sama. Ia terpesona oleh kecantikan mantan kekasihnya itu. Memang, Nawang sangatlah cantik. Itulah kenapa Sagara sangat menyukainya.
Namun Sagara seketika terganggu saat melihat tangan kekar yang merengkuh tubuh ramping Nawang. Sagara langsung berang, saat menyadari tangan itu adalah milik Cleve.
Ingin rasanya Sagara menerjang dan menghantam wajah Cleve, namun ia tak berdaya karena tangannya dicekal oleh Ayahnya.
Seolah memahami isi kepala putranya, Agung sudah bersiap saat melihat sepasang anak muda itu datang. Ia tahu putranya tak akan mampu menahan emosinya.
Berbeda dengan Agung yang fokus pada anaknya, Ria malah fokus menatap Nawang. Ia sangat senang dengan kehadiran Nawang.
Setelah apa yang terjadi tempo hari, Nawang menghilang bak di telan bumi. Padahal Ria sangat ingin berbicara dari hati ke hati dengannya.
"Nawang!" seru Ria, "Tante kira kamu tidak datang!"
__ADS_1
Nawang tersenyum, "Nawang pasti datang. Soalnya hari ini kan hari bahagia om dan tante!"
"Terimakasih! Tante sangat senang!" ucap Ria, air matanya menitik. Ia merengkuh Nawang dengan lembut. Rasa bersalah meluap di hatinya. "Maafkan Tante dan yang lainnya ya! Sudah membuat kamu kesulitan!"
Ria menangis kencang, tubuhnya gemetar. Hampir saja ia lunglai ke lantai, untung saja Nawang mencengkeram tubuhnya dan berbisik, "Tidak Tante! Ini hari bahagia, seharusnya Tante senang. Kita lupakan masa lalu dan mulai dengan yang baru!"
Ucapan Nawang memberi Ria kekuatan. Seolah Nawang sudah memaafkannya. Ria merasa beban rasa bersalah di hatinya berkurang.
"Terimakasih Nawang!" ucap Ria, "Semoga kelak kamu mendapatkan pasangan yang layak untuk kamu!"
"Terimakasih tante!" sahut Nawang. Ia melirik Cleve yang ada di sampingnya. Segera saat pandangan mereka beradu, senyum terbit di bibir Cleve.
Hampir sama seperti yang terjadi pada Ria, Agung juga menangis haru saat memeluk Nawang. Ia merasa sangat bersalah. Padahal Agung sudah berjanji pada mendiang ayah Nawang, akan menjaga Nawang dengan baik. Namun malah putranya sendiri yang menyakiti Nawang.
Rasanya, Agung sangat malu.
"Sudahlah om, semua sudah berlalu!" ucap Nawang kemudian.
Berbeda dari Nawang, Cleve yang menemui mantan mertuanya tak dipenuhi dengan tangis haru. Mereka malah saling melempar senyum palsu.
Seraya berjabat tangan, Cleve dan Haris saling berbisik. Dari jauh mereka terlihat sangat harmonis, namun yang mereka ucapkan bukanlah sapaan manis, melainkan ancaman sadis.
"Tetap diam dan saya juga akan diam!" ujar Cleve sembari menyunggingkan senyum bisnis.
"Tentu saja! Saya orang yang tepat janji!!" seru Haris.
"Selamat Presdir Sagara!!" Senyum mengembang di bibir Cleve, saat tangannya berjabatan dengan Sagara. Tak ada sedikit pun murka ataupun kebencian, malah senyum bahagia seolah-olah baru bertemu teman lama.
Namun berbanding terbalik dari gestur Cleve, Sagara terlihat sangat marah. Ia melotot dengan mata menyala-nyala hendak menyerang. Seperti petarung yang tengah berhadapan dengan lawannya. Ia menjabat tangan Cleve dengan erat, ia meremasnya hingga seluruh urat sarafnya keluar.
Tapi bukannya kesakitan, Cleve melakukan hal yang sama hingga Sagara merasa tangannya hampir remuk.
"Terimakasih, anda sudah memberi saya sekretaris dan kekasih yang cantik!" bisik Cleve, "Berhentilah bermimpi tentangnya, dia milik saya sekarang!!"
Mendengar kata-kata Cleve itu, Sagara berang. Ia sudah akan meninju Cleve tapi Nawang muncul dan menjabat tangannya. Seketika, ia membeku.
"Selamat, Sagara! Semoga kamu berbahagia!" ucap Nawang tulus. Ia mengucapkannya tanpa maksud buruk.
Semua kenangan, dari yang paling indah hingga saat terakhir yang paling menyakitkan. Terlintas di benak Nawang. Rasa sakit menghampiri hatinya sejenak. Namun itu segera menghilang, saat melihat Cleve yang menatapnya.
Senyum pria itu membuat Nawang merasa berdebar-debar. Nawang tak pernah mengira bahwa ia bisa jatuh cinta secepat ini.
"Nawang... " gumam Sagara, "Apa benar yang dia bilang?!"
__ADS_1
"Huh?!" Nawang bingung.
"Apa kau dan dia...kalian memiliki hubungan?!"
Nawang terkesiap. tapi kemudian ia mengangguk pelan.
Sagara terhenyak, ia tidak pernah menyangka akan ada hari seperti ini dalam hidupnya. Hatinya perih, memikirkan Nawang berhubungan dengan orang lain selain dirinya.
"A-apa.. kau mencintainya?!" tanya Sagara gagap.
Nawang tersentak saat mendengar pertanyaan tak terduga Sagara.
Awalnya Nawang agak bingung akan menjawabnya atau tidak. Namun kemudian Nawang mengangguk.
" Ya.. aku mencintainya!" ucap Nawang dengan wajah yang merona.
Kata-kata manis yang diucap Nawang itu, bagaikan pedang tajam yang merongrong hatinya. Sakit tak berdarah, Sagara termangu dalam diam.
Sebaliknya, Lalita yang sudah merasa gusar sejak awal. Berusaha untuk menenangkan hatinya. Ia tidak mau terlihat buruk di hari pernikahannya. Apalagi di depan mantan suaminya dan mantan tunangan suaminya yang baru.
Sementara itu, Cleve tengah menghadapi Lalita.
Wanita itu menatap Cleve dengan ujung matanya.
"Selamat Lalita!" Cleve menjabat tangan wanita itu, senyum tipis Cleve terbit. Ia merasa senang karena wanita di depannya itu sudah bukan istrinya lagi.
Melihat sikap Cleve, Lalita merasa geram. Namun ia berusaha menyunggingkan senyum termanisnya. Ia tidak mau terlihat masih menyimpan secuil rasa pun pada pria itu.
"Iya!" ujarnya singkat. Berusaha menahan gejolak perasaan di hatinya.
"Selamat ya, aku harap kalian bahagia!" ucap Nawang kemudian, ia menjulurkan tangannya hendak menyalami Lalita.
Lalita terdiam, melihat Nawang dengan tatapan menyelidik. Ia terpaku pada dress biru langit yang dikenakan gadis itu.
Sejak tadi, Lalita sudah menatapnya. Namun saat ia melihatnya di depan matanya sendiri. Hatinya seolah bergemuruh.
Seketika, kejadian di butik itu kembali terngiang di benaknya. Mengingat bagaimana dua sejoli itu memadu kasih di tempat umum, Lalita mendecih.
"Menjijikkan!" sindir Lalita.
Nawang terkesiap, suara Lalita memang pelan. Namun Nawang yang berada persis di depannya, bisa mendengarnya.
"Kau pikir kau hebat?!" oceh Lalita, "Cleve itu hanya mempermainkanmu! Dia akan mengabaikanmu segera, setelah puas menggunakanmu!!!"
__ADS_1
Mendengar ucapan Lalita, Nawang tersenyum tipis.
"Anda belum cukup mengenalnya, untuk menilainya secara sepihak!" ujar Lalita. "Cleve bukan pria seperti yang anda pikirkan!"