Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 77


__ADS_3

Membawa beberapa bungkusan di tangannya, Abraham berujar pada Indah, "Jangan bilang ini dari saya! Nanti dia tidak mau makan!"


"Bilang saja dari Nawang, ya!" pesan Abraham.


Indah mengangguk linglung. Semakin lama mengawasi tingkah Abraham, semakin curiga Indah dibuatnya.


Pria itu yang notabene suami dari sahabat majikannya, menatap Juni yang tertidur dengan sendu.


"Saya juga membeli yogurt!! Dia suka yogurt kan?!" ujar Abraham kemudian. Dia ingat, istrinya pernah mengatakan hal itu saat menceritakan sahabat-sahabatnya.


Indah mengangguk, "Kok tuan bisa tahu?!"


Majikannya itu memang sangat menyukai yogurt, sejak kecil Juni menyukainya. Seolah-olah itu makanan pokoknya. Dia tak akan merasa cukup jika tak makan yogurt dalam sehari.


Namun Abraham tidak menjawab, ia hanya tersenyum sebagai tanggapan.


"Saya pamit dulu ya!" ujar Abraham kemudian, "Saya titip Brandon! Tolong jaga dia dengan baik!"


Indah mengangguk polos. Meski ada begitu banyak pertanyaan di benaknya, ia menelannya bulat-bulat.


Beberapa jam setelah kepergian Abraham, barulah Juni terbangun dari tidurnya.


Sebelumnya, Juni hanya merasa kepala dan tenggorokannya sakit. Ia juga sulit membuka matanya. Terlalu banyak menangis kemarin, membuat matanya bengkak.


Seketika ia ingat, 'Ah.. aku menangis karena Odelia meninggal!'


Rasa sakit yang sempat ia lupakan, kembali merasuk ke dadanya. Perih menyeruak ketika ia mengingat bahwa kematian Odelia adalah kenyataan.


Namun tangisnya yang hendak pecah diinterupsi oleh suara Indah yang memanggilnya.


"Non!" panggil Indah.


"Hmn?!"


"Non sudah bangun?!" tanya Indah.


"Sudah..." sahut Juni serak.


"Sarapan dulu non!" ujar Indah, "Tadi non Nawang kesini! Bawain non makanan!"


Indah terpaksa mengikuti perkataan Abraham. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi antara Abraham dan Juni sehingga ia diminta untuk berbohong.


Tapi apapun itu, jika itu untuk kebaikan majikannya. Indah akan melakukannya dengan sukarela.


"Oh.. iya..." sahut Juni lemas. "Nanti saja!"

__ADS_1


"Kalau non lagi males makan, ada yogurt juga kok non!" sambung Indah kemudian.


'Yogurt?!' Juni tersenyum tipis.


"Iya, baiklah!" sahut Juni kemudian.


****


Cleve uring-uringan!!


Ini bukan pertama kalinya momen indahnya bersama dengan Nawang diganggu oleh pihak ketiga.


Entah ia harus senang atau sedih. Namun yang pasti Cleve merasa jengkel untuk saat ini.


Gelora yang membakar tubuhnya langsung sirna saat suara ketukan di pintu kamar Nawang, mengagetkannya.


Nawang yang duduk di pangkuan Cleve, segera bangkit dan meraih pakaiannya yang berserakan. Begitu pun dengan Cleve, yang langsung menyambar baju kaos yang telah ia lempar sembarangan.


"Nawang, mama mau langsung tidur. Gak usah panggil mama nanti buat sarapan ya!" ujar Karina. Seperti biasa, Karina akan memberitahu Nawang jika tak mau diganggu saat tidur.


Wanita paruh baya itu akan langsung tertidur setelah kembali dari perjalanan jauh. Namun terkadang, Nawang suka membangunkannya dan mengingatkannya untuk sarapan. Sehingga membuat Karina merasa sakit kepala.


Ia akan merasa pening jika dibangunkan saat terlelap.


"I-iya ma!" sahut Nawang gagap. Jantungnya berderu dengan cepat. Takut ibunya memergoki perbuatannya dan Cleve di dalam kamar.


"Iya ma!" sahut Nawang kemudian. Ia gemetar. Baru tersadar hampir melakukan dosa besar.


Setelah suara ibunya menghilang dan tak lagi terdengar, Nawang merosot jatuh ke lantai dengan lemas. Ia kembali merasa bersalah pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia kembali kehilangan kontrol, dan hampir melakukan dosa besar lagi kali ini?!!


'Ah! Gila! Gila!' Nawang merutuki dirinya sendiri. Mengingat, dirinyalah yang menyerang Cleve duluan tadi.


Cleve yang juga merasakan hal yang sama dengan kekasihnya, kemudian memeluk kekasihnya dengan lembut.


"Ayo kita menikah, sayang!" ujar Cleve kemudian, "Kita tak bisa terus seperti ini!"


"Jika ditunda-tunda, kita akan melakukan dosa yang lebih besar!" sambung Cleve. Ia memahami hatinya sendiri. Jika menunggu hingga tiga bulan lamanya, tak terhitung berapa dosa yang akan mereka lakukan.


Kali ini saja, mereka masih terselamatkan. Bagaimana dengan nanti?! Jika mereka kembali gelap mata.


Menyadari kebenaran di balik kata-kata kekasihnya, Nawang mengangguk setuju. Sepertinya ia tak perlu memantapkan hatinya lagi, toh tubuhnya sendiri sudah menjawab segalanya.


Sementara kedua kekasih itu telah memutuskan diri untuk memulai hidup baru secepatnya, Sahna yang tengah berharap untuk babak baru dalam hubungan percintaannya dengan Cleve pun muncul.


Ia datang dengan riang ke gedung 'Cleve' membawa CV dengan semangat 45.

__ADS_1


"Anda tidak bisa masuk!" Gema menghadang Sahna yang hendak menerobos masuk ke ruangan CEO. "CEO sedang tidak ada di tempat saat ini!"


"Huh?! Mas Cleve belum datang ya?" tanya Sahna kaget. Dia mendengar dari ayahnya bahwa Cleve adalah orang yang sangat disiplin. Makanya ia sengaja datang pagi-pagi sekali, ingin membuat kesan yang baik pada Cleve.


Tapi aneh, kenapa dia belum datang padahal hari sudah siang?!


Tidak hanya Sahna yang bingung, Gema dan Sam yang menjadi security sejak tiga tahun lalu juga bingung. Seumur-umur bekerja di 'Cleve', ini adalah pertama kalinya bos mereka datang terlambat tanpa kabar.


"Iya, CEO belum datang!" ujar Sam kemudian.


"Kira-kira kapan datangnya?!" tanya Sahna kemudian.


Sam dan Gema saling pandang. Mereka juga tak tahu kapan bos mereka datang. Agenda Cleve menyebutkan bahwa ia seharusnya sudah rapat pagi ini di ruang rapat. Tapi nyatanya, ia belum muncul sama sekali.


Saat Sam hendak menjawab, tiba-tiba Cleve muncul. Ditemani oleh Nawang dan Yoshi. Ia berjalan dengan langkah tegap menuju ke ruangannya.


Seketika, senyum di bibir Sahna mengembang.


"Mas Cleve!" pekiknya. Ia berlari kecil ke arah Cleve.


"Sahna sudah datang sesuai dengan janji! Ini CV Sahna!" gadis cantik itu menyodorkan amplop cokelat yang terkemas dengan rapi.


Tanpa banyak bicara, Cleve meraih amplop itu dan menyerahkannya pada Yoshi.


"Tempatkan dia di posisi yang pantas untuknya!" ujar Cleve singkat.


"Baik tuan!" sahut Yoshi mengerti.


Setelah mendengar perkataan tuan Sahan, Yoshi telah memikirkan dengan cermat. Posisi yang bisa diemban oleh seorang anak manja, putri konglomerat yang tak pernah hidup susah.


"Silahkan ikut saya, nona!" titah Yoshi kemudian.


Dengan patuh Sahna mengikuti kemana Yoshi melangkah, namun matanya tak bisa lepas dari sosok Cleve yang berjalan ke arah yang berlawanan darinya.


"Apa saya akan menjadi sekretaris mas Cleve?!" tanya Sahna penasaran. Ia berusaha mengejar langkah Yoshi yang cepat.


"Tidak nona, tuan Cleve telah memiliki seorang sekretaris!" sahut Yoshi kemudian.


"Apa tidak bisa dipecat saja?" ungkap Sahna enteng, "Lalu gantikan dengan diriku!"


'Ha...' dalam hati Yoshi tertawa sumbang. 'Benar-benar lagak orang kaya. Semau hati minta pecat sekretaris orang!'


"Tidak bisa nona!" sahut Yoshi singkat.


"Lalu kau akan menempatkan aku dimana?!" tanya Sahna lagi, "Aku ingin posisi yang bisa selalu dekat dengan mas Cleve!! Yang ruangannya tak berada jauh dari ruang mas Cleve!!"

__ADS_1


"Itu agak sulit nona..." ujar Yoshi kemudian, "Jika anda bersedia menjadi security yang menjaga lorong di ruang CEO atau OB yang khusus bekerja di ruang CEO. Mungkin anda bisa bekerja dekat dengan tuan Cleve, hanya saja.. saya rasa itu kurang cocok untuk anda!"


__ADS_2