
"Sayang...bagaimana kalau tiga Minggu lagi?!" celetuk Cleve. Pria itu masih belum menyerah juga. Ia masih belum puas dengan tanggal yang ditentukan.
Nawang yang hendak menyuap makanan ke mulutnya, mendadak tersentak. Tak menyangka bahwa pria itu akan mengungkapkan masalah yang sama lagi, di tengah dinner romantis mereka.
"Mas!!" sembari mendengus, Nawang berkata. "Kita sudah sepakat kan?!"
"Kenapa sekarang mas kembali mengungkitnya?!" sambung Nawang, "Apa mas berusaha bersikap curang?!"
Cleve terkekeh. Ia kemudian menautkan jari jemarinya dengan milik Nawang. Meremasnya dengan pelan sembari menyalurkan hawa panas diantara mereka.
"Aku hanya berusaha membujuk kekasihku!" ujar Cleve sembari mengecup tangan Nawang dengan lembut, "Kenapa itu disebut curang?!"
Nawang yang melihat tingkah Cleve hanya bisa menggeleng.
"Mas, kamu itu benar-benar ya!" Nawang gemas dengan tingkah manis Cleve di depannya. "Menggemaskan!"
Mendengar kata-kata Nawang, seketika Cleve tersentak. Kata 'menggemaskan' yang ditautkan oleh Nawang padanya, entah kenapa membuat nalurinya tiba-tiba bergejolak.
"Jangan pernah mengatakan kata-kata itu lagi padaku!" ujar Cleve serius.
Nawang tiba-tiba kaget, melihat perubahan ekspresi Cleve yang berkabut. Ia cemas telah menyinggung Cleve.
"Ada apa mas?!" tanya Nawang kemudian. "Apa tadi aku mengatakan hal yang salah?!"
"Jangan pernah katakan kata-kata itu lagi, jika kamu tak ingin aku terkam nanti!!" Cleve berbisik sembari menyeka noda yang ada di bibir Nawang.
Seolah-olah memang hendak menerkamnya, Cleve menatapnya dengan panas yang seolah akan membakarnya.
Jantung Nawang berdegup kencang, ia tersipu menyadari has rat pria itu padanya.
Tenggelam oleh perasaan yang memabukkan itu, Nawang tak menyadari kehadiran seorang perempuan yang tengah menatapnya, dengan rasa cemburu yang berkobar.
"Kau tidak suka?!" tanya Sagara, "Kenapa tidak dimakan?!"
Melihat Lalita yang hanya memainkan makanan di depannya, Sagara tak tahan untuk bertanya.
"Ah.. i-itu.." gagap Lalita menjawab, "Aku hanya merasa kurang enak badan!"
"Apa kau mau pesan yang lain?!" tanya Sagara kemudian.
Lalita menggeleng, "Tidak usah! Aku akan berusaha memakannya!"
Sagara yang mendengar jawaban Lalita, hanya mengangguk singkat dan kembali melanjutkan aktifitasnya menyantap spaghetti Aglio Olio di depannya.
Mendengus kesal dengan sikap Sagara yang jauh berbeda dari Cleve di seberangnya, Lalita menyantap makanannya dengan geram.
****
Eric kembali ke hotel tempat dimana ia menginap dengan perasaan yang kacau balau. Ia bahkan mengabaikan panggilan dari wanita yang hendak ia temui!! Pikirannya tertuju pada Juni dan Abraham.
__ADS_1
Eric ingin mendapat kejelasan, apa yang sebenarnya terjadi.
Ia kembali mengingat apa yang dikatakan oleh Abraham di rumah sakit tadi.
"Juni mengandung darah dagingku!" Abraham mengungkapkannya dengan ekspresi tegas. Tak ada kebohongan sedikitpun yang terlintas.
Jawaban lugas Abraham itu bukannya membuat Eric lega, malah Eric merasa semakin bingung.
Namun saat Eric meminta penjelasan lebih lanjut pada Abraham, Abraham malah mengabaikannya begitu saja.
Apa yang terjadi?! Bagaimana bisa Juni hamil anak Abraham?! Bukankah Juni sangat menghargai istri Abraham, yang adalah sahabatnya itu!? Apa mereka berselingkuh?! Sejak kapan?!!
Tiba-tiba panas menyeruak di hati Eric. Memikirkan kemungkinan bahwa dirinyalah yang telah diselingkuhi oleh Juni. Apalagi Juni dan Abraham telah saling mengenal sejak lama.
'Apa jangan-jangan mereka telah menjalin hubungan sejak lama?!' batin Eric.
'Pantas saja anak Abraham dirawat oleh Juni!' pikiran-pikiran negatif muncul di benak Eric.
Semakin ia memikirkannya, kepalanya terasa semakin sakit!
Sementara itu, Abraham yang masih menunggui Juni di rumah sakit tak kalah risaunya.
Ia bingung akan mengatakan apa saat Juni tersadar nanti!! Di dalam kepalanya, ia berusaha menyusun kata-kata yang pas.
Tepat di saat itu, tangan Juni yang ada di depannya bergerak. Suara era ngan pun terdengar dan Juni mulai mengernyap.
"Hmnn?!"kaget, Juni menatap sekeliling dengan bingung. "Dimana aku..?!"
Juni tersentak, menyadari kehadiran Abraham. Seketika rasa takut menghampirinya. Namun hanya sesaat, karena kemudian ia diselubungi oleh rasa panik, memikirkan anak-anak yang tadi sedang ia bawa.
"Anak-anak mana?!" tanya Juni kemudian. Ia ingat, Zoe sedang bersama Eric. Dan Brandon tertidur di kereta bayi.
"Aku sudah membawa mereka pulang, mereka dirawat oleh Indah!" sahut Abraham.
"Oh..." mendengar jawaban Abraham, Juni merasa sedikit lega.
"Kalau begitu, aku mau pulang!" ucap Juni kemudian. Ia bangkit dan berusaha untuk pergi.
Namun Abraham mencegahnya. Tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan Juni, hingga membuat Juni terkesiap dan kembali gemetar ketakutan.
Sekelebat hati Abraham terasa perih menyadari reaksi Juni itu. Trauma Juni pasti sangat besar terhadapnya, seketika Abraham menyadari perjuangannya masih panjang untuk bisa kembali dekat dengan Juni.
"Maaf..." lirih Abraham. "Aku.. aku tidak sengaja!"
"Ada yang ingin aku sampaikan!" sambung Abraham.
Juni yang tengah berusaha menahan gejolak yang menyeruak di dadanya, kemudian bertanya. "Ada apa?!"
"Juni.. berjanjilah untuk mendengarkanku dengan tenang!" ucap Abraham.
__ADS_1
Abraham ragu-ragu untuk mengatakan kebenarannya. Tapi bagaimana pun, Juni harus mengetahui bahwa di dalam dirinya tengah tumbuh satu nyawa yang berharga.
Juni menatap Abraham penuh tanda tanya, dengan patuh wanita itu mendengarkan.
"Kau hamil" ujar Abraham singkat.
Juni mengernyit, seolah tak mengerti apa yang Abraham katakan padanya.
"Kau hamil, Juni!" ulang Abraham lagi, "Kau hamil anakku!"
Mendengar kata-kata Abraham yang lebih diperjelas, Juni benar-benar kaget.
"Ba-bagaimana mungkin?! Aku hamil?!" tanyanya linglung. Wanita itu terlihat panik.
Melihat reaksi Juni, Abraham benar-benar cemas. Ia takut Juni tak bisa menerima keadaannya. Namun Abraham berusaha menenangkannya.
"Ya... di dalam tubuhmu tumbuh satu nyawa.. seorang anak.. seperti Zoe dan Brandon!"
Mendengar nama Zoe dan Brandon, anak-anak yang telah mewarnai hari-harinya selama beberapa waktu belakangan ini. Hati Juni yang awalnya kacau, berubah. Ia menatap perutnya, perasaan yang ia rasakan saat pertama kali mengetahui kehadiran Zoe di dalam dirinya pun menyebar.
Haru yang luar biasa besar menghantamnya! Ia mengelus perutnya tanpa sadar.
"Bagaimana menurutmu?!" tanya Abraham kemudian. "Apa kita bisa menjaganya bersama-sama?!"
Terkesiap, Juni menatap Abraham sesaat.
"Tidak!" sahut Juni tegas, "Aku bisa melakukannya sendiri! Kau jangan khawatir..."
"Aku tahu..." sahut Abraham tenang. Ia sudah menduga bahwa Juni akan menolak, "Tapi bukannya lebih baik jika kita membesarkan mereka bersama-sama?! Kau dan aku!"
Juni menggeleng, "Selamanya ... kau adalah suami dari sahabat ku!"
"Mana bisa kau menjadi suamiku!" sambung Juni. "Dan lagi...."
Kata-kata Juni tercekat.
Dan lagi, alasan terbesar kenapa Juni tak mau melakukannya adalah rasa takut. Ia masih trauma pada kejadian waktu itu. Setiap kali ia melihat Abraham, rasa ngeri menghantuinya.
"Kau ingat permintaan terakhir Odelia padamu?!" tanya Abraham kemudian. Abraham telah kehabisan akal, ia tak tahu harus membujuk Juni dengan apa.
Bagaimana pun, Abraham ingin bertanggung jawab pada Juni.
Meski Juni tak hamil sekalipun, Abraham tetap ingin menikahi Juni. Apalagi sekarang, saat Juni hamil anaknya.
"Odelia ingin kita menikah!" ucap Abraham kemudian.
Seketika, isi surat Odelia yang telah ia baca, kembali terngiang di benak Juni.
[Aku yakin Tuhan juga sudah menunjukkan jalan pada dirimu dan mas Abraham untuk bersatu! Jika hal itu terjadi, ku mohon padamu untuk mau menerimanya]
__ADS_1
'Apa maksudmu ini jalan itu?!' batin Juni.
"Menikahlah denganku Juni!" pinta Abraham kemudian. "Demi Odelia, demi Zoe, Brandon dan juga anak kita!"