Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 30


__ADS_3

"Apa?! Hamil?!" Lalita tercengang. Saat mendengar penuturan Yoshi yang mengungkapkan bahwa dirinya hamil.


'Bagaimana bisa hamil?!' batin Lalita. Selama ini ia selalu berhati-hati saat berhubungan dengan Sagara, bahkan ia tak pernah lupa menggunakan pengaman.


"Usia kandungan anda sekitar dua bulan!" sambung Yoshi. "Tolong jaga kesehatan anda mulai sekarang!"


Pria itu menyerahkan kantung obat pada Lalita. Lalu memberitahu instruksi penggunaannya satu per satu dengan cermat.


"Aku hamil, apa kau sudah memberitahu Cleve?!" tanya Lalita kemudian. Tetiba ia mengingat suaminya.


"Sudah, nyonya" sahut Yoshi.


"Apa katanya?!" Lalita penasaran dengan tanggapan Cleve, jika tahu istrinya hamil.


"Proses perceraian akan tetap dilanjutkan sesuai jadwal!" tegas Yoshi.


"Apa?!!" pekik Lalita, "Dia masih ngomong masalah cerai juga?! Aku ini hamil!! Apa dia tidak tahu, kalau dia tidak bisa menggugat cerai wanita hamil?!"


Lalita kesal. Ia mencak-mencak dengan nafas ngos-ngosan. Ia baru saja akan melemparkan obat yang diberikan Yoshi padanya. Namun sebuah suara menyelanya.


"Kau hamil, tapi tak ada hubungannya denganku dan perceraian kita!"


Itu adalah Cleve. Ia muncul di rumah sakit itu tepat saat Lalita akan meledak.


Setelah mengetahui Lalita hamil, Cleve langsung bergegas menuju ke rumah sakit. Ia tahu, Yoshi tak akan mampu menahan wanita itu sendiri. Lagipula Cleve perlu mengancam Lalita, sebelum wanita itu mengungkapkan kehamilannya ke publik.


Meski Cleve yakin akan tetap berpisah dengan alasan perselingkuhan yang dilakukan Lalita. Namun Cleve enggan ada drama kehamilan atau semacamnya dalam proses perceraiannya.


Mengingat tingkah polah Lalita yang di luar akal sehat, tak ada salahnya untuk melakukan pencegahan. Sehingga ia membuka kartu AS-nya lebih awal.


"Tetaplah tenang jika kau tak ingin menarik perhatian!" ancam Cleve kemudian.


Mereka masih di rumah sakit. Sedikit saja suara, sudah menarik perhatian banyak orang.


"Bagiamana bisa kau tetap ingin menggugat ku!? Aku ini hamil, Cleve!" sergah Lalita.


"Benar, kau hamil! Lalu kenapa?!! Itu tak ada hubungannya dengan gugatan perceraian!!" sahut Cleve,


"Lagipula itu bukan anakku! Tak ada hubungannya denganku!" sambung Cleve dingin.


"Meski begitu, Kau tak bisa menggugat ku!! Bagaimana publik akan melihatmu?! Bukankah kau peduli pada image-mu?!" geram Lalita.


"Tenang saja, itu urusanku!" balas Cleve, "Kau tinggal mengikuti proses cerai saja!"


"Oh, begitu?!" ujar Lalita, "Coba kita tebak, apakah semua akan sesuai keinginanmu?! Aku tak yakin~~"


Dengan tersirat, Lalita berusaha mengancam Cleve.

__ADS_1


"Mungkin saja tiba-tiba ada rumor yang tersebar dan menjatuhkan nama baikmu?!" ucap Lalita. "Tiba-tiba aku sangat mencemaskan suamiku!"


Meski Lalita tak yakin bisa mengancam Cleve dengan kehamilannya, namun Lalita ingin memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Selama ia hamil, Cleve seharusnya tak bisa menceraikannya. Pria itu pasti tak mau namanya terlihat buruk. Sebagai seorang pebisnis, nama baik begitu penting.


"Entahlah, aku tidak begitu peduli dengan pendapat orang lain!" ujar Cleve acuh tak acuh, "Lagipula bukan aku yang harus kau cemaskan. Tapi dirimu!!"


Cleve melemparkan amplop coklat ke arah Lalita. Isinya cukup tebal sehingga saat jatuh membentur lantai, ada suara gedebug yang terdengar.


"Apa itu?!" tanya Lalita refleks.


"Kau bisa memeriksanya sendiri!" pungkas Cleve.


Saat ia membuka amplop coklat tersebut, berkas-berkas padat merayap dengan tulisan kecil-kecil dan angka menyapanya. Merasa malas untuk membacanya, Lalita hanya melirik sekilas judulnya.


Tangannya langsung gemetar saat mengetahui daftar apa yang ia pegang.


Itu adalah tindakan ilegal yang telah dilakukan oleh ayahnya, yang menjabat sebagai pejabat daerah.


"Apa ini?! kenapa kau memberikannya padaku?!" dengan gemetar Lalita bertanya.


"Bukankah ayahmu akan merangkak ke tempat yang lebih tinggi tahun ini?!" Cleve berkata, "Coba tebak, apa yang terjadi kalau itu tiba-tiba bocor?!"


Lalita seketika pucat, ia memahami sepenuhnya perkataan Cleve.


"Bukan hanya ambisinya yang akan berakhir, hidupnya juga akan berakhir di penjara!" ancam Cleve.


"Jika kau tak mau besok laman berita dipenuhi dengan berita mu dan ayahmu, bercerailah dengan tenang!" ujar Cleve.


****


Juni menghela nafas panjang saat melihat kolom komentar akun media sosialnya yang penuh dengan ujaran-ujaran kebencian. Memang benar hujatan itu tak ditujukan untuknya. Namun Juni tetap merasa pahit juga setiap kali membacanya.


Setelah berita tentang perselingkuhan Eric dan Dina menyebar, para netijen menyerbu akun sosmed Juni. Tak hanya membubuhkan banyak komentar, mereka juga memfollow Juni. Sehingga hanya dalam semalam, follower Juni telah bertambah sebanyak ribuan orang.


Entah, Juni harus bersyukur atau tidak!! Ia merasa dilema!!


"Siapa yang membongkar perselingkuhan Eric ke media?!" ujar Odelia sembari menatap layar smartphonenya dengan cermat. Membaca setiap komentar jahat, membuatnya merasa puas.


"Siapa lagi, kalau bukan partnernya!" Komen Abraham. Ia menemani istrinya mengunjungi Sagara, sekalian bermain dengan Zoe yang imut.


"Apa maksudnya 'Dina'?!" seru Juni. "Itu tidak mungkin, untuk apa?!"


Juni merasa hal itu mustahil. Untuk apa Dina melakukan hal itu?! Dirinya saja lebih memilih untuk menutup perceraiannya rapat-rapat. Itu aib baginya!! Apalagi Dina, untuk apa mengungkap perselingkuhan sendiri ke media?!


"Mungkin ada masalah dengan hubungan mereka?!" Abraham menebak "Kalau tidak, tidak mungkin dia melakukan hal ini! Itu sama saja dengan bunuh diri!"


"Masalah apa yang papa maksud?!" Odelia tak paham.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin mereka mengalami keretakan. Atau mungkin wanita ini ingin perhatian dan pengakuan!" Abraham menduga.


"Ah!! Ngaco sekali, pa!!" Odelia tak percaya pada dugaan suaminya, "Itu kan cuma dugaan kosong belaka!"


"Bisa jadi ini perbuatan orang lain kan?!" sambung Odelia.


Juni mengangguk pelan, "Eric sangat mencintai Dina. Jadi tidak mungkin ada keretakan diantara mereka!"


Walaupun Juni tak ingin mengakuinya, tapi Eric dan Dina begitu saling mencintai. Buktinya, Eric meninggalkan dirinya dan Zoe demi Dina.Tidaklah mungkin muncul keretakan diantara hubungan semanis itu. Setidaknya begitu pikir Juni.


"Apa mungkin orang lain?!" gumam Juni. Ia seketika teringat perkataannya pada sang ayah saat menerima gugatan cerai dari Eric. 'Pa, tolong buat dia menderita!'


Saat itu yang Juni maksud adalah mengambil semua fasilitas yang telah ia dan keluarganya berikan untuk Eric. Tak lebih dan tak kurang! Ia pun tak pernah berniat untuk mempublikasikan aib perselingkuhan suaminya.


Juni tahu, selain Eric dan Dina, dirinya pun akan hancur jika mengungkap itu ke media. Ia pasti akan dikecam karena tidak memiliki etika, sebab mengumbar masalah rumah tangganya ke publik.


'Apa ini perbuatan papa?!' batin Juni.


"Tidak!" Sanggah Abraham, "Bisa dipastikan ini bukan perbuatan orang lain!"


Abraham meraih smartphone istrinya kemudian menggulirkan tangannya, lalu berhenti pada foto-foto mesra Eric dan Dina.


"Coba lihat, foto-foto ini adalah foto selvie yang diambil dengan kehendak dan keinginan sendiri. Bukan foto-foto candid yang diambil oleh orang lain. Sudah pasti pemiliknya adalah orang dalam gambar itu sendiri!" kembali lagi Abraham berargumen. "Siapa lagi yang bisa menyebarkan foto-foto pribadi selain pemiliknya sendiri?!"


"Bisa saja kan dia kehilangan ponselnya. Terus ditemukan oleh orang lain. Dan foto-fotonya disebar tanpa sepengetahuan nya!?" duga Odelia.


"Coba liat captionnya!" Abraham menunjuk caption dari postingan si anonim saat mengunggah foto itu pertama kali, "Berapa banyak kemungkinan seseorang yang 'kebetulan' menemukan ponsel dengan foto itu, juga 'kebetulan' mengetahui seluk beluk perselingkuhan Eric dan Dina?!"


Mendengar kata-kata Abraham, pikiran Odelia dan Juni terbuka.


"Benar!!" Odelia berteriak. "Wah, papa jenius!!"


Odelia langsung menggerakkan jarinya dengan lincah. Membubuhkan komentar dalam postingan si anonim. Odelia tak pernah menyangka, bahwa tindakan kecil yang ia lakukan. Akan menjadi awal dari bencana yang menimpa Dina pada akhirnya.


Sementara itu, saat ini Dina sendiri tengah kesulitan.


Ia frustasi dengan komentar-komentar buruk yang terus meneror semua akun media sosialnya. Bahkan tak sampai disana, fans Juni yang marah padanya terus mengganggunya lewat pesan-pesan pribadi. Sampai ia merasa sangat lelah.


"Kenapa jadi begini?!" gumam Dina.


Orang-orang seharusnya mencerca Eric dan menghakiminya. Hingga Eric malu untuk membuka kliniknya. Sehingga dengan begitu, Eric akan hancur berkeping-keping.


Tapi bertentangan dengan apa yang ia harapkan, Eric langsung menghilang tanpa mengungkapkan apa-apa.


Semua akun media sosial pria itu langsung menghilang dalam semalam. Seolah-olah, itu memang tak pernah ada sejak awal.


Mungkin Eric menghapusnya begitu saja. Sehingga seluruh kebencian dan makian orang-orang, tertuju sepenuhnya pada Dina.

__ADS_1


__ADS_2