
"Nawang Anjani!"
Nawang tersentak saat tanpa sengaja berpapasan dengan Cleve di Sunshine. Apalagi, pria itu menyapanya duluan. Padahal Cleve bukan tipe orang yang suka menyapa seseorang begitu saja.
Namun bukannya merasa senang, Nawang merasa seperti disambar petir di siang bolong.
'Kenapa CEO Cleve bertemu pihak Sunshine?!' batin Nawang.
Ia memikirkan apa yang terjadi sebelumnya. Saat dimana Sunshine hendak mendepak 'the last' dan ingin menggaet 'Cleve'.
Padahal 'the last' sudah mencapai persyaratan yang diinginkan oleh Sunshine. Apakah Sunshine akan ingkar janji?!
"Tenang saja!" Seolah mengetahui pikiran Nawang, Cleve berkata "Saya datang kesini untuk menolak tawaran mereka!"
Selama ini 'Cleve' adalah produk kosmetik yang tak pernah di jual di toko manapun selain milik 'Cleve' sendiri. Entah toko offline maupun online, 'Cleve' hanya menjual barang-barangnya melalui tangan mereka sendiri. Tanpa bantuan dari pihak lain.
Meskipun zaman sudah berubah, 'Cleve' yang tetap bertahan dengan 'cara kuno' nya itu. Malah membuatnya menjadi merk yang lebih eksklusif dan membuat para pelanggannya merasa spesial.
Karena hal itu pula, pihak departemen store terus berusaha bekerja sama dengan 'Cleve'. Menjadi pihak pertama yang dipercaya oleh 'Cleve' seolah-olah merupakan prioritas utama mereka.
"Apa anda ada waktu?!" Tanya Cleve tiba-tiba.
Nawang mengernyit dengan pertanyaan tiba-tiba Cleve.
"Ayo makan siang bersama!" Ucap Cleve lagi.
Entah kenapa, saat Cleve mengatakannya. Itu bagaikan sebuah perintah bagi Nawang. Tanpa banyak bertanya, Nawang mengikuti langkah Cleve yang mengajaknya makan.
Namun saat Nawang sampai di tempat makan, barulah Nawang tersadar.
'Kenapa aku mengikuti dia?!' batinnya.
Ia menatap pria yang duduk di depannya lagi. Melihat pria itu yang penuh dengan wibawa dan kharisama, Nawang yakin itulah yang telah membuatnya tunduk.
Cleve memiliki getaran seorang pemimpin bahkan tanpa harus berbicara. Hanya dengan tatapannya, seakan memberi titah 'ikuti aku' pada siapa saja yang melihatnya.
"Mau makan apa?!" Tanya Cleve. Menatap Nawang tajam.
Tertangkap basah memandang Cleve, Nawang menjawab gagap, "S-saya tidak makan! Saya pesan minum saja!"
"Ini sudah waktunya makan siang!" Ujar Cleve, "Pesanlah makanan!"
Seperti sebelumnya, Nawang kembali patuh. "Steak!" jawabnya.
Tidak mungkin dia memilih yang lain. Tempat itu hanya menjual steak.
Cleve tersenyum. Ia merasakan dadanya tergelitik geli saat melihat tingkah Nawang.
"Saya tahu, steak apa?!" Tanya Cleve kemudian.
"Yang sama dengan anda!" Sahut Nawang sekenanya. Ia tidak begitu peduli itu steak apa.
Cleve kemudian memesan dua menu yang serupa untuk mereka.
__ADS_1
Nawang terus memperhatikannya. Di dalam hatinya ia kebingungan. Kenapa tiba-tiba CEO 'Cleve' mengajaknya makan siang?! Apa ada hal yang ingin dia bicarakan?! Mungkin terkait dengan bisniskah atau hal pribadi kah?!
Setelah kata-kata ambigu pria itu, bagaimana mungkin Nawang tidak memikirkan kemungkinan seperti itu. Ditambah lagi, pria itu mengajaknya makan siang bersama.
Ketertarikan mungkin bukanlah hal yang mustahil!!
"Kenapa anda tiba-tiba mengajak saya makan siang?!" Tanya Nawang kemudian. Ia tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Saya hanya ingin!" Sahut Cleve.
"Ah?! H-hanya ingin?!" Nawang kaget. 'Jawaban macam apa itu?!'
"Saya melihat anda, lalu saya ingin mengajak anda makan siang. Jadi saya ajak anda makan siang. Itu saja!" Balas Cleve.
Setelah mendengar penjelasan Cleve, Nawang bukannya merasa lebih jelas. Ia malah semakin bingung. Karena bukan itu jawaban yang diinginkannya.
'Apa ada yang ingin dibicarakan?! Apa mengenai bisnis atau hal lain?!'
"Saya bingung, kenapa anda bersikap seperti ini pada saya?!" Tanya Nawang, "Apa ini karena istri anda?!"
[Guys, Nawang itu gengsi mau nanya. 'Apa kamu naksir aku?!' Jadi dia ngomong kek gitu! Padahal dia kepo]
"Apa maksud anda?" Giliran Cleve yang bingung. Apa hubungannya mengajak makan siang dan Lalita?!
"Maksud saya.. apa anda berusaha dekat dengan saya karena istri anda memiliki hubungan dengan tunangan saya?!" Tanya Nawang, "Apa yang membuat anda tiba-tiba bersikap baik pada saya?!"
Cleve terdiam. Ia memikirkan pertanyaan Nawang di dalam kepalanya.
Kali ini pun juga sama, ia dengan tanpa alasan yang jelas tiba-tiba ingin mengajak wanita itu makan siang. Padahal biasanya, ia paling benci jika harus makan bersama dengan wanita.
'Kenapa?!' batinnya.
"Kenapa anda tiba-tiba bersikap baik?! Apa alasannya?!" Desak Nawang lagi.
"Tidak ada, tidak ada alasan!!" Sahut Cleve singkat.
Setelah ia memikirkannya, jawaban yang ia dapat adalah 'tak ada alasan apapun' ia hanya ingin melakukannya. Tanpa alasan sedikitpun!!
****
Sebelumnya, meski kondisi fisik Juni sudah membaik. Namun secara psikis ia belum bisa disebut baik. Setelah masalah yang bertubi-tubi menghantam mentalnya, Juni masih harus diawasi oleh psikiater.
Namun kemarin, dokter sudah mengungkapkan bahwa Juni telah pulih sepenuhnya. Dan bisa kembali pulang.
Ia akhirnya bisa bertemu dengan Indah serta Zoe, putri kecilnya.
Saat itu pula, Odelia datang bersma Brandon dan Abraham. Menjenguk Juni serta si kecil Zoe.
Brandon yang masih kecil terlihat sangat penasaran dengan Zoe. Ia menatap bayi mungil yang berbaring disampingnya dengan mata yang berbinar.
"Kayaknya Brandon suka banget sama Zoe!" Ujar Odelia. "Dia terus-terusan mau dekat sama Zoe!"
Tingkah lucu Brandon yang terus ingin meraih wajah Zoe membuat mereka terkekeh geli.
__ADS_1
Odelia yang melihat senyum di wajah sahabatnya itu merasa haru.
'Syukurlah!' batin Odelia.
"Bagaimana menurutmu, apa aku masih pantas menjadi seorang beauty influencer?!" Celetuk Juni tiba-tiba.
Selain karena kehamilannya, Juni berhenti menjadi Beauty influencer karena berniat menjadi ibu dan istri yang baik untuk Eric.
Terkadang Eric juga merasa cemburu dengan pengikut Juni yang sebagian adalah pria. Ia merasa kesal melihat istrinya mengumbar wajah cantiknya di depan pria lain. Sehingga Juni memutuskan untuk berhenti menjadi beauty influencer. Untuk menjaga perasaan suaminya.
Namun berbanding terbalik dengan Juni, Eric ternyata tidak berniat melakukan hal yang sama.
"Tentu saja!! Kenapa kamu pikir kamu tidak pantas?!" Odelia bertanya.
"Aku sudah tua, dan lusuh. Bagaimana bisa disebut beauty?!" Ucap Juni.
"Apa?!" Odelia menggeleng.
"Pa, bagaimana menurutmu?! Apa Juni terlihat lusuh?!" Odelia bertanya pada suaminya yang tengah bermain bersama dengan Brandon dan Zoe."Dia masih cantik dan cocok menjadi beauty influencer kan?!"
"Ah?! Apa?!" Alih-alih menjawab, Abraham balik bertanya.
Abraham waspada dengan pertanyaan semacam ini. Situasinya sekarang ini bagaikan makan buah simalakama.
Bilang iya, salah. Bilang tidak juga salah!
Namun Abraham memiliki kebijakan dalam menjawab, "Kecantikan itu tak melulu tentang wajah! Kan ada yang namanya inner beauty!"
Juni menahan tawanya. Ia tahu Abraham mengatakan hal itu karena takut menjawab secara langsung. Pria itu pasti menjaga hati istrinya.
"Apa sih?! Kan bukan itu konsteksnya pertanyaan aku!!" Odelia marah.
"Ya kan cantik itu relatif!" Sahut Abraham kemudian.
Sementara Juni bersama dengan orang-orang sekitarnya mulai merasakan ketenangan dan kebahagiaan, Dina yang sebelumnya merasa menang dan berfikir akan kebahagiaan, merasakan kebalikannya.
"Apa?!" Dina kaget saat salah satu temannya mengatakan bahwa klinik Eric tutup.
"Iya, aku kan jadwal perawatan rutinnya dua hari lalu tuh! Tapi kliniknya malah tutup. Gak ada pemberitahuan apapun!" Ujar Tania, salah satu teman Dina yang dikenalnya di klinik Eric.
"Terus kemarin aku datengin lagi, tapi kliniknya masih tutup!" Imbuh Tania.
"Aku juga kesana tiga hari yang lalu, kliniknya juga tutup! Ada apa ya?!" Tanya Brisia, yang juga pelanggan di klinik Eric.
"Kamu tahu gak, Din?!" Tanya Tania lagi, "Kamu kan temenan sama istrinya dokter Eric, coba deh kamu tanyain!"
Mendengar hal itu, Dina hanya menyunggingkan senyum kecut. Ia merasa kesal, karena tidak bisa mengungkapkan statusnya dengan Eric saat ini.
Tetapi melebihi itu semua, ia merasa kesal karena Eric telah berbohong padanya. Selama beberapa hari ini, pria itu selalu pergi setiap pagi dan mengaku bekerja di klinik. Namun ternyata klinik itu tutup?! Lalu pergi kemana Eric selama ini?! Apa ada wanita lain yang juga dipacari olehnya?!
Dian merasa geram!!!
'Jangan bilang Eric juga berkencan dengan wanita lain?!' batin Dina.
__ADS_1