Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 74


__ADS_3

"Apa maksudmu?!" Nawang terkesiap.


Bagai berbicara dengan makhluk asing, Nawang tidak bisa memahami apa yang dikatakan oleh Abraham padanya.


"Aku telah men* dai Juni!" tegas Abraham, "Aku telah melakukan kesalahan pada Juni!!"


Abraham menceritakan semua hal yang terjadi pada dirinya dan Juni. Mulai dari Zeline yang telah meneror Odelia hingga dengan kejadian naas yang terjadi pada dirinya dan Juni.


Mendengar penuturan Abraham, hati Nawang tak henti-hentinya berdenyut nyeri. Ia tahu tentang Zeline dari Odelia dulu. Mereka adalah tiga sahabat yang tak pernah menyembunyikan apapun. Sudah barang tentu, baik dirinya ataupun Juni, tahu akan masa lalu Abraham.


Cerita mengenai kegilaan Zeline terhadap Abraham, sejak dulu telah membuat Nawang dan Juni tergidik. Ia tak menyangka Zeline bahkan melakukan hal yang lebih gila lagi kali ini.


Setelah mendengar penuturan dari Abraham, Nawang akhirnya memahami alasan dari tingkah aneh Juni belakangan ini.


"Ternyata itu yang membuat Juni menderita..." gumam Nawang tanpa sadarnya.


"Apa?! Apa yang kau bilang?!" Abraham tersentak saat mendengar kata-kata Nawang.


"Akhir-akhir ini Juni bertingkah aneh!" aku Nawang jujur, "Ia berdiri di balkon kemarin, seolah-olah hendak terjun ke bawah!Seperti.. seperti berniat bunuh diri!"


Abraham terkesiap!! Kenyataan yang disebut oleh Nawang menghantamnya dengan keras.


Ia sudah menyangka Juni akan sangat menderita, tapi ini melebihi dari yang ia kira.


"Apa yang harus aku lakukan?!" lirih Abraham, geram pada ketidak berdayaannya.


Melihat kegundahan Abraham, Nawang terdiam. Ia kembali tercenung. Luka akibat kematian Odelia saja belum sembuh, namun ada luka lain yang menoreh hatinya lagi sekarang. Ia yang tak mengalaminya saja sudah sangat tersiksa, apalagi Juni dan Abraham.


"Saat ini...Juni sedang tidak stabil!"


celetuk Nawang kemudian. "Lebih baik kita tak membicarakan hal ini dulu padanya!"


Abraham mengangguk, ia sependapat.


Setelah apa yang terjadi padanya secara bertubi-tubi. Wajar bagi Juni untuk merasa depresi.


Wanita normal mana yang bisa bertahan saat hidupnya terus didera oleh cobaan berat seperti ini??

__ADS_1


Sementara Juni tengah menderita karena kehilangan sahabatnya, saudara kembarnya juga dihadapkan pada kenyataan yang hampir serupa.


Sagara tengah merasa pilu setelah kehilangan anaknya.


Untuk pertama kalinya Sagara merasa hatinya nyeri, kehilangan sesuatu yang belum ia miliki. Ia tidak yakin seburuk apa perasaannya ini. Namun yang pasti, itu amat sangat buruk. Seolah-olah ada yang memaksa dirinya untuk mengunyah sesuatu yang busuk, Sagara merasa tidak nyaman dan tersiksa.


"Kenapa perutku rata?!" teriak Lalita, ia yang baru sadar setelah menjalani prosedur kuretase, bertanya pada Sagara yang hanya menatapnya dengan pilu.


"Kenapa kamu diam?!" pekiknya marah, "Bayiku mana?!"


Menghela nafas pelan sembari mengusir pahit yang mencengkeram lidahnya. Sagara berkata dengan lirih, "Kamu keguguran!"


Mendengar kata-kata Sagara, Lalita akhirnya mengingat kejadian yang terjadi padanya kemarin. Ia ingat terjatuh dari tangga kemudian merasa sakit di bagian perutnya. Ia juga ingat ada darah segar yang mengalir deras dari balik dressnya.


"Tidak!!" Lalita menggeleng dengan linglung, "Tidak mungkin!!!!"


Meski tak menginginkan bayi itu pada awalnya, Lalita telah menjalin kedekatan dengan benih yang tumbuh di tubuhnya selama beberapa bulan belakangan ini. Hatinya mencair tanpa ia sadari, dan ia mencintai anak itu seperti dirinya sendiri.


Walaupun tak melakukannya dengan baik, Lalita berusaha menjaga kandungannya agar tidak terancam. Ia dengan patuh meminum obat-obatan pahit yang ia benci, meminum susu yang rasanya seolah-olah basi. Hanya agar anak itu terlahir sehat dan tanpa cacat.


Tapi sekarang apa?! Setelah kasih sayang yang ia beri, anak itu tiba-tiba pergi?!


****


Resah dan gelisah, seharian ini Cleve tidak merasa nyaman. Ia cemas dengan keadaan kekasihnya. Pasti Nawang sedang sedih karena kehilangan sahabatnya.


Cleve ingin menemani Nawang. Namun ia dipaksa pergi ke luar kota oleh kakeknya, untuk mengikuti sebuah acara penting. Sebuah acara amal yang diadakan oleh Sahan Hasinudin, pemilik Sahan tv. Perusahaan pertelevisian terbesar di Indonesia.


Koneksi adalah hal yang penting bagi seorang pebisnis seperti Cleve, ia tidak bisa mengabaikan undangan dari seseorang yang memiliki pengaruh besar di bidang pertelevisian dan penyiaran.


Seharusnya, ia pergi berdua dengan Nawang. Namun pagi tadi, Nawang tiba-tiba menghubunginya dan mengungkapkan berita duka. Serta menyatakan tak bisa pergi menemaninya. Alhasil ia ditemani oleh Yoshi.


"Ha..." Cleve menghela nafas berat. Ia tidak pernah tau bahwa perasaan rindu itu sangat menyiksa seperti ini.


Sebelumnya, Cleve pernah merasa rindu pada ibu dan ayahnya. Rindu dengan kehangatan yang dulu pernah tercipta diantara mereka. Namun kerinduannya pada Nawang sedikit berbeda, ia tak hanya merindukan nuansa yang tercipta saat bersama gadis itu. Tapi juga merindukan semua hal mengenai Nawang.


Rindu yang ia rasakan untuk Nawang itu indah, tapi lebih menyesakkan. Dan tak bisa ditahan!!

__ADS_1


Ia ingin sekali melihat wajah Nawang, menatap senyumnya, merasakan kehadirannya dan bahkan mencium aroma tubuhnya.


Seharian ini, waktu sepertinya berlalu sangat lama. Ia ingin sekali langsung melesat pergi ketika wajahnya sudah dipindai oleh sang empunya acara.


Namun masalahnya ketika Sahan melihatnya, alih-alih bisa pergi, Cleve malah semakin sulit untuk pergi.


Sahan yang menyadari kehadiran Cleve, langsung menghampiri Cleve.


"Heyy Cleve!!" ujar Sahan dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Sahan adalah teman kuliah ayah Cleve dulu.


"Bagaimana kabarmu?!"sambung Sahan.


Cleve memasang senyum ramah, "Saya baik, om!! Om Sahan apa kabar?!"


Sahan tergelak, "Aku baik-baik saja! Kakekmu tidak ikut?!"


"Kakek tidak ikut, kakek tidak enak badan!" ujar Cleve jujur.


Thomas sudah merasa sangat lelah ketika kembali dari perjalanan jauh hari itu, ditambah lagi tidak sempat tidur dengan cukup karena dipaksa pergi untuk melamar Nawang.


Kondisinya tambah buruk setelah memaksa untuk ikut tour dengan teman-teman motor gedenya.


"Tidak enak badan?! Apa sudah diajak ke dokter?!" ada nada khawatir di suara Sahan. Sejak kecil ia sering menghabiskan waktu dengan keluarga Thomas, ia juga mengenal Thomas dengan baik.


Hanya saja setelah menikah, Sahan harus pindah ke luar kota untuk melanjutkan bisnis mertuanya. Jika tidak, mungkin saja keluarga mereka akan selalu dekat.


Melayangkan senyum ramahnya, Cleve menjawab, "Sudah om, kakek hanya terkena flu!"


Sahan mengangguk-angguk lega


"Syukurlah!" ujarnya.


Saat itulah, seorang gadis cantik dengan tubuh ramping berlari ke arah Sahan dan bergelayut manja di lengannya.


Itu adalah Sahna, putri tunggal Sahan.


Menatap Cleve dengan mata yang berbinar, ia tersipu malu-malu sembari mengintip dari balik lengan ayahnya. Gadis berusia 23 tahun itu kemudian berbisik kepada ayahnya, sembari mengerling manja ke arah Cleve.

__ADS_1


Sahan yang mendengarkan bisikan putrinya itu tertawa terbahak-bahak.


"Sepertinya, kau tak akan bisa lama-lama menduda. Akan ada lamaran yang menghampirimu besok pagi!!" ujar Sahan dengan gelak tawa yang menggelegar.


__ADS_2