
Yoshi tidak mengerti, kenapa bosnya itu bertingkah semakin aneh setiap hari. Saat seharusnya ia bisa memerintahkan bawahannya, kenapa ia malah repot-repot melakukannya sendiri??
Hari ini adalah hari yang sibuk, agenda Cleve padat merayap bagai segerombolan semut. Biasanya Cleve tidak pernah peduli pada hal lainnya, ia hanya akan fokus pada pekerjaannya.
Namun hari ini Cleve bertingkah kebalikannya, ia meninggalkan agendanya yang sibuk dan malah pergi mengantarkan mobil tunangan dari selingkuhan istrinya?!
Yoshi benar-benar tidak paham!!
Namun bukan hanya Yoshi yang tidak bisa memahami perilaku aneh Cleve. Cleve sendiri tidak mengerti akan perilakunya. Kenapa ia pergi mengantarkan mobil Nawang sendiri?! Bukankah dia punya segerombolan pegawai yang bisa ia perintahkan kapan saja?!
Hanya saja, jika ia memerintahkan orang lain untuk melakukannya, Cleve tidak akan bisa bertemu dengan Nawang.
'Kenapa?!' Cleve terkesiab dengan pikirannya sendiri, 'Kenapa aku ingin bertemu dengannya?!'
"CEO Cleve!!" panggil Nawang. "Tuan, Tuan Cleve!!"
Berulang kali Nawang memanggilnya. Namun Cleve tercenung menatap ke luar jendela.
'Apa yang sedang dipikirkannya?!' batin Nawang.
"Tuan Cleve Eddison!!" panggil Nawang lagi.
"Hmn?!" Barulah setelah tiga kali panggilan, Cleve menyahut. "Ada apa?!"
"Itu.. ponsel anda terus bergetar sejak tadi!" ujar Nawang. Ia memanggil Cleve, karena sepertinya Cleve tidak sadar ponselnya terus bergetar sejak tadi.
Cleve merogoh sakunya dan melirik sekilas nama yang tertera di layar ponselnya. Namun bukannya menjawab panggilan tersebut, Cleve mengabaikannya sepenuhnya.
"Apa anda sudah memutuskan?" ujar Cleve tiba-tiba.
"Ah?!" Nawang kaget, sejenak ia bingung dengan perkataan Cleve. Namun ia segera menyadari arah pembicaraan Cleve setelahnya.
"Itu.. saya rasa saya tidak pantas menjadi bagian dari 'Cleve' setelah keluar dari 'the last'!" sahut Nawang kemudian. "Saya merasa itu tidak etis!"
"Kenapa?!" Cleve tidak memahami maksud Nawang, "Bukankah itu wajar di dunia kerja?! Berhenti bekerja di sebuah perusahaan, lalu bekerja di perusahaan lain yang serupa. Apa ada yang salah?!"
"Hanya saja.." Nawang tidak bisa mengatakannya secara langsung.
Selain karena ia merasa tidak nyaman, bekerja di perusahaan yang merupakan musuh tempat kerjanya sebelumnya. Alasan lainnya karena Lalita.
Ia pergi dari 'the last' untuk menghindari Sagara, namun jika ia pergi ke 'Cleve' sudah pasti ia akan bertemu dengan Lalita. Secara, Lalita adalah istri pimpinan.
Bukankah itu seperti 'Keluar dari mulut harimau lalu masuk ke mulut buaya'?!
__ADS_1
"Jangan bilang, anda masih ingin menikah dengan Presdir Sagara!!?" Cleve menerka.
"Tidak!!" Sanggah Nawang keras, "Saya dan ibu saya sudah memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan. Saya juga akan keluar dari 'the last'!"
"Lalu kenapa anda menolak?!" Tanya Cleve penasaran.
"Saya berniat membantu usaha ibu saya!" sahut Nawang kemudian.
Mendengar perkataan Nawang, entah kenapa Cleve merasa kecewa. Ia tidak suka mendengar penolakan Nawang.
"Bukankah Anda bilang, 'Cleve' adalah impian anda?! Anda juga menyebut akan memberikan kontribusi besar bagi 'Cleve'!!" Ujar Cleve mengingat pidato Nawang saat interview beberapa tahun lalu.
Nawang tersentak. Ia merasa kata-kata Cleve familiar. Seketika ia terbelalak saat menyadarinya. "B-bagaimana anda..?!"
"Saya masih ingat!!" Sahut Cleve, "Nomor 125!"
Nawang tercekat. Bukan hanya pidatonya, bahkan nomor urutnya masih diingat oleh pria itu. Bagaimana mungkin?! Apa Cleve memiliki kemampuan khusus seperti di film-film itu?!
"Saya tidak pernah melupakan anda! Orang yang begitu percaya diri dan juga lugas!!" ucap Cleve lagi, "Saya menunggu kedatangan anda, saya berniat menjadikan anda sekretaris saya! Tapi anda tak kunjung datang!"
"Bagaimana mungkin?!" Nawang tidak bisa mempercayai pendengarannya.
"Di tes kedua, anda tidak terlihat!" sambung Cleve, "Saya pikir terjadi sesuatu pada anda!"
Demi hubungan yang telah terjalin erat dengan keluarga Adyatama. Nawang melepaskan mimpinya untuk bekerja di bawah brand kesukaannnya.
"Saat itu ada sesuatu dan lain hal..." sahut Nawang ambigu.
Cleve menatap Nawang, ia terdiam sejenak. Kemudian bertanya, "Apa sekarang, sesuatu dan lain hal itu masih ada..?!"
Nawang terhenyak. Setiap apa yang dilontarkan Cleve selalu mengejutkan Nawang.
"Datanglah pada saya!" ujar Cleve lagi, "Saya ingin anda berada di sisi saya!"
Mendengar kata-kata Cleve itu, Nawang tidak bisa untuk tidak tersipu. Kata-katanya terdengar seperti sebuah lamaran.
Nawang tahu, maksud dari perkataan Cleve tidaklah seperti itu. Hanya saja kata-kata Cleve yang ambigu itu selalu menggelitik kesalah pahaman di hati Nawang.
"Saya dan istri anda tidak memiliki hubungan yang baik!" ucap Nawang jujur, "Saya tidak ingin kehadiran saya, mengganggu istri anda!"
Ia takut Cleve akan tersinggung jika ia mengatakan yang sebenarnya, namun Nawang tidak lagi ingin berbohong dengan berbagai alasan.
Namun alih-alih marah dengan perkataan Nawang, Cleve malah tersenyum.
__ADS_1
Dengan lesung pipi yang menghiasi sudut wajahnya, Cleve berkata. "Tenang saja, saya akan menceraikannya!"
"Hah?!" Nawang terkejut. Matanya membola, "Apa?!"
****
Surai hitamnya tergerai indah, tertata rapi bak sutra mewah. Wajahnya yang terbiasa pucat tanpa polesan make up, kini terlihat cerah dengan polesan bedak. Ia yang tidak pernah mengenakan lipstik setelah memiliki anak, kini terlihat menggoda dengan lipstik merah merona.
Sejenak Eric terpaku, menatap wanita yang telah ia cintai bertahun-tahun itu melenggok ke arahnya.
Bagai disengat oleh listrik statis, Eric tergidik oleh perasan familiar yang telah lama ia rindukan.
Bak itu kali pertama ia melihat Juni seperti beberapa tahun lalu, begitulah perasaan Eric saat ini.
Seketika ia menyadari perasaannya. Ia pun didera oleh penyesalan yang luar biasa. Sekarang ia mengerti, mengapa ia merasakan kebimbangannya belakangan ini.
Eric bukankah jenuh pada Juni, melainkan jenuh pada penampilan Juni yang mulai berubah.
Sejak hamil, Juni jarang berdandan. Karena ia memikirkan janinnya. Katanya menggunakan skincare dan make up dapat membahayakan ibu hamil. Sehingga Juni meninggalkan itu semua demi buah hatinya.
Terlebih saat Zoe lahir, Juni lebih memikirkan Zoe daripada dirinya. Meski memiliki seorang pembantu rumah tangga, tak sekalipun ia melepas Zoe dari genggamannya. Sehingga, Juni tak memiliki waktu untuk merawat dirinya atau suaminya.
Penampilannya yang tak terawat membuat Eric muak. Namun ia tak bisa mengungkapkannya, karena itu dilakukan Juni untuk buah hatinya. Ia kemudian mencurahkan keluh kesahnya pada Dina yang kebetulan terbuka padanya.
Mungkin dari sanalah, awal mula penghianatan Eric pada Juni.
Dari hanya sekadar saling curhat, kemudian saling mengerti lalu saling bermain hati.
"Mari kita berpisah baik-baik" ujar Juni, senyum tipis tersungging di bibirnya.
Eric yang kaget, tak mengira akan disapa oleh Juni. Ia pun terhenyak sesaat. Namun kemudian, Eric menjawabnya dengan gagap.
'I-iya!" sahut Eric.
Sidang pertama dilakukan mediasi. Tapi baik Eric maupun Juni tetap bertahan pada keputusannya untuk bercerai.
Eric yang merasakan penyesalannya, tidak bisa mengakuinya. Egonya yang tinggi, tak mengijinkannya untuk berbalik.
Seolah memungut barang yang telah ia buang, haram hukumnya bagi seorang Eric Hendrawan!! Sehingga ia teguh pada keputusannya untuk bercerai.
Sedangkan Juni merasakan hal yang berbeda, saat ia memasuki ruang sidang. Rasa sakit yang awalnya tidak ada, menderanya seketika.
Bohong jika ia bilang, ia tak sedih, ia tak sakit. Namun saat itu, ia mengingat orang-orang yang ia cintai. Ia mengingat Zoe! Ia kemudian meneguhkan hatinya.
__ADS_1
Bertahan dalam perkawinan semacam ini hanya akan menjadi racun bagi dirinya dan Zoe. Ia yakin bahwa ini adalah jalan terbaik untuknya!!