
Cleve tak henti-hentinya menatap Nawang, bukan karena gadis itu terlihat cantik. Namun karena sembab di matanya.
Cleve penasaran, apa yang wanita itu tangisi sampai-sampai matanya sembab begitu?!
'Apa mungkin dia menyesal telah menyentuhku?!' batin Cleve. Seketika Cleve merasa kesal.
"Apa yang terjadi padamu?!" tanya Cleve kemudian. Tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Ya?!" Nawang kaget. Ia menulis laporan seraya melamun. Ia bahkan tak mengerti bagaimana caranya ia bisa melakukan hal itu, karena laporannya telah setengah jadi.
"Apa yang terjadi padamu?!" ulang Cleve, "Kenapa matamu sembab?!"
Nawang terdiam. Ia tidak ingin mengatakannya, karena menurutnya itu bukan urusan yang harus diketahui oleh atasannya.
Nawang menangis semalaman setelah mengetahui kenyataan tentang Odelia. Ia kemudian kembali pulang tanpa menemui Odelia, Nawang tak sanggup melihat Odelia saat hatinya pilu seperti itu.
"Apa kamu tidak suka melakukan itu denganku?!" tanya Cleve tiba-tiba. Raut wajah Cleve seketika berubah, ada kilatan terluka di matanya.
Nawang kaget melihat ekspresi Cleve itu, ia tidak mau Cleve salah paham. Sehingga ia berkata dengan cepat apa yang ia pikirkan, "Tidak! Bukan begitu! Saya sangat menyukainya!"
Mendengar jawaban spontan Nawang, Cleve kaget. Perasaan tidak nyaman yang ia rasakan sejak tadi seketika dalam hitungan detik, berubah menjadi perasaan senang yang luar biasa.
"Kamu menyukainya?!" seru Cleve.
Nawang tersentak, baru menyadari bahwa ia mengatakan isi hatinya pada Cleve.
Namun ia tidak bisa mengelak, jadi ia mengangguk.
"Aku juga sangat menyukainya!" sahut Cleve kemudian.
"Kalau kamu menyukainya.. kenapa kamu menangis?!" tanya Cleve kemudian.
"Itu...sebenarnya..." Nawang kemudian menceritakan secara singkat apa yang terjadi pada Odelia.
Saat ia menyatakan tentang Odelia yang tak memiliki kemungkinan untuk sembuh, air matanya kembali jatuh. Ia menangis terisak di depan Cleve.
Cleve tanpa ragu-ragu memeluk Nawang, dan berusaha menghiburnya.
Cleve mengelus lembut punca kepala Nawang sembari berbisik, "Tenanglah..."
"Apa dia benar-benar tidak akan sembuh?! Apa tidak ada cara?!" ucap Nawang terisak.
Alih-alih menjawab kegundahan Nawang, Cleve hanya terdiam seraya mengusap air mata Nawang yang luruh, "Apa kamu sudah menemuinya?!"
Nawang menggeleng, "Saya terlalu terkejut saat mendengar suaminya dan dokter itu berbicara, saya tidak sanggup untuk menemuinya setelah itu!"
"Ayo, kita temui dia!" ujar Cleve kemudian, "Kamu lebih baik menemuinya dulu!"
Cleve tidak hanya omong besar, hari itu setelah pulang kerja. Cleve menemani Nawang ke rumah sakit.
Cleve tak ingin mengatakan kebohongan pada Nawang, hanya untuk menghiburnya. Namun jika mengatakan kebenaran, Nawang akan semakin terpuruk. Satu-satunya cara yang menurut Cleve bisa membuat Nawang mengerti, adalah menghadapinya. Sehingga Cleve mengajaknya menemui Odelia.
__ADS_1
****
Saat Nawang membuka pintu ruangan rumah sakit, ia disambut dengan penampilan seorang perempuan yang sangat dikenalnya, tengah tertidur lelap di ranjang putihnya.
Penampilannya yang ceria dan senyumnya yang cerah memudar, tergantikan oleh tubuh kurus dan pucat.
Ditempeli dengan berbagai macam selang di tubuhnya, ia terpejam dengan damainya seolah ia tak sedang merasakan sakit sedikitpun.
"Odel..." bisik Nawang sendu.
Saat itulah kelopak matanya yang tertutup bergetar dan terbuka, menyingkapkan matanya yang redup.
"Nawang..." ucapnya lesu. Bibirnya yang kering itu melengkung. Netranya fokus pada Nawang beberapa saat. Namun kemudian Odelia teralihkan oleh pria gagah di belakang Nawang.
"Dia....?!" tanya Odelia. Samar-samar Odelia ingat, itu adalah Cleve Eddison. Namun ia masih ingin penegasan dari Nawang.
"Bosku!" ucap Nawang singkat.
Odelia tersenyum, melihat Cleve datang menemani Nawang untuk menjenguknya. Odelia pun yakin bahwa Cleve menyukai Nawang.
Odelia sudah curiga, sejak Nawang membeberkan bagaimana Cleve bisa menawarkan posisi sekretaris untuknya. Odelia sudah menduga kalau CEO 'Cleve' itu jatuh hati pada Nawang.
"Aku rasa musim semi akan berhembus!" gumam Odelia pelan.
Nawang mengernyit tak memahami perkataan sahabat nya itu, "Apa maksudmu?!"
"Tidak, lupakan..." sahut Odelia kemudian.
"Dia sopan!" celetuk Odelia, "Tak seperti mantan istrinya!"
Nawang hanya membalasnya dengan tersenyum, "Dia orang yang baik!"
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nawang mengalihkan topik pembicaraan.
Alih-alih menjawab, Odelia bertanya balik "Kamu menangis?!"
Odelia menyadari mata Nawang yang sembab. "Apa dia jahat padamu?!"
Nawang tersentak. Ia lupa kalau matanya masih sembab. "Tidak... aku hanya..."
"Apa karena pernikahan Sagara?!" tebak Odelia lagi.
"Bukan!! Aku sudah tak peduli pada hal itu!" sahut Nawang.
"Berarti karena diriku ya?!" tebak Odelia. Senyumnya pahit, "Aku ternyata sudah menyakiti banyak orang!"
Hati Nawang pilu mendengar kata-kata Odelia. Ia tahu Odelia sangat tidak suka melihat orang lain mengkhawatirkannya.
"Bukan seperti itu... aku menangis karena terjatuh kemarin!!" dusta Nawang kemudian.
"Bodoh!" sahut Odelia.
__ADS_1
"Iya, aku memang bodoh karena bisa terjatuh!"
"Tidak, kamu bodoh karena berusaha berbohong padaku!" ucap Odelia kemudian, "Kamu sedih karena takut tak bisa melihatku lagi kan?!"
Hati Nawang bergejolak mendengar kata-kata Odelia. Matanya tiba-tiba panas, ia tahu air mata akan keluar dengan deras, sehingga ia menunduk. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat berusaha menahan kesedihannya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Nawang kemudian memberanikan diri untuk menatap Odelia yang terdiam di depannya.
"Aku ketahuan!" ucap Nawang sembari memasang senyum canggungnya.
Odelia terkekeh. "Jangan bersedih!! Ingatlah... sebuah pertemuan pasti akan diakhiri oleh perpisahan! Itu adalah hal yang wajar... jadi kamu tak perlu bersedih!!"
"Lagipula, saat sesuatu menghilang akan ada hal lain yang akan menggantikannya. Kamu pasti akan bertemu dengan sahabat baru!"sambung Odelia.
Menghela nafas panjang, Nawang berusaha bicara di sela sesak yang mengganjal dadanya.
"Entahlah, apa aku bisa menemukan sahabat yang sekasar dirimu?!!" sahut Nawang."Sulit menemukan orang yang blak-blakan sepertimu.. sulit untuk.. sulit .."
Nawang mati-matian berusaha menahan air matanya. Ia bahkan tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Sehingga ia hanya terdiam dengan menggigit bibir bawahnya.
****
"Apa yang kamu bilang sayang?!" tanya Lalita saat Sagara menolak untuk mengantarkannya fitting baju pengantin.
"Aku tidak mau pergi!" ucap Sagara lagi. "Aku tidak peduli dengan pernikahan ini!"
Setelah ia kembali dari rumah sakit, Sagara terus berkata tidak ingin menikah. Pria itu kembali membuat ulah yang aneh-aneh dan terus membuat Lalita kesal. Ada-ada saja yang pria itu lakukan hingga membuat Lalita naik pitam.
Sebelumnya, Sagara sangatlah perhatian, ia baik dan selalu peduli pada Lalita. Tapi kenapa sekarang Sagara berubah?! Apa yang sebenarnya terjadi?! Apa amnesianya merubah perilakunya?! Ataukah terjadi sesuatu hari itu?!
Lalita kemudian mengingat, sebelum Sagara pingsan dia bilang dia ingin menemui Cleve dan Nawang. Apakah terjadi sesuatu di sana?!
"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba berubah setelah menemui Cleve tempo hari?! Apa terjadi sesuatu disana?!" Tanya Lalita kemudian. Lalita memang sudah menduganya. Tapi karena Sagara bungkam, Lalita tak lagi mengungkitnya. Tapi mengingat sikap Sagara sekarang, Lalita kembali merasa curiga.
Mendengar nama 'Cleve' disebutkan di depannya, Sagara meledak.
"Bukan urusanmu!!" Bentak Sagara kesal.
Lalita mengernyit, bukannya menyerah. Ia malah semakin yakin bahwa memang terjadi sesuatu disana.
"Apa kau melihat Nawang berc*mb* dengan Cleve?!" pancing Lalita, "Huh .. menyedihkan!"
Lalita mengatakan hal itu hanya untuk memprovokasi Sagara.
"Dia pasti tel*nj*Ng berusaha menggoda Cleve kan?!" sambung Lalita.
"Br*ngs*k!!" Murka Sagara, "Bukan Nawang yang melakukannya!! Pasti dia yang memaksa Nawang melakukannya!!"
"B*d*bah itu pasti telah memp*rk*s* Nawang hari itu!!" sentak Cleve, "Nawang tak mungkin mau b*rc*NT* dengannya kecuali dia dipaksa!!"
Lalita membelalak kaget, "Apa yang kau katakan?!!"
__ADS_1