Rahasia Kecelakaan Tunanganku

Rahasia Kecelakaan Tunanganku
BAB 71


__ADS_3

Indah sangat khawatir!! Entah kenapa sejak pagi, Juni telah bersikap sangat aneh.


Majikannya itu selalu saja bengong menatap lurus ke depan, seolah-olah jiwanya telah menghilang. Setiap kali Indah bertanya, Juni terkadang hanya menjawab seadanya bahkan lebih sering hanya terdiam.


Saat sebelumnya Juni melakukan percobaan bunuh diri, ia juga bertingkah aneh seperti itu. Namun saat itu, Indah berpikir bahwa Juni hanya sedang capek mengurus Zoe.


'Apa yang terjadi?!' batin Indah. Ia hendak bertanya, namun gawainya bergetar minta diperiksa.


Itu adalah telepon dari nyonya besar, Ria.


"Hallo nyonya!" sapa Indah.


"Hallo Indah, Bagaimana kabar Juni disana?!" tanya Ria. Entah kenapa hati Ria gundah sejak semalam.


Ia tak melihat putrinya di pesta pernikahan Sagara. Ditambah lagi, semalam Ria bermimpi buruk. Serupa dengan mimpinya beberapa waktu lalu, saat Juni hampir bunuh diri. Ria bermimpi giginya copot semua.


Saat itu, Ria tak terlalu menggubrisnya, ia pikir mimpi itu hanyalah bunga tidur. Namun kemudian, kedua anaknya mengalami hal buruk. Dan keluarga mereka secara bertubi-tubi mendapat cobaan yang amat berat.


Kini mimpi yang sama kembali lagi. Ria merasa sangat takut, tiba-tiba ia terpikirkan Juni. Entah kenapa ia merasa firasatnya sangat buruk.


"Dia baik-baik saja kan?! Apa dia sakit?!" ceroscos Ria.


Indah tersentak. Bagaimana nyonya besarnya itu tahu?! Majikannya memang terlihat aneh sejak pagi.


Namun Indah tidak ingin menambah beban pikiran Ria, sehingga ia berbohong dan berkata.


"Non Juni baik-baik saja nyonya!" sahut Indah. "Jangan khawatir!"


Di seberang sambungan, terdengar helaan nafas lega. Ria merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan Indah.


"Tolong perhatikan Juni ya Indah!" seru Ria kemudian.


"Baik, nyonya!" sahut Indah. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tapi ia berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan lebih menjaga Juni dari sebelumnya. Indah berniat untuk menghubungi Nawang dan menceritakan kekhawatirannya.


Sebelumnya, Nawang pernah berpesan. Jika terjadi hal aneh pada Juni, Indah harus menghubungi Nawang ataupun Odelia. Namun Odelia sekarang sedang sakit, tidak mungkin Indah menghubunginya. Sehingga, pilihan Indah tertuju pada Nawang.


Saat Indah menghubungi Nawang, Nawang sedang bekerja di kantor. Ia berjanji akan berkunjung ke apartemen Juni di sore hari, sepulang dari bekerja.


"Siapa?!" celetuk Cleve saat mendengar Nawang akan bertemu seseorang.


"Indah, mas! Asisten rumah tangganya Juni!!" sahut Nawang sembari menyusun laporan. "Saya mau menjenguk Juni, katanya dia sedang tidak enak badan!"


"Kamu mau pergi ke rumah Presdir Sagara?!" tanya Cleve. Seketika ia merasa kesal, berpikir bahwa Nawang akan bertemu dengan mantan tunangannya itu.

__ADS_1


"Ketemu di luar saja!"titahnya kemudian.


Nawang tersenyum, "Tidak mas! Saya tidak ke rumahnya Sagara, Juni sudah tidak tinggal disana. Sekarang dia tinggal di apartemen!"


Mendengar jawaban Nawang, Cleve merasa lega. Ia senang kekasihnya itu tak akan pergi ke rumah pria br*ngs*k itu.


"Oh! Baguslah!" sahut Cleve kemudian. Ia menyeringai senang.


Nawang menggeleng-gelengkan. Akhir-akhir ini, pria itu sangat protektif. Pergi kemanapun harus bersama dengannya.


Nawang merasa seperti dikungkung di dalam genggamannya, namun entah kenapa Nawang tak merasa jengkel. Sebaliknya ia merasa senang. Ia sempat berpikir, apakah mungkin dirinya tidak waras?! Biasanya wanita tak menyukai pria yang posesif sebagai pasangannya.


Sebenarnya Nawang juga! Dulu, Sagara sangat posesif. Namun karena Nawang tak menyukainya, Sagara berusaha untuk menahan perasaannya.


Tapi kenapa pada Cleve berbeda?! Kenapa ia malah sangat suka setiap kali pria itu melarangnya melakukan ini itu?!


'Ha.. aku sudah gila rupanya!' batin Nawang.


Tanpa sadarnya, Nawang memandang Cleve yang tengah sibuk memeriksa dokumen. Pria itu sungguh bersinar! Duduk di kursi kebesarannya, wajah tampannya menatap dengan serius.


Seolah tak ada kesalahan yang luput dari pantauannya, Cleve dengan dingin melemparkan berkas yang menurutnya tak sesuai dengan keinginannya.


Menarik berkas lainnya, Cleve kembali menelitinya dengan cermat. Ia sungguh seperti seorang raja yang memutuskan sesuatu dengan mudahnya. Seakan-akan seluruh orang harus tunduk di bawah kuasanya.


Tapi pria yang bak raja itu, kemarin mengalah untuk gadis yang ia cintai. Meski sempat berdebat, Cleve akhirnya mengikuti keinginan Nawang untuk melakukan pernikahan setelah tiga bulan.


Cleve yang sibuk memeriksa dokumen, merasa kaget mendengar ucapan terimakasih mendadak dari Nawang.


"Untuk apa?!" tanya Cleve bingung.


Senyum tersungging di bibir Nawang melihat raut wajah Cleve yang keheranan, "Karena mas mau mengalah! Mas mau menungguku!"


Dheg!!


Meskipun apa yang dilakukan oleh Nawang hanyalah hal sepele. Gadis itu hanya berterimakasih, namun dampaknya sungguh luar biasa bagi Cleve.


Seolah bunga-bunga musim semi bermekaran di sekitarnya, hati Cleve menjadi hangat.


Cleve yang tersentak oleh perasan asing yang memenuhi dada nya, bangkit dari duduknya. Ia tiba-tiba memiliki keinginan untuk menyentuh kekasihnya.


Seraya menatap Nawang dengan lembut, Cleve berjalan menghampiri Nawang.


Nawang kaget, ia tak menyangka Cleve akan menghampirinya. Namun belum habis rasa terkejutnya, Nawang kembali dikejutkan saat Cleve mencuri sebuah kec*pan darinya.

__ADS_1


Tepat disaat itu, Yoshi muncul dari balik pintu!


Yoshi yang melihat adegan singkat itu, terkejut sesaat. Namun ketika ia kembali sadar. Ia berujar dengan gagap "Ma-maaf, saya tidak sengaja! Saya akan kembali lagi nanti! Permisi!"


Lalu dengan secepat kilat, Yoshi melesat keluar dari ruangan itu.


****


Penderita kanker yang sudah mencapai stadium akhir seperti Odelia, harus melakukan serangkaian perawatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.


Kombinasi dari kemoterapi, terapi target, imunoterapi, pembedahan, dan terapi radiasi. Dan juga perawatan paliatif.


Hanya memikirkan semua itu, Odelia merasa lelah. Bahkan karena dirinya mengalami kondisi khusus, ia harus melakukan serangkaian tes sebelum melakukan perawatan yang melelahkan itu.


Seperti seorang siswa yang setiap hari harus pergi ke sekolah. Mengerjakan begitu banyak tugas dan melakukan kegiatan yang tak sesuai keinginan. Odelia seakan bernostalgia ke dalam nuansa monoton yang membosankan itu lagi.


Ia sebenarnya hanya ingin sisa hidupnya tenang!! Bersama dengan suami, anak dan juga teman-temannya. Ia ingin mengobrol, berbicara dari hati ke hati lalu mati dengan riang.


Namun ia tak sanggup melihat suaminya yang terus memohon dan mengiba padanya. Melihat pria itu menangis setiap malam hanya untuk membujuknya melakukan perawatan.


"Kami akan melakukan yang terbaik!" seru Raka pada Odelia. "Anda harus tetap bersemangat! Demi keluarga dan orang-orang yang menyayangi anda! Anda tidak boleh menyerah!!"


Odelia mengangguk lemah, ia seolah mengalami deja vu. Ia tersenyum tipis menyadari kata-kata dari dokter Raka, mirib dengan kata-kata dari dokter yang menangani ayahnya dulu.


Ia bukannya menyerah, ia hanya berpasrah!! Odelia telah menerima apa yang terjadi padanya. Tak ada marah, rasa benci ataupun penyesalan. Ia benar-benar ikhlas.


Sementara Odelia tengah menjalani pengobatannya dan berjuang untuk bertahan hidup lebih lama, Juni malah jatuh ke dalam jurang depresi berat. Apalagi mensyukuri hidup, Juni malah ingin mengakhirinya.


Juni tak menyadari bahwa dirinya sedang depresi.


Ia hanya berpikir bahwa mati lebih baik untuknya!!


Pikirannya menjadi gelap, seakan-akan matanya tertutup oleh kain hitam yang tebal.


Ia merasa semua yang terjadi dalam hidupnya salah. Tak ada yang benar, dan cara satu-satunya untuk keluar hanyalah dengan kematian.


Orang-orang di sekitarnya seolah tak ada, bahkan Zoe yang merupakan kesayangannya tak berarti untuknya. Ia merasa benar-benar sendirian.


Ia merasa kotor, ia jijik pada dirinya sendiri!! Ia merasa dunia lebih baik tanpa dirinya. Ia hanya ingin mati!!!


Berdiri di balkon apartemennya. Ia menatap ke bawah, ia berpikir jika ia menjatuhkan dirinya dari sana, apakah ia kan mati?! Ataukah harus ke tempat yang lebih tinggi?!


Dorongan-dorongan aneh, bisikan-bisikan asing terus saja menghantuinya. Menyuruhnya untuk mati!!

__ADS_1


Mati!!! Mati!! Mati!!!


Setiap kali ia melihat pisau ataupun gunting, ia ingin menancapkannya di tubuhnya. Seolah dengan begitu, rasa sakit yang ia derita akan menghilang.


__ADS_2