
Alih-alih Sekretaris atau Asisten, pria di depannya itu malah menawarkan posisi sebagai OB dan security?! Benar-benar gila!! Wajahnya memang tampan, tapi sayangnya minus akhlak!!
"Anda bilang ingin dekat dengan tuan Cleve, jadi posisi itu paling tepat sesuai dengan deskripsi anda!" ujar Yoshi kemudian. Mempertahankan wajah tanpa ekspresinya yang datar.
Sahna mendengus, malas meladeni omongan pria di depannya. Dengan enggan ia kemudian bertanya, "Sudahlah!! Lalu posisi apa yang akan aku tempati sekarang di perusahaan ini?!"
"Anda akan ditugaskan di departemen marketing!" pungkas Yoshi singkat.
Awalnya Sahna optimis, meski dia tidak berada di posisi yang dekat dengan CEO. Namun setidaknya, ia masih berada di satu perusahaan yang sama dengan Cleve. Ia yakin hanya dengan hal itu, ia bisa menarik perhatian Cleve.
Namun perkiraannya itu salah besar!!
Apalagi menarik perhatian pria tampan itu, melihatnya saja Sahna tidak pernah!! Padahal sudah lebih dari dua minggu ia bekerja disana. Hanya Yoshi, asisten Cleve yang menyebalkan itu yang terlihat batang hidungnya.
"Bener gak sih rumornya?!" bisik Sherly.
"Aku rasa bener deh! OB di ruangan CEO sendiri yang bilang!" balas Rina.
"Tapi kalau begitu, kayak di film gak sih?!" ujar Cindi, "Mereka kayak tukeran pasangan gitu gak sih?!"
"Hah?! Apa?!" Sahna yang tak memahami apa yang dikatakan oleh rekan-rekannya itu akhirnya bertanya juga. Ia penasaran, hal apa yang disebutkan oleh mereka.
"Kalian lagi ngomongin apa sih?! Seru banget kayaknya!" Sahna ikutan nimbrug. Meski ia baru bekerja dua mingguan disana, teman-temannya sudah sangat akrab dengannya. Semua itu berkat 'sogokan-sogokan' mahal yang selalu disodorkan Sahna kepada teman-temannya.
"Itu lho... apa kamu denger rumornya, CEO kita bakal menikah!" koar Sherly.
"CEO kita?!" Sahna mengernyit, "Siapa?!"
"Haish! Ngelawak kamu!" ledek Cindi, "Siapa lagi!? CEO Cleve-lah, CEO kita!"
"CEO Cleve?! Menikah?!" Sahna terbelalak, "Bukannya baru-baru ini dia cerai ya?!"
"Humn!" Rina mengiyakan, "CEO kabarnya akan menikahi sekretarisnya! Kamu tahu kan?! Sekretaris Nawang yang cantik itu lho!"
Sahna mengernyit. Sahna hanya pernah melihat sekretaris Cleve sekali. Tepatnya saat ia datang untuk menyerahkan CV beberapa Minggu lalu.
Tapi saat itu Sahna tak terlalu memperhatikan wanita yang menjadi sekretaris Cleve. Ia hanya fokus pada Cleve.
"Kamu tahu gak, sekretaris Nawang itu dulu pernah bertunangan dengan Presdir 'the last'. Suami baru dari mantan istri CEO Cleve!"
"Apa?!" Sahna kaget.
"Iya, nyonya Lalita kan sudah menikah. Dia menikah lagi sama Presdir 'the last'!! Terus kabarnya sekretaris Nawang itu dulunya tunangannya Presdir 'the last'!!" ujar Cindi.
"Kesannya CEO kayak lagi balas dendam gak sih?!" Sherly berujar, "Menikahi mantan tunangan pria yang merebut istrinya, gitu!"
"No no no!!" Rina menolak pendapat sahabatnya itu, "CEO Cleve itu beneran cinta sama sekretaris Nawang!"
"Kamu pernah liat mereka makan bareng di kantin tidak?!" sambung Rina, "CEO Cleve so sweet banget sikapnya!"
"Kalau bukan karena cinta, tidak mungkin pria bisa seromantis itu ke wanita!" imbuh Rina.
Omongan Rina itu bukan hanya bualan semata, karena memang benar Cleve sangat manis jika sedang bersama dengan Nawang.
Meski rencana pernikahan mereka pun akhirnya dipercepat. Namun Cleve masih merasa belum puas. Karena ia masih harus menunggu sebulan lagi.
"Sayang, empat hari lagi bagaimana?!" Cleve masih belum mau menyerah.
__ADS_1
Nawang mendengus kesal. Cleve benar-benar keterlaluan, ia tak memandang waktu untuk mendiskusikan pernikahan mereka.
Kemarin saja Cleve mengungkapkan hal itu di tengah-tengah rapat. Ia berbisik di telinga Nawang dan tiba-tiba berkata, "Seminggu lagi bagaimana?!"
"Mas..." keluh Nawang.
"Dua Minggu bagaimana?!" rengek Cleve. Ia menatap dengan mata memelas.
Nawang mendengus sebal. Bagaimana bisa pria yang menakutkan yang ia lihat beberapa bulan lalu menjadi pria seperti ini sekarang!
"Sebulan itu cepet banget lho! Mas yang sabar saja!" sahut Nawang.
"Tapi aku sudah tidak sabar, bagaimana bisa aku menahan diriku terus!" Cleve sekarang sudah bangkit dari duduknya. Seketika Nawang merinding. Takut Cleve akan menciumnya tiba-tiba seperti sebelumnya.
"Mas, nanti kalau ada yang datang lagi bagaimana?!" Nawang mengingatkan kekasihnya itu.
Sebelumnya, Yoshi sudah memergoki mereka dan beberapa waktu lalu seorang OB juga melihat mereka berciu man.
Sampai-sampai rumor tentang mereka berpacaran menyebar di seluruh perusahaan. Meledak dan membuat gempar semua karyawan. Nawang sampai dibuat sangat malu.
Para karyawan berbondong-bondong berkenalan dengan Nawang dan mereka menyapa Nawang dengan amat sangat hormat. Seolah-olah Nawang telah menjadi nyonya Eddison.
"Tak apa, pintunya sudah dikunci kok!" bisik Cleve. Ia kemudian menarik tangan Nawang, hingga Nawang berdiri dengan terpaksa.
Dengan sekali sentakan, Cleve menarik tubuh kekasihnya itu ke dalam rengkuhannya. Lalu melu mat bibirnya dengan ganas.
****
Setelah menghabiskan waktu selama beberapa hari ini dengan jalan-jalan bersama Nawang, Indah dan anak-anak. Hati Juni menjadi lebih tenang. Pikirannya lebih jernih. Dan ia merasa tubuhnya lebih ringan. Ia tak melupakan kematian sahabatnya itu, namun sudah jauh lebih ikhlas.
"Hari ini non mau kemana lagi bareng anak-anak?!" tanya Indah kemudian, saat melihat anak-anak itu didandani dengan sangat cantik dan rapi oleh Juni.
"Non mau saya temenin?!" tanya Indah.
Juni menggeleng. "Tidak usah ndah! Ini sudah sore, kamu istirahat saja!! Nanti kan kamu juga harus masak buat makan malam! Kalau menemani saya juga, kamu pasti bakal kecapekan!!"
Indah mengangguk. Senyum mengembang di bibirnya, melihat Juni menjadi seperti dirinya kembali, "Iya non!"
Setelah selesai bersiap, Juni kemudian pergi membawa Zoe dan Brandon menuju ke taman. Dengan menggunakan kereta dorong kembar, ia membawa dua bocah itu jalan-jalan.
Melewati jalan setapak yang dipenuhi oleh rumput dan pepohonan di sekitaran apartemen, Juni menikmati indahnya suasana tenang di sore hari.
Kawasan apartemennya yang asri, membuat Juni merasa lebih damai. Ia sangat menikmati aroma segar pepohonan yang ditiup angin sepoi-sepoi.
Awalnya ia mengira, pilihannya untuk jalan-jalan adalah pilihan yang tepat. Sampai ia bertemu dengan sosok yang tak ia inginkan.
"Juni!" Eric kaget saat melihat Juni berdiri di depannya.
Setelah perpisahan mereka, tak sekalipun Eric menampakkan batang hidungnya. Sesekali Eric mentransfer sejumlah uang, namun tak pernah mengunjungi Juni dan Zoe.
Eric sempat mengalami keterpurukan selama beberapa waktu. Hingga akhirnya ia menjual semua asetnya, menggunakan semua tabungannya untuk membayar hutang. Kemudian pindah ke luar kota.
Eric kini bekerja di sebuah klinik kecantikan di luar kota. Ia memulai kehidupannya dari awal. Namun hari ini, ia datang untuk menemui seorang perempuan yang dekat dengannya akhir-akhir ini.
Namun ternyata ia malah bertemu dengan Juni dan Zoe yang ia rindukan.
Melihat Eric, Juni menghela nafas panjang. Dia tak ingin menambah beban psikologisnya untuk saat ini! Namun ternyata beban itu yang datang sendiri padanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini?!" tanya Eric kemudian.
"Ah.. aku tinggal disini sekarang!" sahut Juni seadanya.
"Oh.." Eric canggung, "A-aku... aku kesini..."
Eric hendak menjelaskan, namun Juni menyelanya.
"Aku duluan ya!" ujar Juni kemudian. Ia tak ingin tahu menahu tentang Eric. Apapun yang dilakukan oleh pria itu tak ada hubungannya dengan dirinya.
Namun Eric tak merasakan hal yang sama. Ia menghadang langkah Juni yang ingin lewat.
"Apa itu Zoe?!" tanya Eric, mengintip di balik kereta bayi yang didorong Juni.
Juni mengangguk.
"Apa aku boleh melihatnya?!" tanya Eric kemudian.
Dengan berat hati, Juni mengizinkannya.
Mendapat izin dari Juni, Eric merasa senang. Ia langsung meraih putrinya dari kereta bayi. Ia begitu fokus pada Zoe, hingga tak menyadari bocah lain yang ada di samping Zoe.
Selama beberapa saat, Eric terbuai dengan kelucuan putrinya. Hingga ia lupa dengan kehadiran Juni. Namun kemudian Juni mengingatkannya.
"Ekhem!" Juni berdehem. Berusaha mengingatkan Eric, bahwa waktunya telah habis. "Kami mau ke taman!"
Alih-alih menyerahkan Zoe, Eric malah mengungkapkan hal lain.
"Kalau begitu ayo kita pergi bersama?!" ujar Eric kemudian.
Meski Juni merasa enggan. Ia tak bisa menolak juga. Putusan pengadilan memang memberikan hak asuh Zoe pada Juni, namun bukan berarti Juni boleh melarang Eric untuk menemui putrinya.
"Kamu kelihatannya lebih kurus dari sebelumnya, apa terjadi sesuatu?!" tanya Eric. Ia tahu dari berita yang beredar, bahwa Sagara telah menikahi Lalita Larasati. Mantan istri CEO Cleve. Yang artinya pria itu urung menikahi Nawang, sahabat Juni. Eric berpikir, hal itu mungkin telah mempengaruhi Juni.
"Tidak.. aku hanya sedang diet!" sahut Juni berdusta.
"Kenapa kamu pakai diet segala?!" celetuk Eric, "Tubuhmu sudah bagus dan kau sudah sangat cantik!"
Mendengar perkataan Eric, Juni tersentak tiba-tiba. Perih terlintas sejenak di hatinya.
'Jika benar aku cantik, kenapa kau berselingkuh dariku?!' sekilas Juni membatin. Raut wajahnya tiba-tiba berubah kaku.
Menyadari dirinya salah bicara, Eric pun canggung. Ia terbiasa mengungkapkan pujian di depan Juni. Ia tak bisa mengontrol kebiasaannya itu.
Berusaha mengungkap topik lain, Eric memandang ke sekitar. Dan menyadari kehadiran Brandon di kereta dorong Juni.
"Siapa anak itu?!" tanya Eric kemudian.
"Oh.. dia Brandon!" sahut Juni, "Anak Odelia!"
"Kenapa dia ada bersama denganmu?!" tanya Eric kemudian. "Dimana orangtuanya?!"
Pertanyaan Eric membuat Juni tersentak.
'Dimana orangtuanya?!'
Entah kenapa pertanyaan sepele itu, membuat rasa sakit yang ia pikir telah hilang. Membludak di dalam dirinya. Kepala Juni tiba-tiba pusing dan ia merasa sangat mual. Tubuhnya seketika meremang dan kesadarannya tiba-tiba sirna.
__ADS_1
"Juni!! Juni!!!" panggil Eric.