
"Maaf nyonya, tuan sedang sibuk dan tidak bisa menemui nyonya hari ini!" Jawab Yoshi dengan masih memasang wajah datarnya.
Wanita cantik yang pucat pasi itu mengulas senyum pahit.
"Bisa-bisanya suamiku bersikap dingin, padahal istrinya kecelakaan seperti ini..." Ujar wanita itu dengan air mata yang berlinang.
Yoshi terdiam. Tidak ada iba yang biasanya muncul di matanya, ia hanya memperlihatkan wajah dinginnya seperti tuannya!
"Apa.. apa kamu bisa membantuku?!" Tanya wanita itu lagi. Bibirnya yang kering, bergetar saat ia membuka mulutnya.
"Iya nyonya?!"
"Bisakah kamu mencari barang-barangku yang tertinggal saat aku mengalami kecelakaan?!" Tanyanya lirih.
"Itu.. tuan Cleve sudah mengambilnya nyonya!" Ujar Yoshi, ia kemudian melangkahkan kakinya ke sebuah tas hitam besar yang ada di sofa. Beberapa saat Yoshi merogoh tas itu kemudian mengeluarkan sebuah plastik bag bening yang dipenuhi barang-barang.
Yoshi kemudian menyerahkan plastik bag itu pada wanita itu.
Wanita itu kaget saat mengenali barang-barangnya, "T-tadi.. tadi kamu bilang Cleve yang mengambilnya?! D-dia .. dia mengambilnya dari mana?!"
"Kantor polisi, nyonya!" Sahut Yoshi singkat.
Perasaan Lalita berubah kacau. Ia tidak menyangka barang-barangnya akan diambil oleh Cleve, suaminya. Menurut perkiraannya, dengan sifat dingin Cleve yang seperti itu kemungkinan besar Cleve akan menyuruh orang lain untuk melakukannya. Tapi kenapa?! Kenapa Cleve sendiri yang mengambilnya? Apa dia mencurigai sesuatu?
"A-apa.. apa ada yang dia katakan?!" Tanya Lalita kemudian.
"Tidak, nyonya!" Sahut Yoshi singkat.
Lalita terdiam. Ia berusaha mencerna keadaan!
Tiga tahun mereka menjadi pasangan suami istri, tapi Lalita masih tidak bisa memahami cara fikir Cleve! Bahkan Lalita tidak tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh suaminya itu!
Pernikahan Lalita dan Cleve adalah sebuah pernikahan kontrak. Pernikahan yang sebatas status tanpa cinta di dalamnya. Ralat, bukan tanpa cinta tapi cinta sepihak!
Lalita jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Cleve di aula pesta pernikahan sepupunya.
Melihat ketampanan Cleve yang bagaikan dewa Romawi kuno, siapa yang tidak akan jatuh cinta?! Apalagi Lalita, wanita yang selalu mengedepankan 'ketampanan' dalam setiap aspek spesifikasi pasangannya!
Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini sulit bagi Lalita untuk mendapatkan hati pria seperti Cleve. Meski secara terang-terangan ia berusaha menarik perhatian Cleve, Cleve tetap mengabaikannya.
Hingga akhirnya, ia berusaha meminta bantuan kakeknya yang mantan walikota untuk membuat sebuah perjodohan dengan kakeknya Cleve. Dan berhasil membuat sebuah pertemuan untuk mereka berdua.
Namun di hari pertemuan, Cleve terlambat datang. Ia datang sejam lebih lambat dari waktu yang ditentukan!!
"Maaf, saya terlambat!" Ujar Cleve saat baru sampai.
"Ah, tidak apa.." sahut Lalita malu-malu. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia tidak bisa mendengar apapun.
__ADS_1
"Saya langsung saja, saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya tidak berniat untuk menikah. Jika anda menginginkan sebuah pernikahan, lebih baik anda mencari orang lain untuk menjadi pasangan anda!" Ujar Cleve.
Lalita kaget. Ia tidak menyangka Cleve akan langsung menolaknya, tanpa memberikan kesempatan untuknya berbicara sedikit pun.
"Kalau begitu, saya permisi!" Ujar Cleve bangkit dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari Lalita.
"Tunggu!" Seru Lalita. Ia tahu jika tidak sekarang, maka tidak akan ada lain kali untuk bisa bertemu dengan Cleve. Sehingga ia berusaha untuk membuat Cleve mendengarnya bagaimanapun caranya.
Cleve yang hendak melangkah pergi, berbalik dan menatap Lalita dengan cermat.
Melihat Cleve berhenti, Lalita berusaha memutar otaknya. Apa yang harus ia ucapkan, agar Cleve tertarik dan tetap tinggal?!
Tiba-tiba novel romantis yang ia sukai terlintas di dalam benaknya. Lalu ia mengatakan kata-kata yang pemeran utama wanitanya katakan pada pemeran utama pria!
"Saya rasa anda juga merasakan hal yang sama!" Ujar Lalita.
Cleve mengernyit. "Maksud anda?!"
"Saya sudah sangat bosan datang ke acara perjodohan seperti ini!" Ujar Lalita, "Apa anda tidak bosan?!"
Cleve terdiam sesaat, menatap Lalita dengan teliti mencari maksud tersembunyi wanita itu.
"Saya tidak berniat memiliki sebuah pernikahan bahagia seperti orang-orang pada umumnya. Saya hanya ingin pernikahan di atas kertas, hanya sebagai status agar saya berhenti mengikuti perjodohan seperti ini! Saya tidak butuh cinta ataupun perhatian, ini hanya akan menjadi bagian dari kesepakatan!"
Saat Cleve mendengarnya, ia kemudian kembali duduk di kursinya dan mendengarkan penjelasan Lalita dengan seksama.
Saat itu Lalita sangat senang. Ia merasa hidupnya akan berakhir seperti pemeran utama di dalam novel pernikahan kontrak itu, yang saling jatuh cinta!
Lalita yakin itu akan datang padanya cepat atau lambat. Ia sungguh sangat bahagia.
Namun tidak butuh waktu lama, sampai Lalita menyadari bahwa novel dan kenyataan itu adalah dua hal yang sangat berbeda.
Setelah menikah, tidak sekalipun Cleve muncul di depan Lalita. Ia bahkan tidak pernah bertanya apakah Lalita masih hidup atau tidak. Cleve benar-benar menganggap hubungan mereka hanya diatas kertas, seperti kesepakatan mereka.
Bahkan saat Lalita berusaha menarik perhatian Cleve dengan terus memberikan perhatian dan kasih sayang, Cleve tetap mengabaikannya seperti debu luar angkasa!
Cleve benar-benar tidak memberinya cinta ataupun perhatian seperti dalam perjanjian!
*****
Nawang menatap takjub pada gedung megah yang ada di depannya. Selalu saja ia terpana melihat gedung mewah itu.
Sebelumnya ia pernah menginjakkan kakinya ke dalam gedung itu sebagai seorang fresh graduate yang melamar pekerjaan. Namun sekarang ia datang sebagai tamu dari seorang Cleve Eddison, pimpinan perusahaan.
Setelah mengembalikan barang-barang milik Sagara, Nawang teringat pada 1 barang yang juga ia bawa serta. Itu adalah smartphone hitam keluaran setahun lalu yang kemungkinan besar adalah milik istri CEO Cleve.
Ia berniat mengembalikannya ke kantor polisi, namun keingintahuannya yang besar pada hubungan Sagara dan Lalita membuat Nawang nekat menghubungi Cleve sendiri.
__ADS_1
"Silahkan masuk!" Seorang pria yang tadi memperkenalkan diri sebagai asisten Cleve memintanya untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.
Nawang masuk ke dalam sebuah ruangan mewah yang terlihat lebih seperti hotel bintang lima ketimbang kantor.
Mata Nawang langsung tertuju pada meja megah di tengah ruangan. Di dekat meja modern dengan desain minimalis itu, seorang pria duduk dengan angkuhnya menatap Nawang tajam.
Seketika, seperti sebelumnya, seluruh bulu kuduknya merinding.
Namun saat Nawang melangkahkan satu kakinya lagi ke dalam ruangan, Cleve bangkit dari duduknya.
"Selamat siang! Silahkan duduk!" Ujar Cleve kaku. Cleve kemudian mengarahkan Nawang untuk duduk di sofa yang tertata di depannya. Cleve sendiri beralih duduk di sofa seberang Nawang.
Perasaan gugup saat ia di interview pun kembali menerjangnya. Seolah ia adalah pelamar kerja yang tengah berhadapan dengan HRD, Nawang keringat dingin di buatnya.
Meski ia terus mengulang di dalam benaknya, bahwa ia datang sebagai tamu bukan sebagai pelamar kerja. Namun pikiran Nawang tidak mau bekerja sama.
"Apa ada yang bisa saya bantu?!" Tanya Cleve kemudian.
"S-saya...." Nawang yang hendak berkata-kata seketika terdiam. Ia merasa seperti sebuah komputer yang tiba-tiba blank, dia tidak tahu harus berkata apa. Rasanya benaknya kosong tanpa isi.
Di luar perkiraan, Cleve yang ia pikir akan jengkel melihat tingkahnya. Malah menunggunya untuk berbicara dengan sabar.
Bahkan saat seorang OB masuk dan membawakan teh untuk disajikan padanya, Cleve menawarkan Nawang untuk minum terlebih dahulu.
Ajaibnya, setelah ia menyesap teh itu pikirannya kembali jernih.
"Saya rasa ini milik istri anda..." Ujar Nawang kemudian. Sembari menyerahkan smartphone hitam yang ia bawa dari kantor polisi waktu itu.
"Saya rasa anda salah paham.." ujar Cleve, "Itu bukan milik istri saya!"
Nawang mengernyit, "Tidak mungkin, ini bukan milik Sagara. Lalu milik siapa?!"
Nawang kebingungan. Ini bukan milik Sagara juga bukan milik Lalita. Lalu milik siapakah ini?!
Cleve diam, ia meneliti gadis di depannya dengan seksama. Terlihat dari wajahnya, gadis itu kebingungan. Dan tengah berpikir dengan keras, seolah-olah seluruh beban di dunia tengah dipikirkannya.
Di kantor polisi dan di tempat ini, ia terlihat sama. Terlihat tidak dalam kondisi prima. Sungguh berbeda dengan saat ia datang melamar kerja beberapa tahun lalu, yang penuh dengan semangat dan percaya diri.
Benar! Cleve masih mengingatnya. Cleve adalah salah satu orang yang memiliki penyakit langka. Hyperthymesia.
Dimana karena hal tersebut, Cleve dapat mengingat dengan detail mengenai apa yang dilihat, didengar, maupun dirasakan olehnya sepanjang hidupnya.
Sehingga Cleve langsung mengingat gadis di depannya begitu melihatnya.
"Lalu... milik siapa ini?!" Gumam Nawang sendiri, ia melakukannya tanpa sadar."Apa aku harus mengembalikannya ke kantor polisi?!"
Cleve yang mendengar ucapan Nawang, bangkit dari duduknya kemudian menghampiri mejanya. Ia kemudian menarik salah satu laci mejanya kemudian mengambil sesuatu.
__ADS_1
Nawang tidak melihatnya dengan jelas sebelumnya, karena Cleve menggenggamnya. Namun saat ia meletakkannya di depan Nawang, Nawang terkejut di buatnya.