
"Mbak Nawang!!" seru Rani. Setelah berbulan-bulan tak bertemu, ia sangat senang akhirnya bisa melihat Nawang lagi.
Bersama dengan teman-temannya, Rani kemudian menghampiri Nawang.
"Mbak Nawang!!" koar Bintang dan Wulan.
"Mbak apa kabar?!!" tanya Rani, ia mendekap Nawang dengan riang.
Nawang tersenyum menyapa teman-temannya dengan lembut, "Baik, kalian bagaimana?!"
"Huu... kami kangen banget sama mbak!!" ucap Wulan. Ia benar-benar merindukan Nawang di perusahaan. Ia selalu membayangkan jika Nawang masih ada di antara mereka.
"Mbak kok tega sih gak ada hubungin kami?!" keluh Bintang. Ia jengkel saat Nawang tak menghubunginya sedikitpun, padahal Nawang sudah berjanji akan tetap menjalin silaturahmi. Namun ternyata, Nawang sendiri yang ingkar.
"Maaf ya, mbak gak bermaksud begitu... cuman..." Nawang tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Saat itu adalah saat terberat baginga.
Ia merasa kalut dan dilema akan banyak hal. Ia tak memikirkan apa-apa dan hanya ingin menenangkan diri sendirian.
Meski pun Nawang tak melanjutkan kata-katanya, namun Rani dan yang lainnya memahami maksudnya. Pasti sulit bagi Nawang untuk menghadapi hal-hal yang terjadi padanya kala itu.
Rani sendiri merasa gagal, karena tak mengetahui kesulitan Nawang dan hanya berpikir bahwa Nawang merasa cemas pada calon tunangannya.
Tapi sekarang Rani bersyukur karena Nawang tampak baik-baik saja.
"Mbak sekarang kerja dimana?!" sela Alden kemudian.
Canggung Nawang menjawab, "Mbak di 'Cleve' sekarang!"
Mereka awalnya tampak terkejut, namun kemudian mereka tersenyum lega.
Mereka tahu dengan pasti bahwa Nawang paling cocok bekerja di dunia kosmetik. Rasanya sayang, jika Nawang harus berhenti karena masalah semacam ini.
"Syukurlah!" sahut mereka bersamaan.
Nawang kaget melihat reaksi teman-temannya. Ia pikir, mereka akan menganggapnya sebagai penghianat. Karena langsung beralih pada 'Cleve' setelah berhenti dari 'the last'.
"Kalian tidak marah?!" tanya Nawang.
"Kenapa harus marah?!" Alih-alih menjawab, Rani balik bertanya.
"Kami malah senang karena mbak bisa mencapai mimpi mbak!" sambung Rani.
"Aku sih iri..." gumam Bintang, "Mbak bisa punya bos yang gagah kayak CEO Cleve itu!"
"Pasti setiap hari mbak cuci mata dengan wajah gantengnya itu...." Ceroscos Bintang. Ia lupa Cleve ada di samping mereka.
Cleve yang mendengar namanya disebut, menoleh juga pada Bintang.
"Benarkah?!" ujar Cleve.
"Apa kamu merasa begitu, sayang?!" tanya Cleve, menatap Nawang dengan lembut.
__ADS_1
Seolah mengumumkan status diantara mereka, Cleve menyebut Nawang dengan panggilan 'Sayang' di depan teman-temannya.
Seketika, mereka yang mendengarnya terbelalak. Rani bahkan menutup mulutnya yang terbuka lebar saking terkejutnya.
"A-apa?! Apa?!" Bintang gagap.
Nawang yang melihat reaksi teman-temannya merasa malu. Ia melempar tatapan jengkel ke arah Cleve, namun Cleve hanya membalasnya dengan cengiran usil.
Sungguh, pasti Cleve sengaja melakukannya.
"Apa?! Mbak dan CEO Cleve?! Kalian?!" Rani terkaget-kaget.
Menyembunyikan wajahnya yang merona di balik telapak tangannya, Nawang mengangguk pelan.
"Oh, Maygoot!!!!" Bintang berteriak.
Wulan kembali membelalak kaget.
Sementara itu, Alden mendengus pelan. Sepertinya, dirinya dan Nawang memang tidak berjodoh.
Meski tidak dengan Sagara, ternyata Nawang juga tidak bisa bersama dengannya. Samar-samar, Alden memahami bahwa dirinya dan Nawang tak ditakdirkan untuk bersama.
Mungkin itu sebabnya, ia tak pernah ingin mengungkapkan isi hatinya pada Nawang.
"Selamat mbak!!" ujar Alden tulus, "Semoga CEO Cleve akan menjadi orang yang membahagiakan mbak hingga akhir hayat!"
Mendengar ucapan Alden itu, teman-temannya yang lain langsung menggodanya.
"Duh Al, udah kayak selamatan mantan pas kawinan aja!"
Alden mendelik geram ke arah teman-temannya.
Siapa yang tidak tahu, bahwa Alden jatuh cinta pada Nawang?! Hampir seluruh karyawan 'the last' mengetahuinya. Walaupun tak mengatakannya, sikap dan gesturnya menunjukkan hal itu dengan jelas.
Itulah sebabnya, Sagara cemburu pada Alden.
"Terimakasih!" sahut Nawang, ia menghargai perasaan Alden terhadapnya, "Kamu juga, kelak mbak yakin kamu akan menemukan wanita yang akan membuatmu sangat bahagia!"
Alden tersenyum, ia mengangguk pelan.
****
Juni menyusuri lorong rumah sakit, ia hendak mengunjungi sahabatnya, Odelia.
Ini memang sudah cukup larut, namun perasaannya sedang tak menentu. Ia hanya ingin melihat sahabatnya itu. Mungkin dengan melihat wajah Odelia, ia bisa merasa lebih tenang.
Namun ia seketika membeku, saat melihat seseorang berdiri mematung di depan ruang inap Odelia.
Dari jauh, ia hanya melihat seseorang dengan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Awalnya ia pikir itu Abraham. Namun saat ia mencermati lebih dekat, postur tubuhnya jauh lebih pendek dan lebih kecil dari Abraham.
Ingin memastikannya, Juni menghampiri orang itu. Namun saat orang itu menyadari kehadiran Juni, ia langsung berlari secepat kilat.
__ADS_1
Juni terpana sesaat!! Ia tak bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Siapa orang itu?! Kenapa ia berdiri linglung di depan ruangan Odelia?! Apa yang ia inginkan?!
Firasat Juni tidak enak!!
Bergegas ia memeriksa sahabatnya itu.
Untungnya, tak terjadi apa-apa dengan Odelia. Sahabatnya itu kini tengah tertidur dengan nyenyak. Dadanya naik turun menandakan bahwa ia masih bernafas.
Di sofa, Abraham yang terlihat kelelahan, tertidur dengan posisi yang tidak nyaman. Pria itu pasti merasa sangat lelah, karena harus menjaga Juni sendirian.
Bik Karti sedang cuti karena menantunya melahirkan!!
Juni merasa sangat sedih!! Ia merasa kasihan pada sahabatnya itu dan Abraham. Mereka berdua adalah yatim piatu, hidup sebatang kara hingga akhirnya dipertemukan oleh takdir. Namun kali ini takdir pulalah yang berusaha memisahkan mereka.
Terngiang kembali di benaknya, kata-kata yang diucapkan oleh Odelia waktu itu.
'Ternyata ini alasan kamu mencemaskannya, ya?!' batin Juni di dalam hati.
"Juni....?!" serak, Odelia memanggil nama Juni. Ia terbangun dari tidurnya.
"Huh?!"Juni kaget. Ia tidak menyangka, sahabatnya itu akan terbangun. Tiba-tiba ia menyesal telah datang.
"Kenapa kau ada disini?!" tanya Odelia, "Bukankah hari ini, hari pernikahannya Sagara?!"
"Kenapa kau tidak menemaninya?!" sambung Odelia.
"Aku merindukanmu!!" sahut Juni kemudian.
Mendengar jawaban asing dari Juni, Odelia mendecih.
"Menggelikan sekali!" ujar Odelia, "Kau tak cocok melontarkan kata-kata dramatis padaku!"
Juni terkekeh. Memang benar, biasanya tak mungkin sekali Juni akan mengungkapkan kata-kata manis, semacam itu pada sahabat-sahabatnya. Namun akhir-akhir ini, mereka melewati waktu yang agak berbeda. Sehingga Juni merasa sedikit mellow dan seketika mengeluarkan kata-kata dramatis semacam itu.
"Kau habis menang lotre ya?!" goda Odelia.
Juni menggeleng pelan, "Tidak"
Ia kemudian terkekeh.
"Kalau begitu jangan sering-sering berkata seperti itu, aku geli mendengarnya!!" goda Odelia.
Juni kembali terkekeh.
Di sudut hatinya yang terdalam, ia merasa senang. Seandainya waktu bisa dihentikan. Ia ingin menghentikannya segera. Ia tak ingin sahabatnya ini direnggut darinya.
"Apa tadi kau bertemu dengan seseorang di depan?!" celetuk Odelia tiba-tiba.
"Ya?!" Juni kaget. Ia tidak menyangka bahwa Odelia mengetahui bahwa ada orang yang telah mengintainya "Bagaimana kau tahu?! Apa kau mengenalnya?!"
Odelia mengangguk, "Apa kau ingat, mantan kekasih Abraham yang sempat ku ceritakan padamu?!"
__ADS_1
"Ya?!" Juni ingat, Odelia pernah menceritakannya. Seorang wanita yang menghianati Abraham, ia berselingkuh dengan teman Abraham.
"Itu dia..."