
Selama beberapa hari menghabiskan waktu di perkebunan anggur milik Hans dan Jacob, Nawang dan Cleve sangat berbahagia.
Budaya yang berbeda, kegiatan unik dan hari-hari yang tak sama seperti biasanya. Membuat mereka larut dalam suka cita.
Malam ini, Hans dan Jacob mengadakan pesta penyambutan untuk Nawang dan Cleve.
Meski beberapa hari telah berlalu sejak kedatangan Cleve dan Nawang, namun pesta pesta penyambutan yang baru dilaksankan tetap berjalan dengan meriah.
Beberapa pekerja di perkebunan juga ikut bergabung ke dalam pesta dan menambah keceriaan.
Makanan-makanan asing yang belum pernah dilihat dan di coba oleh Nawang pun tersaji di meja.
Cleve tengah membantu Jacob memilih anggur di ruang penyimpanan. Sedangkan Hans, sibuk memanggang sesuatu yang terlihat seperti sosis.
Nawang sendiri sedang duduk-duduk santai bersama dengan Theo.
Theo adalah anak kecil berusia 8 tahun yang diadopsi oleh Jacob dan Hans.
Mereka bilang, saat melihat Theo mereka mengingat Cleve. Meski wajah Theo dan Cleve sangatlah berbeda. Namun rambut Theo yang hitam pekat dan manik abunya yang misterius, sungguh mirib dengan Cleve.
Anak itu konon adalah anak dari seorang wanita Indonesia yang bekerja di bar. Wanita itu meninggal saat melahirkan anaknya, sehingga anak tersebut dititipkan di panti asuhan.
Jacob dan Hans yang sering mengunjungi panti asuhan, jatuh cinta pada anak itu lalu mengadopsinya.
Lima tahun mereka menjadi sebuah keluarga, Theo memiliki kedekatan yang luar biasa pada Hans yang sangat lembut dan perhatian. Begitu juga pada Jacob yang sering menjahilinya.
"Suka Bratwurst?!" menunjuk ke arah Hans, Theo bertanya pada Nawang, "Enak!"
Theo mengerti bahasa Indonesia dengan baik, Jacob yang telah mengajarkannya. Theo sangat senang saat Cleve dan Nawang datang, karena dengan begitu, ia bisa menunjukkan kemampuannya berbicara bahasa asing di depan orang-orang.
Meski orangtua angkatnya adalah orang Jerman, namun Hans dan Jacob tak membuat Theo lupa akan asal usulnya.
"Apa itu yang namanya Bratwurst?!" Nawang menunjuk ke arah sosis yang dipanggang Hans.
Theo mengangguk, seraya menyunggingkan senyum dengan lebar.
"Apa kamu suka?!" tanya Nawang kemudian.
"Suka!" seru Theo riang. Ia meloncat-loncat kegirangan saat melihat Hans telah menyelesaikan hidangannya. Sepertinya, Theo sangat menyukai makanan itu.
__ADS_1
Nawang tertawa geli melihatnya. Setiap kali Theo meloncat, rambutnya yang halus bergerak dengan indah. Pipinya yang chubby bergoyang dengan lambat. Benar-benar terlihat menggemaskan.
Theo yang melihat Hans tengah menyajikan Bratwurst di meja makan pun, menghambur memeluk kaki panjang Hans dengan erat.
"Papa! Aku mau satu!!" teriak Theo merengek pada Hans. (bahasa Jerman)*
"Tunggu sebentar!" sahut Hans. "Duduklah dulu! Tunggu yang lainnya!"
Mendengar kata-kata Hans, Theo menggembungkan pipinya hingga bersemu merah. Matanya yang bulat besar, seketika berkaca-kaca.
Tak tega, Hans akhirnya membagikan Bradwurst itu pada Theo.
Mendapat apa yang ia inginkan, buliran bening yang hampir luruh di pelupuk matanya pun sirna. Tergantikan dengan senyumnya yang amat menawan.
"Terimakasih papa! Kamu adalah yang terbaik!!" seru Theo sembari meraih Bradwurst yang dibagikan oleh Hans. Dan mencuri sebuah kecupan di pipi Hans.
Hans mendengus gemas. Ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli.
Melihat hal itu, Nawang merasa haru. Tiba-tiba saja ia bermimpi memiliki kehidupan indah bersama dengan Cleve seperti itu.
Memiliki seorang anak perempuan dan juga seorang anak laki-laki yang sehat. Hidup dengan damai dan tentram.
'Ah.. sungguh bahagia!' batin Nawang.
Pesta penyambutan itu berjalan dengan meriah. Selama seharian itu mereka bersenang-senang. Tanpa tahu bahwa pada keesokan harinya, tragedi yang akan menghancurkan segalanya akan datang.
****
Tiga hari lagi adalah hari pernikahan mereka. Seperti apa yang telah direncanakan oleh Juni dan Abraham. Mereka menyempatkan diri untuk pergi ke makam Odelia.
Menggunakan pakaian serba hitam dan membawa rangkaian bunga, Juni dan Abraham menemui Odelia.
"Aku datang.." seru Abraham saat ia telah berdiri di depan makam istrinya. "Apa kabar?! Apa kau tenang disana?!"
"Aku membawa serta Juni!" ucap Abraham lagi.
Berlutut, Juni memeluk pusara sahabatnya itu. "Apa kabar?!" ujar Juni dengan bibir yang gemetar.
Berjongkok, Abraham merengkuh tubuh Juni yang bergetar hebat. Pilu menyeruak di hatinya saat melihat tangis Juni yang tersedu.
__ADS_1
"Hari ini kami datang untuk meminta izin darimu. Kami ingin menikah!" ucap Abraham seolah-olah Odelia ada di depannya.
"Namun sebelum itu, aku ingin mengaku padamu!" ujar Abraham. Meski Odelia tidak benar-benar ada di depannya. Namun Abraham bisa merasakan kehadirannya. Wajah wanita yang telah menjadi istrinya selama lima tahunan itu, terus terbayang di benaknya.
"Aku sebenarnya ingin mengatakan hal ini, saat kamu sudah baikan!" aku Abraham, "Namun takdir berkata lain!"
"A-aku tak tahu harus memulai darimana.. tapi yang pasti, aku telah melakukan kesalahan besar pada Juni! Sahabat yang sangat kau cintai..!" saat bibirnya mengucap kata demi kata. Sakit di hati Abraham semakin bertambah.
"Aku tak akan membela diriku, karena sejatinya aku memang salah.." ucap Abraham, bibir pria itu bergetar. Gelombang panas menyeruak di kelopak matanya, dan mulai mengaburkan pandangannya. "Namun aku egois, meski aku tahu aku salah.. aku masih ingin kau memaafkan ku!"
"Sekarang... aku melangkah untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku padanya.. tolong restui kami, Odel!" ujar Abraham. "Seperti yang kau katakan, mungkin ini adalah jalan takdir untuk menyatukanku dengan Juni. Juni sekarang mengandung anakku.. meski belum genap satu bulan, tapi aku sudah sangat mencintainya!"
"Tolong bantu dia agar bisa lahir dengan selamat dan menjadi adik dari Brandon kita!" ucap Abraham lirih, ia menggigit bibir bawahnya agar tidak terisak.
Selama berjam-jam, Abraham dan Juni menghabiskan waktu di kuburan Odelia.
Sembari mengobrol dengan makam Odelia yang basah, Abraham dan Juni mencabut setiap rumput yang tumbuh dan menaburkan bunga.
Saat Abraham dan Juni tengah menghabiskan waktu di makam Odelia, Nawang dan Cleve sedang menemani Jacob dan juga Theo pergi ke pasar.
Menggunakan sebuah mobil trabant tua berwarna biru langit, mereka berempat menikmati perjalanan dengan nyaman.
Melambat di sebuah tempat terbuka yang penuh keramaian, Nawang bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan kantung belanjaan yang penuh.
Itu adalah pasar tradisional yang mirib dengan pasar yang ada di Indonesia. Hanya saja, tempat itu terlihat lebih klasik dan juga lebih bersih.
Bangunan-bangunan kios unik dengan warna-warna cantik berderet, berjejer memamerkan beraneka ragam daging, sayur dan juga buah segar.
Meskipun pasar dipenuhi oleh banyak orang, namun jalanan disana terlihat bersih dan juga rapi. Sehingga Nawang tetap merasa nyaman, alih-alih sesak.
Membiarkan Cleve dan Jacob untuk berbelanja, Nawang menjaga Theo agar tidak menghilang dari pandangannya.
"Theo, hati-hati!" ujar Nawang saat Theo berusaha melepas tangan Nawang.
"Ok!" sahut Theo diiringi senyum.
Selama beberapa waktu, Cleve dan Jacob sibuk memilih bahan-bahan makanan.
Seolah bernostalgia, Cleve sangat senang saat harus memilah barang yang akan dibelinya.
__ADS_1
Melihat Cleve yang begitu menikmati aktifitasnya, hati Nawang menghangat seketika. Nawang sangat senang melihat ekspresi bahagia suaminya.
Ia terpaku menatap Cleve sejenak, dan mengalihkan pandangannya dari Theo sesaat. Hingga ia tidak menyadari saat Theo berlari dan menghilang di balik kerumuman.