
Seminggu telah berlalu semenjak Freya diculik kemudian berakhir di rumah sakit karena mengalami pendarahan hebat yang pada akhirnya membuatnya harus melahirkan lebih awal dari jadwal. Meskipun keadaan Freya belum pulih sepenuhnya, tapi Freya dan bayinya telah diizinkan pulang ke rumah. Sambil mendekap erat bayi laki-lakinya, Freya yang duduk di kursi roda, didorong Abidzar menuju mobil mereka. Di sisinya, tampak Ana yang memang diminta Abidzar ikut serta membawakan tas berisi perlengkapan Freya dan bayinya selama di rumah sakit.
Setibanya di dekat mobil, Tirta langsung membukakan pintu untuk Freya dan Abidzar. Abidzar membantu Freya masuk ke dalam mobil sementara bayi mereka digendong Ana. Setelah Freya duduk dengan baik, barulah bayinya diserahkan kembali kepada Freya. Kemudian Abidzar pun menyusul masuk, sementara Tirta memasukkan barang bawaan Freya ke bagian belakang.
Setelah memastikan Freya dan Abidzar duduk dengan tenang, Tirta pun masuk ke kursi kemudi dan Ana duduk di sampingnya. Saat Ana hendak menarik seat belt, Tirta justru bergerak lebih dulu dan memasangkannya membuat Ana membulatkan matanya. Freya dan Abidzar yang melihat itu lantas saling menoleh sambil mengulum senyum
Kemudian, dalam hitungan detik, mobil pun keluar dari rumah sakit menuju kediaman Abidzar.
"Mas, kira-kira kita terlambat nggak ya? Udah hampir jam 10 soalnya." Tanya Freya pada suaminya sebab tepat jam 10 nanti mereka akan mengadakan aqiqah di kediaman mereka. Sedangkan saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat 34 menit.
"Tenang saja, insya Allah kita tiba tepat waktu. Percayakan saja pada, Tirta." Jawab Abidzar menenangkan istrinya.
Freya mengangguk. Kemudian tatapannya kembali beralih pada putra mereka yang tengah menguap.
"Kamu kok gemesin banget sih, Sayang." Ucap Freya sambil mengusap pipi buah hatinya menggunakan punggung jemarinya. Freya tersenyum. Melihat buah hatinya seperti ini membuatnya seakan ada bunga-bunga yang bermekaran di dada.
"Namanya juga anak ayah Abi, ya nggak, Sayang. Ayah Abi kan gemesin, jadi wajar kamu pun gemesin," ujar Abidzar seraya tersenyum lebar.
"Idih, narsis," ejek Freya sambil tersenyum geli.
"Narsis dikit nggak papa lah, di depan istri sendiri juga." Abidzar mencubit cuping hidung Freya gemas seraya tersenyum semanis mungkin.
"Heh, di depan istri ya di depan istri, tapi liat sikon dong, emang kami nyamuk sampai nggak keliatan," hardik Tirta memutar bola mata jengah.
Abidzar dan Freya terkekeh geli, "oh, maaf, ternyata ada yang lain. Kirain ... patung. Namanya juga sedang kasmaran, dunia rasa milik berdua dan yang lain cuma ngontrak," balas Abidzar sambil tertawa renyah.
Tirta mendengkus. Dia benar-benar dongkol. Diliriknya Ana yang sejak tadi diam, ternyata gadis itupun tengah terkekeh geli. Hanya saja ia menutup mulutnya supaya suaranya tidak terdengar yang lain.
"Heh, kalau mau ketawa ya ketawa aja, nggak perlu ditahan. Entar malah jadi kentut," sentak Tirta membuat tawa Ana akhirnya pecah.
Dan benar saja, tak sampai 20 menit kemudian, mobil yang Tirta kendarai telah tiba di pekarangan rumah Abidzar. Tampak sebuah tenda besar tengah menaungi sebagian besar pekarangan rumah. Kursi-kursi tampak berjejer dan nyaris semuanya telah diduduki para tamu undangan dari berbagai usia sebab mereka pun turut mengundang anak-anak panti asuhan, bukan hanya sekedar tetangga dan keluarga saja.
"Nah, pas sekali, ini orang yang empunya hajatan. Mereka baru saja tiba. Ayo Bi, kemari. Acaranya akan segera dimulai," tukas Abraham meminta putranya membawa Abrisham-putranya ke dalam dimana para bapak-bapak yang akan memulai acara aqiqah telah menunggu. Abidzar pun mengangguk setelah terlebih dahulu meminta sang ibu membantu Freya untuk masuk ke dalam. Freya masih dalam masa pemulihan jadi ia harus beristirahat dengan segera.
Setelah memastikan Sagita membawa Freya ke dalam, barulah Abidzar membawa Abrisham ke tempat dimana sang ayah telah menunggu.
...***...
Acara Aqiqah putra Abidzar dan Freya berjalan lancar. Setelah semua tamu undangan selesai menyantap makanannya, mereka pun segera berpamitan setelah sebelumnya memberikan ucapan selamat serta mendoakan sang bayi agar tumbuh menjadi anak yang sholeh, berbakti pada kedua orang tua, dan segala doa terbaik pun mereka haturkan. Sepanjang acara, mata Freya tampak sesekali berkaca-kaca. Ia tak menyangka akhirnya bisa sampai di titik ini. Titik dimana ia bisa memiliki segala yang dulu hanya memimpikannya saja seakan mustahil. Hanya angan membayang, membuatnya tenggelam dalam impian semu sehingga nekat melakukan segala macam cara yang berakhir bencana.
Ternyata, benar adanya ikhlas membuat hidup lebih baik. Dulu, dirinya selalu dipenuhi keinginan, ambisi, serta obsesi. Tak peduli jalan yang ditempuh salah, ia tetap melakukannya. Namun, setelah ia kehilangan semua, ia berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Ikhlas dengan jalan takdirnya. Dan lihatlah ... apa yang kini ia miliki. Sungguh di luar ekspektasi. Memiliki seorang suami yang begitu mencintai dan menyayanginya, memiliki seorang putra yang sehat dan tampan, memiliki mertua yang menyayanginya dengan tulus tanpa menengok ke masa lalu. Kurang apa lagi coba? Harta? Ah, kini Freya tidak seperti dulu lagi. Harta baginya hanya nomor ke sekian. Toh, suaminya merupakan yang suami bertanggung jawab. Ia mau memberikan apapun maunya, tapi Freya yang sudah tak tergiur akan harta, tak menginginkan itu lagi. Yang penting segala kebutuhan dirinya maupun rumah tangganya mampu suaminya cukupi, itu sudah merupakan sebuah anugerah.
Ikhlas. Satu kata yang mudah diucapkan namun tak mudah untuk dilakukan. Bibir bisa berucap ikhlas, tapi tak jarang hal tersebut tidak sinkron dengan hati. Namun, Freya yang sudah benar-benar memasrahkan segalanya pada Sang Pencipta akhirnya bisa melakukannya dengan baik. Ia ikhlas menerima jalan takdirnya. Alhamdulillah nya, ia mendapatkan hadiah luar biasa dari sang pencipta. Jadi, janganlah kalian berburuk sangka dengan sang pencipta bila hidupmu masih jauh dari kata baik sebab yang baik menurutmu belum tentu baik menurut Tuhan-mu. Bisa jadi hal tersebut merupakan jalan bagimu untuk meraih sebuah kebahagiaan yang lebih besar di kemudian hari. Jadi bersabarlah. Jalani segalanya dengan ikhlas. Insya Allah kesabaran dan keikhlasanmu akan berbuah manis kelak dikemudian hari.
"Mbak Freya," panggil seorang wanita cantik membuat mata Freya yang tadi sibuk memandangi lalu lalang orang-orang segera berpaling pada sang pemanggil.
"Nanda," gumam Freya lirih. Ingin mengulas senyum, tapi ekor matanya justru menitikkan air mata.
"Mbak, selamat ya!" ucap Nanda tulus. "Selamat karena akhirnya mbak bisa menemukan kebahagiaan Mbak," imbuhnya membuat Freya tersenyum dengan air mata yang jatuh membasahi pipi.
"Iya, makasih ya, Nda," jawab Freya dengan suara serak.
"Duh, kok mbak Freya nangis? Aku salah ngomong ya? Maaf, maaf kalau Nanda ... "
Freya dengan cepat menarik tangan Nanda dan menggenggamnya erat.
"Nggak, kamu nggak salah. Justru aku mau berterima kasih sama kamu karena berkat kamulah akhirnya aku bisa menemukan kebahagiaanku yang sebenarnya," jawab Freya dengan air mata berderai. "Dulu ... aku pikir tindakan sudah benar. Dulu ... aku pikir apa yang aku lakukan bisa membuatku bahagia. Namun nyatanya semua salah. Aku salah. Tapi ... setelah bertemu kamu. Setelah apa yang aku alami ... akhirnya aku sadar aku salah. Caraku salah. Perbuatanku salah. Itu tidak benar. Nanda, kau tahu ... kaulah yang menjadi sumber inspirasiku. Kesabaranmu, ketulusanmu, kebaikanmu membuat aku sadar bukan begitu caranya. Bila pun saat itu aku bahagia, semua hanya bahagia semu. Tapi ... setelah aku belajar bersabar dan mencoba ikhlas, akhirnya aku bisa menemukan kebahagiaanku yang sebenarnya. Andai kau tak pernah hadir, mungkin aku selamanya akan tersesat dalam kebahagiaan semu. Maafkan kesalahan ku di masa lalu ya, Nanda. Maafkan karena aku, kau kehilangan calon buah hatimu. Dan terima kasih atas kehadiranmu. Terima kasih," ucap Freya tergugu.
__ADS_1
Nanda yang mendengar itu tak kuasa menahan haru. Disekanya kasar air mata yang menerobos pelupuk matanya dengan berani.
"Aku nggak sebaik itu kok, Mbak."
"Tapi kamu emang baik."
"Baik apa. Aku kan pernah jadi pelakor," ucap Nanda sambil mengerucutkan bibirnya.
Freya pun tergelak, "oh iya ya. Tapi tunggu, kita kan satu sama. Aku pun pernah jadi pelakor," ujarnya dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.
"Ah, iya ya! Kita satu samanya, Mbak. Ckckck ... jadi kita ... sama-sama pernah jadi pelakor gitu?"
"Siapa yang jadi pelakor?" tiba-tiba Gathan ikut nimbrung. Ia mengusap puncak kepala Nanda dengan sayang. Bila dulu Freya merasa iri melihat segala bentuk keromantisan itu, maka sekarang tidak. Sebab sudah ada sepasang tangan yang siap merengkuh dan memberikan kasih sayang yang juga begitu besar padanya.
"Nanda, Mas. Nanda kan pernah jadi pelakor. Terus mbak Freya bilang dia juga pernah jadi kami satu sama," ucapnya geli sendiri.
"Kata siapa kamu pelakor, Sayang?" Tiba-tiba Abidzar pun ikut bergabung. "Ingat satu hal ini, kau tidak pernah menjadi pelakor karena kau tidak pernah merebutku dari istriku sebelumnya. Kau masuk ke dalam kehidupanku karena dia yang membawamu hadir, bukannya kau yang sengaja masuk. Kalaupun akhirnya aku memilihmu, itu adalah takdir. Jadi ... jangan menyamakan dirimu dengan pelakor karena kau tidak seperti itu, ingat itu!" Ucap Abidzar lembut tapi penuh ketegasan.
Freya tersenyum. Lalu matanya melirik Nanda yang mengedipkan sebelah mata padanya. Siapapun bisa melihat bagaimana Abidzar begitu mencintai Freya. Ia bahagia akhirnya Freya bisa menemukan kebahagiaannya dan ia bahagia akhirnya ia tidak merasa bersalah lagi.
Ya, tanpa ada yang tahu, Nanda kerap merasa bersalah pada mantan istri suaminya itu. Ia merasa telah merebut suaminya kemudian merenggut kebahagiaannya dan membuatnya menderita. Tapi kini perasaan bersalah itu perlahan mulai runtuh. Ternyata awal yang buruk tak selamanya menyisakan kepahitan. Justru kini Freya tengah menuai manis buah kesabarannya. Keinginannya berubah menjadikannya sosok yang sabar, ikhlas, dan tawakal. Ia serahkan segala takdir hidupnya pada sang pemilik kehidupan.
"Kau dengar itu, Sayang. Hal itu pula berlaku padamu. Jadi jangan merasa dirimu sebagai perebut, oke?" ucap Gathan lembut dengan binar cinta yang tak pernah padam maupun berkurang sedikitpun.
"Tapi kan Mas, Nanda dulu masuk ke tengah-tengah ... "
"Nda, benar kata Mas Gathan, kamu bukan pelakor. Maaf kalau dulu aku pernah menyebutmu begitu. Padahal kenyataannya, kamu nggak pernah merebut Mas Gathan. Justru akulah yang salah karena memaksa masuk padahal ... yah kau tahu sendirilah," ucap Freya sebenarnya sedikit rikuh membahas masalah ini. Apalagi di depan suami dan mantan suaminya. Rasanya ... aneh. "Mas maafin kesalahan ku dulu ya." Ucapnya pada Gathan. Ia masih sedikit merasa bersalah karena telah menjebak mantan suaminya itu dalam sebuah ikatan pernikahan.
"Justru aku yang seharusnya meminta maaf. Maaf kalau aku selama ini banyak salah sama kamu," ujar Gathan yang kini ikut meminta maaf karena saat menjadi suaminya dahulu ia tidak bisa membuka hatinya sedikit pun untuk Freya. Sebenarnya bukannya ia tak mencoba, sudah, dia sudah mencoba. Tapi mau bagaimana lagi, masalah hati tak bisa dipaksa. Mungkin karena Freya bukanlah takdirnya jadi meskipun hampir 2 tahun bersama, hatinya kunjung sedikitpun terbuka padanya.
"Kalian lagi bahas apa sih?" tiba-tiba Sagita ikut menimbrung. "Ngapain juga bahas masa lalu. Masa lalu itu biarkan saja di belakang. Jadikan pelajaran untuk hidup yang lebih baik lagi ke depannya. Tapi jangan sampai berlarut-larut sebab masa lalu takkan pernah bisa berubah. Sebaliknya, masa depan masih panjang. Jadi sekarang, fokus saja ke masa depan, oke?" ucap Sagita sambil mengusap puncak kepala Freya.
Sagita tersenyum lebar, "kamu itu sudah menjadi putri Mama jadi apapun akan Mama lakukan asal itu untuk kebaikanmu. Dan ... Mama juga sayang kamu," ucap Sagita. Lalu Sagita mendekap kepala Freya di perutnya sebab posisi Freya saat ini duduk di kursi roda, sedangkan Sagita berdiri.
Tio dan Anisa yang melihat hal tersebut ikut berkaca-kaca. Mereka pun ikut merasakan bahagia. Terutama Tio. Ia bersyukur sebab akhirnya adiknya mendapatkan kebahagiaannya juga. Sekarang, dirinya bisa hidup dengan tenang.
"Aku turut bahagia melihat Freya akhirnya menemukan rumahnya, Mas." Ucap Anisa.
"Mas pun juga. Bahkan sangat-sangat bahagia. Semoga kebahagiaan mereka kekal abadi," tukas Tio tulus dari dalam hati.
"Aamiin ... " Sahut Anisa tulus.
...***...
Ana tampak baru saja selesai mencuci piring. Ia pun mengelap tangannya yang basah menggunakan lap tangan yang memang selalu tersedia di dekat tak piring.
"An ... " tiba-tiba seseorang memanggilnya seraya berbisik di dekat telinga membuat Ana terlonjak kaget.
"Astaghfirullah," pekik Ana benar-benar terkejut. "Kamu ... ngagetin aja bisanya," ketus Ana sambil mengerucutkan bibirnya yang mana justru membuat sang laki-laki alias Tirta tersenyum lebar. Tirta lantas menyodorkan pipinya dengan cepat dan cup ...
Ana membulatkan matanya. Ia tak menyangka Tirta akan melakukan itu.
"Makasih," ucap Tirta sambil memasang wajah mesem-mesem seolah dia baru saja dicium oleh Ana.
"Kau ... " Ana menggeram dengan kedua tangan mengepal di depan dada seolah-olah ingin menghajar Tirta.
"Apa sayang? Mau cium lagi? Mau yang mana? Oh tadi kan pipi kiri, yang kanannya belum. Nih, silahkan ... " Tirta lantas menyodorkan pipi kanannya membuat Ana kian terperangah dengan sikap Tirta yang makin aneh.
__ADS_1
"Oh, aak mau dicium lagi? Oke ... Baiklah."
Mendengar itu, mata Tirta berbinar. Kemudian Ana menarik pipi kanan Tirta membuat laki-laki itu menjerit kesakitan.
"Aaaaa ... ampun, Sayang, ampun." Pekik Tirta membuat Ana lekas melepaskan tangannya dan kini tangan itu berpindah membekap mulut Tirta dan memelototinya. "Sakit sayang, jahat banget sih!" Tirta memasang wajah seakan pria paling tersakiti. Tapi saat dilihatnya pipi Tirta memang merah akibat cubitannya, Ana tiba-tiba merasa bersalah.
"Aak sih, iseng banget pake cium-cium segala. Emang aku pacar aak," ucapnya tak enak hati. Ana bahkan tanpa sadar mengusap pipi Tirta yang merah.
"Makanya, jadi pacar, biar nggak masalah." Ana mendelik tajam. Ia menganggap perkataan itu hanya gurauan, tidak serius.
"Siapa juga yang mau jadi pacar aak. Tunggu di sini." Ana bergerak membuka kulkas dan mengambil batu es kecil. Dia juga mengambil handuk kecil dari laci dan menggunakannya untuk membungkus batu es. Kemudian ia mengompres pipi Tirta.
"Ya kamu lah, masa' Mang Sukri." Ana tertawa mendengar nama Mang Sukri disebut. Tirta memandangi wajah Ana yang sedang mengompres pipinya dengan lekat. Ana yang merasa Tirta sedang menatapnya pun menatapnya balik.
"Apa?" gumam Ana heran.
"Cantik."
"Apa?"
"Kamu cantik."
"Gombal."
"Aku serius."
"Dah, sana, aku masih banyak kerjaan." Usirnya.
"Jadi kita pacaran ya?"
"Eh, siapa?"
"Kita lah, siapa lagi." Dahi Tirta mengernyit.
"Ogah. Weekkkk ... " Usai mengatakan itu, Ana berlari dari sana sambil tertawa meninggalkan Tirta yang mesem-mesem sendiri sambil menggigiti handuk basah yang sempat dilemparkan Ana tepat ke wajahnya.
"Kok dia makin hari makin gemesin sih!"
"Siapa yang gemesin?" tanya Abidzar tiba-tiba membuatnya berjingkat kaget.
"Astaga ... elo, Bi, ngagetin aja." protes Tirta seraya menetralkan degupan jantungnya.
"Habisnya elo kayak orang gila, handuk pake digigitin. Kayak kehabisan makanan aja."
"Hehehe ... soalnya ada manis-manisnya gitu, mau coba?" Tirta menyodorkan handuk basah itu ke depan Abidzar yang malah mendapatkan keplakan di kepalanya.
"Kayaknya otak loe emang rada geser deh. Entar gue kasih tau bokap nyokap loe di depan aja, biar loe segera dibawa ke rumah sakit jiwa." Abidzar melenggang melewati Tirta begitu saja.
"Heh, kunyuk, apa maksud loe nyuruh bawa gue ke rumah sakit jiwa, emang gue udah gila? Dasar sepupu nggak ada akhlak."
"Orang gila mana ada yang ngaku gila, mereka ngaku waras semua. Sebelum terlambat, mending segera diobati," jawab Abidzar seraya tergelak. Sebenarnya ia melihat bagaimana Tirta menggoda Ana tadi. Hanya saja, ia tak mau ikut campur ataupun mengusiknya.
"Woy, berhenti woy, nggak usah macam-macam loe!"
"Nggak macam-macam kok, cuma satu macam, kasi tau om dan Tante kalau ... "
"Abidzar, awas kalau loe macam-macam!" Teriaknya. Abidzar tergelak kencang membuat Tirta mendengkus. Namun saat melihat Ana lewat di depannya, raut kesalnya seketika hilang menjadi senyuman manis.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...