
Tirta tercengang dengan mata membulat dan mulut menganga. Sekali lagi ia mengucek kedua matanya untuk memastikan dirinya tidak salah mengenali orang, tapi dapat ia pastikan kalau ia tidak salah lihat. Itu adalah ... Ana.
Tapi ... dia tampak sangat berbeda. Wajahnya yang biasa polos tampak dihiasi make up tipis mempertegas kecantikannya. Alisnya, kelopak matanya, bibirnya, pipinya, membuat Tirta tak mampu mengalihkan pandangannya. Bukan hanya itu, Ana juga mengenakan dress selutut bermotif floral dengan rambut terurai panjang. Ada sebuah jepit rambut di sisi kiri rambutnya membuat penampilannya begitu cantik dan manis. Tak lupa tas selempang tersampir di pundak kirinya dan sebuah jam tangan cantik melingkari pergelangan tangannya.
Dan yang lebih mengejutkan Tirta, barang-barang yang dikenakan Ana bukanlah barang murahan. Dari baju, tas, jam tangan, dan lain-lain. Semuanya barang-barang branded. Ia sangat tahu itu. Sekilas mata saja ia sudah bisa mengetahuinya. Bagaimana tidak, ia sering menemani adik kesayangannya berbelanja dan ia sedikit banyak tahu dengan fashion perempuan. Dan apa yang Ana kenakan saat ini bukan produk kw-kw.
Namun saat sedang asik memperhatikan, Ana dan teman-temannya justru masuk ke dalam cafe. Tirta berdecak sebab tidak bisa memperhatikan gadis itu lagi. Namun tiba-tiba Tirta tersenyum. Kemudian ia melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam cafe. Matanya mengedar ke sekeliling, mencari sosok cantik yang sempat menghipnotis matanya tadi. Setelah menemukannya, Tirta lagi-lagi tersenyum. Lalu ia pun segera berjalan dan duduk di meja yang posisinya di belakang Ana.
Rasa penasaran yang tinggi membuat Tirta berbuat nekat. Ia melakukan itu untuk memastikan kalau sosok cantik yang ia lihat itu benar-benar Ana. Walaupun ada kemungkinan perempuan itu hanya sekedar mirip saja. Bukankah katanya setiap orang itu memiliki 7 orang kembaran tidak sedarah alias benar-benar mirip. Bisa saja 'kan gadis yang ada di depannya itu hanya sekedar mirip saja.
Ya, hanya sekedar mirip. Bagaimana tidak, ia tahu Ana sudah bekerja lebih dari satu tahun depan Abidzar. Dan sebesar apa sih gaji seorang art sampai bisa membeli tas harga jutaan, jam tangan yang juga jutaan, belum lagi baju, dan lain-lainnya.
Tapi kenapa Tirta tetap merasa gadis itu adalah Ana? Untuk itulah Tirta menguntit gadis cantik itu untuk memastikan kalau ia tidak salah mengenali.
Lalu kalau benar, dia mau apa?
Tirta sendiri bingung. Dia hanya mengikuti kata hatinya.
"Hana, kau mau pesan apa?" tanya salah seorang gadis pada gadis cantik yang Tirta kenali sebagai Ana.
"Aku iced hazelnut aja sama cheesecake. Eh tambah kentang gorengnya juga deh," ujar gadis mirip Ana tersebut. Pelayan itu mengangguk dan mulai mencatat pesanan gadis mirip Ana itu. Setelah itu, teman-temannya yang lain pun menyebutkan pesanan mereka satu persatu. Mereka duduk bertiga di sana.
Saat salah seorang dari mereka menyebut nama gadis itu Hana, dahi Tirta mengerut.
"Hana? Jadi namanya Hana, bukan Ana." Gumamnya masih dengan sorot mata memperhatikan ketiga orang tersebut. Namun fokusnya tetap pada gadis mirip Ana tersebut.
Tak lama kemudian, pelayan juga menghampiri meja Tirta. Tapi karena Tirta terlalu fokus memperhatikan gadis mirip Ana tersebut membuatnya tidak mendengar panggilan pelayan cafe tersebut.
"Kak, mau pesan apa?"
"Kak ... "
__ADS_1
"Halo ... kakak mau pesan apa?"
Kesal karena didengarkan dari tadi, pelayan itu pun membalikkan badannya dan menghampiri pelayan yang baru saja hendak beranjak dari meja di depannya.
"San, kita tukeran gih! Sini yang kamu, kamu hampiri kakak itu." Tunjuknya pada Tirta yang masih fokus menatap ke meja di depannya.
"Emang kenapa?" Tanya rekannya bingung apalagi melihat raut wajah rekannya tampak cemberut.
"Aku dari tadi nanya dia mau pesan apa, tapi dia nggak dengar. Tuli kali." Kesal pelayan itu dengan suara sedikit berbisik. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada meja gadis mirip Ana. "Ehz jangan-jangan kakak itu suka sama kakak ini deh soalnya dari tadi dia perhatiin ke sini terus sampai aku nanya pesanan dia, dia nggak dengar sama sekali," gumam pelayan itu yang membuat gadis-gadis di meja itu mengalihkan pandangannya ke arah sang pelayan cafe.
"Apa mbak? Siapa yang perhatiin kami?" tanya teman gadis mirip Ana itu.
"Itu mbak, kakak di meja itu." Ujar pelayan itu membuatnya segera menoleh. Wajahnya seketika tersipu karena melihat wajah tampan Tirta. Tirta yang merasa diperhatikan pun segera menunduk dan menaikkan kertas menu hingga menutup wajahnya. Di saat bersamaan pula gadis mirip Ana itu menoleh.
"Ya ampun, apa benar dia perhatiin ke sini? Kalau benar, berarti dia perhatiin aku dong. Han, dia ganteng banget lho. Kamu nggak liat dia tadi. Kamu sempat liat nggak Cel?" tanya gadis itu pada salah seorang temannya.
"Iya, Tri, dia ganteng banget." Puji temannya yang sempat melihat wajah Tirta.
"Kalau loe nggak malu, samperin aja," tukas gadis yang dipanggil Hana oleh kedua temannya itu.
"Jangan!" sergah Celina. "Entar katanya kamu cewek agresif lagi, mau?"
"Oh iya, ya. Kamu bener, Cel. Aku nggak boleh gitu. Ya udah mbak, buruan ambil pesanan kami. Kok malah bengong?" ucap Astri dengan dahi berkerut. Kedua pelayan tadi pun gelagapan. Mereka saling tukar catatan pesanan dan melakukan tugasnya masing-masing.
Mencoba hirau, ketiganya lantas mengobrol.
"Loe kapan mau pulang sih, Han? Nggak kasian apa sama nyokap loe? Udah setahun lebih lho kamu ninggalin rumah. Selama setahun ini nyokap loe sampai datengin rumah gue berkali-kali buat nyari jejak loe," ujar Celine setelah pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Iya Han, gue kok nggak tega liat mama loe sekarang. Dia kayak kurusan gitu. Pasti Mama loe merasa sangat kehilangan loe, Han." Timpal Astri setelah menyeruput minumannya.
"Nggak taulah Tri, Cel, gue rasanya males banget balik. Salah mama sendiri, gue udah nentang berkali-kali, nggak setuju mama nikah lagi, tapi masih aja nikah. Gatel banget jadi perempuan." Kesal gadis bernama Hana tersebut.
__ADS_1
"Tapi kan kasihan juga nyokap loe, Han. Nyokap loe udah lama sendiri. Dia butuh pelindung dan figur seorang suami. Nggak mudah Han jadi single mother itu. Mana sambil ngurus loe, sodara loe, usaha peninggalan bokap loe juga. Apalagi katanya adik-adik papi loe selalu aja ngusik mami loe, Han. Dan selama beberapa tahun ini, loe sendiri yang cerita kalau Om Hasbi lah yang jadi tameng mami loe. Dia yang selalu bantu mami loe handle usaha papi loe, urusin kalian saat mami loe sakit, dan segala te tek bengeknya."
"Iya, Han. Om Hasbi juga kan baik banget ke kalian, kenapa sih loe tiba-tiba nggak suka? Kayak mendadak benci gitu. Padahal selama ini loe cerita kayak bangga banget sama Om Hasbi."
Air mata mengalir dari pelupuk mata gadis mirip Hana tersebut, "gue ... gue bukannya nggak suka. Tapi ... loe tau nggak, jodoh istri sama suami itu bakal putus bukan cuma karena perceraian, tapi kalau si istri yang suaminya meninggal nikah lagi. Nah ... gue ... gue pinginnya mami tetap berjodoh sama papi di surga kelak. Gue sedih, Tri, Cel. Gue sedih. Padahal papi tuh cinta banget sama mami, tapi mami malah milih nikah lagi." Aku gadis bernama Hana tersebut membuat kedua temannya tercengang. Tak menyangka Hana berpikir sampai sejauh itu.
"Terus loe masih tinggal sama Mbah Nuning?" Mbah Nuning adalah mantan art di rumah Hana dulu.
Hana menggeleng, "gue kerja, Tri."
"Hah, kerja? Terus kuliah loe gimana? Mau cuti sampai kapan? Keburu kami wisuda duluan lho."
"Ya, gue kerja. Adalah kerja di mana. Entahlah, gue juga bingung mau lanjut atau gimana. Kalau kalian yang wisuda duluan ya udah, mau gimana lagi. Nggak mungkin 'kan kalian ikut-ikutan cuti kayak gue," ujarnya seraya terkekeh. "Oh ya, udah hampir malam. Gue mesti pulang. Nggak enak sama yang punya rumah. Entar katanya gue ngelunjak. Gue pamit dulu ya. Kapan-kapan kita ketemuan lagi. Tapi tunggu gue yang kabarin, oke!"
Gadis bernama Hana itu menghabiskan minumannya terlebih dahulu. Kemudian ia pun segera berdiri, bercipika-cipiki dengan kedua temannya. Setelah itu, ia pun bergegas pergi dari sana.
Gadis bernama Hana itu tampak berdiri di pinggir jalan menunggu taksi pesanannya datang. Tak lama kemudian, taksi pesanannya pun datang. Saat membuka pintu, tiba-tiba ada seseorang yang menyebutkan namanya membuat gadis itu sontak menoleh.
"Ana."
Mata gadis itu membulat sempurna saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Kacau ... " gumamnya.
Gadis itupun segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Setelah itu, ia meminta sang sopir segera menjalankan mobilnya membuat laki-laki yang memanggilnya tadi mematung di tempat.
"Ana ... jadi dia benar Ana. Tak salah lagi, dia pasti Ana." Gumam laki-laki yang tak lain adalah Tirta itu sambil tersenyum menyeringai.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1