Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Kau bebas


__ADS_3

"Jadi bagaimana, Rin? Apa keputusanmu? Meninggalkan dia dan kembali padaku atau ... kau tetap ingin bersama suamimu itu?" Tanya Ryan. Sebenarnya ia pun ragu Erin akan lebih memilih dirinya. Terlebih Erin sudah terbiasa hidup dengan bergelimang harta. Semua yang ia pakai merupakan barang-barang brand mewah dan mahal. Apalah dirinya yang hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan.


Erin terdiam. Ia mere mas kedua tangannya. Bingung. Itu yang Erin rasakan saat ini.


"Tidak bisakah kita terus begini? Atau bersabarlah dahulu. Tunggu aku. Aku pasti akan kembali padamu. Kau tahu 'kan Yan kalau aku sangat mencintaimu. Bahkan aku sampai memasang kontrasepsi jangka panjang agar aku tidak hamil anak Mas Abi. Aku hanya mau kamu. Aku hanya ingin memiliki anak darimu. Bila aku meminta cerai tiba-tiba, bukan tidak mungkin papa akan murka dan menyakiti mu serta Rio. Begini saja, tunggu aku. Tunggu aku sebentar lagi. Aku akan melakukan sesuatu agar nanti aku bercerai aku bisa menuntut harta gono-gini yang besar. Ingat Yang, berumah tangga itu tak serta merta butuh cinta, tapi uang, Yan. Uang. Aku tidak mau hidup dalam kekurangan. Apalagi kita memiliki Rio. Kau pasti ingin 'kan melihat Rio menjadi orang yang sukses. Tentu untuk mencapainya kita membutuhkan uang yang sangat banyak. Kau pasti mengerti akan hal itu." Erin masih saja mengukur segalanya dengan uang. Uang memang penting, tapi bukankah selama kita masih mau berusaha dan bekerja keras, uang masih dapat dicari.


"Aku tidak butuh harta, Rin. Tidak. Aku masih memiliki tangan dan kaki untuk berusaha membahagiakan kalian. Tidakkah kau bisa melihat betapa aku telah cukup bersabar selama ini? Tenang saja, meskipun aku harus bekerja siang dan malam, aku rela, asal kalian ada di sisiku. Aku akan mengupayakan apapun untuk kebahagiaan kalian. Aku mohon, Rin, jangan serakah dan egois. Bercerailah dari laki-laki tersebut dan kembalilah kepada kami. Aku, Rio, kami butuh kamu, Rin."


"Ryan, tidak semudah itu untuk bercerai, kau mengerti tidak?" Sentak Erin kesal. Wajahnya sudah ditekuk masam. Dia memang mencintai Ryan, tapi ia sadar, cinta saja tidak cukup untuk membuatnya bahagia. Buktinya saat ini. Meskipun ia sedang bermasalah dengan Abidzar, tapi laki-laki itu tidak pernah lalai dalam tanggung jawabnya mengenai nafkah. Jadi meskipun ia sedang terlibat perang dingin, tapi ia tetap bisa bersenang-senang dengan jalan-jalan dan shopping.


Ryan tersenyum sinis. Beginilah watak perempuan yang ia cintai. Harta dan tahta merupakan urutan pertama dalam hidupnya.


"Jadi kau lebih memilih dia?" Ryan tersenyum miris.


"Aku bukannya memilih dia, tapi untuk sementara ini yang terbaik." Kilah Erin.

__ADS_1


"Terbaik untukmu, belum tentu terbaik untuk kami." Ketus Ryan.


"Ryan, sebentar lagi. Sebentar lagi saja. Aku akan memperjuangkan apa yang seharusnya jadi hakku, setelah itu kita bisa hidup bahagia bertiga dengan Rio." Erin terus berusaha meyakinkan Ryan agar bersabar. Tapi Ryan yang sudah kehilangan kesabarannya lantas menggelengkan kepala.


"Maaf Rin, kesabaranku telah habis. Sudah cukup aku bersabar menantikan dirimu. Kau pikir hatiku tak sakit melihat orang yang aku cintai menikah dengan orang lain? Kau pikir aku tak sakit, membayangkan kau menghabiskan malam dengan laki-laki lain? Kau pikir aku tak sakit menunggu tanpa kepastian, hah? Kau pikir aku apa? Kau dan keegoisan serta keserakahanmu benar-benar menyakiti aku dan Rio, kau tahu tidak?" Sentak Ryan dengan rahang mengeras dan tangan terkepal erat. Kesabarannya benar-benar telah berada di ambang batas.


"Tapi Ryan ... "


"Tak perlu tapi-tapi, Rin. Dengarkan aku, mulai saat ini hubungan kita berakhir. Tak perlu kau temui aku dan Rio lagi sebab bagi kami, kau sudah mati. Aku tak butuh perempuan egois sepertimu. Begitu juga Rio. Dia tidak membutuhkan seorang ibu yang egois yang bahkan memperjuangkan dirinya saja tidak bisa sebab di otakmu hanya ada harta dan tahta semata, bukan kami."


"Ryan, kau tidak bisa memisahkan aku dengan Rio. Bagaimana pun aku adalah ibunya."


Tak ada lagi kini alasan untuk menunggu dan bersabar. Kini saatnya ia melupakan perempuan yang pernah begitu berarti dalam hidupnya. Meskipun rasa cinta dan sayang itu masih ada, tapi semuanya telah berangsur kandas seiring rasa kecewa yang luar biasa.


Setelah mengatakan itu, Ryan pun segera berdiri. Tak ada lagi yang harus ia bicarakan dengan Erin pikirnya. Segalanya telah berakhir.

__ADS_1


Erin terhenyak mendengar penuturan Ryan. Seburuk itukah dirinya selama ini? Ia memang salah meninggalkan Rio begitu saja dengan Ryan setelah dilahirkan sebab ayahnya memintanya segera melakukan perawatan agar tubuhnya segera pulih dan tidak kelihatan baru saja melahirkan. Selain itu, mereka takut rahasia kehamilannya terbongkar. Tentu itu berbahaya. Bisa-bisa rencana ayahnya untuk menjodohkan dirinya dengan Abidzar gagal total.


Mengenai masalah ia tak mau menyusui Rio, ia pernah mendengar ibu-ibu yang menyusui anaknya dapat mengubah bentuk payu dara. Payu dara wanita yang menyusui akan kendur dan Erin tak menginginkan itu. Melihat bobot tubuhnya naik drastis saja ia gelisah bukan main. Apalagi ada bagian tubuhnya yang merupakan aset berharga berubah menjadi jelek, tentu saja Erin tak ingin hal itu terjadi.


Lalu mengenai dirinya yang tak pernah ada di dekat Rio, bukankah sudah ada Ryan yang mengurusnya. Dia juga sudah membayar baby sitter untuk membantu mengurus Rio sejak bayi, jadi untuk apa dia membayar baby sitter mahal-mahal kalau mengurus Rio pun ia masih harus turun tangan.


"Sayang, aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Kau tahu bukan kalau aku sangat mencintaimu. Aku janji akan segera bercerai dengan Mas Abi, maka dari itu, aku mohon sabar dulu. Beri aku 2 bulan lagi. Ya, 2 bulan lagi, mau ya!" Erin mencengkeram lengan Ryan yang hendak pergi dari sana. Ia memasang wajah memelas berharap Ryan luluh seperti biasanya.


"Maaf Rin, aku tak bisa. Lagipula, mama telah menjodohkan ku dengan anak temannya. Selama 1 bulan ini Rio tampak begitu nyaman dekat dengannya. Sepertinya tak masalah aku menikah dengannya sebab bagiku yang utama adalah kebahagiaan Rio. Rio bahagia, aku pun bahagia. Awalnya aku menolaknya. Ku pikir tak ada yang bisa menggantikan posisimu di sisi Rio, tapi dugaan ku salah. Ternyata wanita itu lebih tahu bagaimana caranya menyayangi Rio dibandingkan ibu kandungnya sendiri. Ku pikir juga kau pasti akan memprioritaskan kami, lebih memilih kami, tapi nyatanya kenyataan tak sesuai harapan. Sekarang kau bebas. Aku dan Rio membebaskanmu. Selamat berbahagia dengan suamimu itu." Setelah mengatakan itu, Ryan pun benar-benar pergi meninggalkan Erin yang mematung dengan perasaan yang benar-benar kacau.


Klik ...


Rekaman ditutup. Sang perekam yang tak lain adalah Tirta itu masih mematung di tempatnya. Ia benar-benar tak menyangka istri dari sepupunya bisa memiliki rahasia sebesar ini. Itu artinya, dia telah menipu sepupunya. Tirta tentu saja tidak terima Erin menipu sepupunya.


"Abidzar harus tau masalah ini. Ini tidak boleh dibiarkan. Erin benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa ia menipu Abi sampai seperti ini. Berpura-pura mandul, padahal sudah memiliki seorang anak dengan laki-laki lain. Dasar perempuan gila. Dia yang selama ini selalu merendahkan Freya dan menghinanya jalaang, tapi nyatanya kelakukannya sendiri yang melebihi jalaang. Dia lupa, sedalam-dalamnya mengubur bangkai, baunya pasti akan tercium juga." Tirta mendengkus. Ia menatap jijik pada Erin yang akhirnya ikut pergi setelah kepergian Ryan.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2