Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
88


__ADS_3

Tak ada yang tahu nasib seseorang, saat ini kita memang sedang berada di atas, tapi siapa tahu esok hari. Kehidupan itu layaknya roda yang terus berputar. Jadi jangan sombong dengan apa yang ada pada diri saat ini, sebab bisa jadi karena kesombongan itu, sang pencipta menarik kembali apa yang telah Ia titipkan.


Seperti saat ini, roda kehidupan Erin sepertinya sedang berada di bawah. Dengan tubuh penuh peluh dan wajah tampak kumal, ia bertanya kesana kemari, meminta pertolongan agar diberikan tempat tinggal untuk sementara. Padahal ia tidak meminta gratis. Ia bersedia mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk mendapatkan tempat tinggal sementara, tapi tak ada satupun yang mau menolongnya. Semua orang itu mengenali wajah Erin. Mereka tahu, perempuan itu tengah tersandung kasus dan dalam pencarian polisi. Namun mereka yang lebih mencari aman pun memilih diam. Terkadang ikut campur justru membuat keadaan runyam. Mereka yang tak ingin terlibat dengan Erin maupun kepolisian pun memilih tak acuh. Bahkan mengulurkan segelas minum pun tak mau. Membuat Erin kian nelangsa dibuatnya.


Lebih parah lagi, hujan sedang turun dengan derasnya. Angin bertiup kencang. Petir saling sambar menyambar. Di dalam mobil, Erin tergugu seorang sendiri. Tak ada tempat untuknya kembali. Tak ada tempatnya untuk berpulang. Dan tak ada tempat untuknya bersandar. Hingga terdengar lantunan merdu suara adzan dari sebuah mushola kecil yang ada di tempat itu menyentak lamunannya.


Namun, hati Erin bukannya tergerak untuk melaksanakan perintah-Nya. Memohon ampun atas segala khilaf dan salah. Erin justru menatap langit dengan mata merahnya.


"Tuhan, kenapa Kau tak adil padaku? Kenapa kau buat aku jadi seperti ini? Mengapa Tuhan? Mengapa?" teriaknya.


Jeduarrrr ...


Seketika petir menyambar tepat ke ranting pohon yang ada di dekat mobil Erin. Ranting itu patah dan menimpa kap mobil. Dengan berurai air mata, Erin terkekeh seperti orang gila.


"Bahkan semesta pun seperti ingin mengutukku agar segera mati. Kenapa aku tidak mati saja? Hidupku sudah hancur. Masa depanku telah hancur. Tak ada lagi yang tersisa. Semuanya hancur." Rintihnya dengan suara tercekat karena terlalu lama menangis.


...***...


"Enak baksonya?" tanya Abidzar pada Freya yang sedang melahap baksonya.


Sore tadi, sepulangnya bekerja, tiba-tiba saja Freya menginginkan bakso di dekat panti asuhan tempatnya dititipkan dahulu. Sebenarnya Freya Tak tega menyusahkan suaminya, tetapi rasa inginnya sudah sampai ujung lidah. Ia memiliki kenangan dengan bakso yang dijual di sana.


Saat kecil, Freya sangat ingin makan bakso di sana, tapi sayang, ibu panti tidak bisa membelikannya sebab keuangan panti sedang tidak bagus. Banyak donatur yang berhenti sebab usaha yang sedang menurun drastis. Jadi Freya hanya bisa mengintip dari balik pagar bagaimana orang-orang menikmati bakso tersebut. Hingga suatu hari, ada seorang laki-laki yang menawarkannya makan bakso. Freya awalnya menolak. Ia pikir ia harus membayar sendiri, sedangkan ia tidak punya uang sama sekali. Begitu pula Tio, ia juga tak memiliki uang untuk membelikan adiknya semangkok bakso. Keduanya tampak menyedihkan. Namun pria itu mengatakan dia yang akan membayarnya. Terang saja Freya girang bukan main. Ia pun menerima. Akhirnya ia bisa merasakan makan bakso di kedai itu.


Hari itu adalah hari pertama pertemuan dirinya dengan Reza, ayah angkatnya. Selang satu bulan kemudian, laki-laki itu datang kembali dan mengadopsi dirinya. Dan sejak itu pula, ia berpisah dengan kakaknya dan tak pernah datang lagi ke panti asuhan. Bahkan setelah ia dewasa pun ia belum menginjakkan kakinya ke sana kembali sebab menurut kakaknya panti asuhan itu sudah tiada. Ibu panti yang mengasuh mereka dulu telah meninggal dan tak ada yang meneruskan mengurus panti asuhan tersebut.

__ADS_1


Lalu kini, tiba-tiba saja ia menginginkan bakso tersebut. Sebenarnya Freya pun takut kedai bakso itu sudah tidak berjualan lagi, tapi rasa ingin itu membuatnya gelisah sendiri. Sampai-sampai ia tak selera makan apapun hari itu. Syukurnya, suaminya mau mengerti. Tak peduli harus menempuh perjalanan pulang pergi hampir 2 jam, tapi Abidzar tetap memenuhi keinginannya tersebut. Dan lebih beruntung lagi kedai itu masih berdiri kokoh. Bahkan lebih bagus dari kedai di masa lalunya. Mungkin kedai itu diteruskan oleh anak pemiliknya sehingga kedai tersebut masih ada hingga sekarang.


"Enak, Mas. Sangat enak. Makasih ya, Mas. Maaf, ngerepotin. Hehehe ... " Freya terkekeh kikuk. Sebenarnya ada rasa tak enak hati merepotkan suaminya itu. Tapi sikap Abidzar yang sangat mengerti keadaannya membuat Freya akhirnya bisa bernafas lega.


"Kamu ngomong apa, sih? Nggak perlu makasih segala. Mas ngerti, istri Mas ini sedang ngidam jadi wajar kalau pingin sesuatu. Lagipula kan katanya kalau keinginan istri ngidam nggak diturutin, bisa bikin anaknya entar ileran. Mas nggak mau dong anak kita ileran." Ujar Abidzar menenangkan Freya. Tak mau istrinya itu sedikit-sedikit tak enakan. Abidzar telah berjanji dengan dirinya sendiri, selagi bisa dan mampu, apapun keinginan istrinya akan ia penuhi. Bukankah kewajiban seorang suami memenuhi dan mencukupi kebutuhan istri serta membahagiakannya.


Freya tersenyum malu-malu. Bahagia sekali rasanya mendapatkan perlakuan manis dari suaminya seperti. Ia bagaikan seorang istri paling bahagia dan beruntung di dunia. Sesuatu yang sempat ia pikir mustahil kini justru dalam genggamannya. Memiliki seorang suami yang mencintai dan meratukan membuat perasaannya membuncah bahagia. Ia amat sangat bersyukur pada yang maha kuasa karena menjadikan Abidzar sebagai suaminya.


Setelah selesai menyantap baksonya, Freya pun segera membereskan mangkok milik mereka berdua.


"Biar aku aja," ujar Abidzar saat Freya akan membereskannya.


"Aku aja, Mas. Mas kan udah capek jauh-jauh beliin aku bakso, masa' yang beresin mesti Mas juga sih." Freya masih kekeh ingin membereskan mangkok kotor mereka.


"Aku kan cuma numpukin aja, Mas. Nggak usah lebay deh," sergah Freya sambil terkekeh. Ia memang hanya mengumpulkannya saja sebab yang membawanya turun adalah art di rumah itu.


Abidzar terkekeh sambil menggaruk kepalanya, "lupa, sayang."


"Maklum, Mas pasti capek udah seharian kerja, urus ini itu, eh pulangnya mesti pergi lagi cari bakso ke ujung Berung sana. Sekali lagi makasih ya, Mas. Mas emang yang terbaik."


Cup ...


Freya mengecup pipi Abidzar membuat Abidzar menganga tak percaya atas inisiatif sang istri. Wajahnya sampai memerah karena bahagia.


"Oh ya, sayang."

__ADS_1


"Apa?" Freya yang baru selesai membereskan mangkok pun menoleh.


"Ada yang ingin bertemu denganmu?"


"Bertemu denganku? Siapa?" tanya Freya heran.


Abidzar mengangguk, "Tio ... kakakmu. Dia tadi datang ke kantor dan mengatakan ingin bertemu denganmu."


Freya tertegun mendengar ucapan Abidzar. Kakaknya ingin bertemu artinya ia pun mengikuti perkembangan berita tentangnya.


"Lantas, Mas jawab apa?"


"Mas katakan nanti. Mas akan tanyakan kesediaanmu dulu dan dia mengerti." Mendengar itu, Freya bernafas lega. "Lantas bagaimana? Kapan kau siap bertemu dengan kakakmu?"


Freya terdiam. Entah mengapa, rasa-rasanya ia belum siap untuk bertemu. Ia paham kakaknya pasti mengkhawatirkan dirinya, tapi ia tak mau membuat kakak iparnya merasa terganggu kembali dengan keberadaannya. Namun tak dipungkiri, ia pun merindukan kakak satu-satunya itu.


"Entahlah Mas, sepertinya saat ini aku belum siap. Tapi entah nanti."


"Mas mengerti. Mas akan membicarakannya dengan kakakmu."


"Terima kasih, Mas atas pengertiannya." Usai mengucapkan itu, Freya pun segera merebahkan kepalanya di dada Abidzar. Abidzar pun merengkuh tubuh Freya ke dalam dekapannya. Sudah terlalu banyak kesakitan yang Freya alami. Ia harap, setelah ini, hanya ada kebahagiaan yang selalu menyertainya.


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2