Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
135 S2 TAMAT


__ADS_3

"Mas, Mas serius mau makan jajanan sebanyak itu? Itu makanan full micin lho! Tumben-tumbenan mau makan jajanan anak kecil gitu. Biasanya juga mau yang sehat, higienis, bergini, kok ini justru sebaliknya," cerocos Freya yang masih tak habis pikir dengan kelakuan aneh suaminya itu.


Freya dulu pun seperti itu. Enggan sekali menyentuh makanan seperti itu. Berbeda saat ia masih kanak-kanak yang justru sangat menggilai makanan kaya akan micin seperti itu. Bahkan mie instan pun ia makan begitu saja tanpa dimasak. Rasanya endesss dan sodaaappp. Tapi setelah ia diangkat anak oleh Reza, ayah angkatnya itu melarangnya makan sembarangan. Akibatnya, sampai sekarang pun ia masih terbiasa seperti itu. Hanya saja kebiasaannya pilih-pilih makanan saja yang sudah tidak separah dulu.


Oleh sebab itu, saat melihat bagaimana suaminya menikmati jajanan anak-anak sekolah itu, membuat Freya bergidik sendiri. Tapi ada rasa geli dan lucu melihat Abidzar tampak begitu menikmati aneka jajanan itu dengan begitu nikmat. Seolah-olah ia telah lama mengidamkan makanan tersebut.


"Memangnya kenapa? Sesekali nggak masalah lah. Belum ada yang mati karena makan micin kan? Asal jangan keseringan aja. Bukan karena nggak boleh, tapi yang berlebihan itu kan emang nggak baik dan Mas baru kali ini menyantap makanan kayak gini. Ternyata rasanya enak bener lho, Sayang. Mau coba?" Abidzar lantas mendekatkan satu tusuk papeda ke arah Freya. Bukannya membuka mulut, Freya justru menarik kepalanya menjauh sambil menutup mulut dan hidungnya sambil menggelengkan kepala.


"Nggak. Freya nggak mau. Mas aja deh. Makasih," ucap Freya sambil menahan goncangan di dalam perutnya.


Tiba-tiba saja pintu ruangan Abidzar terbuka. Dari luar masuk Tirta sambil berkacak pinggang.


"Loe kalau masuk itu ketuk dulu. Nggak sopan banget masuk ruangan orang pake nyelonong aja. Kalau gue lagi ehem-ehem sama Freya gimana? Loe sendiri entar yang susah tiba-tiba pingin," omel Abidzar dengan mulut penuh sempol ikan.


"Ck ... ngapain susah sih, tinggal pulang aja. Udah punya bini juga. Gitu aja repot," jawab Tirta acuh tak acuh. Freya tertawa sambil menutup mulutnya. Entah kapan kedua orang ini bisa akur, pikirnya. Setiap bertemu, ada saja yang diperdebatkan. "Makan sapa sih loe? Kayaknya enak bener?" Tirta yang melihat Abidzar tampak menguyah makanan dengan begitu nikmat pun mendekat. Ia lantas merebut salah satu plastik yang berisi makanan dan menyantapnya tanpa permisi.


"Woy, papeda gue woy sialan!" pekik Abidzar kesal saat papeda yang tinggal satu-satunya itu masuk ke dalam mulut Tirta.


"Oh, namanya papeda. Enak," ucapnya masa bodoh dengan ekspresi Abidzar yang kesal.


"Sialan. Balikin papeda gue, setan!"


"Heh, mulut loe ya! Cuma papeda aja pelit bener."


"Ya iyalah, gue yang pingin, terus loe yang makan, balikin nggak."


"Astaga Bi, gimana mau dibalikin kalo udah masuk perut. Udah bersatu padu dengan para cacing dan kotoran di dalam perut gue. Kalau loe masih mau minta ganti, tunggu besok. Tunggu gue boker, entar gue balikin," cetus Tirta asal membuat Abidzar melotot tajam.


"Sialan. Jorok amat sih loe!"


"Loe tuh yang apa-apaan, pake minta balikin."


"Ya loe itu yang seenaknya makan makanan gue. Kalau mau, beli sendiri sana. Pokoknya gue nggak mau tau, ganti papeda gue," sentak Abidzar geram.. Freya yang sejak tadi duduk di sofa ruangan itu tampak memijat pelipisnya. Kepalanya seketika pusing melihat pertengkaran dua orang sepupu itu.


"Emang loe beli dimana sih? Enak juga soalnya. Jadi mau beli juga."


"Di dekat SD yang ada di dekat Cinta Medika. Sana beli gih. Sekalian ganti punya gue jadi sepuluh kali lipat. Tambah sempolnya juga 10. Oh ya, tadi gue juga liat ada yang jual mie lidi, beli itu juga."


"Buset, banyak amat. Gue cuma makan satu kok malah ganti jadi 10. Belum yang lainnya juga."


"Dah, nggak usah banyak bacot! Buruan sana! Gue belum puas makan."


"Itu perut apa karung, makan terus."


Abidzar berdecak, "nggak usah banyak komentar, loe sendiri nggak jauh beda sama gue akhir-akhir ini, ya kan!"


"Ya juga sih. Gue pun sampai heran, kok akhir-akhir ini gue jadi doyan makan. Mana makanan yang gue pingin samaan sama loe juga. Ya udah, gue ke sana dulu. Ck ... mana lumayan jauh pula. Tapi nggak papalah, sekalian cuci mata. Hehehe ... "


Setelah mengatakan itu, Tirta pun segera pergi dari ruangan Abidzar.


Setelah kepergian Tirta, Freya pun mencecar suaminya itu.


"Mas, serius deh, aku kok heran sama napsu makan kamu akhir-akhir ini. Super. Mana aneh-aneh juga."


"Jangankan kamu, Sayang. Mas sendiri pun heran. Bukan cuma Mas sih, Tirta juga gitu. Mas ada kan cerita kalau kami sama-sama pingin gulai kepala baung. Terus besoknya sama-sama pingin makan pindah tulang. Besoknya lagi pingin makan ikan bakar langsung dari tempat pemancingan."


Dahi Freya mengernyit, makin merasa heran dengan apa yang barusan suaminya itu ceritakan.


"Jadi ... kak Tirta pun gitu juga Mas? Aneh banget. Udah kayak orang ngidam aja," cetus Freya sambil mengemil jajanan yang Abidzar beli tadi.


"Apa? Ngidam?" beo Abidzar terkejut.


Freya lantas mengangguk, "ho'oh. Tapi Mas kan cowok, masa' Mas yang hamil sih."


Freya lantas terkekeh sendiri. Tapi tiba-tiba terlonjak. Sampai-sampai telur gulung yang dipegangnya jatuh ke lantai.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Abidzar seketika panik.


"Mas, aku udah telat 2 Minggu," cicitnya dengan mata membulat.


"Maksudnya?"


"Mas, buruan ke apotek gih! Beli test pack 3 biji. Eh 6 aja, aku mau telepon Ana supaya ke sini. Jangan-jangan kami sama," seru Freya tiba-tiba membuat Abidzar kian kebingungan.

__ADS_1


"Test pack? Ana? Jangan-jangan sama? Maksud kamu apa sih, Sayang? Mas benar-benar nggak ngerti."


"Udah, turutin aja permintaan aku. Buruan sebelum Tirta pulang. Biar Ana bisa kasi surprise ke Tirta juga."


Patuh, meskipun bingung, Abidzar lantas segera melakukan apa yang Freya titahkan.


Beberapa saat kemudian,


"Mbak, kok tumben nyuruh aku ke sini? Emang ada apa? Apa Aak Tirta buat macam-macam?" tanya Ana setibanya di kantor Abidzar dan sesudah mengucapkan salam.


Abidzar yang juga baru pulang setelah melakukan apa yang istrinya titahkan kini tampak melongo sama seperti Freya. Bagaimana tidak, Ana datang ke kantor Abidzar dengan mengenakan seragam nanny -nya.


"Ana ... ini beneran kamu?" tanya Freya dengan mata membulat sempurna.


"Iya, ini aku, Ana. Emang kenapa, Mbak?" tanya Ana bingung. Dia belum sadar kalau Freya dan Abidzar sedang melongo karena baju yang ia kenakan.


"Baju kamu itu lho. Kok ... "


Ana menepuk jidatnya kemudian terkekeh kecil.


"Oh, ini ... " Ana lantas menceritakan asal mula ia mengenakan seragam nanny tersebut membuat Freya dan Abidzar tergelak kencang.


Kemudian Freya mengambil kantong berisi test pact yang barusan Abidzar beli. Lalu, tanpa banyak bicara, Freya segera menarik tangan Ana untuk mengikuti dirinya. Ana sampai kebingungan, tapi langkah kakinya tetap saja mengikuti.


"Nih, kamu coba. Tapi sebelum itu, aku dulu yang coba, oke!" Ucap Freya seraya menyerahkan 3 buah test pack dan sebuah gelas kecil ke tangan Ana.


"Eh, eh, eh, ini apa mbak maksudnya? Test pack? Kok Mbak kasi ini ke aku?" tanya Ana kebingungan.


"Udah, urusan ceritanya nanti aja. Yang penting di test dulu. Kalau gitu, Mbak duluan ya!"


Freya pun masuk ke dalam kamar mandi. Dan setelah beberapa menit kemudian, ia keluar dengan senyum terukir indah di bibir.


"Sekarang giliran kamu, An!"


Meskipun masih dilanda kebingungan, Ana pun melakukan apa yang Freya titahkan.


Dalam hitungan menit, Ana pun keluar. Kali ini bukan raut kebingungan lagi yang tercipta di wajahnya, melainkan senyum penuh haru. Semua itu terlihat dari mata Ana yang berkaca-kaca. Kemudian mereka kompak mengangkat hasil test pack mereka berdua. Setelahnya mereka berseru kegirangan sambil berpelukan tak menyangka kalau mereka akan hamil secara bersamaan.


"Selamat Ana, akhirnya ... "


"Mbak juga selamat ya, akhirnya dedek Abri bakal ibunya adek." Seru mereka bergantian.


Tirta yang baru saja pulang membeli makanan pun heran mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.


"Ana? Bi, di dalam ada Ana?" tanya Tirta pada Abidzar yang telah berdiri di tengah ruangan.


Abidzar pun mengangguk. Tak lama kemudian Freya dan Ana pun keluar. Kedua perempuan itu lantas segera memeluk suami masing-masing membuat kedua laki-laki itu kebingungan


"Mas, aku hamil." Ucap Freya girang.


"Aak, aku juga hamil." Ucap Ana tak kalah girang. Ia pun langsung berhambur ke pelukan Tirta yang masih mematung karena syok.


"A-apa?" cicit Tirta takut salah pendengaran.


Tak perlu banyak kata, Ana pun langsung menunjukkan test pack bergaris dua pada Tirta. Tirta yang melihat itu tentu saja terkejut. Ia pun langsung berseru hamdalah sambil memeluk tubuh Ana dan memutar-mutarnya.


Begitu pula dengan Abidzar, ia tak menyangka akan dikaruniai anak kedua secepat ini. Padahal usia baby Abrisham saja baru 5 bulan, tapi dia sudah akan menjadi seorang kakak.


"Tapi sayang, baby Abrisham baru berusia 5 bulan, apa nggak papa? Mas takut ... "


Wajar Abidzar takut sebab mengingat bagaimana Treya melahirkan tempo hari. Ia takut fisik Freya belum kuat. Bahkan sebenarnya banyak yang ia khawatirkan. Namun sebisa mungkin Freya menenangkan Abidzar. Ia yakin ia akan baik-baik saja. Apalagi ia dikelilingi orang-orang yang begitu mencintai dan menyayanginya. Melihat keyakinan sang istri, Abidzar pun mencoba meyakinkan dirinya kalau istrinya takkan kenapa-kenapa. Apalagi anak adalah anugerah, ia yakin dan percaya, ini yang terbaik untuk mereka.


Sementara itu, di rumah sakit, tempat Erin dirawat, Ryan kedatangan seseorang.


"Apa Anda yang bernama Ryan?" tanya seseorang itu.


"Ya, saya sendiri. Anda siapa?" tanya Ryan balik.


"Perkenalkan, saya Alan, suami Reva."


Mengetahui siapa laki-laki yang berdiri di hadapannya sambil mengulurkan tangan membuat Ryan menatap enggan. Ia yakin, pasti ada alasan kenapa laki-laki ini mendatanginya.


"Langsung saja, tak perlu basa-basi. Apa alasan Anda menemui saya?" tanya Ryan to the point.

__ADS_1


"Saya ... " Laki-laki itu menghela nafasnya. "Saya mohon, cabut tuntutan Anda pada istri dan mertua saya. Kami memiliki 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Mereka masih membutuhkan kasih ibunya. Ibu mertua saya juga, apa Anda tidak kasihan, dia sudah lansia. Tapi harus menghabiskan usia senjanya di penjara. Karena itu, saya mohon, bebaskan mereka. Saya tahu, kesalahan mereka fatal, tapi mereka pun tidak sengaja," ucap laki-laki itu dengan tatapan memohon.


Ryan yang mendengar permohonan itu lantas terkekeh, "kau memiliki anak yang masih kecil-kecil? Lalu bagaimana dengan nasib anak Zoya sekarang? Bagaimana nasibnya yang awalnya sudah yatim lalu kini ditinggal ibunya pula, apa Anda tidak kasihan? Masih kecil, tapi harus kehilangan kedua orang tuanya dan itu karena keegoisan kalian sebagai orang tua. Apa mereka memikirkan itu sebelum bertindak semaunya, hah?" sentak Ryan yang naik pitam. "Dan apa katamu tadi? Apa saya tidak kasihan pada ibu mertua Anda? Jawaban saya adalah tidak. Bukannya saya tidak tahu bagaimana kelakuan ibu mertua Anda selama ini pada Zoya dan Zaya. Bahkan sejak lahir pun ia tak pernah menganggap Zaya sebagai cucunya. Lalu, saat istri Anda tidak bisa lagi memberikan keturunan khususnya anak perempuan, tiba-tiba mereka seakan memiliki hak untuk menguasai Zaya? Dasar picik. Ya, memang dia sudah tua, seharusnya usia segitu dia memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, tapi apa yang dia lakukan? Dia malah mendukung istri Anda yang egois itu. Dia bahkan turut andil membuat Zaya menjadi seorang yatim piatu. Dengar ini, sampai kapanpun aku takkan pernah mencabut tuntutan saya. Apalagi karena perbuatan mereka, Zaya bukan hanya kehilangan ibunya, tapi merasa trauma berhadapan dengan banyak orang. Perbuatan istri dan mertua Anda itu sudah tak termaafkan. Lebih baik Anda pulang. Biarkan mereka merenungi kesalahan mereka dari balik jeruji besi. Dan jangan pernah temui saya maupun Zaya lagi."


Setelah mengatakan itu, Ryan pun segera pergi dari hadapan laki-laki itu.


Di tempat lain,


"Kenapa mama tega? Apa sebenarnya salah Zoya pada mama? Kenapa mama jahat pada Zoya? Lihat, karena perbuatan Mama dan Mbak Reva, Zaya harus jadi yatim piatu."


"Maafkan Mama, Ren, Mama tidak bermaksud seperti itu."


"Tapi nyatanya perbuatan kalian membuat Zaya kehilangan ibunya."


"Maafkan Mama, Ren, mama menyesal."


"Apa dengan menyesal, Mama bisa menghidupkan Zoya kembali?"


"Ren, Mama benar-benar tidak sengaja. Reva pun pasti begitu juga. Maafkan Mama dan Reva, Ren. Maaf."


"Tidak. Aku tidak akan memaafkan Mama dan Mbak Reva. Perbuatan kalian benar-benar keterlaluan."


"Ren, maafkan Mama, maafkan Mama Ren, maaf, maaf, mama tidak sengaja. Reva juga. Maaf ... "


"Ma, bangun Ma, bangun!" teriak Reva saat ibunya berteriak dengan mata terpejam. Tapi ibunya itu tak kunjung membuka matanya. "Ma, bangun Ma, jangan nakutin Reva, Ma. Bangun Ma, bangun!"


Tiba-tiba mata ibu Reva terbuka. Sekelebat ingatan bagaimana ia menghina Zoya karena menikah dengan anaknya memenuhi kepalanya. Ia pun ingat bagaimana ia mencaci maki Zoya, merendahkannya, mengusirnya, mendorongnya saat hamil, lalu tidak mau mengakui cucunya sendiri membuat matanya kian terbelalak.


Reva panik melihat ibunya mulai kejang-kejang dengan mata melotot. Ia pun berteriak meminta pertolongan. Namun sayang, saat pertolongan datang, tubuh ibunya mendadak kaku dengan mata yang nyaris keluar dari rongganya. Saat petugas medis memeriksa, ternyata ibunya telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Reva berteriak histeris. Ia memanggil-manggil ibunya berharap ibunya segera bangun, tapi semua sia-sia sebab ibu Reva telah meregang nyawa di balik jeruji besi yang ditempatinya.


...***...


Skip beberapa bulan kemudian,


Hari ini Abidzar dan Freya mengadakan acara tujuh bulanan kandungan Freya di kediaman mereka. Mereka mengundang bukan hanya sanak saudara, keluarga, rekan dan teman, tapi mereka juga mengundang anak-anak panti asuhan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.


Setelah acara berakhir, Erin, Ryan, Rio, dan Zaya tetap tinggal. Mereka ingin menyampaikan sesuatu pada keluarga kecil itu.


"Apa ini?" Tanya Freya antusias. Sebenarnya ia sudah bisa menebak, tapi tetap saja ia bertanya untuk memastikan.


"Ck ... tinggal dibaca aja kenapa sih," desis Erin pura-pura jengkel membuat Freya dan Ryan terkekeh.


"Iya, iya. Selamat ya, Rin. Akhirnya kalian akan menikah juga. Aku turut berbahagia mendengarnya."


Erin lantas tersenyum dengan mata berkaca-kaca, "ini juga berkat dirimu, Fre. Seandainya kau dan Mas Abi tidak membebaskan aku, entah kapan aku bisa merasakan kebahagiaan ini."


"Ck ... itu lagi. Kan udah aku bilang berkali-kali, itu memang sudah seharusnya aku lakukan. Karena kau pun pernah melakukan hal yang sama untukku. Yah, walaupun dengan niat berbeda, tapi intinya berkat bantuanmu, aku akhirnya bisa merengkuh bahagiaku. Dan kini ... giliran kau, Ryan, dan Rio, serta ... Zaya. Aku harap kalian bahagia. Sekali lagi selamat ya."


Tak ada kebahagiaan yang instan. Tak ada pula kebahagiaan yang sempurna. Tak sedikit orang yang mesti melalui proses yang panjang untuk merengkuh bahagia. Tertatih, terseok, jatuh bangun, terluka, kecewa, patah, hancur, didera air mata dan merana. Namun satu yang pasti, Allah takkan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-hamba-Nya. Yakin dan percayalah, bahagia itu ada meskipun jalannya sedikit berliku.


Sepulang dari kediaman Abidzar dan Freya, Ryan, Erin, Rio, dan Zaya pergi ke makam Zoya. Di makam, Erin dan Zaya menangis. Erin menangis karena terharu akan pengorbanan Zoya untuk dirinya dan anaknya, sedangkan Zoya menangis karena merindukan sosok ibunya.


"Zoya, terima kasih. Terima kasih telah mendonorkan bagian tubuhmu untukku sehingga aku kini dapat kembali sehat. Bahkan berkat pengorbanan mu juga, akhirnya aku bisa bersama dengan orang-orang yang ku cintai dan mencintai ku. Zoya, kau tak perlu khawatir, meskipun aku bukan ibu kandung Zaya, tapi aku telah menyayanginya seperti anak kandungku sendiri. Aku akan menjaga, merawat, dan menjaganya sepenuh hati. Semoga kau bisa tenang dan bahagia di sana," ucap Erin tulus dengan berderai air mata.


"Mama, Zaya rindu," lirih Zaya. "Ma, kata Om sekarang Om Ryan jadi papa Zaya. Zaya juga boleh manggil mama adek Rio jadi mama Zaya juga. Papa Ryan dan Mama Erin baik banget. Papa masukin Zaya ke sekolah, Ma. Sekarang Zaya udah sekolah. Teman-teman Zaya banyak. Adik Rio juga baik. Zaya senang tinggal sama Papa Ryan dan Mama Erin. Ma, nanti kapan-kapan Zaya ke sini lagi ya. Zaya sayang Mama."


Tak lupa Ryan pun mengajak Zaya ke makam ayahnya. Meskipun ia telah menganggap Zaya sebagai anaknya, tapi ia tetap akan mengingatkan Zaya pada kedua orang tua kandungnya. Ia juga mengajarkan Zaya untuk selalu mendoakan kedua orang tuanya. Bukankah salah satu amalan yang takkan pernah terputus adalah doa anak-anak yang sholeh/Sholehah.


Kini baik Freya dan Abidzar, Ana dan Tirta, bahkan Erin dan Ryan telah menemukan kebahagiaannya. Meskipun perjalanan mereka masih panjang dan mungkin juga berliku, tapi dengan komitmen yang kuat, mereka yakin mereka pasti bisa menghadapinya.


...***...


Akhir kata, terima kasih atas dukungan kakak-kakak semuanya. Semoga suka dengan ending ceritanya ya!


Sampai jumpa dicerita selanjutnya!


Jangan lupa mamp! 🥰🥰🙏



...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2