Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
101 S2


__ADS_3

Tirta dan kedua orang tuanya pulang ke rumah menjelang sore hari. Setibanya di rumah, asisten rumah tangga Tirta pun segera menghampiri Tirta.


"Den, den Tirta, tadi ada yang nyariin Aden. Tapi bibi bilang Aden sedang pergi. Tadi dia sempat nungguin lama, karena Aden nggak pulang-pulang udah kayak bang Toyib, jadi dia pamit. Tapi dia pesan supaya Aden segera hubungi dia. Penting katanya," ujar bi Onah saat Tirta baru saja hendak naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.


Tirta yang baru menginjakkan kakinya di undakan tangga pertama lantas mengurungkan langkahnya. Ia justru berbelok menghadap bi Onah dengan dahi berkerut.


"Siapa, Bi?" tanya Tirta penasaran. Sebab bila orang yang mengenalnya pasti akan menghubunginya terlebih dahulu sebelum berkunjung ke rumah.


"Namanya siapa ya tadi Mar ... Mar ... "


"Markonah?" tukas Tirta sambil cekikikan.


"Itu mah nama bibi. Ah, Aden demen bener ngerjain bibi." Bi Onah mencebikkan bibirnya membuat Tirta tergelak.


"Lantas siapa? Marfuah? Marimar? Markoni? Mar ... apa lagi ya?"


Bi Onah berdecak, "dia laki-laki yang pernah datang kemari tempo hari itu lho den. Waktu itu cari Aden juga. Tapi nggak ketemu. Cuma dia sempat ngobrol sama bapak sama ibuk."


Tirta mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat siapa yang pernah mencarinya ke rumah. Tak lama kemudian, ia pun mengingat ada seseorang yang mencarinya dan memberinya sebuah kartu nama agar ia segera menghubunginya.


"Mar ... oh iya, Martin. Apa namanya Martin, Bi?"


"Ah, iya, bener, bener, den. Namanya Martin," seru Bi Onah. Tirta menganggukkan kepalanya.


"Dia ada pesan sesuatu atau bilang sesuatu ke bibi?"


"Nggak ada, den. Dia cuma pesan itu tadi, minta Aden segera hubungi dia. Ada hal penting, katanya. Cuma itu aja."


"Oh ya udah kalau gitu. Makasih ya, Bi. Tirta ke atas dulu ya. Mau mandi, gerah," ujar Tirta seraya menaiki undakan tangga kembali.


"Sami-sami, den," ujar Bi Onah seraya cekikikan.


...***...


Sesampainya di kamar, Tirta bergegas mencari kartu nama orang yang mencarinya. Ia benar-benar lupa menghubungi orang itu. Bukan hanya itu, kartu nama orang itu saja ia lupa meletakkannya dimana.


"Dimana ya?" Tirta menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. Mencoba mengingat-ingat, tapi otaknya sedang blank.


"Siapa sih orang itu? Dan ada keperluan apa mencari ku? Aku saja baru kali ini mendengar nama itu, kira-kira siapa yang dia?" gumam Tirta.


Pusing tak kunjung menemukan kartu nama itu, Tirta lantas memilih mandi. Siapa tau guyuran air dingin bisa menjernihkan otaknya yang buntu.


Tirta pun segera masuk ke kamar mandi setelah melucuti semua pakaiannya. Hanya menyisakan segitiga bermuda saja. Biarpun seorang diri saja di kamar itu, Tirta tetap merasa malu melihat miliknya bergelantungan. Karena itu, setiap mandi ia selalu mengenakan segitiga bermudanya.


Aset berharga yang harus ia amankan. Hahahah ...


Saat air dingin mulai mengguyur kepala hingga sekujur tubuhnya. Bukannya otaknya jadi mengingat dimana ia meletakkan kartu nama Martin, Tirta justru mengingat wajah Ana. Wajah Ana, tawa Ana, suara Ana, seolah menari-nari di otaknya. Disentuhnya pipinya. Tirta tersipu, padahal dia yang menyodorkan pipi, tapi seolah-olah dia habis dicium Ana.


"Ana ... Ana ... oh Ana ... "


Byurrr ...


"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ... "


"Kamu ini gimana sih, Na, minum aja bisa keselek gitu?" ucap rekannya sesama art.


"Nggak tahu. Tiba-tiba aja kayak ada yang gelitik di tenggorokan terus keselek." Ujarnya setelah menarik nafas beberapa kali untuk meredakan batuknya.


"Itu namanya ada yang nyebut."


"Ah, mitos itu. Bibi masih aja percaya mitos."


"Lah, dikasi tau ndak percaya. Terserah kalau nggak percaya, tapi yang bibi omongin itu benar. Kalau tiba-tiba keselek lama lagi minum, artinya ada yang nyebut nama kita, bicarain kita di belakang kita," ujar Bi Asih kekeh dengan apa yang ia yakini. Tak peduli mitos atau bukan, kepercayaan itu sudah mendarah daging.


"Siapa juga Bi yang bicarain aku, aneh-aneh aja."


"Lha, bisa aja tuh den Tirta yang lagi nyebut-nyebut nama kamu."


"Lha, kok malah nyambung ke tuan Tirta sih, bi? Bibi makin lama makin aneh."


"Heleh, aneh, aneh, emangnya bibi nggak tau, den Tirta itu lagi deketin kamu. Serumah-rumah pasti udah tau. Kamu nya aja yang nggak peka," ejek bi Asih.


"Bohong itu. Bi Asih nggak usah ghibah deh, mana ada. Kami cuma berteman kok." Kilah Ana yang merasa kedekatannya dengan Tirta masih biasa aja. Sekedar berteman, tak lebih.


Melihat itu, rekan Ana hanya cekikikan.


"Kalau beneran juga nggak papa, Na. Nggak ada yang salah, ya nggak Bi."


"Iya eh i- aduh, pempek kuuu gosoooong," pekik Bi Asih yang kelupaan sedang menggoreng pempek.


Ana yang melihat pempek goreng bi Asih gosong pun menganga kemudian tertawa, "bibi sih, kebanyakan gosip, jadi gosong kan pempeknya." Usai mengatakan itu, Ana langsung berlari sebab bi Asih sudah mengangkat sutil bersiap untuk memukulnya.


Sementara itu, di kediaman Tirta, laki-laki itu melanjutkan mencari kartu nama laki-laki yang mencarinya. Setelah mencari selama hampir 30 menit, akhirnya ia menemukannya di selipan bantal sofa.


Karena hari sudah menjelang malam, Tirta mengurungkan menghubungi laki-laki itu.


"Besok ajalah. Kalau dia mau ketemu, sekalian saat jam makan siang. Sebenarnya dia ini siapa sih? Kok kayak ngebet banget pingin ketemu?" gumamnya kemudian kembali menyimpan kartu nama itu. Tapi kini ia menyimpannya di dalam dompet agar mudah untuk mencarinya.


Keesokan harinya, sebelum berangkat kerja, Tirta lebih dahulu mampir ke kediaman Abidzar. Di mobilnya, Tirta terkekeh sendiri. Bila sebelumnya, Tirta mampi ke kediaman sepupunya itu karena ingin bertemu Freya, namun kini ia justru ingin menemui Ana, asisten rumah tangga sepupunya itu. Tirta tak memedulikan status Ana yang hanya asisten rumah tangga, yang penting pertama dia perempuan.


Ya, haruslah perempuan, masa' laki-laki.

__ADS_1


"I'm normal man, bukan maho," gumamnya sambil terkekeh.


Kedua, seiman. Ribet bro kalo beda iman, terlalu banyak halang rintang. Daripada ujung-ujungnya nggak jadi mending sedari awal nggak pernah mencobanya sama sekali. Ye khaaaan!


Dan ketiga, dia harus sesama manusia. Ya iyalah manusia. Masa' sama mbak-mbak Kunti. Tirta merinding sendiri membayangkan dirinya bertemu mbak-mbak Kunti.


Cittttt ... bugh ...


"Mbak Kunti eh mbak Kunti ... " pekik Tirta kaget saat mobilnya hampir menabrak seseorang.


Untung saja ia cepat mengerem sehingga ia tidak sampai benar-benar menabrak orang itu.


Tirta pun bergegas keluar dari dalam mobil dan menghampiri seseorang itu.


"Mbak Kun eh maksudnya mbak nggak papa?" tanya Tirta pada seorang perempuan yang kini sedang terduduk di aspal itu.


Perempuan itu lantas menoleh dan matanya pun terbelalak.


"Tirta ... "


Dahi Tirta berkerut, merasa mengenal perempuan tersebut.


"Ck ... loe lupa sama gue?" Perempuan itupun gegas berdiri seraya membersihkan bokongnya dari kotoran yang melekat karena terduduk tadi.


"Astaga, ternyata loe pikun juga ya!"


"Dekil?"


Mata perempuan itu melotot dipanggil seperti itu.


"Loe mirip temen gue si dekil, tapi masa' iya dia itu kamu? Kamu aja ... "


"Cantik?" ucap perempuan itu seraya memutar bola matanya.


Tirta salah tingkah sendiri. Ia lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Sekedar ingin mengusir grogi.


"Iya, ini aku dekil. Mantan ketua kelas kelas XII IPA 1, puas."


Mendengar itu, mata Tirta pun membulat dengan mulut menganga, tak percaya. Ia pandangi gadis cantik itu dari atas hingga ke bawah lalu dari bawah kembali ke atas, "serius? Loe Melan si dekil?"


"And the kumel," sambungnya bersungut-sungut.


Tirta pun tergelak kencang.


"Masih ingat aja loe. Tapi seriusan, gue pangling. Nggak nyangka, loe itu Melan si dekil."


"Namanya juga dulu gue aktif di Pramuka sama paskibra jadi sering panas-panasan, wajar dong. Kalau sekarang kan gue udah kerja, tempatnya adem pula, jadi ya gini. Hei, jadi cowok kok nggak modal banget, ngajak ngobrol di tengah jalan."


"Oh iya, sorry. Eh tunggu, loe nggak papa? Ada yang luka?"


"Loe juga sih, nyebrang pake nggak lihat-lihat. Untung gue cepat ngerem, kau nggak ... "


"Ya innalilahi ... "


"Omongan loe kadang bener." Tirta pun tergelak.


Melan cemberut, "mobil gue mogok di sana padahal pagi ini gue ada meeting. Jadi gue nyeberang mau pesan taksi biar mudah keliatan dari sini, eh taunya mobil loe datang."


"Oh, jadi udah pesan taksolnya?"


"Belum. Gue pesan dulu deh."


"Emang kantor loe ada dimana? Gue masih ada waktu, entar gue antar aja deh sebagai permintaan maaf."


"Kantor gue ada di Thamrin. Bisa? Kalau jalur loe berlawanan, mending aku pesan taksi aja."


"Kebetulan kantor gue lewat sana. Ya udah, gue anterin deh."


"Eh, tunggu-tunggu, kalau kantor loe lewat Thamrin, kenapa loe kesini? Kan ini berlawanan arah."


"Gue tadi emang ada perlu di sekitar sini, tapi bisa entaran deh. Gue anterin loe aja dulu. Mobil loe gimana? Aman di sana?"


"Insyaallah aman. Udah gue titip sama orang yang tinggal di sana. Mungkin sesampainya di kantor baru gue telepon derek."


"Ya udah, kita berangkat sekarang."


Tirta pun melajukan mobilnya menuju alamat yang ditujukan Melan. Ia mengurungkan bertemu Ana. Ia pikir mungkin sore nanti ia bisa kesana lagi.


Sementara itu, di kediaman Abidzar, tampak Ana celingak-celinguk dari tadi. Jam 6 tadi Tirta sempat mengirimkan pesan padanya. Tirta mengatakan akan mampir kesana. Namun sudah 30 menit berlalu, Tirta tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.


"Dasar pembohong! Dia bilang mau ke sini sambil beliin aku bubur ayam, taunya bohong. Awas saja dia!" geram Ana. Padahal Ana juga sudah bela-belain menyiapkan bekal untuk Tirta sebagai alat barter bubur ayam. Tapi kenyataannya, bubur ayam tak ada, bekal buatannya berakhir sia-sia.


Kesal karena Tirta tak kunjung datang, Ana pun kembali ke dapur. Dibukanya kotak bekal itu lalu difoto.


Dasar pembohong. Gue makan loe!!!


posting ...


...***...


Siang hari, Tirta yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya lantas teringat dengan kartu nama yang ada di dalam dompetnya. Ia pun segera mengeluarkan kartu nama itu dan menghubungi pemilik kartu nama tersebut.

__ADS_1


"Halo ... "


"Halo, saya Tirta. Benar ini dengan tuan Martin Leonardo?"


"Ya benar. Ah, akhirnya Anda menghubungi saya juga. Maaf, bisa kita bertemu?"


"Kalau boleh tahu, untuk apa ya? Apa kita saling mengenal?"


"Tidak. Kita tidak saling mengenal. Tapi mungkin ke depannya akan saling mengenal. Ada sesuatu yang penting yang ingin saya tanyakan, bisakah kita bertemu siang ini?"


"Kalau boleh tahu, hal penting apa?"


"Nanti Anda juga akan tahu. Saya mohon kesediaan Anda?"


"Baiklah. Saya atau Anda yang menentukan lokasi?"


"Silahkan Anda saja."


"Baiklah, saya tunggu di cafe Starla jam makan siang, bagaimana?"


"Oke. Terima kasih."


...***...


Jam makan siang tiba, Tirta yang memiliki janji temu dengan Martin pun bergegas bersiap untuk berangkat ke lokasi.


"Loe mau makan siang di luar, Ta?" tanya Abidzar saat melihat Tirta sedang bersiap untuk pergi.


Tirta pun mengangguk, "sejak beberapa hari yang lalu, ada seseorang nyariin gue mulu. Tapi gue baru ingat dan sekarang gue mau ketemuan sama dia."


"Siapa?"


Tirta mengedikkan bahunya tak tahu, "gue juga nggak tahu. Kayaknya penting banget sampai dia belain ke rumah udah 2 kali. Namanya Martin Leonardo, loe kenal nggak?"


Abidzar mencoba mengingat, kemudian menggeleng cepat, "nggak. Nggak ada kenalan gue namanya Martin Leonardo. Hati-hati ketemu orang asing." Peringat Abidzar membuat Tirta terkekeh.


"Emangnya gue anak kecil pake diingatin kayak gitu."


Abidzar terkekeh, "ya, kalo aja dia penculik kan. Jadi hati-hati," imbuhnya dengan kekehan.


"Diculik mau dijadiin apa? Pasangan maho? Ih, mengerikan. Kayak stok cewek di dunia udah pada habis aja," tukas Tirta sambil tertawa. "Ya udah, gue pergi dulu ya! Titip salam buat Ana."


"Bilang aja sendiri, gue ogah. Masa' majikan nyampein salam dari sepupunya sama art-nya, dasar gila."


Tirta tergelak kencang mendengar nada protes dari sepupunya itu.


"Ya, kalo aja pas loe yang nyampein salam, dia langsung mau terima gue. Syukur-syukur langsung bisa dibawa ke KUA." Ucapnya seraya tergelak. Setelah mengucapkan itu, Tirta pun bergegas pergi ke cafe Starla.


...***...


Setibanya di cafe Starla, Tirta kembali menghubungi Martin. Ia belum pernah bertemu Martin sekalipun, jadi ia menghubunginya untuk menanyakan keberadaannya, sudah tiba atau belum.


"Halo, pak Martin. Bapak sudah sampai atau masih di jalan?"


"Saya sudah di dalam. Di meja nomor 35."


"Baiklah. Saya tutup."


Tut ...


Panggilan pun Tirta tutup. Ia pun bergegas masuk ke dalam cafe Starla untuk mencari meja nomor 35.


"Ada yang bisa kamu bantu kak?" tanya salah seorang pelayan cafe.


"Saya ada janji dengan seseorang. Dia menunggu di meja 35."


"Oh, baik kak. Mari, lewat sini!"


Tirta pun mengikuti langkah pelayan cafe tersebut.


"Pak Martin?" tanya Tirta saat telah berdiri di depan seorang laki-laki yang usianya tampak lebih tua beberapa tahun darinya.


"Oh, jadi Anda Pak Tirta. Benar pak, saya Martin Leonardo. Senang bertemu dengan Anda." Martin pun berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Tirta pun menyambutnya ramah. Setelah berkenalan, Tirta pun segera duduk.


"Sebelum ke pokok pembicaraan, bagaimana kalau kita pesan makan dulu. Kebetulan saya belum makan siang."


"Saya juga. Baiklah."


Martin lantas memanggil pelayan dan mereka pun mulai memesan. Setelah makanan mereka diantarkan, mereka pun menyantap makan siang mereka sambil berbincang hangat seputar pekerjaan. Setelah selesai, pelayan membereskan piring hingga hanya menyisakan cangkir kopi masing-masing di atas meja.


"Jadi pak Martin, apa yang bisa saya bantu? Apa gerangan Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Tirta to the point.


Martin menghela nafas panjang sebelum berbicara.


"Saya ingin menanyakan keberadaan Hana pada Anda."


"Hana?"


...***...

__ADS_1


2 bab jadi satu bab jadi puanjaaaang ee polll. 😄


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2