Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Janggal


__ADS_3

"Eungh ... " Tubuh Freya menggeliat saat mendengar sayup-sayup bacaan tahrim dari masjid yang berada tak jauh dari kediaman orang tua Abidzar. Mata perempuan itu mengerjap, namun ia seketika tersentak hingga terduduk karena merasakan sesuatu yang berat dan hangat melingkari perutnya. Bahkan tengkuknya terasa merinding karena sesuatu yang Freya sadari adalah helaan nafas dari seseorang. Freya tak berani menoleh, tapi saat suara seseorang itu menegurnya barulah ia berani menoleh dengan mata terbelalak.


"Kamu kenapa, sayang?" Suara serak khas bangun tidur itu benar-benar membuat Freya kebingungan.


"Mas, ini beneran kamu?" tanya Freya yang masih linglung.


"Kamu pikir siapa? Gathan? Tirta?" Ketus Abidzar membuat Freya mengerutkan keningnya. Lalu Freya mengucek kedua matanya. Masih ada pikirnya.Tapi bukankah semalam Abidzar telah pulang ke rumahnya? Lantas mengapa di subuh seperti ini sudah ada di sini?


Melihat ekspresi Freya yang masih terbengong, membuat Abidzar gemas kemudian menarik lengannya hingga kembali terguling di sampingnya. Didekapnya erat lalu ia mendusel pipi Freya dengan ujung hidungnya membuat Freya kegelian.


"Mas, lepas, geli." Freya terkekeh sambil berusaha melepaskan diri dan menjauhkan wajah Abidzar dari pipinya.


"Nggak mau. Soalnya gemesin." Abidzar masih melanjutkan aksinya.


"Tapi sebentar lagi adzan subuh, Mas."


"Sebentar lagi. Masih kangen."


"Ck ... baru juga beberapa jam pisah, tapi ngomong-ngomong kok Mas bisa tiba-tiba ada di sini? Bukannya semalam Mas udah pulang? Entar Erin marah lho."


"Erin nggak ada. Mending kesini kan." Dustanya. Ia yakin, kalau ia jujur meninggalkan Erin sendirian di rumah, pasti Freya akan merasa tak enak hati. Ia malas satu kamar dengan Erin. Apalagi setelah pertengkaran semalam, ia tak mau kembali berdebat bila mereka bertemu lagi. Tidur di lain kamar pun bukan pilihan yang tepat. Apalagi sendirian. Untuk apa punya istri kalau tidak bisa dijadikan teman bobok. Kepalang tanggung masak, masak sendiri, makan makan, sendiri, cuci baju sendiri, seperti lagu Om Meggi Z. Hahaha ...


Eh, ogah ya, Abidzar tidak mau begitu. Ternyata punya istri dua, ada enaknya juga pikirnya. Seperti lagu Ahmad Dhani, bila istri pertama merajuk, balik ke rumah istri dua. Tapi kalau bisa, jangan deh. Satu istri aja bikin pusing, apalagi dua. Seperti sekarang, Erin yang memaksanya menikah lagi, tapi Erin justru terbakar sendiri melihat perhatiannya pada Freya. Jadi yang salah itu sebenarnya siapa?


"Oh," Freya tampak ber'oh ria saja. "Aku mau ambil wudhu dulu, Mas. Udah adzan." Frettpun bergegas turun dari atas ranjang dan segera beranjak ke kamar mandi. Tak lama kemudian, Abidzar pun menyusul setelah Freya keluar.


Sajadah telah terbentang. Freya pun telah menunggu di tempatnya. Hati Abidzar terasa hangat dan tentram. Suasana seperti inilah yang selama ini ia rindukan. Salahkah bila ia ingin mempertahankan Freya sedang segala yang ia impikan dalam berumah tangga bisa tercipta saat bersama istri mudanya itu?


...***...


"Bibi masak apa?" tanya Freya yang telah turun ke dapur. Ia tak mungkin bersantai ria seperti nyonya besar di rumah itu. Ia tahu diri. Apalagi dia bukanlah menantu yang diinginkan keluarga itu. Mereka menerimanya hanya karena ia tengah mengandung keturunan keluarga itu. Ya, dia tak berani berharap terlalu tinggi. Apalagi berharap benar-benar jadi bagian keluarga itu.


"Eh non Freya. Ngapain non disini? Non balik aja ke kamar.. Nanti kalau sarapannya sudah siap, bibi panggilin deh." Bi Atin meminta Freya meninggalkan dapur. Bagaimana pun, Freya juga termasuk menantu keluarga itu, tak pantas rasanya ia membiarkan istri majikannya berkutat di dapur, sedangkan ada dirinya yang telah digaji untuk memasakkan makanan keluarga itu.


"Aku cuma mau bantu kok, Bi. Bibi nggak perlu sungkan-sungkan. Aku nggak papa kok. Lagian, Mas Abi sedang mandi juga. Masa' aku nungguin orang mandi sih, Bi."


"Tapi orang itu kan suami non Freya, nggak masalah."


"Bilang aja bibi takut masakannya jadi nggak enak karena ulah Freya iya 'kan?" Freya memasang wajah cemberut membuat bi Atin makin salah tingkah.


"Eh, eh, bu-bukan begitu, Non. Saya cuma ... " Freya terkekeh melihat ekspresi gugup Bi Atin.

__ADS_1


"Udah ah, Bi. Bibi lanjut aja masaknya. Aku bantuin hidangin aja deh kalau kayak gitu. Aku nggak akan ganggu kok. Males aja kalau cuma bengong doang, mending bantu bibi 'kan."


Bi Atin menghela nafas pasrah, ia pun mengangguk.


Freya tersenyum lebar. Lantas ia segera menghidangkan menu yang telah selesai dimasak. Ia juga menyiapkan piring sesuai jumlah anggota keluarga.


Sementara itu, di kamar Abidzar, tampak laki-laki tampan dan gagah keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk abu-abu yang menggantung di pinggangnya.


Dahinya berkerut saat melihat pakaiannya yang telah tergeletak di atas ranjang berikut dasi, jam tangan, serta ikat pinggangnya. Abidzar tersenyum. Ia seperti laki-laki yang begitu dihargai oleh sang istri sebab selama menikah dengan Erin, Erin tak pernah memperlakukannya seperti itu.


Padahal di masa lalu pun Freya tak pernah melakukannya. Tapi belajar dari bagaimana cara Nanda melayani suami, membuatnya terus mengingat itu. Dan di kesempatan ini, ia pun ingin memperlakukan suaminya dengan baik. Selama ia masih berstatus istri Abidzar, ia ingin melayani suaminya itu dengan baik.


"Pagi, sayang." Ucap Abidzar dengan wajah sumringah saat menyambangi sang istri di meja makan. Tampak wanita cantik itu tengah menatap cangkir dan sendok di tempatnya.


Freya yang disapa seperti itu di depan ibu dan ayah mertuanya jadi salah tingkah sendiri.


"Pa-pagi, Mas." Jawab Freya kikuk. Lalu ia menarik kursi untuk suaminya dan membalik piring untuk diisi nasi goreng buatan bi Atin.


Sagita dan Abraham saling melirik satu sama lain. Mereka dapat melihat keceriaan dan kebahagiaan di wajah sang putra. Sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Apakah sebegitu berartinya Freya bagi Abidzar? Mereka jadi bertanya-tanya, apakah selama menikah dengan Erin, putranya itu tidak pernah merasakan kebahagian cinta yang seperti ini? Apakah mereka salah menikahkan putranya dengan Erin?


"Makasih." Ucap Abidzar saat piringnya telah diisi nasi goreng dan lauk pauknya oleh Freya.


Freya mengangguk, kemudian beranjak dari sana membuat Abidzar bertanya.


"Aku mau ... "


"Di sini aja. Sarapan bareng. Mama papa aku nggak gigit kok." Seloroh Abidzar membuat Sagita terkekeh.


"Kamu ini Fre, udah dari siang kemarin berada di sini kok masih aja canggung. Bener kata suami kamu, mama dan papa nggak gigit kok. Yuk, sarapan bareng." Ucap Sagita.


"I-iya, Ma." Jawab Freya gugup. Lalu ia membalikkan piringnya. Baru saja tangannya terulur untuk menyendokkan nasi ke piringnya, tapi Abidzar justru lebih dahulu melakukannya. Hal ini tentu menjadi perhatian Sagita dan Abraham. Mereka menjadi merasa bersalah sendiri karena selama ini tak pernah memperhatikan kebahagiaan putranya. Ia tak menyangka, kebahagiaan putranya justru hadir dari orang ketiga. Sesuatu yang dianggap perusak dan penghancur oleh orang-orang justru menjadi sumber kebahagiaan anaknya.


Jahat-kah mereka selama ini karena telah menikahkan putranya dengan perempuan yang tidak ia cintai? Padahal mereka pikir seiring berjalannya waktu, cinta itu bisa tumbuh, tapi nyatanya, cinta putranya hanya berlabuh pada satu wanita, yaitu Freya.


"Bi, kamu kenal orang-orang yang bekerja di perusahaan audit tidak?" tanya Abraham sambil mengelap mulutnya dengan kain yang tersedia di meja.


"Lho, bukannya perusahaan kita sudah sejak lama bekerja sama dengan Flexibel Audit, Pa, kenapa mesti cari yang lain?"


Abraham menghela nafas panjang, "entahlah, papa merasa banyak sekali yang janggal. Tapi sampai sekarang Papa belum bisa membuktikannya."


"Ada penggelapan dana?"

__ADS_1


"Kemungkinan besar."


"Kenapa tidak minta Papa Arifin carikan seperti biasanya?"


"Entahlah. Kecurigaan Papa justru bersumber darinya." Jawab Abraham pelan. Abidzar yang baru saja hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya seketika menghentikan gerakannya. Selama ini memang ia tidak tahu menahu mengenai perusahaan ayahnya itu. Melihat ekspresi Abidzar yang seakan belum paham, Abraham pun melanjutkan ucapannya. "Papa menemukan kejanggalan dari setiap laporan yang Arifin berikan. Laporan itu terlihat benar, tapi ... janggal." Papar Abraham sambil memijit sela diantara kedua matanya.


Freya yang tidak paham arah pembicaraan ayah mertuanya hanya terdiam. Abidzar lantas meletakkan sendoknya setelah memasukkan sendokan terakhir nasinya ke dalam mulut.


"Baiklah. Nanti Abi coba hubungi teman Abi, Araav. Semoga dia bisa membantu. Dia bekerja di Trusty Audit."


Abraham mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu papa ke kantor dulu ya. Dan untuk kamu Freya, tak perlu merasa canggung. Anggap saja di rumah sendiri. Kalau butuh apa-apa, bilang saja langsung sama Mama. Kalau Mama tak ada, bilang aja ke bi Atin. Papa pergi dulu. Yuk, Ma." Ucap Abraham sambil menggandeng lengan sang istri. Pemandangan yang sangat romantis.


"Hayo, liatin apa?" goda Abidzar sambil mencolek ujung hidung Freya.


"Liatin apa? Mana ada."


"Bilang aja iri sama perlakuan Papa ke Mama, iya 'kan?"


Freya tersenyum simpul, tanpa menanggapi ucapan Abidzar, ia justru membereskan piring kotor di atas meja.


"Kalau kamu mau, kita juga bisa kok?"


"Bisa sih, itu kalau kita selalu satu atap. Tapi aku tak boleh lupa, aku hanya istri kedua, istri siri, istri sementara, bila tiba massanya, maka aku harus ... "


"Rin," sergah Abidzar agar Freya tak melanjutkan ucapannya. "Tidakkah kau bisa melihat kesungguhanku yang benar-benar ingin mempertahankan mu di sisiku?"


"Mas, kamu harus segera bekerja. Ayo, aku antar ke depan." Tutur Freya yang tak ingin membahas masalah itu meskipun dirinya lah yang lebih dahulu membahasnya.


Abidzar menghela nafas panjang. Ia pun mengangguk. Lebih baik seperti ini, pikirnya. Daripada terus dibahas, tapi bukannya menemukan jalan keluar, justru sebaliknya.


Sementara Freya tengah bersikap layaknya seorang istri yang melayani suami dan mengantarnya bekerja sampai ke depan rumah sambil membawakan tasnya, di kediaman Abidzar, tampak Erin menuruni tangga sambil menguap. Ia baru saja bangun tidur. Ia mencari keberadaan Abidzar. Ia pikir Abidzar tidur di ruang kerja atau di kamar lain, tapi nyatanya ia tak menemukannya di manapun.


"Mina, tuan sudah berangkat?" tanya Erin pada Mina yang masih mengelap kaca depan rumah.


Mina menggeleng, "tidak, Nyonya. Tapi mobil tuan tidak ada sejak pagi tadi."


Erin terdiam. Kemudian rahangnya seketika mengeras saat mengingat sesuatu.


"Pasti dia ke sana. Kurang ajar. Ini tak bisa dibiarkan." Geram Erin yang menyadari pasti Abidzar pulang ke rumah orang tuanya untuk menemui Freya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2