
"Ah, aduh, aak ... "
"Iya, Sayang. Kenapa?"
"Sakit."
"Sabar ya, Sayang. Lubangnya terlalu kecil, jadi susah masuknya."
"Nanti aja deh, Aak. Sakit."
"Tahan dulu dong, Sayang. Sebentar lagi juga masuk."
"Aaakh ... "
"Duh, berdarah, Sayang. Bagaimana ini?"
"Tuh kan Aak, aku bilang nanti, ya nanti aja. Berdarah kan!"
"Iya, iya, maaf. Aak cabut dulu deh."
"Aak ... mau kemana?"
"Mau ambil tisu. Mau lap darahnya."
"Ssst ... "
"Sebentar ya, Sayang. Aak lap dulu."
"Kok susah banget masukkinnya sih, Aak."
"Mungkin karena lubangnya terlalu sempit."
"Aak coba lagi sekali lagi ya! Kalau masih nggak bisa, ya udah."
"Ya, udah. Tapi hati-hati ya! Entar berdarah lagi lho."
"Iya, iya, Sayang."
***
***
***
"Yes, berhasil masuk, Sayang. Sakit nggak?"
"Nggak aak."
#-$+$)$)_!_(+#)39+
Dari balik pintu,
"Yes, calon cicit otw!" Seru nenek girang.
"Mama benar, calon cucuku itu lho! Hahaha ... rasanya udah nggak sabar mau nimang-nimang cucu."
"Tos dulu kalau begitu. Akhirnya kita sukses besar. Hahaha ... "
__ADS_1
"Ayo, Ma, tos!" Seru mertua dan menantu itu kegirangan sambil bertos ria.
"Mama sama nenek lagi ngapain?"
Degh ...
Brakkkk ...
"Mama, nenek ... " Seru Ana dan Tirta terkejut saat tiba-tiba pintu yang memang belum mereka tutup rapat sekaligus kunci tiba-tiba terbuka dan dari baliknya sang nenek juga ibunya tiba-tiba terjatuh di lantai.
"Arum, Ana, Tirta," gumam Nenek dengan mata membulat dan wajah merah padam karena ketahuan habis menguping dari balik pintu.
"Nenek sama mama habis ngapain sih di depan pintu kamar Abang? Ooooh, Arum tau, pasti kalian ... "
"Heh, anak nakal, jangan nuduh sembarangan! Nenek nggak ngintip apalagi nguping kok," sanggah sang nenek sambil mengerucutkan bibirnya.
Mendengar sanggahan tersebut sontak saja Riana menutup mukanya dengan telapak tangannya. Malu, itu yang ia rasa. Biarpun ibu mertuanya menyanggah, tapi secara tidak langsung kalimat tersebut justru berisi sebuah pengakuan kalau mereka baru saja menguping kegiatan pasangan suami istri tersebut.
Ana dan Tirta serta Arum yang mendengar kata-kata nenek jelas saja tergelak. Biarpun usia nenek sudah lebih dari setengah abad, tapi kadang kala ia masih bersikap polos membuat semua orang di sekitarnya selalu terhibur sekaligus bahagia. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat mereka geleng kepala.
"Ma," panggil Riana pelan bermaksud meminta ibu mertuanya itu tidak mengucapkan apa-apa lagi. Ia kadung malu di hadapan anak dan menantunya sendiri.
"Apa sih?" delik nenek. Lalu ia berusaha untuk berdiri, tapi tiba-tiba ia memekik kesakitan membuat Arum segera mendekat. "Aduh pinggangku, aduh, sakit." Pekik Sang nenek membuat Arum, Ana, dan Tirta panik dan segera mendekat.
"Makanya Nek, jadi orang jangan terlalu kepo, jadi gini kan!" peringat Arum sambil menahan tawa.
"Nggak usah ngejek Nenek. Siapa juga yang kepo. Nenek sama mama tadi lagi jalan berdua, tepat saat nenek dan mama di depan pintu kamar Tirta, kamu tiba-tiba aja manggil, buat nenek dan mama kamu terkejut ," kilah sang nenek masih saja tak mengaku padahal sudah jelas-jelas ketahuan.
Setelah berdiri, ia lantas memperhatikan Ana dan Tirta. Dahinya lantas berkerut dalam.
"Kalian ... kenapa masih pakai pakaian?" Tanya nenek dengan bernada bingung.
"Memangnya kenapa kami pakai baju?" tanya Tirta tak kalah bingung.
Sang nenek berdecak sebal, "bukannya kalian tadi sedang dalam proses mencetak calon cicit Nenek?" tanya sang nenek yang sukses membuat tawa Tirta menggema di kamar itu.
"Hahaha ... jadi nenek berdiri di balik pintu karena mau nguping malam pertama kami?" tanya Tirta sambil menahan tawanya. Tapi ternyata sulit. Perutnya sampai tergelitik karena tawa yang sulit dihentikan.
"Kalian kenapa sih? Kok tertawa semua?" tahta Nenek kebingungan.
"Ma, kita turun sekarang yuk!" ajak Riana tapi sang ibu mertua menolak.
"Nggak. Nenek mau interogasi mereka dulu."
"Ma, turun yuk! Ayolah, Ma!" Riana tetap berusaha membujuk nenek agar mau keluar dari kamar itu.
"Nenek, oh, nenek, makanya nenek jangan terlalu kepo. Ya kalo kami mau produksi anak tapi pintu nggak ditutup rapat sama dikunci. Kalau itu beneran, bisa malu kami berdua karena tingkah nenek ini. Mau ditaruh mana muka kami, lagi enak-enak tiba-tiba nenek dan mama jatuh kayak tadi," tukas Tirta sambil terus tertawa. Ana memalingkan wajahnya sebab tak mampu menahan tawa. Tapi ia terlalu sungkan tertawa di depan nenek dan ibu mertuanya.
"Kalau kalian sedang tidak memproduksi calon cicit Nenek, terus kalian tadi ngapain?" Bagaimana tidak ia berpikiran kalau cucu dan cucu menantunya itu sedang melakukan itu, saat suara-suara yang terdengar saja seperti mereka sedang berusaha bercocok tanam, tapi kesulitan karena lubang Ana yang terlalu sempit.
Tirta lantas menarik Ana dan mendekap pinggangnya. Kemudian ia melirik perempuan yang ia pastikan sebentar lagi akan kehilangan kegadisannya itu sambil tersenyum geli.
Lalu ia menunjuk ke arah telinga Ana yang telah terpasang sebuah anting-anting yang sangat cantik.
"Ini ... Tirta tadi sedang melakukan ini, memasangkan anting-anting yang sudah lama Tirta beli untuk Ana dan baru kali ini ada kesempatan memakaikannya," ucapnya sambil terus tersenyum geli. "Lubang tindik di telinga Ana ternyata sudah hampir menyatu lagi karena sudah sangat lama tidak dipakaikan anting-anting, jadi Tirta tadi agak kesulitan memasangkannya. Tuh liat, sampai kelihatan agak membengkak karena sempat berdarah tadi," ucapnya dengan bibir yang tak lepas dan cengiran lebar.
Mendengar penuturan Tirta, wajah nenek dan Riana seketika merah padam karena malu. Bagaimana mereka tidak malu sebab secara tidak langsung pertanyaan nenek menjelaskan kalau mereka memang tadi sedang menguping dan mereka salah paham karena kalimat-kalimat ambigu yang mereka dengar.
__ADS_1
"Ja-jadi ... " nenek kebingungan sendiri.
"Kalian kenapa kumpul di sini? Ayo, kita makan malam dulu! Makan malam sudah siap," ujar Raisa yang baru saja datang.
Nenek lantas tersenyum lebar, kesempatan untuk kabur ini, pikirnya.
Ya, mereka sebenarnya masih berada di kediaman Ana. Acara pernikahan Tirta dan Ana telah selesai sejak beberapa jam yang lalu. Bahkan nenek, Riana, dan Raisa telah menceritakan kronologis rencana pernikahan kejutan Ana dan Tirta. Sebuah kejutan yang tak disangka-sangka.
Mungkin inilah definisi jodoh tak akan kemana. Di saat mereka merasa mereka tak berjodoh, justru orang tua mereka yang menjadi tali penghubung jodoh mereka sampai mereka menikah. Sebuah kejutan yang luar biasa dan paling mereka syukuri.
"Ayo, kebetulan sekali, perut saya sudah sangat-sangat lapar. Ayo menantuku, kita turun ke bawah!" Ucap nenek sambil merangkul bahu Riana dengan wajah acuh tak acuh.
Tawa Tirta, Arum, dan Ana pun meledak.
"Hahaha ... nenek oh nenek, mau kabur nih ye!" ejek Arum sambil tertawa lebar.
Mata nenek mendelik tajam, "jangan banyak bicara! Ayo cepat turun! Atau uang saku kamu nenek tarik lagi!" ancam nenek pada Arum yang memang masih sering mendapatkan uang saku tambahan dari sang nenek.
"Eh, nggak bisa begitu dong, Nek!" Arum merengek.
"Kenapa nggak bisa? Suka-suka nenek. Duit, duit nenek kok," ketus nenek sambil cepat-cepat berlalu dari sana. Meskipun ia berusaha bersikap acuh tak acuh di hadapan cucu-cucunya, tapi sebenarnya ia sedang menahan rasa malu yang kuat biasa. Setelah mereka jauh dari kamar Ana, nenek lantas tersenyum lega.
"Semua gara-gara Mama. Aku jadi malu kan sama anak dan menantuku sendiri," omel Riana.
"Heh, kamu kok nyalahin Mama sih? Salah siapa yang mau ikutan."
"Ya kan kalau mama nggak ngajak, nggak mungkin Riana mau ikutan ide gila Mama. Untung aja Raisa nggak tahu. Kalau tahu, mau ditaruh dimana muka Riana."
"Ya nggak ditaruh dimana-mana. Emangnya muka kamu bisa dipindah?" sewot nenek.
"Ih, mama, makin tua kok makin nyebelin."
"Nggak usah ngatain Mama tua. Kamu pun udah mulai tua. Tuh, keriput kamu nambah satu."
"Hah? Serius, Ma? Di sebelah mana?" tahta Riana panik.
Riana memang sangat takut memiliki kerutan di wajahnya. Menolak tua, istilahnya. Sebenarnya bukan menolak tua. Tua itu wajar. Setiap orang yang bernyawa pasti akan melewati fase itu. Tapi Riana sangat takut dan selalu merawat kulitnya agar ia tetap cantik paripurna. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk suaminya. Ia tak mau suaminya terjerat perempuan lain hanya karena ia yang tak pandai merawat diri. Untuk apa punya uang banyak kalau tak dimanfaatkan. Anggap saja ia ingin memanjakan suaminya agar tak berpaling darinya. Meskipun suaminya setia, tapi tak menjamin kalau ia takkan berpaling kalau ia tak pandai merawat diri.
Melihat wajah panik Riana membuat Nenek terkekeh, sama seperti ketiga orang yang berada di kamar Ana. Mereka pun masih tak mampu meredam tawa mereka. Sungguh mereka merasa geli sendiri dengan tingkah si nenek yang memang terkadang tak terduga.
"Mbak, maafin sikap nenek dan mama ya! Nenek mah emang gitu, kemal,.kepo maksimal." Arum meringis karena tingkah sang nenek.
"Iya, sayang. Aku pun nggak nyangka nenek bakal bersikap se-absurd itu," imbuh Tirta.
"Iya, Rum, Ak, Ana maklum kok. Mungkin nenek emang sudah kebelet pingin punya cicit, jadi ya gitu."
"Tuh Bang, mbak Ana udah paham. Jadi entar gaspoll aja ya! Jangan tunda-tunda lagi! Kalau perlu, sekali proses langsung jadi 3, biar nenek senang," serunya sambil berlari saat melihat mata sang kakak telah melotot tajam.
"Benar kata Arum, Yang, entar malam kita gaspoll ya! Siapa tau bibit premium Aak beneran langsung jadi 3 baby," ucap Tirta saat Arum telah menghilang.
Mata Ana melotot, "aak jangan gila deh! Bayangin ngelahirin satu aja udah bikin Ana merinding, apalagi 3," sewot Ana membuat Tirta terkekeh.
"Kan kata Aak siapa tahu. Namanya juga rejeki, nggak ada yang bisa nebak. Ya udah, kita isi amunisi dulu yuk supaya proses reproduksi kita nanti berjalan lancar," ucap Tirta sambil memainkan alisnya membuat wajah Ana seketika merah pada membayangkan malam panas yang akan mereka lalui sebentar lagi.
...***...
Happy Eid Mubarak kak. 😍🤩😍🤩
__ADS_1
Alhamdulillah, masih bisa update meskipun dengan mata setengah terpejam karena ngantuk. 😂
...HAPPY READING 😍😍😍...