
"Hai sayang, bagaimana kabar Abrisham? Apa putra kita rewel?" tukas Abidzar sepulang bekerja. Ia menghampiri sang istri dan mengecup keningnya.
"Sedikit. Namanya juga baru imunisasi. Badannya juga sedikit hangat."
"Apa nggak masalah? Perlu dibawa ke dokter?"
Freya terkekeh, "nggak perlu. Paling kalo panasnya naik, perlu dikasi Paracetamol aja."
"Syukurlah."
"Mas, beneran ya lusa kita mau honeymoon?"
"Kenapa? Kok bertanya lagi. Kan mas udah schedule, nggak mungkin dong batal."
"Emang kita mau kemana sih?" Tanya Freya penasaran sebab hingga sekarang Abidzar tak mau menyebutkan ke mana destinasi bulan madu mereka.
Abidzar tersenyum simpul, "rahasia."
"Ck ... kenapa sih pake rahasia-rahasia segala."
Abidzar lantas terkekeh, "namanya juga kejutan."
Freya mencebikkan bibirnya.
"Bukannya kenapa, aku kan mesti memilah pakaian apa yang mesti aku bawa. Entar nggak cocok gimana."
"Nggak perlu bawa macam-macam. Cukup bawa lingerie banyak-banyak."
Freya sontak saja melongo, "lingerie?"
"Ya, lingerie yang mas beli tempo hari. Semua harus dibawa. Kalau perlu beli yang baru untuk tambahan."
"Mesyum. Emangnya aku harus pakai lingerie sepanjang hari?" Kesal Freya.
"Itu lebih bagus. Mas mau puas-puasin memandang tubuhmu yang seksi. Walaupun sebenarnya mas nggak akan pernah puas sih."
"Dasar mesyum akut!"
Abidzar tergelak saat melihat wajah Freya yang sudah memerah karena otaknya sudah terkontaminasi pikiran-pikiran apa yang akan mereka lakukan selama bulan madu nanti.
"Hayo, lagi bayangin apa?" goda Abidzar.
"Apa? Mana ada." Kilah Freya.
"Udah, nggak perlu bohong."
Freya berdecak dan langsung berdiri.
"Mas mandi gih, bau."
"Bau?"
Freya pun mengangguk.
"Masih wangi kok."
"Bau itu. Sana, mandi. Kalau nggak segera mandi, jatah malam Jum'at nya nggak aku kasih," ancam Freya.
"Eh, eh, mana bisa begitu! Oke, oke, Mas mandi sekarang. Awas ya kalau jatah Mas nggak dikasi!" Setelah mendengar ancaman itu, Abidzar pun bergegas naik ke atas tangga menuju kamarnya. Tentu saja untuk mandi daripada istrinya tidak memberikan jatah malam Jum'at padanya.
Sementara itu, di sebuah pulau nan romantis, tampak sepasang suami istri sedang berkemas. Mereka akan pulang ke kota asal mereka setelah berbulan madu selama seminggu lamanya.
"Aak," panggil Ana pada Tirta yang sedang menyusun pakaian di dalam koper miliknya.
"Nggak bisa apa minta tambah liburnya? Seminggu kok cepet bener sih? Perasaan baru kemarin kita kemari," ujar Ana dengan bibir mencebik.
Tirta lantas beranjak mendekati Ana yang sedang selonjoran di lantai. Ia sedang melipat pakaian agar Tirta dapat dengan mudah menyusunnya di dalam koper.
"Sayangnya nggak bisa, Sayang. Soalnya lusa Abi sama Freya pun mau berbulan madu. Kan waktu itu belum sempat. Gara-gara ada masalah di BTT cabang Medan, mereka terpaksa menunda bulan madu mereka."
Ana lantas menghela nafas panjang. Tirta lantas mendekap Ana dari belakang dan mengecupi pundaknya yang terbuka sebab Ana hanya mengenakan tank top dan celana super pendek.
"Aak ... "
"Kenapa?"
"Geli." Ana menggelinjang kegelian saat Tirta bukan hanya bermain di pundaknya, tapi tangannya pun telah mulai menjalar di gundukan bukit miliknya. Tirta mere mas gundukan itu membuat Ana pun mende sah.
"Satu ronde lagi ya."
__ADS_1
Ana memicingkan matanya, "lain di mulut, lain yang dilakukan. Bilang seronde, taunya ... "
Tirta terkekeh, "namanya juga usaha."
"Usaha apa?"
"Usaha buat cicit buat nenek. Hehehe ... "
"Halah, alasan. Bilang aja mesyum."
"Tuh, tahu. Tapi hanya kamu lho yang bisa buat aku kayak gini. Ya udah yuk, mau main dimana?"
"Di Hongkong."
"Kejauhan. Di kamar mandi aja ya!"
"Kalau aku nggak mau?"
"Sayangnya nggak ada penolakan."
"Udah tau, masih sok nanya. Dasar nyeb- aaakh ... " Ana tiba-tiba saja memekik kaget saat kedua tangan Tirta telah membawanya dalam gendongan menuju ke kamar mandi. Apalagi kalau mau menuntaskan sesuatu yang memang harus segera dituntaskan.
...***...
"Mama lagi ngapain?" tanya Riana pada ibu mertuanya saat melihat sang ibu mertua melingkari tanggal di kalender.
Sang nenek tersenyum lebar, "lagi nunggu hari kabar baik."
"Maksudnya?"
"Mama udah nggak sabar nunggu kabar baik kalau cucu menantu mama hamil."
"Astaga Ma, apa nggak kecepatan itu."
"Nggak. Ini baru 2 Minggu. Mama yakin, 2 Minggu lagi kabar baik akan sampai ke rumah ini."
"Mama kok yakin banget? Gimana kalau ternyata belum dikasi? Riana hanya nggak mau mama kecewa."
"Mama yakin seyakin-yakinnya. Atau kita taruhan saja?"
"Astaga mama, ingat dosa, dosa! Emang mama mau taruhan apa?" Tanya Riana antusias. Sang nenek berdecih, tadi saja sok berkata dosa, tapi sekarang justru sangat antusias.
"Kamu mau apa? Pasti mama kasih." Nenek sudah berkacak pinggang menunggu jawaban sang menantu.
Mata nenek membulat mendengar permintaan sang menantu yang benar-benar out of the box, "oke. Mama nggak masalah, tapi kalau mama menang, kamu yang harus memakai baju nanny, oke?"
"Oke. Deal." Riana menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan sang ibu mertua. Riana terkikik geli membayangkan ibu mertuanya memakai pakaian ala nanny. Pasti sangat lucu, batinnya.
"Jangan berkhayal dulu, bisa jadi kamu yang pakai baju nanny. Ingat, satu bulan full. Ke pasar pun harus pakai. Kecuali kondangan, baru deh boleh pakai baju yang lain," cibir si nenek.
Kini giliran mata Riana yang membulat, masa' dirinya kemana-mana pun harus mengenakan pakaian ala nanny. Apa kata teman-temannya nanti saat melihat penampilannya? Membayangkannya, seketika Riana meringis sendiri. Mau membatalkannya sudah tak mungkin lagi. Jadi ia hanya bisa pasrah toh belum tentu juga ibu mertuanya itu menang kan!
...***...
Sementara itu, di sebuah rumah sakit, tampak Ryan sedang duduk termenung sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tadi, saat makan malam dengan Rio, Ryan tiba-tiba saja mendapatkan telepon yang ternyata dari pihak kepolisian. Karena Ryan sering berkunjung ke sana, jadi saat terjadi sesuatu pada Erin, dirinya lah yang dihubungi pihak kepolisian.
Mereka mengabarkan kalau Erin tiba-tiba masuk rumah sakit. Jelas saja Ryan terkejut bukan main sebab baru seminggu yang lalu mereka bertemu dan meskipun wajah Erin tampak lebih pucat dari biasanya, tapi Erin saat itu masih tampak baik-baik saja. Lalu kini tiba-tiba saja ada yang menghubunginya dan mengatakan Erin masuk rumah sakit.
Berbagai prasangka memenuhi benaknya. Salah satunya Erin terluka karena mendapatkan kekerasan dalam penjara. Tapi tanpa sepengetahuan dirinya, hal itu takkan mungkin terjadi sebab Abidzar telah meminta pihak kepolisian secara khusus untuk melindungi Erin. Tentu hal tersebut atas permintaan Freya. Freya hanya tak ingin apa yang pernah ia alami saat berada di lapas juga Erin alami. Oleh sebab itu, masuknya Erin ke rumah sakit sudah bisa dipastikan bukan karena kekerasan yang ia alami di dalam lapas.
Menurut laporan dari petugas yang berjaga, saat itu Erin sedang melakukan shalat Maghrib di lapasnya sendiri. Lalu saat ia melakukan sujud terakhir, hingga beberapa menit berlalu, Erin tak kunjung bergerak ataupun mengubah posisinya. Rekan sesama tahanan yang satu ruangan dengan Erin pun penasaran. Awalnya ia hanya diam. Mungkin Erin melakukan sujud terakhir sambil berdoa yang panjang, tapi setelah beberapa menit tak melakukan pergerakan sama sekali, rekannya pun lantas memanggil Erin. Namun Erin tak merespon sama sekali. Lalu rekannya tersebut memberanikan diri menyenggol pundak Erin sambil memanggil namanya. Dan alangkah terkejutnya dia saat tubuh Erin tiba-tiba saja luruh dan terkapar di lantai.
Takut disalahkan, rekan satu sel Erin pun berteriak panik. Ia tentu saja khawatir, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Erin dan hanya dirinya sajalah yang ada di dalam sel itu. Bisa jadi ia akan disalahkan atas hal buruk yang terjadi pada Erin.
Petugas yang melihat Erin dalam keadaan tak sadarkan diri pun gegas mencoba memberikan pertolongan pertama, tapi Erin tetap tak sadarkan diri. Alhasil, Erin pun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan ekstra.
Pintu ruang IGD terbuka, dokter yang menangani Erin pun keluar sambil melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Dok, bagaimana keadaan Erin?" Ryan bertanya terlebih dahulu sebelum pihak kepolisian yang bertugas mengawal menanyakan keadaan Erin.
Dokter tersebut menatap Ryan lalu berganti ke kedua orang petugas polisi yang membawa Erin ke rumah sakit seolah meminta izin bolehkah ia menjelaskan kepada Ryan.
Karena kedua polisi tersebut mengangguk sebagai jawaban, dokter itupun segera menjelaskan. Inti dari penjelasan itu, Erin diduga mengalami gangguan pada ginjalnya. Oleh sebab itu, ia harus menjalani serangkaian pemeriksaan untuk memastikan dugaan sementara sang dokter.
Ryan terduduk lemas. Ia tak menyangka Erin akan mengalami masalah bertubi-tubi seperti ini. Belum selesai masalah satu, ia kini telah ditimpa masalah lain.
Tak dapat Ryan pungkiri, Erin memang bisa saja mengalami penyakit gagal ginjal sebab sejak menjelang dewasa, Erin kerap mengonsumsi minuman beralkohol. Gaya hidup bebas membuatnya tak bisa dijauhkan dari minuman terlarang itu. Ryan sering menasihatinya, tapi Erin masih saja mengabaikan nasihatnya. Nasihatnya selalu saja dianggap angin lalu oleh mantan kekasihnya itu.
Ryan jadi khawatir, bagaimana kesehatan Erin ke depannya. Ia takut, keadaannya makin memburuk bila tidak mendapatkan pengobatan serius. Ryan takut. Ia benar-benar takut. Ia tak ingin kehilangan Erin, tapi ... bila penyakitnya terlanjur parah, ia harus bagaimana?
__ADS_1
"Ryan," panggil ibu Erin yang menyusul ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari Ryan. Untung saja ibu Erin kembali mengaktifkan nomor lamanya jadi Ryan tak kesulitan untuk menghubungi ibu dari Erin tersebut.
"Tante." Ryan pun segera berdiri dan menyalami ibu Erin.
"Bagaimana keadaan Erin? Apa dia sudah sadar? Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Erin bisa sampai masuk rumah sakit?" cecar ibu Erin khawatir.
Bagaimana ia tak khawatir. Erin kini merupakan satu-satunya keluarganya. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Jangan tanyakan suaminya. Semenjak ia tahu suaminya telah menduakannya, ia telah mengajukan gugatan cerai. Meskipun ayah Erin menolak keras, tapi ia bisa apa. Ia berada di dalam penjara. Ia hanya bisa menerima buah dari perbuatannya selama ini. Dan semenjak bercerai pula, ibu Erin benar-benar memutuskan hubungannya dengan mantan suaminya itu. Ia tak pernah mengunjungi apalagi mengabarkan keadaan putrinya. Baginya, apa yang menimpa putrinya pun ada andil mantan suaminya itu. Seandainya sejak awal ia merestui hubungan Erin dan Ryan, semua ini pasti takkan terjadi. Putrinya pasti takkan salah jalan. Dan yang pasti, putrinya pasti telah hidup bahagia dengan suami dan anak-anaknya.
Dengan wajah sendu, Ryan lantas menjelaskan apa yang terjadi pada Erin.
"Erin sampai sekarang belum sadarkan diri, Tan. Tadi saat shalat Maghrib, Erin tiba-tiba tak sadarkan diri. Dan menurut hasil pemeriksaan sementara, sepertinya Erin mengalami gangguan ginjal. Tapi hal itu masih perlu dipastikan lebih lanjut. Besok dokter akan melakukan observasi lebih lanjut untuk lengkapnya," papar Ryan sendu.
Ibu Erin tersentak mendengar berita tersebut. Ia sampai terduduk lemas di kursi yang di duduki Ryan tadi. Ibu Erin terisak pilu membayangkan kesakitan yang akan putrinya alami. Susahlah dipenjara, terkurung dalam dunia yang terbatas, terpisah dari orang-orang yang ia cintai, lalu kini harus menanggung sakit yang berbahaya bila tidak mendapatkan penanganan serius.
"Semua salah Tante, Yan. Seandainya Tante tegas pada Om dan Erin, semua pasti takkan menjadi seperti ini. Bukan tidak mungkin, kalian pasti telah menjadi keluarga yang bahagia dengan anak-anak yang lucu. Tapi kini, semua benar-benar hancur. Tante harus apa untuk memperbesar semuanya?" Ibu Erin tergugu. Ryan hanya terdiam, tak tahu harus merespon apa dan bagaimana. Hingga suara dering ponsel membuyarkan lamunan mereka.
Ryan melihat layar yang berkedip, tampak foto sang ibu dengan Rio. Ryan pun bergegas mengangkat panggilan itu takut terjadi sesuatu pada putranya.
"Halo ma," ucap Ryan saat panggilan diangkat.
"Papa," teriak Rio tiba-tiba membuat Ryan tersenyum.
"Anak papa kok belum bobok?"
"Rio mau bobok sama papa. Papa kemana? Kok pergi lagi. Dari pagi sampai sore pergi kerja, terus malamnya pergi lagi," protes Rio membuat Ryan tercenung sendiri. Ibu Erin memperhatikan ekspresi Ryan yang terlihat gelisah.
"Malam ini Rio bobok sama nenek dulu ya! Papa belum bisa pulang. Papa ada kerjaan mendadak. Rio mau kan bobok sama nenek?" bujuk Ryan.
"Tapi Rio maunya bobok sama papa," ucap Rio sendu.
Ryan galau. Ia ingin berada di rumah sakit. Ia ingin menjadi salah satu orang orang yang Erin lihat saat matanya terbuka. Tapi ia pun tak tega mendengar suara sendu sang putra.
"Pulanglah dulu. Mama yang akan menjaga Erin di sini. Mama akan kabarin kamu kalau Erin sadarkan diri nanti. Rio sudah kehilangan kasih sayang ibunya, jangan sampai ia merasa kehilangan kasih sayang ayahnya juga," tukas ibu Erin memberi pengertian.
Ryan tersenyum sendu, kemudian mengangguk. Ia lantas kembali fokus ke telepon di genggaman tangannya.
"Ya udah, Rio tunggu ya! Sebentar lagi papa pulang," ujar Ryan sebelum panggilan tersebut ditutup.
Ryan yang tak ingin Rio terlalu lama menunggu pun bergegas memacu mobilnya pulang. Namun saat di perjalanan, ia melihat seorang ibu dan anak perempuannya tampak kebingungan sambil berusaha menyalakan motornya. Ryan yang kasihan pun menghampiri mereka dan betapa terkejutnya Ryan saat melihat ternyata kedua orang itu adalah Zoya san putrinya.
"Zoya," panggil Ryan membuat ibu satu orang anak tersebut menoleh.
"Ryan."
"Motor kamu kenapa?"
"Nggak tahu nih. Tiba-tiba aja mati. Padahal minyaknya full," ujar Zoya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Emangnya kalian darimana malam-malam begini baru pulang?" tanya Ryan heran. Lalu ia mengambil alih motor Zoya san berusaha menyalakannya yang ternyata memang tak bisa menyala juga.
Zoya menghela nafasnya, "kami habis dari rumah neneknya Zaya."
Ryan mengerutkan keningnya, "bukannya mereka ... " Ryan lantas melirik Zaya yang tengah memperhatikan mereka. Ryan tidak ingin sembarangan bicara di depan anak kecil itu.
Zoya menghela nafasnya berat, "kapan-kapan deh aku cerita. Gimana motorku? Bisa nyala nggak?"
"Businya mati."
"Yah, jadi gimana dong?"
"Gini aja, kamu bisa nyetir kan?" Zoya lantas mengangguk. "Ya udah, bawa mobilku aja. Kasihan Zaya. Ini udah malam. Rumahku juga nggak jauh lagi, biar aku dorong aja."
"Nggak usah deh, Yan. Nggak perlu repot-repot."
"Terus kalian mau pulang pakai apa? Dorong motor sampai rumah? Nggak kasihan sama Zoya?" hardik Ryan.
Zoya menggaruk tengkuknya bingung.
"Terus kamu kerja besok gimana? Oh ya udah, besok aku jemput aja gimana?"
"Ya udah, mana baiknya aja. Nih, kunci mobilnya. Buruan pulang deh, kasihan Zoya."
"Makasih ya, Yan. Ayo sayang, bilang makasih sama Om Ryan," ujar Zoya pada Zaya.
Zoya lantas maju dengan malu-malu, "makasih Om," ucapnya lirih. Zaya memang anak yang pemalu.
"Sama-sama anak manis. Hati-hati di jalan ya."
Zaya pun mengangguk sambil terus tersenyum memandang Ryan. Saat mobil mulai melaju, Zoya dan Zaya pun melambaikan tangannya. Beruntung mereka bertemu orang sebaik Ryan, bila tidak, entah bagaimana mereka pulang nanti. Tak mungkin mereka meninggalkan motor mereka begitu saja kan.
__ADS_1
Ryan pun tersenyum simpul. Melihat Zaya, Ryan jadi teringat Rio. Bila Rio kehilangan kasih sayang seorang ibu, maka sebaliknya Zaya kehilangan kasih sayang sang ayah. Namun nasib putranya masih lebih beruntung sebab ibunya masih ada. Orang tuanya pun menyayangi Rio, sedangkan Zaya, dia telah kehilangan ayahnya sejak masih sangat kecil. Orang tua mendiang ayahnya pun tak pernah menyayanginya. Ryan lantas mengucapkan syukur dalam hatinya karena nasib sang putra yang memang lebih baik dari nasib Zaya. Ia juga mendoakan agar kelak Zaya pun bisa merasakan kasih sayang seorang ayah seperti putranya.
...HAPPY READING 😍😍😍...