
"Tan, tadi Abi liat jari Tirta bergerak. Bahkan kelopak mata Tirta tadi sempat bergerak seperti ingin membuka. Untuk itu, Tirta panggil dokter. Semoga aja setelah ini, Tirta benar-benar sadarkan diri ya, Tan?" ucap Tirta dengan lembut.
Mata Riana terbelalak. Masih merasa ragu dengan apa yang baru saja Abidzar sampaikan.
"Kamu serius, Bi? Kamu nggak sedang bohong kan? Kamu nggak sedang berusaha menghibur Tante aja kan? Jangan bilang, ini hanya prank?" cecar Riana belum yakin.
"Untuk apa Abi bohongi Tante? Abi serius, Tan. Abi bisikin sesuatu dan nggak nyangka kalau Tirta merespon kata-kata Abi itu." Tukasnya menjelaskan.
"Emang kamu bisikin apa sampai Tirta merespon secara langsung? Kamu nggak bahas aneh-aneh kan?"
"Nggak aneh kok, Tan. Tapi ... "
Krieet ...
Pintu terbuka, seorang dokter keluar dari dalam sana dengan wajah sumringah.
"Bagaimana keadaan anak saya, dok? Apa benar anak saya sudah sadarkan diri?" cecar Riana tak sabaran.
Dokter itupun mengulas senyum manis, "ya, benar, anak putra Anda telah siuman. Tapi saat ini Putra ibu sudah kembali tidur karena efek obat yang disuntikkan untuk mempercepat proses pemulihannya. Obat yang disuntikkan dosisnya rendah jadi kemungkinan tidurnya tidak akan lama. Kalian bisa menunggu saudara Tirta bangun di dalam. Permisi." Dokter itupun pamit. Riana yang merasa bahagia lantas segera memeluk Abidzar dengan wajah bercucuran air mata. Tapi kali ini air mata yang mengalir bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata penuh haru. Rasa bahagia menyeruak menepis kegundahan yang sempat menyiksanya.
"Makasih ya, Bi. Berkat kamu, Tirta akhirnya sadarkan diri." Ucap Riana sungguh-sungguh.
"Tirta itu sepupu Abi, Tan, jadi sudah sewajarnya Abi turut mengusahakan agar Tirta segera bangun dari tidur panjangnya."
"Emangnya kamu bisikkin apa sih, Bi?" tahta Riana penasaran membuat Abidzar terkekeh. Kemudian ia pun menceritakan apa yang telah ia bisikkan di telinga Tirta.
"Jadi mereka beneran ada hubungan ya?" tanya Riana setelah mendengar cerita Abidzar.
Abidzar mengedikkan bahunya, "nggak jelas sih, Tan. Beberapa Minggu yang lalu mereka tampak baik-baik saja, tapi sekitar tiga Minggu yang lalu mereka tiba-tiba berubah. Tirta nggak pernah main ke rumah lagi apalagi menemui Ana. Dia juga selalu murung, nggak kayak biasa. Aku pikir itu hanya terjadi pada Tirta, ternyata tidak. Menurut cerita Freya, Ana pun bersikap demikian. Kayaknya mereka bertengkar deh, tapi apa masalahnya, Abi nggak tahu. Tirta nggak pernah cerita soalnya." Papar Abidzar membuat Riana membulatkan matanya. Ia tak menyangka kalau gadis yang hendak ia jodohkan dengan putranya memang memiliki hubungan yang rumit. Ternyata dugaannya waktu itu tepat sekali.
"Kalau begitu Tante telepon Om san yang lainnya dulu, mereka pasti senang mendapatkan kabar baik ini," pungkas Riana.
Flashback off
...***...
"Jadi begitu ceritanya, Sayang." Ucap Abidzar sambil tersenyum geli.
"Ya Allah. Kok bisa ya? Pasti dalam alam bawah sadarnya, kak Tirta kicep sendiri. Cemas kalau apa yang Mas ucapkan itu benar adanya." Freya ikut tertawa geli membayangkan Tirta mendumel kesal karena provokasi sang sepupu.
"Mungkin juga. Tapi baguslah, yang penting dia udah sadarkan diri."
__ADS_1
"Besok kita besuk kak Tirta ya, Mas."
"Bagaimana kalau selepas makan siang. Kita makan siang di luar setelah itu baru ke rumah say. Nanti Mas jemput, oke?"
"Siap, laksanakan!" seru Freya sambil terkekeh. Abidzar yang gemas lantas segera menarik pinggang Freya dan mendekapnya hingga nyaris tak berjarak.
"Mas, lepas, aku mau keluar."
"Mau kemana?"
"Buat kopi kamu lah, ayo lepas! Mandi sana, bau keringat, euh."
"Bau, mana ada. Bukannya kamu suka bau keringat, Mas, hm."
"Itu dulu, pas lagi hamil. Bawa'an orok, sekarang udah brojol, usah nggak suka lagi."
"Bener?"
"Ck, lepasin ih!"
"Oke, tapi kiss dulu."
"Kiss apa tuh? Itu cuma kecup."
"Mas, usah ih lep- awww ... " Freya melotot karena Abidzar meremas bokongnya cukup keras.
"Jangan usil ih!"
"Apanya yang usil."
"Tangannya itu tolong kondisikan ya. Freya nggak mau tanggung jawab kalau torpedonya bangun terus nyari goanya. Ingat, aku masih nifas."
Abidzar tergelak kencang, "kan nggak mesti masuk goa, ada dua tangan yang bisa dimanfaatkan, kenapa mesti pusing."
Mata Freya melotot. Ia paham apa maksud suaminya itu.
"Nggak, nggak, aku nggak mau."
"Ya udah, tapi kiss dulu. Tapi kiss beneran, bukan kecup kayak tadi." Freya cemberut, tapi menurut. Ia lantas mendekatkan wajahnya dengan Abidzar. Belum sempat Freya menyapukan bibirnya di atas bibir Abidzar, suaminya itu sudah lebih dahulu menyerang bibirnya dengan sebuah pagutan yang mesra.
...***...
__ADS_1
"Bi," panggil Ana pelan.
"Ada apa sih, Na?" sahut Bi Asih sambil mengelap tangannya yang basah.
"Emmm ... aku boleh keluar nggak? Nggak lama kok. Paling 1-2 jam gitu." Ujar Ana.
Dahi Bi Asih berkerut, tapi kemudian ia pun mengangguk. Toh majikan mereka pun tak pernah melarang bila Mereka ingin berpergian asalkan semua pekerjaan mereka telah selesai.
"Ya udah, tugas kamu juga udah selesai. Jangan pulang kesorean aja."
"Iya, bi. Makasih ya, bi," sorak Ana senang.
"Emang kamu mau kemana sih, Na? Penampilan kamu juga ... Atau jangan-jangan kamu mau ketemuan sama cowok ya, Na." terka Bi Asih sembari tersenyum menggoda.
"Ih, bibi apa-apaan sih. Mana ada. Aku cuma ada janji sama temen kok. Usaha ya, bi, Ana pamit dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," sahut bi Asih.
Kini Ana telah berada di dalam sebuah taksi online. Tujuannya adalah rumah sakit tempat Tirta dirawat. Beruntung ia pernah mendengar Abidzar menyebutkan nama rumah sakit tempat dimana Tirta dirawat, jadi ia tak perlu pusing-pusing mencarinya. Paling ia akan bertanya ke resepsionis letak kamar rawat Tirta sebab ia memang belum tahu di kamar mana Tirta dirawat.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 1 jam, taksi online yang ditumpangi Ana pun tiba di rumah sakit tujuannya. Setelah membayar, Ana pun segera turun dan berjalan menuju resepsionis. Setelah mengetahui di mana Tirta dirawat, Ana pun mengucapkan terima kasih. Kemudian ia pun melanjutkan langkahnya menyusuri koridor menuju kamar rawat Tirta.
Sepanjang berjalan, wajah Ana tampak begitu ceria. Ia merasa tak sabar lagi ingin menemui Tirta. Rasanya ia telah amat sangat merindukan laki-laki tersebut. Entah bagaimana reaksi Tirta nanti saat melihatnya. Ia harap, Tirta telah melupakan perdebatan mereka tempo hari. Ia juga akan meminta maaf karena telah marah-marah padanya.
Pipi Ana bersemu merah. Membayangkan akhirnya ia memiliki kesempatan untuk bertemu Tirta. Diliriknya paper bag yang ada di tangannya. Ia membawa kue buatannya sendiri untuk laki-laki yang tanpa sadar telah mengisi hatinya tersebut. Ia sangat berharap Tirta menyukai kue buatannya. Apalagi Ana memang pernah berjanji akan membuatkan Tirta brownies kukus coklat keju kesukaannya.
"Semoga aak suka," gumamnya sumringah.
Tak berapa lama kemudian akhirnya anak telah berhasil melakukan kamar rawat Tirta. Kamar rawat Tirta tidak tertutup rapat membuat Ana penasaran ada siapa saja di dalam sana. Bukan tanpa alasan ia penasaran, bagaimana kalau di dalam sana ternyata banyak orang, ia harus mengatakan apa kalau ada yang bertanya-tanya tentang dirinya dan apa hubungannya dengan Tirta.
Ana pun melongokan sedikit kepalanya ke celah pintu yang sedikit terbuka itu. Dan di saat bersamaan sesuatu yang tak ingin lihat pun tampak di depan matanya. Hati Ana yang sempat berbunga-bunga seketika layu. Bunga yang baru saja bermekaran seketika berguguran. Dadanya sesak, matanya panas, dalam sekali kedip saja air mata Ana pun luruh membasahi pipi. Ana menggigit bibirnya, bagaimana ia tidak sakit, di depan matanya, ia melihat Melan sedang menyuapi Tirta makan. Berbagai spekulasi bertebaran dalam benaknya. Ingin tak mempercayai, tapi apa yang ia lihat sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan apa hubungan antara keduanya.
Ana yang tak sanggup melihat adegan romantisme itupun segera berlalu dari sana. Ia menatap nanar pada paper bag di tangannya. Ia lantas meletakkan paper bag itu di depan pintu. Berharap ada yang menyadarinya dan memberikannya pada Tirta.
Ana tersenyum getir. Sebelum benar-benar berlalu, ia menyeka kasar air matanya. Setelah itu, Ana pun segera berlalu dari sana dengan membawa keping-keping hatinya yang patah.
Tanpa Ana tahu, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari balik pilar yang tak jauh dari tempatnya berdiri dengan seulas senyum penuh arti.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1