
"Aaargh ... " Erin yang baru saja tiba di rumah langsung saja melemparkan apa saja yang terlihat di depan matanya. Bahkan televisi yang tergantung di dinding pun menjadi sasarannya. Ia ambil sebuah vas bunga yang tergeletak di atas meja dan melemparkannya ke layar 50 inci tersebut hingga menimbulkan bunyi pecahan yang begitu berisik. Bi Asih, Mina, dan Ana sampai ketakutan sendiri. Mereka bersembunyi di balik dinding, takut-takut dijadikan sasaran amukan oleh majikan perempuannya tersebut.
"Majikan kesayanganmu kayaknya udah kena gangguan mental, Min." Cibir Ana membuat Mina mendelik tajam.
"Dia juga majikanmu oon." Balas Mina dengan mata melotot.
"Majikan ku tuan Abi kalau kau lupa. Yang menggaji kita itu tuan Abi, bukan nyonya mu itu."
"Dan nyonya ku itu istri tuan Abi, kalau kau lupa." Mina benar-benar kesal dengan sikap Ana yang selalu saja mengejeknya. Padahal dia pun sama alias sama saja. Sejak awal bertemu memang mereka sudah seperti bermusuhan. Ada saja yang menjadi bahan perdebatan mereka. Termasuk salah satunya perihal kelakuan majikannya sendiri.
"Oops ... aku lupa. Hahaha ... Aku ingatnya non Freya yang istri majikan kita." Seloroh Ana sambil tertawa di balik telapak tangannya.
"Ssst ... kalian ini kenapa selalu bertengkar sih? Kapan sih akurnya?" Kesal bi Asih yang mulai jengah dengan kelakuan Ana dan Mina.
"Ana tuh bi yang mulai." Tuding Mina. Namun Ana justru bersikap acuh tak acuh.
Prang ...
"Astaghfirullah ... "
"Eh ayam eh ayam ... "
"Mamaaaak ... "
Jerit ketiga orang itu terkejut saat mendengar suara benda pecah tak jauh dari posisi mereka. Saat mereka bertiga mengintip, ternyata sebuah guci mahal pemberian Sagita telah hancur tercerai berai tak jauh dari posisi mereka.
"Ah, mending aku kembali ke kamar deh. Ngeri ... aku belum mau innalilahi." Ucap Ana yang langsung kabur menuju kamarnya.
Mina yang melihat itu pun ikut-ikutan kabur. Terserahlah nyonya kesayangannya itu mau ngamuk kayak gimana, yang penting keselamatan jiwa dan raga, cuy. Masih perawan ini. Belum menikah. Biarpun Erin adalah nyonya kesayangannya, tetap saja ia mengutamakan keselamatan.
Hanya bi Asih saja yang masih memperhatikan Erin. Ia sebenarnya iba melihat Erin saat ini. Ia pun penasaran kenapa istri majikannya itu sampai mengamuk seperti ini.
__ADS_1
"Kurang ajar kalian semua. Sialan. Brengsekkk. Tunggu saja kalian. Tunggu saja, aku pasti akan membalas semua perbuatan kalian. Aaaarghhh ... "
...***...
Hari sudah cukup larut, tapi Freya tak kunjung bisa memejamkan matanya. Ia selalu kepikiran dengan kejadian siang tadi dimana Erin pergi dengan keadaan kacau.
Bohong bila ia bilang tidak peduli. Bagaimana pun, Erin istri pertama suaminya, sedangkan dia merupakan madu yang tak ubahnya duri dalam pernikahan Abidzar dan Erin. Ia sadar, keharmonisan pasangan itu mulai merenggang semenjak kehadirannya. Ada rasa bersalah yang bercokol dalam benaknya. Namun untuk menuruti permintaan Erin, apakah harus?
"Sayang, kenapa belum tidur?" Abidzar tiba-tiba saja mengusap pipi Freya membuat perempuan itu tersentak.
"Mas Abi kenapa bangun? Aku ganggu tidur Mas ya?"
Abidzar menggeleng pelan, "kamu mikirin apa? Kayak gelisah banget gitu?" tanya Abidzar seraya menatap lekat netra Freya yang terlihat gusar.
"Eh, kok Mas bisa tau? Emang keliatan banget ya?" tanya Freya dengan wajah polosnya membuat Abidzar terkekeh pelan.
"Ayo, jujur sama Mas, kamu mikirin apa, hm? Jangan bilang kamu mikirin permintaan Erin sore tadi?" Tanya Abidzar dengan tatapan memicing.
"Mas kok bisa tau lagi sih? Mas udah kayak cenayang aja." Ucap Freya berusaha mencairkan suasana.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab saja pertanyaan Mas barusan."
Freya menghela nafas pelan. Sepertinya Abidzar sudah mulai mengerti dirinya termasuk pikirannya. Buktinya ia bisa menebak kegelisahan yang tengah ia rasakan.
Freya lantas mengangguk dengan sorot mata sendu.
"Mas, terus terang, aku merasa sangat bersalah dengan Erin."
"Kenapa kau merasa bersalah? Apa kau telah melakukan kesalahan?"
"Mas, Mas tidak lupa kan kalau aku ini orang ketiga dalam rumah tangga kalian. Mas tentu tidak lupa kan tujuanku ada di sini? Semua tak lebih dari untuk memberikan mu keturunan."
__ADS_1
"Lantas?" Sebenarnya Abidzar tak suka membahas mengenai hal ini. Tapi sebagai seorang suami, sudah seharusnya ia mendengarkan keluh kesah sang istri. Kalau bukan dia tempatnya berbagi keluh kesah sang istri, lalu siapa lagi? Bukankah tugas suami memberikan nafkah lahir dan batin. Dan menjadi tempat keluh kesah sang istri pun termasuk dalam tugas memenuhi nafkah batin.
Ya, batin sebab ketenangan batin seorang istri itu pun menjadi tugas seorang suami. Istri yang batinnya tenang, sudah pasti ia akan lebih bahagia dan bergairah dalam menjalankan tugasnya baik sebagai seorang istri maupun seorang ibu.
Nafkah batin bukan melulu mengenai kegiatan peranjangan. Tapi ketenangan dan kebahagiaan batin. Tak jarang keharmonisan rumah tangga retak karena sang istri tidak menemukan kebahagiaan dan ketenangan batin dalam rumah tangganya. Sang istri yang tidak memiliki tempat berkeluh kesah dan berbagi cerita akhirnya bercerita pada orang lain. Yang gawatnya ia melakukan itu dengan lawan jenis. Alhasil ia menemukan kenyamanan pada laki-laki lain. Akhirnya rumah tangga pun retak dan tak jarang kandas. Semua berawal dari nafkah batin yang tak terpenuhi. Ingat, seorang istri bukan bukan hanya membutuhkan uang. Uang memang penting, tapi hati yang bahagia dan ketenangan jiwa itu jauh lebih penting.
Oleh sebab itu, sebisa mungkin Abidzar mendengarkan segala keluh kesah Freya agar batinnya merasa tenang dan nyaman. Dengan begitu, ia pun merasa dihargai. Jadi tak ada celah untuk Freya berpaling dengan yang lain sebab segala kebutuhannya baik lahir maupun batin dapat ia cukupi dengan baik.
"Apa sebaiknya aku menuruti permintaan Erin, Mas? Aku ... aku tak mau merusak rumah tanggamu. Aku ... aku tak mau jadi duri dalam pernikahan kalian. Aku ... aku tak mau orang-orang menilaiku sebagai pelakor karena telah merusak rumah tangga kalian. Aku ... hiks ... hiks ... hiks ... "
Freya terisak pilu. Sebenarnya ia pun berat mengatakan ini, tapi ia tak mungkin terus-menerus tertekan karena rasa bersalah. Yang ada malah mengganggu kehamilannya dan hal itu yang paling ia takuti.
Abidzar menghela nafas berat, "sayang, dengarkan Mas, apa kau masuk ke dalam rumah tangga Mas dengan cara tak benar?"
Freya menggeleng. Toh bukan dia yang sengaja masuk, tapi Erin sendiri yang membawanya masuk.
"Bukan 'kan?" Freya pun mengangguk sebagai jawaban. "Apa kau menikah denganku karena sengaja ingin jadi duri dalam pernikahan kami? Ingin jadi perusak pernikahan kami?" Lagi-lagi Freya menggeleng. "Dengarkan Mas baik-baik, kau masuk ke dalam rumah tangga kami karena Erin sendiri yang membawamu masuk ke dalamnya. Kau tak salah. Aku juga tidak menyalahkan Erin sebab berkat dialah masalah kita bisa terurai dan aku akhirnya bisa memiliki mu sebagai istriku. Kau juga bukan pelakor. Bukan. Memangnya kau merebut ku dari Erin? Tidak 'kan. Asal kau tahu, Erin sendiri lah yang membuat rumah tangga kami hancur. Bahkan tanpa sepengetahuan ku, dia telah berbuat kesalahan fatal. Amat sangat fatal. Seperti yang aku ucapkan sore tadi, aku pasti akan menjelaskannya. Tapi nanti. Aku pun tak ingin membiarkan masalah berlarut-larut. Dan satu yang perlu kau ingat di otak cantikmu ini, jangan pernah coba-coba untuk pergi dariku. Sebab sejauh apapun kau pergi, aku akan mencari dan menemukan mu. Meskipun ke ujung dunia sekalipun, aku tetap akan mengejarmu sebab kau ...adalah istriku. Wanita yang aku cintai. Takkan aku biarkan kau pergi apalagi menghilang dari hadapanku sebab kau hanya milikku." Tegas Abidzar membuat mata Freya berkaca-kaca. Ada rasa haru menyeruak dalam dadanya. Bagaimana bisa ia pergi, sedangkan bersama Abidzar, ia merasa begitu berharga dan diinginkan.
Freya mengangguk dengan mata berkaca-kaca, "maaf Mas atas pikiran naifku. Terima kasih. Terima kasih atas cinta yang luar biasa ini. Terima kasih, Mas. Dan kalau boleh aku jujur, sepertinya aku pun sudah mulai mencintaimu." Tutur Freya membuat Abidzar membulatkan matanya.
"Ap-apa katamu tadi? Kau ... kau mulai mencintaiku?" tanya Abidzar memastikan.
Freya pun mengangguk dengan pipi bersemu merah.
Abidzar tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ia pun segera memeluk Freya dan melabuhkan banyak ciuman di seluruh wajah Freya. Freya terkekeh geli melihat tingkah Abidzar.
'Maafkan aku, Erin. Bukan maksudku merebut Mas Abi darimu. Tidak. Tapi ... bukankah aku pun berhak bahagia. Aku pun berhak mendapatkan cinta dari Mas Abi. Bagaimana pun aku juga adalah istrinya. Semoga suatu hari nanti kau dapat mengerti. Sekali lagi maafkan aku karena aku telah jatuh cinta pada suamimu.'
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1