
"Bagaimana dok keadaan istri saya?" tanya Abidzar pada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. Abidzar baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Dengan nafas memburu, ia memacu kecepatan mobilnya lebih tinggi dari biasanya agar bisa segera sampai ke rumah sakit tersebut. Ia benar-benar panik dan cemas mengenai keadaan istrinya.
Setibanya di rumah sakit, Abidzar langsung mencecar Ana mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun menceritakan kronologisnya apa adanya. Ia tak tahu alasan pingsannya Freya, sebab saat pertama kali Ana menemukannya kondisi Freya memang telah tak sadarkan diri.
Abidzar meraup wajahnya frustasi. Ia khawatir terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan pada istrinya itu.
"Mari ikut saya sebentar!" Dokter itupun mengajak Abidzar ke ruangannya. Makin cemas lah Abidzar. Jantungnya berdebar-debar tak menentu seakan sedang menanti vonis dari sang hakim saja.
"Silahkan duduk!" Ujar dokter itu mempersilahkan Abidzar duduk sambil membenarkan kaca matanya.
"Jadi dok, bagaimana keadaan istri saya? Apa telah terjadi sesuatu sampai ia tak sadarkan diri seperti itu?" cecar Abidzar lagi.
Dokter tersebut tersenyum simpul, "istri bapak secara fisik memang kelihatan tidak apa-apa, tapi pak, yang namanya ibu hamil itu harus selalu dibuat tenang, tidak boleh stres, jangan banyak pikiran apalagi tekanan."
"Maksud dokter?" tanya Abidzar bingung saat sang dokter menjeda penjelasannya.
"Istri Anda stress, banyak pikiran, tertekan. Belum lagi morning sickness-nya yang cukup parah membuatnya kekurangan nutrisi, kurang istirahat juga membuat tekanan darahnya rendah dan lemah seperti ini. Jadi pak, mohon dijaga mental istrinya ya agar tidak merasa stress dan tertekan sebab apa yang ibu hamil alami itu juga berpengaruh ke kondisi janin dalam kandungan istri bapak. Bapak juga harus lebih perhatian. Tidak semua perempuan mudah mengutarakan apa yang dia inginkan dan rasakan. Jadi sudah sepatutnya sebagai seorang suami untuk peka terhadap apa yang istri Anda rasakan dan inginkan. Itupun kalau Anda memang menginginkan yang terbaik untuk istri dan calon anak Anda." Tutur dokter wanita paruh baya tersebut. Pengalamannya selama bertahun-tahun membuatnya paham terkadang kondisi pasien yang seperti ini karena pengaruh lingkungan sekitar yang tidak kondusif maupun sikap suami yang tidak peka.
Abidzar tercenung di tempatnya. Diam bergeming. Otaknya seakan diperas untuk memikirkan sebenarnya apa yang membuat Freya merasa tertekan. Apa yang sebenarnya terjadi?
'Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin? Apakah sikapku terlalu keras padanya?' batin Abidzar bertanya-tanya.
Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, Abidzar pun segera keluar bersamaan dengan Freya yang akan dipindahkan ke ruang perawatan.
__ADS_1
Freya masih memejamkan matanya. Mungkin itu juga efek dari obat yang disuntikkan ke dalam cairan infus yang tertancap di pergelangan tangannya.
Abidzar menghela nafas kasar. Bingung tapi juga khawatir. Ada rasa bersalah bercokol di benaknya.
"Tuan, boleh saya bicara sebentar." Ujar Ana setelah menimbang beberapa saat. Ia sejak tadi bimbang harus menyampaikan apa yang ia dengar pagi tadi atau tidak. Tapi bila tidak segera disampaikan, ia khawatir Erin dan Mina akan makin menjadi. Terserah Abidzar akan mempercayai kata-katanya atau tidak. Yang penting ia telah melakukan sesuatu yang benar, pikirnya.
"Ada apa Ana? Katakan saja." Ucap Abidzar seraya menghenyakkan bokongnya di kursi yang ada di samping ranjang dimana Freya terbaring lemah.
"Tuan, yang akan saya sampaikan ini berkaitan dengan peristiwa yang non Freya alami kemarin."
Mendengar kalimat itu, Abidzar lantas mengubah posisi duduknya agar bisa menatap langsung ke arah Ana.
"Maksudmu?"
"Jangan bertele-tele, cepat katakan langsung ke intinya!" Titah Abidzar yang seolah telah kehilangan kesabarannya. Terlalu penat. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, baik di tempat kerja dan kini masalah rumah tangganya. Jelas saja membuat Abidzar nyaris kehilangan kesabarannya.
Ana tersentak, tapi dengan cepat ia pun menjelaskan apa yang ingin ia sampaikan.
"Begini tuan, pagi tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan nyonya Erin dengan Mina. Hal ini berkaitan dengan peristiwa yang non Freya alam kemarin. Asal Anda tahu tuan, sebenarnya non Freya tidaklah bersalah. Non Freya hanya dijebak. Bagaimana cara menjebaknya memang saya kurang paham karena saya tidak ditempat. Tapi saya mendengar jelas saat nyonya menyerahkan uang kepada Mina sebagai imbalan karena telah memuluskan rencananya kemarin. Nyonya juga mengatakan mungkin akan meminta bantuannya lain kali." Ujar Ana menceritakan apa yang ia dengar. "Sejak awal memang Mina tidak menyukai keberadaan non Freya, tuan. Bahkan Mina sering bersikap seperti seorang nyonya sebab Nyonya pernah mengatakan status non Freya sama saja seperti kami. Belum lagi nyonya juga pernah memerintahkan Mina agar mengawasi pekerjaan Non Freya. Non Freya diminta ikut mengerjakan tugas di rumah seperti menyapu dan mengepel." Lanjutnya membuat mata Abidzar terbelalak sempurna.
Ia tak habis pikir, benarkah Erin bisa bersikap seperti itu? Jelas saja sedikit ragu sebab selama mengenal Erin, wanita itu selalu bersikap lembut dan tidak pernah aneh-aneh. Sikap anehnya hanya satu, memintanya menikah lagi untuk memperoleh keturunan, selain itu tidak. Meskipun ia sedikit acuh tak acuh. Tak pernah berbenah apalagi melakukan tugas seperti seorang istri lainnya, tapi untuk bersikap kejam, Abidzar masih belum bisa mempercayainya.
"Saya tahu, Anda pasti meragukan kata-kata saya. Tapi sumpah tuan, saya mengatakan yang sejujurnya. Kalau terbukti saya berbohong, saya rela dipecat dari pekerjaan ini." Tukas Ana.
__ADS_1
Lagi-lagi Abidzar hanya bisa diam bergeming. Ia tidak bisa mempercayai begitu saja ucapan Ana, tapi juga ia tak yakin kalau Ana berbohong. Untuk apa juga pikirnya.
Abidzar tiba-tiba saja berdiri membuat Ana terlonjak dengan jantung berdegup kencang.
"Kau tunggu di sini. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku. Ada yang yang harus aku lakukan." Pungkasnya yang diangguki Ana dengan cepat. Setelah mengucapkan itu, Abidzar terlebih dahulu berdiri di samping Freya dan mengusap pipinya. Lalu ia mencium kening Freya dengan lembut dan dalam. Wajah Ana yang melihat adegan romantis itu seketika memerah. Bahkan tanpa sadar ia tersipu sendiri. Dapat ia lihat kalau Abidzar begitu menyayangi Freya. Setelahnya, Abidzar pun gegas keluar dari kamar rawat Freya. Tujuannya tentu saja pulang ke rumahnya.
...***...
Setibanya di rumah, Abidzar langsung berpapasan dengan Bi Asih yang dari raut wajahnya tampak khawatir. Tadi sepulang dari pasar, Mang Sukri langsung menceritakan perihal Freya yang pingsan. Sontak saja bi Asih merasa cemas sekaligus khawatir. Ia juga merasa bersalah sebab dirinya lah yang ditugaskan Abidzar untuk mengawasi Freya. Bi Asih merasa lalai. Ia merasa bersalah.
"Tuan, apa tuan tahu non Freya masuk ke rumah sakit?" tanya Bi Asih langsung.
Abidzar mengangguk, "maaf Bi, ada yang harus aku lakukan. Nanti aku jelaskan keadaan Freya " Potong Abidzar yang memang sedang terburu-buru. Ia pun segera berlalu dari hadapan Bi Asih dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia pun segera menyalakan komputer yang terhubung ke rekaman cctv di rumahnya. Lalu ia memutar rekaman cctv sore kemarin mulai dari kedatangan Freya hingga ia tercebur ke dalam kolam. Kaki Abidzar seketika lunglai. Ia terduduk lemas sambil mengusap kasar wajahnya. Perasaan bersalah menggerogoti benaknya. Artinya pingsannya Freya pun ada andil dirinya. Karena dirinya dan Erin lah yang membuat Freya tertekan hingga pingsan.
Bukan mau membenarkan diri, tapi siapapun yang dihadapkan pada situasi seperti itu pasti takkan berpikir rasional lagi, bukan. Semua orang akan reflek menilai dari apa yang dilihat daripada apa yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya di dunia nyata, di dunia maya pun terkadang kita sering tersugesti mempercayai berita yang sedang viral di kala itu. Apalagi bila disertai caption-caption yang meyakinkan membuat kita salah persepsi yang berujung salah paham lalu mencela.
Padahal apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya. Apa yang terlihat kadang berarti sebaliknya.
Abidzar menyesal. Ia tak menyangka istri yang begitu ia percayai selama ini bisa bermain peran sedemikian rupa sehingga membuatnya salah paham dan menuding Freya tak pernah berubah.
Setelah mengetahui fakta sebenarnya, Abidzar pun gegas kembali ke rumah sakit. Saat baru saja ia keluar ruangan kerjanya, ia berpapasan dengan Mina. Sorot matanya menajam membuat Mina gelagapan dalam kebingungan. Namun Abidzar belum mau bertindak sekarang. Ada yang lebih penting saat ini, yaitu ... Freya.
...******...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...