
Setelah kepergian Tirta, Abidzar masih merasakan kegusaran. Ada rasa rindu pada sosok istri mudanya itu, tapi kini tiba-tiba ada rasa lain yang menggelitik hatinya. Ada rasa resah, tak nyaman, dan gelisah. Bahkan jantungnya sudah berdegup dengan sangat kencang. Mendadak pikiran buruk menggelayuti benaknya.
"Aku kenapa? Kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini?"Gumamnya sambil mengetuk-ngetukkan ujung bolpoin ke atas meja.
Rasa tak nyaman itu kian menjadi saat Abidzar hendak meminum kopinya, tapi mendadak cangkir yang ia pegang terlepas dari tangannya hingga jatuh dan pecah hingga tercerai-berai di lantai.
"Bi, kamu kenapa?" tanya Tirta panik saat mendengar suara cangkir yang jatuh dan pecah di lantai.
Tirta pun segera masuk dan mendapati Abidzar yang tengah mematung dengan tatapan kosongnya.
Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar denting pesan masuk di ponselnya berbunyi. Ia yang tadi memang mengirimkan pesan pada Bi Asih untuk menanyakan keberadaan Erin dan Freya pun mencoba mengontrol detakan jantungnya. Setelah sedikit mereda, ia pun segera membuka layar ponselnya. Dan yang ia dapati pertama kali adalah pesan Bi Asih. Di dalam pesan itu, Bi Asih mengatakan kalau Erin kedatangan teman-temannya.
Mendadak rasa cemas itu hadir kembali. Ia sangat ingat, teman-teman istrinya itu tidak ada yang menyukai Freya. Bahkan di masa lalu mereka kerap berseteru mengenai berbagai hal. Seakan tak ada hari tanpa perseteruan. Tatapan penuh kebencian terlihat jelas di netra mereka semua. Freya memang sombong dan angkuh, tapi ia lebih sering mengabaikan mereka.
Namun tak dapat ia pungkiri, teman-teman Erin lah yang sering lebih dahulu memprovokasi Freya sehingga terjadilah perseteruan dan perdebatan.
Jantungnya berdebar, bagaimana kalau mereka masih seperti dulu. Masih membenci Freya dan mencoba menyakitinya. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan, Abidzar pun bergegas mengambil kunci mobil dan pergi dari kantornya untuk segera tiba di rumah.
"Bi, kau mau kemana?" pekik Tirta saat melihat Abidzar yang berlarian dengan terburu-buru.
Tapi Abidzar tak menggubris pertanyaan Tirta. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah Freya, Freya, dan Freya.
Jalanan tidak begitu padat merayap jadi Abidzar bisa melajukan kecepatan mobilnya dengan cukup tinggi. Hingga hanya dalam waktu tempuh 20 menit, mobil Abidzar pun telah masuk ke pekarangan rumahnya. Setelah memarkirkan asal mobilnya, ia pun segera berlarian ke dalam rumah.
Dari teras, ia bisa mendengarkan suara Freya yang begitu lirih dan caci maki teman-teman Erin pada istrinya itu. Tangannya terkepal, ia pun segera meringsek masuk bertepatan dengan suara tamparan dan Freya yang terjatuh sambil memegang kepala.
Melihat kesadaran Freya yang hampir hilang, Abidzar pun segera melompat dan menahan kepalanya agar tidak jatuh membentur lantai.
__ADS_1
"Freya ... " Pekik Abidzar khawatir saat melihat Freya telah benar-benar kehilangan kesadarannya tepat setelah ia menangkap tubuh bagian atasnya.
"Fre, bangun, Fre!" Pekik Abidzar panik.
Melihat Freya telah benar-benar pingsan, bola mata Abidzar pun memerah. Diarahkannya tatapannya kepada Erin dan teman-temannya.
"Kalian apakan dia, hah? Bajingaan kalian. Lihat saja, kalau sampai sesuatu terjadi pada Freya, aku takkan pernah memaafkan kalian. Aku akan mengejar kalian meski sampai ke lubang semut sekalipun." Hardik Abidzar dengan rahang mengeras dan mata membulat merah penuh api amarah.
Erin sampai tertegun di tempatnya. Ia tak pernah melihat sosok suaminya yang seperti ini sebelumnya. Kalaupun mereka bertengkar, sebisa mungkin Abidzar menekan amarahnya. Bahkan Abidzar nyaris tak pernah membentak, menghardik, dan bersuara tinggi padanya. Tapi kini ... hanya karena melihat Freya tak sadarkan diri akibat ulah teman-temannya, ia sampai menghardik dengan suara tinggi mereka semua.
"Ka-kami tidak melakukan apa-apa." Kilah Lisa gugup.
"Benar kata Lisa, Mas Abi, kami ... kami tidak melakukan apapun pada Freya, benar kan Rin?" Rana ikut berkelit. Bahkan ia meminta bantuan pada Erin untuk menyelamatkannya dari amarah Abidzar.
"Tidak usah berkilah kalian. Kalian pikir aku buta dan tuli sampai tidak bisa melihat dan mendengar apa yang kalian lakukan dan katakan?" Sentak Abidzar dengan sorot mata tajamnya.
"Rin, kami pulang dulu ya. Kayaknya Mas Abi marah banget sama kami." Ujar Meylin yang sudah bergidik ngeri melihat kemarahan Abidzar tadi.
"Meylin bener, Rin. Gue nggak nyangka, Mas Abi bisa semarah itu sama kita." Bisik Lisa pelan.
"Ck ... benar-benar kacau. Emangnya Mas Abi suka pulang jam segini ya, Rin?" Timpal Rana bertanya.
Erin menggeleng, "biasanya jam segini Mas Abi masih di kantor. Aku pun nggak nyangka Mas Abi pulang secepat ini. Duh, bagaimana ini? Mas Abi kayaknya marah banget sama kita." Cemas Erin.
"Loe mah enak, Rin, loe istrinya. Justru seharusnya loe yang marah kok laki loe sampai marah-marah gitu hanya demi membela si jalaang sialan itu." Ucap Rana berusaha memprovokasi Erin.
"Rana benar, Rin. Jangan sampai posisi loe terancam hanya gara-gara si jalaang." Timpal Meylin yang diangguki Lisa.
__ADS_1
"Kalian benar. Kenapa aku harus takut dan merasa bersalah. Aku adalah istri sah Mas Abi. Dan perempuan itu hanyalah istri siri yang bertugas mengandung anak Mas Abi. Jadi seharusnya Mas Abi lebih menjaga perasaanku. Aku tidak terima kalau jalaang itu harus mendapatkan perlakuan baik dari Mas Abi. Aku yakin, pasti jalaang itu telah merayu Mas Abi sehingga sikapnya pun jadi seperti itu. Takkan aku biarkan. Aku harus memberikan pelajaran pada jalaang itu agar tidak berbuat semaunya." Ucap Erin dengan kekesalan yang kian menggelegak.
Sementara itu, di kamar tamu, Abidzar tampak gusar. Ia telah memberi minyak kayu putih di pelipis Freya. Ia juga mendekatkan kepala botol minyak kayu putih ke hidung Freya berharap Freya segera sadarkan diri. Tapi Freya belum juga menampakkan tanda-tanda akan sadarkan diri.
"Bi, lihat ke depan. Mungkin dokter akan segera tiba. Kalau sudah datang, langsung saja ajak kemari." Titahnya pada bi Asih yang masih berdiri di dekat ranjang memperhatikan majikannya yang tampak mencemaskan keadaan Freya.
"Baik den."
Sekeluarnya bi Asih, Abidzar pun mengambil telapak tangan kanan Freya dan menggenggamnya. Sesekali ia mengecup punggung tangan Freya dengan sayang. Setelahnya, ia mengusap pipi Freya yang tampak merah akibat tamparan Rana. Rahangnya kembali mengeras. Bagaimana kalau ia tidak datang tepat waktu tadi? Bisa-bisa keadaan Freya akan lebih mengkhawatirkan.
"Mereka benar-benar keterlaluan. Awas saja kalau terjadi sesuatu pada Freya. Aku takkan pernah mengampuni mereka."
"Mas," panggil Erin sambil memegang pundak suaminya.
"Hmmm ... "
"Kamu marah sama aku?" Lirih Erin memasang wajah terluka. Tapi Abidzar tak meresponnya sama sekali. Ia sedang berusaha mengontrol diri agar tidak menghardik Erin karena yang membuat keadaan Freya menjadi seperti ini adalah teman-temannya. Namun semua itupun atas andil istrinya ini. Andai dia tidak membawa ketiga temannya itu ke rumah, ia yakin peristiwa seperti ini takkan pernah terjadi. Andai Erin bersikap tegas, teman-temannya pasti takkan berani menyakiti Freya. Dan Andai Erin tidak semena-mena terhadap Freya dan memperlakukannya layaknya pembantu, pasti Freya takkan mengalami kejadian tidak menyenangkan ini.
"Mas, aku tahu aku salah karena meminta tolong Freya mengambilkan minum untuk teman-temanku, tapi kamu nggak bisa dong marah sama aku kayak gini. Yang salah di sini itu dia. Dia yang sudah membuat teman-temanku tak nyaman dan menumpahkan jus ke baju mereka, tapi kenapa kau justru marah padaku? Ini nggak adil. Kayaknya makin hari sikapmu makin condong ke dia." Ucap Erin memasang wajah kesalnya bercampur kecewa.
"Sudah?" Ucap Abidzar dingin. "Kalau sudah, segera keluar dari sini. Sebentar lagi dokter akan datang. Kita bicarakan ini nanti." Imbuhnya datar membuat Erin diam-diam mengepalkan tangannya kesal. Abidzar sengaja belum mau membahas perihal ini sebab ia khawatir tak bisa mengontrol amarahnya. Apalagi saat ini keadaan Freya belum baik-baik saja.
'Kurang ajar. Apa sih lebihnya dia sampai sekarang Mas Abi pun lebih membela perempuan murahan ini?' Ucap Erin dalam hati.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1