Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
65


__ADS_3

Dengan amarah yang membuncah, Erin mengendarai mobil membelah jalan sore itu dengan kecepatan tinggi. Padahal maksud hati ingin mengintimidasi Freya yang terjadi justru sebaliknya. Ia tak menduga Abidzar akan pulang secepat itu. Padahal dulu biasanya, Abidzar paling cepat pulang jam 5. Terkadang pulang larut dengan alasan lembur. Lalu kini, padahal jarum jam masih menunjukkan pukul 4 sore, tapi Abidzar telah pulang ke rumah.


"Sial, sial, sial. Kenapa akhir-akhir ini aku selalu sial sih? Dan apa tadi? Mas Abi pulang lebih cepat dari biasanya hanya demi perempuan itu? Sial. Sepertinya Mas Abi telah kembali mencintai perempuan sialan itu. Kurang ajar. Kalian pikir aku akan diam saja melihat kalian bahagia, sedangkan aku tidak? Iya? No. Takkan aku biarkan kalian bahagia. Aku akan membalas semua perbuatan kalian. Tunggu saja pembalasanku." Desis Erin menggeram kesal. Sorot matanya berkilat penuh kebencian dan dendam.


Saat melajukan mobilnya, Erin melintasi sebuah mall. Ia pun berniat merefresh pikirannya dengan berbelanja di mall tersebut. Erin pun segera mencari celah untuk memutar mobilnya. Setelah mendapatkan celah, ia memutar mobilnya dan masuk ke gerbang mall menuju basemen.


Kini Erin telah berada di dalam mall tersebut. Erin berniat ingin membeli beberapa pakaian di sebuah store pakaian branded yang ada di mall tersebut.


Erin pun berjalan melewati arena permainan yang memang ada di mall tersebut. Arena tersebut tampak tidak begitu ramai. Mungkin karena hari sudah mulai sore. Saat sedang berjalan, tiba-tiba Erin memundurkan kakinya beberapa langkah. Ia seperti melihat Meylin dengan seorang anak kecil bermain di dalam sana. Erin pikir mungkin itu calon anak sambung Meylin jadi ia ingin menyapa Meylin.


Dengan wajah sumringah, Erin pun menghampiri Meylin. Meylin yang sangat mengenali suara Erin sontak saja terkesiap. Ia menoleh dengan ekspresi yang rumit.


"Mama," beo anak kecil itu membuat Erin seketika menoleh dengan ekspresi terkejut.


"Rio," gumamnya benar-benar terkejut melihat ternyata anak laki-laki itu adalah Rio.


Sorot mata sumringah Erin seketika berubah tajam. Dadanya kembali bergemuruh dengan kilat amarah di netranya.


"Rin, ini tidak seperti yang kau ... "


"Jangan bilang kalau calon suamimu itu Ryan?" Desis Erin menggeram. "Jawab aku, Meylin!" Sentak Erin dengan suara yang naik satu oktaf.

__ADS_1


Beberapa pengunjung sampai mengalihkan perhatian mereka ke arah Erin dan Meylin.


"Mey, Ayo kita pulang. Hari sudah sangat sore." Tiba-tiba Ryan muncul dari balik punggung Erin sehingga ia tidak menyadari keberadaan Erin di tengah-tengah mereka.


Erin yang mendengar suara Ryan pun menegang kaku. Begitu juga dengan ekspresi wajah Meylin yang tampak rumit, tapi tidak disadari Ryan. Ryan justru kini terfokus pada Rio yang tengah menatap wajah Erin.


Hingga suara Rio berhasil membuat Ryan cukup terkejut, "Papa, ada mama, Pa." Seru Rio membuat Ryan akhirnya tersadar pada sosok perempuan yang berdiri di dekatnya. Ia lantas menoleh ke arah perempuan itu yang disaat bersamaan menoleh ke arahnya.


"Erin." Gumam Ryan tak menyangka bisa bertemu dengan mantan terindahnya itu.


Erin terkekeh miris, ia tak menyangka, kalau perempuan yang hendak dijodohkan dengan Ryan adalah sahabatnya sendiri. Sebenarnya ia telah merasa curiga saat melihat postingan Meylin. Tapi ia terus saja menampik kecurigaan itu. Ia tak mau persahabatannya hancur karena kesalahpahaman. Namun nyatanya, itu bukanlah sebuah kesalahpahaman. Semua nyata adanya. Sahabatnya berhasil menikung dirinya.


"Jadi benar kalau calon istrimu itu ... Meylin? Benar begitu, Ryan? Katakan padaku. Jangan ada yang kalian tutup-tutupi lagi." Ucap Erin dengan sedikit menekan setiap kata-katanya.


"Ya, kau benar. Perempuan yang mama jodohkan padaku adalah Meylin, sahabatmu." Ucap Ryan.


"Rin, maafkan aku. Bukan maksud hati ingin mengkhianatimu, tapi ... "


"Tutup mulut busukmu itu, Mey! Aku tak butuh penjelasanmu. Sekali busuk tetap saja busuk. Jadi dia ... cinta pertama yang kau katakan itu? Jadi selama ini kau mencintai Ryan, benar begitu?" Sentak Erin memotong ucapan Meylin. Sorot mata Meylin yang penuh penyesalan berubah menjadi sorot mata keangkuhan. Tak ada lagi yang perlu ditutupi, pikir Meylin.


Bila selama ini ia bergonta-ganti pasangan hanya untuk mencari pelampiasan karena laki-laki yang ia cintai justru mencintai sahabatnya sendiri, maka kali ini ia takkan melepaskan kesempatan emasnya untuk memiliki Ryan. Sudah cukup ia mengalah dan terus menunggu. Kini telah tiba masanya untuk dirinya mendapatkan apa yang seharusnya ia miliki. Tak peduli Ryan telah memiliki seorang buah hati, yang terpenting, Ryan, laki-laki yang telah lama ia cintai dalam diam bisa menjadi miliknya. Anggap saja, Rio sebagai bonus. Toh Rio anak yang baik pikir Meylin. Mereka juga sudah dekat sebab selama satu bulan ini Meylin terus memberikan perhatian padanya.

__ADS_1


"Kau benar. Ryan, dia adalah cinta pertamaku. Asal kau tahu, aku lah yang lebih dahulu mengenal Ryan, tapi justru kaulah yang pertama kali mendapatkan hatinya. Selama ini aku hanya diam, mencintainya dalam diam. Aku tidak pernah mencoba mengusik hubungan kalian. Meskipun kau telah begitu keterlaluan dengan menduakan Ryan. Kau menikah dengan laki-laki lain. Tapi aku tetap tak mengusik Ryan. Tapi sekarang semua berbeda. Kau dan Ryan sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Jadi tak ada salahnya bukan kalau kami menjalin hubungan. Ryan dan aku juga sudah bertunangan. Sebentar lagi kami juga akan segera menikah. Kedua orang tua kami pun sangat mendukung hubungan ini, jadi apa salahnya? Tak ada bukan?" Tutur Meylin mengungkapkan segala isi hatinya. Kenapa dia harus mengalah sedang Erin sendiri tidak bisa menentukan pilihannya. Ia masih saja egois ingin mempertahankan keduanya. Menurut Meylin, Erin itu terlalu serakah dan egois.


Plak ...


Erin yang tak mampu mengendalikan emosinya langsung saja menampar pipi Meylin. Belum hilang kekesalannya pada Freya dan Abidzar tadi, lalu kini Meylin pun menambah kekesalannya.


"Erin," bentak Ryan terkejut karena Erin menampar Meylin dengan begitu keras. Namun Erin tak memedulikan itu. Fokusnya kini hanya pada Meylin.


"Ternyata kau sama sampahnya seperti Rana, Mey. Aku tak menyangka aku berteman dengan iblis berkedok sahabat seperti dirimu. Dasar menjijikan." Bentak Erin murka.


" Siapa yang sampah? Siapa yang iblis, Rin? Siapa? Siapa yang lebih pantas disebut sampah dan iblis, hah? Kau apa aku? Ingat Rin, aku mengetahui segala rahasia dan kebusukanmu. Semuanya. Jadi aku sangat tahu betapa iblisnya dirimu itu. Berpura-pura baik, padahal iblis. Kau tak pantas untuk laki-laki sebaik Ryan, kau tahu." Balas Meylin tak kalah garang.


"Kau .... "


"Mama ... "


"Sudah cukup, Rin. Ingat, hubungan kita sudah berakhir jadi kau tak ada hak untuk melarangku menjalin hubungan dengan siapapun termasuk Meylin." Ucap Ryan tegas. Ryan pun segera menggendong Rio yang tampak ketakutan. Kemudian ia pun menggandeng tangan Meylin untuk segera pergi dari sana.


"Rio, ayo ikut mama, nak. Dia bukan mama Rio. Bilang sama papa Rio cuma mau Mama Erin, bukan mama yang lain." Teriak Erin tak peduli banyak kata yang memperhatikannya. Tapi Rio yang terlanjur takut justru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ayah. Ryan yang paham pun segera mengajak Meylin menjauh tanpa memedulikan Erin yang terus berteriak bahkan kini mencoba mengejar.


"Aaargh ... kenapa semua jadi begini? Kenapa Tuhan? Kenapa???"

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2