
Sejak pagi, kediaman Ana telah ramai dikunjungi orang-orang baik dari pihak keluarga, kerabat, maupun orang-orang yang terlibat langsung untuk mengatur acara pernikahan.
Ya, hari ini adalah hari pernikahan Ana. Dengan siapa? Tentu saja dengan Tirta. Hahaha ...
Pernikahan mereka akan diadakan di kediaman Ana. Hingga detik inipun mereka tidak mengetahui pasangan pengantin masing-masing. Mereka hanya perlu bersiap dan segala urusan telah diurus kedua keluarga masing-masing.
Mungkin baru kali ini pembaca yang mendengar calon pengantin tidak terlibat sama sekali dengan persiapan pernikahannya. Namanya juga pernikahan kejutan. Surprise. Kedua pasangan itupun tidak penasaran. Mereka hanya menerima dengan pasrah terhadap jodoh yang dipilihkan orang tua mereka masing-masing.
Pernikahan ini juga diadakan di kediaman Ana bukan tanpa sebab. Yah, walaupun memang biasanya pernikahan diangkat oleh pihak perempuan, tapi untuk kali ini alasannya karena Tirta belum mengenal keluarga Ana sama sekali. Bahkan ia pun tidak tahu alamat tempat tinggalnya. Tirta merupakan definisi sad boy yang sebenarnya. Hahahah ...
Bila calon pengantin lain tampak sumringah saat menyambut hari pernikahannya, maka berbeda dengan Tirta. Wajahnya suram dan mendung. Seperti seorang yang tidak memiliki semangat hidup lagi.
"Heh, calon pengantin kok wajahnya sepet begitu. Udah kayak keset kaki yang super lecek," ejek sang nenek membuat Tirta mencebik.
"Nenek kalau cuma mau buat keributan, mending keluar deh. Tirta mau sendiri dulu." Ucap Tirta datar.
Ya, Tirta merasa perlu menenangkan diri. Setelah ini, statusnya akan berubah menjadi seorang suami dari perempuan yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Nggak usah dilipet gitu mukanya. Jelek, tau."
"Terus Tirta harus bagaimana? Girang? Senyum terus? Entar dikira ODGJ dong," balas Tirta sebal. "Nenek tuh nggak ngerti, wajar Tirta kayak gini. Pertama, Tirta akan menikah dengan gadis yang bukan hanya tidak Tirta cintai, bahkan kenal pun nggak sama sekali. Kedua ... ah, susahlah. Nenek mana paham perasaan Tirta." Tirta melengos. Ia malas menjelaskan perasaannya saat ini.
"Siapa yang bilang nggak ngerti? Justru nenek sama mama kamu itu paling mengerti kamu. Kamunya aja yang bodoh," omel nenek tidak terima dibilang tidak mengerti perasaan cucunya itu. "Saat ini kamu emang kayak orang patah hati, tapi liat saja nanti, Nenek berani taruhan, kamu bakal bahagia bukan main. Bahkan kau akan langsung berterima kasih pada nenek dan mama karena telah mengatur pernikahan ini."
Tirta tersenyum meremehkan, "mustahil."
__ADS_1
"Jangan bilang mustahil dulu sebelum menjalaninya."
"Ya, ya, ya, terserah nenek mau bilang apa. Yang penting, Tirta mohon agar nenek keluar dulu. Sebentar lagi kita akan berangkat," tukas Tirta. Nenek mencebikkan bibirnya, tapi ia paham perasaan cucunya itu. Ia pun lantas segera berlalu dari kamar itu meninggalkan Tirta yang kembali termenung.
Tirta mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri teleponnya. Lalu ia memperhatikan satu persatu foto-foto Ana dan dirinya. Tirta mengulas senyum sendu sambil mengusap wajah cantik Ana do foto tersebut. Tampak Ana tersenyum lebar, wajahnya terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
"Ana, hari ini aku akan menikah. Sebelumnya aku sangat berharap bisa menikah denganmu, tapi sayang ... Impian tetaplah impian. Sudah sangat mustahil menjadi kenyataan. Namun bolehkah aku mengharap ada keajaiban? Keajaiban dimana kau tiba-tiba menjadi mempelai pengantin wanitaku." Tirta lantas terkekeh miris. Hal itu sungguh mustahil, pikirnya. Bagaimana mungkin mempelai pengantin wanitanya tiba-tiba berubah menjadi Ana. Tirta lantas memukul kepalanya sendiri yang ia pikir terlalu ngawur.
Tirta memejamkan matanya, "Ana bila melepasmu adalah yang terbaik, maka ... aku ikhlas. Semoga kau menemukan bahagiamu dan ... doakan kau agar bisa berbahagia meski bukan denganmu." Gumamnya lirih. Lalu ia keluar dari galeri teleponnya. Seharusnya ia menghapus foto-foto tersebut, tapi entah mengapa ia merasa belum rela. Tirta pun segera menyimpan ponselnya sebab sebentar lagi mereka akan berangkat ke rumah pengantin perempuan.
Sementara itu, di lain tempat, Ana pun tampak tercenung seorang diri di kamarnya. Mua yang bertugas mendandaninya telah berlalu dari kamar itu. Hingga tinggallah dirinya seorang diri.
Bayangan wajah Tirta, tawanya, senyumnya, seolah menari-nari di pelupuk mata dan benak gadis yang tengah berpakaian pengantin tersebut. Setitik air mata turun membasahi pipi. Ia pun dengan cepat menyekanya. Ia tidak boleh menangis di hari bahagianya.
"Hari bahagia? Bisakah ia menyebut hari ini adalah hari bahagianya? Mungkinkah ia bisa berbahagia dengan laki-laki tersebut? Laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu?
"Mengenalnya saja tidak, lalu ... bagaimana aku bisa bahagia?" Ana menghela nafasnya. Kepalanya yang mendadak berdenyut, semenjak beberapa hari yang lalu, Ana kehilangan selera makannya. Alhasil, hari ini ia merasa begitu lemas. Namun ia tetap memaksakan diri. Tak mungkin ia meminta orang tuanya mengundurkan waktu pernikahannya. Tak mungkin ia mempermalukan orang tuanya di kala undangan telah menyebar luas. Meskipun segalanya dipersiapkan hanya dalam waktu 2 Minggu, nyatanya persiapan pesta pernikahannya terlihat sempurna. Seolah tanpa cela sama sekali. Jadi mana mungkin ia menciptakan cela yang mana akan membuat nama baik orang tuanya akan tercoreng.
"Hana, calon suamimu sudah datang," seru salah satu keluarganya.
Ana tersentak lantas segera menciptakan senyum semanis mungkin agar tak ada yang tahu mendung di dalam hatinya.
"Eh, i-iya, Mel."
"Masya Allah, kamu cantik banget, Na. Calon suamimu nanti pasti akan pangling melihatmu nanti. Yakin deh!"
__ADS_1
Ana terkekeh, "benarkah?"
"Masih nggak percaya. PD dong, PD. Kamu itu akan jadi ratu sehari. Dan aku yakin, tak ada yang bisa menandingi kecantikanmu hari ini. You are the most beautiful today."
"Yah, today, hari ini, besok ketahuan kalau aku nggak secantik itu. Tau sendiri kan, aku itu orangnya malas dandan."
"Iya malas dandan, tapi rajin skincare'an jadi tanpa make up tebal pun, wajah kamu itu udah cantik banget. Yakin deh, kelak suamimu akan jadi bucin kamu," ujar sepupu Ana.
Ana lantas tergelak, "kau bisa saja."
"I'm so serious, beb."
"Udah aja, stop puji-puji aku entar aku melayang, tanggung jawab lho. Apalagi kalau sampai nggak bisa turun lagi."
"Hehehe ... calon manten kalo lagi ngomel kok makin cantik."
"Udah deh Mel ... "
"Melly, kenapa Hana belum dibawa turun?" omel ibu Melly.
"Eh, iya, Ma. Sebentar," ujarnya saat sang ibu muncul dari balik pintu. "Common princess, mari kita turun."
Mel lantas mengulurkan tangannya untuk Ana gandeng. Ana pun menyambut tangan itu dan melingkarkan tangannya di lengan sepupunya itu. Mereka lantas keluar dari dalam kamar menuju dimana akad akan segera berlangsung.
Selama perjalanan menuju meja akad, kepala Ana selalu saja tertunduk ke bawah. Ia rasanya tak sanggup menatap orang-orang yang hadir di sana. Ia khawatir, orang-orang bisa membaca keengganannya menikah. Ia tak mungkin mempermalukan orang tuanya dengan menunjukkan kalau sebenarnya ia terpaksa menikah.
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...