
"Sudah beres semua?" tanya Tirta yang baru datang ke rumah Abidzar. Saat itu Bi Asih dan Ana tampak sudah bersiap dengan beberapa koper dan tas tergeletak di atas lantai. Barang-barang itu terdiri atas barang Abidzar serta barang bi Asih dan Ana. Sedangkan barang pribadi Abidzar di ruang kerjanya ternyata telah lebih dahulu dibawa Abidzar sedikit demi sedikit sebelumnya setiap ia mampir ke sana.
Tirta menatap beberapa koper itu sembari sesekali melirik Ana yang terus saja membuang muka seolah enggan bertatap mata dengan Tirta. Tirta mengulum senyum, entah kenapa ia suka melihat sikap jutek Ana padanya.
"Sudah den. Ini pakaian den Abi dan ini koper berisi beberarapa barang pribadinya.
Tirta mengangguk, "kalian cuma berdua? Bukannya ada 3 ya? Satunya siapa tuh? Ah, Mi ... Mi ... "
"Mina," ketus Ana. Tirta tersenyum miring mendengar celetukan Ana.
"Hush, jawab pertanyaan orang itu yang sopan. Nggak boleh ketus gitu. Entar jauh dari jodoh lho," nasihat bi Asih membuat Ana mencebikkan bibirnya.
"Nggak papa bi, itu malah bagus. Jadi nggak ada cowok yang berani dekat-dekat dia," seloroh Tirta penuh arti. 'Jadi hanya aku yang bisa mendekati, bagus kan ide ku.'
Namun seketika Tirta ingat, Ana hanya bersikap ketus padannya, tidak pada orang lain. Seketika Tirta tersenyum kecut.
"Mina tidak dipekerjakan den Abi lagi den Tirta," jelas bi Asih.
"Lho kok bisa begitu? Pasti ada alasan kan?" tanya Tirta penasaran. Ia pun tak tahu mengenai perihal itu.
"Ya mana mau lah tuan Abi mempertahankan dia, Mina itu diam-diam menghanyutkan. Dia suka bantu nyonya Erin untuk menyakiti non Freya. Sejak awal Mina nggak suka melihat Non Freya di rumah ini. Mina itu secret admirer tuan Abi karena itu dia kurang suka melihat Non Freya," papar Ana sambil bersungut-sungut. Jelas saja Tirta ternganga tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Seriusan?"
"Ya serius lah, ngapain juga saya bohong, banyakin dosa aja." Ketus Ana membuat Tirta terkekeh.
"Jadi dia dimana sekarang?"
"Ngapain nanyain dia mulu? Tertarik sama dia? Mau ngajakin dia kerja di rumah, Tuan?" cerocos Ana.
"Ana, yang sopan kalau ngomong. Nggak boleh gitu!" peringat Bi Asih membuat Ana tersentak malu. Mina udah pergi den."
Tirta pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melirik Ana yang salah tingkah.
"Yuk bi, kita masukkin barang kita dulu."
"Ayo, sini aku bantu!" ujar Tirta yang langsung saja merebut koper di tangan Ana dan membawanya ke bagasi mobil. Untung saja ia membawa mobil besar jadi koper-koper dan tas milik Ana, bi Asih, dan Abidzar bisa muat di dalam mobil. Setelah semua barang masuk ke dalam mobil, Tirta pun meminta Bi Asih dan Ana duduk di dalam mobil.
__ADS_1
"Heh, kamu ... " tunjuk Tirta pada Ana.
"Saya? Kenapa tuan?" Ana mengerutkan keningnya saat Tirta tiba-tiba mencegahnya naik ke dalam mobil bagian tengah.
"Pake tanya, aku bukan sopir kamu, jadi pindah! Duduk di depan, cepat!" titah Tirta dengan memasang wajah datar.
"Lho, kok aku? Bi Asih aja Bi yang di depan." Ana jelas saja menolak. Entah mengapa, ia enggan berdekat-dekatan dengan Tirta. Setiap melihatnya, Ana selalu saja tiba-tiba kesal.
"Ndak ah, bibi di belakang aja. Nggak enak di depan, nggak bisa sambil tiduran. Kalian kan sama-sama muda, ya duduk di depan aja. Siapa tau setibanya di rumah Nyonya Gita, tiba-tiba kalian jadian," seloroh Bi Asih membuat mata Ana seketika melotot.
"Ih, bibi apa-apaan sih! Ya nggak mungkin lah itu."
"Kenapa nggak mungkin? Den Tirta aja nggak protes, jangan-jangan ... kamu ... "
"Iya, iya, aku duduk depan. Tapi please, bibi nggak usah bilang aneh-aneh. Aku udah laki-laki yang aku sukai." Saat menyebut laki-laki yang ia sukai, ekspresi Ana seketika muram membuat Tirta jadi sedikit tanda tanya.
Setelah mengucapkan itu, Ana pun segera masuk ke dalam mobil. Memasang seat belt. Setelah memastikan tak ada lagi yang tertinggal, rumah maupun pagar telah terkunci, Tirta pun mulai melajukan mobilnya. Sedangkan Mang Sukri mengekori menggunakan sepeda motornya di belakang mobil yang Tirta kendarai.
Sepanjang perjalanan, Ana hanya memasang wajah murung. Tak ada suara sama sekali. Kian penasaranlah Tirta tentang siapa Ana sebenarnya. Apa benar Ana adalah Hana?
"Ini kamu mau bawa aku kemana, Mas?" tanya Freya saat Abidzar mengendarai mobilnya memasuki salah satu komplek perumahan elit di kota itu.
Abidzar tersenyum kemudian ia menekan persneling dan membelokkan mobilnya ke dalam gerbang sebuah rumah yang mewah. Rumah itu memang hanya terdiri atas dua lantai, tapi pekarangan rumahnya cukup luas. Ada pohon mangga yang cukup rindang tapi sudah berbuah lebat dan beberapa jenis tanaman hias membuat pekarangan itu tampak asri. Ada sebuah air mancur mini dan sebuah ayunan membuat mau tak mau Freya melebarkan senyumnya.
"Rumahnya bagus banget ya, Mas?" ucap Freya seraya berdecak kagum.
"Kamu suka?" tanya Abidzar sambil melirik ke arah Freya. Freya pun mengangguk dengan cepat dengan binar kekaguman tampak begitu jelas di netranya.
"Suka banget. Rumah punya siapa sih ini, Mas? Temen kamu ya?" tanya Freya lagi setelah mobil berhenti di carport. Abidzar pun turun lebih dahulu dan mengitari mobil untuk membukakan pintu Freya. Ia juga membantu Freya turun dari dalam mobil dengan berhati-hati sebab usia kandungan Freya sudah memasuki bulan ke sembilan, membuat wanita hamil itu sedikit kesulitan untuk beraktivitas. Belum lagi kakinya yang sudah mulai membengkak membuatnya melangkah pun sedikit tertatih.
"Nanti kamu juga akan tahu," ucap Abidzar seraya menyunggingkan senyum. Lalu ia menuntun Freya sambil menggenggam tangannya erat. Freya pun menurutinya tanpa banyak bertanya lagi.
Sesampainya di ambang pintu, tiba-tiba pintu rumah besar itu terbuka. Dari dalamnya terdengar seruan yang cukup ramai membuat Freya membelalakkan.
"Selamat datang," koor semua orang yang ada di dalam rumah tersebut.
Freya sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat melihat siapa saja yang ada di dalam rumah tersebut. Yang paling mengejutkan, bukan hanya ada mertuanya, Tirta, Ana, Bi Asih, tapi di sana juga ada ... Tio, kakaknya serta istri dan Anaknya.
__ADS_1
Air mata seketika merebak membasahi wajah Freya. Saudara sekaligus keluarganya satu-satunya ada di dalam situ. Freya sampai bertanya-tanya, 'apakah ini rumah kak Tio?'
"Mas, i-ini ... "
"Selamat datang, Sayang. Selamat datang di rumah baru kita," ucap Abidzar seraya tersenyum lebar. Mata basah Freya kini makin basah. Namun binar bahagia dapat mereka lihat dengan jelas kalau Freya benar-benar bahagia.
"Freya ... " panggil seorang laki-laki yang matanya pun telah basah. Laki-laki itu mendekat membuat Freya mengalihkan pandangannya pada laki-laki itu.
"Kak-Kak Tio," ucap Freya dengan bibir bergetar. Lidahnya kelu, tak mampu berucap apa-apa selain mengucapkan nama sang kakak.
Tio yang tak mampu membendung rasa rindu pun rasa bersalahnya lantas segera meraih Freya ke dalam pelukannya. Sudah beberapa kali Tio menemui Abidzar meminta bantuan laki-laki yang telah menjadi adik iparnya tersebut untuk mempertemukannya dengan Freya, tapi Freya terus menolak. Mereka tak dapat memaksakan kehendak, apalagi Freya sedang hamil.
Abidzar tahu, istrinya itu pun begitu merindukan kakaknya dan ingin sekali menemuinya, tapi terlalu banyak hal yang mengganjal hatinya. Oleh sebab itu, Abidzar pun mengatur waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka. Hingga saat itupun tiba. Suasana mengharu biru menyeruak di rumah yang Abidzar beli dan hadiahkan untuk Freya.
Kakak dan adik itu saling berpelukan. Anisa yang merasa bersalah karena telah turut andil memisahkan kakak adik itupun ikut meneteskan air mata. Ia pun memohon maaf karena telah membuatnya harus menjauhkan diri dari sang kakak. Ia meminta maaf, karena andilnya lah Freya mengalami hal-hal rumit dan tak terduga beberapa bulan ini.
"Freya, kakak rindu. Maafkan kakak, kakak tidak ada di saat-saat terendahmu, maafkan kakak," ucap Tio seraya tergugu.
Freya menggeleng dengan cepat, "kakak ngga salah. Seharusnya Freya yang minta maaf karena Freya sudah membuat kakak terus khawatir. Freya memang asik yang buruk. Freya memang adik yang tidak berbakti dan hanya bisa merepotkan kak Tio. Maafkan, Freya, kak. Maaf ...."
Keduanya kini tengah duduk bersama di sofa dengan posisi Freya duduk di antara Tio dan Abidzar. Abidzar di sebelah kanan dan Tio di sebelah kiri. Tio tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Freya. Rasa rindunya pada sang adik akhirnya terobati Semua atas bantuan adik iparnya.
"Freya, mbak juga minta maaf. Semua salah mbak. Mbak sadar, kamu pergi saat itu pasti karena kata-kata mbak kan? Maafkan mbakbya, Fre. Mbak mohon, kamu jangan pergi lagi. Kasihan Mas Tio, dia selalu mengkhawatirkan mu. Mas Tio bahkan sampai mengidap insomnia karena selalu kepikiran kamu." Tutur Anisa penuh penyesalan.
Ya, melihat sikap dingin Tio padanya membuatnya merenung dan menyadari kalau ia telah salah berpikir kalau Freya hanya menyusahkan suaminya. Bagaimana pun, Freya adik suaminya, jadi wajar bila suaminya mengkhawatirkan sang adik. Apalagi semuanya masih dalam tahap wajar. Membayangkan bagaimana kehidupan Freya di luar sana seorang diri membuatnya sedih. Apalagi saat tahu ia rela menjadi rahim tebusan demi untuk menjauhkan diri dari sang kakak membuatnya benar-benar disesaki rasa penyesalan.
Freya tersenyum lebar sambil menyeka air matanya, "udah ya, Mbak. Mbak nggak perlu minta maaf terus. Lagipula segalanya telah terjadi. Tak ada yang perlu disesali. Kalau aku menyesal, sama saja aku menyesali kehadiran Mas Abi dan anak ini," ujarnya dengan tangan kanan menggenggam tangan Abidzar dan tangan kiri mengusap perutnya yang telah membukit. "Mbak tahu, berkat mbak akhirnya aku bisa menemukan kebahagiaanku. Tambatan hatiku. Bahkan sebentar lagi aku akan jadi seorang ibu. Aku bahagia, Mbak. Sangat bahagia." Ucapnya sungguh-sungguh.
Air mata Anisa makin menyeruak. Ia tahu menyangka, perempuan yang dulu ia anggap buruk ternyata memiliki hati seluas samudera. Bahkan ia tak mau menyalahkannya sama sekali. Sebaliknya, ia merasa bersyukur membuat perasaan Anisa makin sesak karena telah bersikap buruk padanya.
Bila Freya yang dulu, mungkin ia akan marah-marah dengan semua orang terutama yang membuatnya mengalami hal menyakitkan dan menyedihkan. Tapi Freya saat ini berbeda dengan Freya di masa lalu. Ia mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ia alami. Sebab pelajaran yang paling baik adalah sebuah pengalaman.
...***...
Selamat menjalankan ibadah puasa, kak. 😘
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1