Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
67


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Laila berada di negeri singa. Tapi selama itu pula, Arifin tak kunjung datang menemuinya seperti yang sudah ia katakan. Padahal 3 hari yang lalu Arifin mengatakan akan segera menyusul, tapi hingga kini Arifin tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Laila yang berada di negeri itu sendirian terang saja merasa kesepian. Ia tidak memiliki sanak saudara di sana. Ia kesana murni untuk liburan yang entah sampai kapan, Laila pun tak tahu. Ia hanya menunggu keputusan suaminya. Sebab baru kali ini ia pergi seorang diri. Tidak seperti biasanya. Sebab biasanya ia bepergian kalau tidak dengan putrinya, Arifin, kadang teman-teman sosialitanya. Kali ini ia benar-benar sendirian.


Sebenarnya ia sadar, ini bukan semata liburan. Tapi lebih tepatnya melarikan diri. Laila pun sudah bosan berada di sana. Bila ada yang menemaninya mungkin ia bisa bersikap biasa saja


Tapi dia benar-benar sendirian di sini.


"Papa mana sih? Katanya mau ke sini, tapi sampai sekarang nggak nongol-nongol juga?" Laila menghela nafas berat. Andai Arifin tidak memperingatinya agar tidak pulang sebelum ia memintanya, mungkin sudah sejak beberapa hari yang lalu ia pulang ke Indonesia. Laila benar-benar tak betah di sana. Meskipun Singapura indah, tapi kalau melakukan perjalanan seorang diri tetap saja rasanya hambar. Tidak menyenangkan. Kurang mengasyikkan.


Sementara itu, tanpa sepengetahuan Laila, Arifin kini tengah bersembunyi di apartemen milik istri keduanya. Ia sedang bersembunyi dari kejaran polisi. Padahal polisi mencarinya untuk dijadikan saksi terlebih dahulu. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan penyelidikan, barulah Arifin akan ditentukan tetap menjadi saksi atau tersangka. Semua tindakan tentu sesuai prosedur yang berlaku. Namun karena Arifin yang telah ketakutan setengah mati, ia memilih melarikan diri. Padahal biasanya Arifin bisa bertindak cerdas, tapi karena ketakutannya sendiri membuatnya bertindak impulsif dengan melarikan diri.


Semua terjadi sejak beberapa hari yang lalu. Saat itu Arifin hendak bertolak dari apartemen istri keduanya menuju bandara. Di perjalanan, ia tidak merasakan apa-apa. Ia pikir semuanya akan terus berjalan sesuai rencananya. Hingga saat ia akan memasuki bandara, tiba-tiba ada dua orang petugas kepolisian berpakaian preman menghentikan langkahnya. Arifin yang terkejut pun tetap bersikap santai. Tanpa mereka tahu, jantung Arifin telah jedag-jedug khawatir. Saat petugas tersebut baru saja menggiringnya menuju mobil mereka, terjadilah keributan sebab di saat bersamaan ada kedatangan artis dari negeri ginseng membuat para fans bertindak di luar kendali. Dan di saat itulah Arifin pun memanfaatkan kesempatan untuk kabur.


"Sayang, kamu bakalan lama tinggal di sini 'kan?" tanya seorang wanita muda sambil bergelayut mesra di lengan Arifin. Perempuan muda bernama Utari. Dia adalah istri muda dari Arifin atau lebih tepatnya selingkuhan sebab Laila pun tidak mengetahui perihal suaminya yang telah menikah lagi di belakangnya.


"Memangnya kenapa? Kamu nggak suka?"


"Eh, siapa yang nggak suka? Justru sebaliknya, aku sukaaaa banget." Iya, senang banget. Jadi aku bisa minta apapun sama kamu. Hehehe ... '


Arifin tersenyum sumringah. Ia lantas meraih pinggang istri mudanya itu dan mengangkatnya ke pangkuannya. Lalu mereka pun melakukan kegiatan yang rutin mereka lakukan setiap mereka bertemu. Usia boleh hampir setengah abad, tapi fisik Arifin masih sangat kuat. Bahkan kemampuannya di atas ranjang pun masih begitu prima. Karena itulah ia menikah lagi secara diam-diam sebab Laila menurutnya sudah tidak semenggairahkan dulu. Kemampuan bercintanya juga begitu-begitu saja membuat Arifin bosan.


Utari sebenarnya adalah mantan office girl di kantornya. Karena tubuh Utari yang sangat molek dan menggoda membuatnya tertarik. Awalnya Arifin hanya memanfaatkan Utari sebagai pemuas napsunya dengan iming-iming uang tentunya. Tapi lama kelamaan Arifin seolah sukar melepaskan Utari. Apalagi Utari begitu pandai menyenangkannya. Jadilah ia menikahi Utari secara diam-diam agar ia bisa bebas melakukannya kapanpun. Agar hubungan mereka tidak terendus, Arifin pun meminta Utari berhenti dari pekerjaannya. Dan disinilah ia berada. Di sebuah apartemen mewah yang terletak di pusat kota. Bagaimana Utari tak bahagia. Meskipun hanya sebatas simpanan, tapi yang penting ia memiliki segalanya. Tanpa perlu bekerja, semua kebutuhannya tercukupi. Bahkan apapun yang ia inginkan, bisa ia beli sekarang. Semuanya tentu saja dengan kuasa uang yang Arifin selalu kucurkan padanya.


Selepas bercinta, Utari tampak tergolek lemas di atas ranjang. Berbeda dengan Arifin yang tampak biasa saja. Ia kini tengah berjalan menuju balkon. Dikeluarkannya batangan tembakau dari kotaknya. Dibakarnya ujung batangan tembakau itu lalu dihisapnya. Asap mengepul keluar dari lobang hidung dan mulutnya. Sudah 3 hari ia terkurung di sini, ingin keluar tapi ia khawatir tertangkap.


Seketika ia memiliki ide bagaimana caranya agar bisa mengintai dengan aman. Ia pun segera mengeluarkan ponselnya dan memesan topi, masker, dan jaket hoodie untuk memudahkan penyamarannya.

__ADS_1


Sebelum menyimpan kembali ponselnya, ia melihat banyak panggilan tak terjawab serta pesan masuk dari istrinya. Ia menghela nafas panjang. Ia pun sebenarnya mengkhawatirkan Laila yang sendirian di luar sana. Tapi ia pun belum bisa menyusulnya. Kalau kepergiannya ke bandara saja bisa ketahuan petugas, sudah dapat ia pastikan pihak kepolisian telah bekerja sama dengan pihak bandara. Jangankan pihak bandara, bahkan terminal, pelabuhan, dan semua jalur transportasi pun pasti sudah dihubungi pihak kepolisian untuk memblokir aksesnya keluar dari kota itu.


[Maaf Ma, aku tidak bisa menyusulmu saat ini. Jaga diri dan hati-hatilah di sana.]


Hanya pesan itu yang bisa ia kirimkan pada Laila. Laila yang mendapatkan pesan tersebut tentu saja berang. Sampai kapan ia harus menyendiri di negeri orang tersebut?


Sementara itu, saat sedang melakukan pekerjaannya, tiba-tiba Tirta mendapatkan telepon. Saat melihat siapa sang penelepon, terang saja Tirta langsung mengangkatnya dengan penuh semangat. Ia harap, orang tersebut dapat memberikannya kabar baik.


"Halo, bagaimana? Kau sudah mendapatkan informasi tentang laki-laki tersebut?"


"Sudah tuan. Namanya Ryan Saputra. Identitas lengkapnya akan segera saya kirim ke email Anda."


"Bagus. Terima kasih. Kalau informasi yang kau dapatkan sesuai keinginanku, aku akan memberikanmu bonus." Setelah mengucapkan itu, Tirta pun segera menutup telepon dan membuka emailnya. Matanya berbinar. Dalam waktu tak sampai 2x24 jam, akhirnya orang suruhannya dapat menemukan semua informasi mengenai laki-laki tersebut. Termasuk informasi terakhir mengenai acara pertunangannya dengan sahabat Erin serta pertengkarannya di mall. Tirta tersenyum sinis. Ia tak menyangka, Erin yang dikenal perempuan baik-baik ternyata kelakuannya sangat-sangat buruk.


Gegas, Tirta ke ruangan Abidzar untuk mengabarkan informasi tersebut.


"Apa?"


"Tolong atur pertemuanku dengan laki-laki tersebut! Kalau bisa, secepatnya."


"Tenang saja. Aku sudah memikirkan itu. Karena itu, siang ini aku izin keluar untuk menemuinya."


Abidzar tersenyum tipis, "kau memang sepupu terbaikku."


"Aku tak butuh pikiranmu." Ketus Tirta.

__ADS_1


"Lantas?" Abidzar pura-pura tak tahu apa yang Tirta inginkan.


"Ck ... tak usah pura-pura bodoh. Kau tahu apa yang aku inginkan."


Abidzar terkekeh setelahnya, "yayaya, tenang saja, aku akan segera mentransfer bonus untukmu. Kalau perlu, kita menjadwalkan liburan. Aku, Freya, dan kau."


Mendengar itu awalnya Tirta tersenyum girang. Jarang-jarang ia bisa mendapatkan kesempatan untuk berlibur, tapi saat membayangkan dirinya sendirian tanpa pasangan, wajah Tirta seketika cemberut.


"Cih, kalian mau jadikan aku obat nyamuk, begitu?" Tirta mendelik tak senang.


Abidzar terkekeh, "salahmu sendiri jadi Jodi."


"Jodi? Apa tuh?"


"Jomblo abadi, bego. Itu aja nggak tahu." Ejek Abidzar membuat Tirta melotot.


"Heh, kalau Freya nggak kamu nikahin, pasti aku udah nggak jomblo lagi. Malah jangan-jangan dia udah hamil anak aku."


Mendengar kalimat tersebut, Abidzar langsung berdiri dengan mata melotot. Bahkan nyaris keluar dari rongganya. Namun dalam hitungan detik, ekspresi itu berubah menjadi seringai mengejek.


"Tapi sayangnya, dia bukan jodoh lu. Hahaha ... " Abidzar tergelak kencang membuat Tirta memberengut masam. Ia lantas memutar badannya dan keluar dari ruangan Abidzar sambil membanting pintu. Abidzar tak marah. Ia justru makin tergelak kencang sampai-sampai ekor matanya berembun.


"Dasar sepupu sialan. Mentang-mentang udah punya bini, 2 lagi, jadi seenaknya ngatain orang. Emang tuh, sepupu nggak ada akhlak." Dengus Tirta sambil berjalan menuju mobilnya. Karyawan Barokah Tour and Travel yang melihat Tirta mengomel dengan wajah cemberut hanya bisa bertanya-tanya, kenapa tangan kanan bosnya itu mengoceh sendiri seperti itu.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2