
Ryan menunduk malu dengan kesalahan yang telah ia lakukan selama ini. Ia bisa melihat bara amarah dalam netra Abidzar. Bukan hanya Abidzar, Tirta yang mendengar cerita yang mengalir dari mulut Ryan pun tak menyangka Erin bisa melakukan hal tersebut. Dia benar-benar rubah betina yang licik dan jahat. Meskipun awalnya semua berawal dari perintah orang tuanya, tapi pada akhirnya Erin melakukannya dengan niatnya sendiri yang ingin memiliki harta Abidzar agar bisa hidup tentram dengan Ryan.
Keduanya pun tak menyangka ada laki-laki seperti Ryan. Baginya Ryan tak lebih dari laki-laki yang tidak memiliki harga diri. Bila dirinya memiliki harga diri, pastilah ia menolak dengan tegas ide gila Erin tersebut. Bahkan ia akan memilih membesarkan anaknya sendiri dan meninggalkan Erin karena apa yang dilakukan Erin itu salah dan perempuan seperti itu tidak pantas untuk diperjuangkan.
"Kau gila," desis Abidzar dengan sorot mata penuh kebencian dan amarah.
Ryan mengangguk, tak menampik ejekan Abidzar.
"Kalau kau tidak gila, kau pasti takkan mau dengan perempuan gila seperti Erin." Imbuh Abidzar dengan sorot mata tak lepas dari wajah Ryan yang meringis merasa bersalah.
"Jangan salahkan, Ryan! Ini bukan murni salahnya," bela Meylin membuat Abidzar terkekeh.
"Lantas harus salahkan Erin? Tentu saja ini salahnya juga. Aku tidak sebodoh itu untuk membenarkan seseorang jelas-jelas bersalah." Delik Abidzar tak suka melihat sikap Meylin yang sok pahlawan.
"Asal kau tahu, perbuatan buruk Erin bukan hanya itu." Ucap Meylin tidak tiba-tiba membuat Abidzar dan Tirta mengalihkan perhatian mereka pada Meylin. Ryan pun meskipun menunduk, tapi telinganya tetap terpasang untuk ikut mendengarkan penuturan Meylin.
"Apa maksudmu? Hal apa lagi yang Erin sembunyikan selama ini?" tanya Abidzar akhirnya.
"Asal kalian tahu, orang yang menyebarkan kalau Freya perempuan murahan adalah Erin. Orang yang menyebarkan foto tak senonohnya di hotel dengan lelaki pun adalah Erin dan laki-laki itu juga merupakan suruhan Erin." Ujar Meylin membuat mata Abidzar dan Tirta terbelalak. Seburuk itukah sifat perempuan yang masih menyandang status sebagai istrinya itu? Ia benar-benar tak menyangka Erin bisa berbuat seperti itu bahkan semenjak dari SMA.
Aneh, padahal Meylin merupakan salah satu sahabat Erin, tapi dia justru dengan santainya mengungkapkan keburukan Erin. Seolah mereka tidak memiliki kedekatan sama sekali dengan Erin.
"Erin sejak dulu iri dengan Freya. Banyak laki-laki yang menyukai Freya, termasuk laki-laki yang ia sukai. Oleh sebab itu, sebisa mungkin ia menjatuhkan nama Freya. Tapi bukannya jijik, semua laki-laki justru makin gencar mendekati Freya. Mereka berlomba-lomba ingin merasakan menjadi teman ranjang Freya seperti yang Erin sebarkan. Dan sebelum keluar dari penjara, Erin pernah melakukan sesuatu agar Freya tidak memiliki pilihan lain selain untuk menerima penawaran kerjasamanya." Ucap Meylin. Ia mengambil minuman yang terhidang di depannya terlebih dahulu dan meminumnya. Tenggorokannya kering karena terlalu banyak bicara.
Mata Abidzar makin terbelalak sempurna.Ia bahkan menegakkan punggungnya agar bisa mendengar lebih jelas penuturan Meylin.
"Apa itu? Apa yang telah dia lakukan sampai Freya mau menerima penawaran kerjasamanya?" tanya Abidzar tak sabar.
"Sebentar." Meylin masih haus. Jadi ia menenggak minumannya lagi. Setelah merasa lega, barulah ia kembali bercerita.
__ADS_1
"Ya, sebenarnya ada andilku dalam rencananya itu." Meylin melirik Ryan yang sepertinya juga menunggu kelanjutan ceritanya, "dengan bantuanku, Erin menyuruh seseorang yang satu sel dengan Freya untuk menyiksa Freya. Dengan uangnya, Erin berhasil melakukan rencananya. Orang tersebut membuat Freya babak belur. Ia menyiksanya dan mengambil makanannya. Orang itu juga pernah membuat Freya sampai masuk rumah sakit. Di saat itulah Rin datang bak malaikat yang memberikan pertolongan. Awalnya Freya hendak menolak. Kemudian ia meminta waktu berpikir. Lalu beberapa hari kemudian, Erin datang lagi, dan sesuai rencana, Freya pun menyetujui tawarannya. Sebenarnya tujuan awal Erin bukan untuk mendapatkan bayi, tapi membuat Freya tersiksa karena ia tahu kau membencinya. Ibarat kata, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Kalian bisa mendapatkan anak, sekaligus membuat Freya tersiksa lahir dan batin." Papar Meylin membuat dada Abidzar bergemuruh.
Brakkk ...
Suara tinju beradu dengan meja terdengar menggema di ruangan VVIP itu. Beruntung ruangan itu kedap suara jadi suara tinju yang beradu dengan meja tersebut tidak menimbulkan keributan di cafe tersebut.
"Bajingaan kalian! Kalian itu sebenarnya manusia atau iblis, hah? Tindakan kalian sungguh keterlaluan. Kau tahu, akibat perbuatan kalian, seluruh tubuhnya dipenuhi luka dan lebam." Bentak Abidzar membuat Meylin dan Ryan terjingkat kaget. "Kau ... " Tunjuk Abidzar pada Ryan, "hanya laki-laki bodoh yang mau dengan perempuan berhati iblis seperti ini." Abidzar menyunggingkan senyum sinis sekaligus mengejek.
Jelas saja Meylin membelalakkan mata. Ia tak menyangka Abidzar akan melontarkan kata-kata sarkas seperti itu.
Setelah mengucapkan itu, Abidzar dan Tirta pun segera menyingkir dari sana.
Namun, baru saja ia berdiri d depan pintu keluar, Abidzar memutar kembali langkahnya dan berdiri di samping Ryan yang mendongakkan kepalanya, menatap bingung mengapa Abidzar kembali.
Lalu hal tak terduga terjadi, Abidzar tiba-tiba saja meraih kerah baju Ryan. Ia menariknya kencang hingga Ryan pun telah berdiri di hadapan Abidzar dengan leher nyaris tercekik. Lalu tanpa ba bi bu, Abidzar melayangkan bogem mentahnya tepat di rahang kanan dan kiri Ryan tanpa melepaskan cengkeramannya di kerah baju Ryan. Setelahnya, Abidzar tersenyum menyeringai.
"Itu adalah hadiah dariku karena telah membantu Erin menipuku selama bertahun-tahun."
Bugh ...
Abidzar menonjok tepat di hidung Ryan membuat darah segar mengalir dari lubang hidungnya.
"Itu untuk perbuatan kotormu yang menjijikan." Setelah mengucapkan itu, Abidzar melepaskan cengkeramannya dengan kasar membuat Ryan jatuh tersungkur dan kepalanya membentur meja.
Meylin memekik takut sekaligus khawatir. Berbanding terbalik dengan Tirta yang tampak santai. Ia justru telah menantikan hal ini dari tadi. Tadinya ia ingin mengumpat kesal karena Abidzar tidak memberikan pelajaran apa-apa pada Ryan. Setelah meluapkan kekesalannya, Abidzar pun segera beranjak dari sana. Meninggalkan Ryan yang sudah terbatuk-batuk dan Meylin yang wajahnya telah pucat karena panik.
Di tempat parkir, Tirta akhirnya bisa tertawa lepas. Puas sekali rasanya ia melihat Ryan jatuh tersungkur dengan wajah babak belur. Ia bahkan menepuk pundak Abidzar menunjukkan kalau ia bangga pada sepupunya itu. Begitulah laki-laki, bila egonya tersentil, sesabar apapun dia, pasti tangannya akan bermain dan melayang di wajah orang tersebut untuk melampiaskan kekesalannya.
"Aku pikir kau bakal diam saja setelah mengetahui fakta mengejutkan tersebut. Aku tadi sampai gedek banget. Asli, muak banget sama mereka. Tapi yang lebih buat aku kesal, kamu diam aja, nggak ada tindakan buat ngehajarnya sama sekali. Eh taunya, ah puas banget liat laki-laki bodoh itu tersungkur kayak gitu. Asli, dia benar-benar laki-laki bodoh. Mau-maunya nunggu perempuan sampai segitunya." Cerocos Tirta. Tapi Abidzar hanya diam sebab pikirannya tengah dipenuhi fakta-fakta tak terduga yang baru ia ketahui.
__ADS_1
Tirta yang merasa tidak mendapatkan respon pun menoleh. Ia paham bagaimana perasaan sepupunya saat ini. Ia hanya bisa mendukung apapun tindakan yang akan Abidzar ambil.
"Perbuatan Erin sungguh tak termaafkan. Tak ada lagi yang harus aku pertahanan. Secepatnya, aku akan menceraikan dia." Tukas Abidzar dengan gigi bergemeretak. Dadanya bergemuruh. Andai Erin laki-laki, mungkin ia sudah menghajarnya tanpa ampun.
Tirta menepuk pundak Abidzar, "aku dukung keputusanmu. Perempuan seperti Erin memang tak layak untuk dipertahankan. Perbuatannya sudah amat sangat keterlaluan." Ujar Tirta mendukung keputusan Abidzar.
Abidzar tersenyum lemah, "thanks selalu ada buatku, Ta. Kalau begitu, aku balik dulu. Kau juga langsung balik. Nggak ada juga yang mesti kau apelin kan!" ledek Abidzar sebab malam itu merupakan malam Minggu.
"Sialan loe! Doain kek biar cepat dapat jodoh jadi aku nggak perlu nungguin Freya lagi." Sahut Tirta dengan wajah cemberut membuat Abidzar akhirnya bisa terkekeh.
"Ya, udah, aku doain semoga malam ini juga kamu ketemu dengan jodohmu." Ujar Abidzar entah tulus atau hanya sekedar gurauan. Tapi tak pelak, Tirta aamiinkan.
"Aamiin. Semoga aja doamu langsung terkabul." Ujar Tirta sumringah.
"Oh ya, yang tadi, nggak lupa kamu rekam 'kan?" tanya Abidzar sebab sebelum Ryan dan Meylin tadi datang, ia meminta Tirta merekam pembicaraan mereka.
"So pasti. Kau tenang saja, semua telah aku rekam dengan sempurna. Nanti setibanya di rumah aja baru aku kirim, nggak masalah 'kan!"
"Oke, no problem. Aku balik dulu" pamit Abidzar yang diangguki Tirta.
Setelah memastikan Abidzar pergi dari cafe tersebut, Tirta pun melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Namun baru saja ia hendak membuka pintu mobilnya, mata Tirta seketika memicing saat melihat seseorang yang ia kenali sedang asik nongkrong dengan teman-temannya. Mereka tampak akrab dan penampilannya jauh berbeda dari yang biasanya ia lihat.
Tirta sampai mengucek kedua matanya berkali-kali untuk memastikan. Namun apa yang ia lihat benar, ia tidak salah lihat maupun mengenali.
"Bukankah itu ... "
...***...
Ayo, Tirta liat siapa ituuuuu???? 😄😄😄
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...