
"Mas, nggak pulang ke rumah?" tanya Freya selepas mereka makan malam.
"Malas." Jawab Abidzar singkat. Sedari pulang tadi, Abidzar belum juga mengaktifkan ponselnya. Ia lantas berjalan menuju nakas dan mengambil ponsel yang beberapa hari ini dinonaktifkannya. Ia bermaksud mengaktifkannya sekarang.
Freya lantas mendekat ke arah Abidzar dan memeluknya dari belakang.
"Mas, aku tahu Mas kecewa dengan Erin, tapi nggak gini caranya. Meskipun Erin salah, tapi dia tetap istri Mas. Mas memiliki kewajiban untuk memperhatikannya. Kasihan Erin bila Mas abaikan terus kayak gini. Mas, pulang ya! Temui dia. Jangan biarkan masalah terus berlarut-larut seperti ini. Aku yakin, Erin pasti sudah menyesali kesalahannya." Tukas Freya bijak. Bagaimana pun ia pernah merasa di posisi Erin. Diabaikan itu rasanya menyakitkan.
Abidzar menghela nafasnya lalu mengusap lengan Freya. Sebenarnya ia benar-benar malas bertemu Erin saat ini. Rasa kecewa dan sakit hatinya masih begitu terasa. Tapi seperti yang Freya katakan, ia tak boleh membiarkan masalah kian berlarut-larut.
Abidzar pun mengangguk. Freya tersenyum. Tiba-tiba saja ponsel Abidzar berdering. Dahi Abidzar mengernyit, sepertinya Tirta sudah menunggu ponselnya aktif sebab baru hitungan detik ponselnya aktif, Tirta sudah menghubunginya.
"Halo, assalamu'alaikum." Ucap Abidzar setelah mengangkat panggilan itu.
"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah, akhirnya nomor loe aktif juga, Bi." Seru Tirta girang sekaligus lega.
Jelas saja dahi Abidzar berkerut dalam. Ia begitu penasaran, kenapa Tirta tampak begitu lega. Dia sudah seperti seorang kekasih yang lega karena bisa menghubungi pasangannya.
"Kenapa loe? Kangen? Baru juga 3 hari gue pergi, udah kangen aja." Celetuk Abidzar seraya terkekeh. Berbanding terbalik dengan Freya yang sudah mengerutkan dahinya. Dia memang tidak mendengar apa yang Tirta katakan, tapi mendengar apa yang suaminya katakan jelas saja membuatnya merasa geli. Abidzar lantas meraih pundaknya dan membawa Freya duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.
"Kangen? Najong. Loe pikir gue kaum melehoy? Amit-amit jabang dedemit." Omel Tirta membuat Abidzar tergelak kencang.
"So, kenapa loe kayak lega banget akhirnya bisa menghubungi gue? Ada sesuatu yang penting kah?"
"That's true. Bukan hanya penting, tapi sangat-sangat penting dan luar biasa. Gue yakin setelah mendengar apa yang ingin gue sampaikan, loe bakalan syok. Syukur-syukur loe nggak jantungan terus meninggoy. Kalau itu sampai terjadi, berarti rejeki gue bisa jadi calon suami Freya berikutnya." Tukas Tirta seraya ngakak.
Jelas saja Abidzar mengumpat kesal, "setan loe ya! Loe mau nyumpahin gue meninggal? Dengar ini, sampai aku mati pun, aku takkan pernah membiarkan mu mendekati Freya apalagi menjadikannya istri. Gue bakal gentayangin loe dimana pun dan kapan pun itu." Ketus Abidzar membuat Tirta di seberang sana makin terbahak-bahak.
Freya yang mendengar apa yang Abidzar ucapkan sontak saja menatap horor Abidzar. Abidzar yang sadar dengan tatapan horor tersebut lantas mengecup bibir Freya singkat kemudian mengedipkan sebelah matanya. Pipi Freya pun seketika bersemu merah dan segera memalingkan muka.
"Gue serius Bi, apa yang mau gue sampaikan ini benar-benar penting. Sebenernya gue bisa aja langsung kasi tau di telepon, tapi kayaknya lebih seru ketemu deh. Bisa kita ketemuan sekarang?" Ujar Tirta yang sudah mode serius.
__ADS_1
"Oke, gue juga sebentar lagi mau pulang jadi sekalian aja kita ngopi bentar di tempat biasa, gimana?"
"Oke. Gue otw sekarang." Setelah mengucapkan itu, Tirta langsung saja menutup panggilan telepon membuat Abidzar geleng-geleng kepala.
"Dasar, bocah nggak ada akhlak. Ucap salam kek, main tutup aja." Omel Abidzar.
"Sayang," panggil Abidzar.
"Ya? Mas udah mau pergi sekarang?"
Ditanya seperti itu, Abidzar berdecak, "kayaknya pingin banget liat Mas cepat-cepat pergi."
Freya tersenyum, "kan cuma nanya."
"Ya udah, Mas pergi dulu ya. Kalau butuh sesuatu atau ingin sesuatu atau ada apa-apa, hubungi Mas aja ya."
Freya mengangguk, "hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan bertengkar lagi apalagi marah-marah." Freya memperingatkan Abidzar.
Sebelum pergi, Abidzar memeluk erat tubuh Freya. Tak lupa ia melabuhkan banyak ciuman di wajah Freya membuat wanita hamil itu terkekeh geli. Tak ketinggalan, Abidzar mengecup perut buncit Freya.
"Dedek sama bunda dulu, ya. Ayah malam ini tidak tidur bareng dedek jadi dedek jangan buat bunda susah ya. Baik-baik di dalam." Bisik Abidzar. Setelahnya, ia kembali mengecup perut buncit Freya dengan sayang. Tak dapat Freya pungkiri, Abidzar memang tampak begitu menyayangi dirinya pun dengan calon buah hatinya.
Setelah acara kecup-kecup sayang, Abidzar pun pergi menuju cafe langganan Tirta dan Abidzar.
Setibanya di lokasi, Abidzar masuk ke dalam cafe. Dicarinya Tirta yang katanya telah tiba sejak beberapa menit yang lalu. Setelah ketemu, ia pun langsung mendekat dan duduk berhadapan dengan Tirta yang tengah menyesap cappucino miliknya.
"Ada kabar apa sih kayak penting banget? Awas kalau loe cuma mau ngerjain gue." Ketus Abidzar membuat Tirta mendengkus.
"Ya kali gue demen banget ngerjain loe. Kalau nggak penting, mending gue tiduran sambil nonton."
"Nonton sambil tiduran, bukan tiduran sambil nonton." Sanggah Abidzar.
__ADS_1
"Terserah gue dong, mau tiduran sambil nonton apa nonton sambil tiduran. Mulut-mulut gue, kenapa loe yang sewot?" Omel Tirta.
Abidzar mendengkus, memang benar sih. Tapi memang, bicara dengan Tirta selalu saja membuatnya kesal.
"Ya terserah loe lah. Sekarang katakan, apa yang kata loe penting banget itu."
Tirta pun mengangguk, kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Bi, loe tau, hari pertama dimana loe izin nggak masuk kerja tempo hari, gue liat Erin ketemuan sama cowok." Tutur Tirta. Abidzar tak mau menyanggah. Ia masih fokus mendengarkan kelanjutan cerita sepupunya tersebut. "Gue pikir, cowok itu cuma sekadar teman biasa aja, tapi ternyata sebaliknya. Benar-benar di luar dugaan. Gue sampai speechless."
"Apa maksud loe, dia kekasih Erin? Erin selingkuh?" Terka Abidzar dengan mata memicing.
Tirta tersenyum menyeringai, "lebih dari itu." Ucapnya sambil menekan layar ponselnya. "Loe buka pesan gue. Lihat dan dengarkan. Gue yakin, loe bakal syok setelahnya."
Dahi Abidzar mengernyit, tapi ia menuruti ucapan Tirta. Dilihatnya pesan masuk itu berupa video. Penasaran, Abidzar pun mendownload video tersebut. Setelah sukses terdowload, ia pun segera menekan tombol putar. Dilihatnya, memang di video itu Erin tampak sedang berbicara serius dengan seorang laki-laki yang seumuran dengannya. Didengarkannya setiap percakapan keduanya. Makin lama, pembicaraan tersebut kian serius. Jantung Abidzar berpacu begitu kencang saat mengetahui fakta yang tak pernah ia ketahui selama ini. Mulai dari anak. Ternyata Erin memiliki anak dengan laki-laki tersebut. Lalu permintaan laki-laki itu agar Erin memilih, tapi Erin meminta laki-laki itu bersabar menunggu dirinya hingga ia berhasil mendapatkan hartanya. Kemudian fakta kalau sebenarnya Erin bukannya mandul, melainkan ia sengaja memakai kontrasepsi jangka panjang agar tidak memiliki keturunan dengannya.
Jantung Abidzar berdetak dengan sangat kencang. Kenyataan ini benar-benar membuat Abidzar bukan hanya marah tapi juga kecewa berat. Amarahnya membuncah. Abidzar sampai tak bisa berkata-kata lagi. Wajar saja Tirta sampai mengatakan syukur-syukur dia tak jantungan sebab memang apa yang ia dengar mampu membuat jantungnya bagai ditikam ribuan belati.
Bagaimana bisa, ia ditipu mentah-mentah Erin selama ini?
Erin ternyata telah memiliki seorang anak dari laki-laki lain. Pantas saja saat ia pertama kali memasuki Freya, ia merasa begitu berbeda dengan Erin padahal mereka sama-sama vir gin saat itu. Tapi nyatanya, ia telah ditipu. Erin memang tidak vir gin saat itu. Ia yakin, Erin telah melakukan operasi selaput dara sebelum menikah dengannya.
Banyak hal yang masih mengganjal dalam hatinya. Ia harus mengupas tuntas segala rahasia Erin. Sementara waktu, ia akan berpura-pura tidak mengetahui tentang rahasia ini. Namun bukan berarti dia akan diam saja. Tapi ada satu hal yang pasti, ia sudah tak bisa lagi mempertahankan rumah tangganya. Terlalu banyak hal menyakitkan yang Erin lakukan di belakangnya. Terlalu banyak kebohongan yang telah Erin lakukan. Kesalahannya begitu fatal. Ia tentu tak bisa menerima semua itu. Erin telah menipunya. Menipu seluruh keluarganya. Kejahatan Erin benar-benar tak termaafkan dan perceraian mungkin adalah keputusan paling tepat bagi mereka.
Dengan tangan terkepal erat, ia pun meminta bantuan Tirta, "Ta, tolong cari tahu mengenai laki-laki tersebut dan pertemukan aku dengannya. Secepatnya." Titah Abidzar yang sudah tak mampu membendung amarah dan sakit hatinya.
"Baiklah. Sesuai permintaanmu. Aku akan mempertemukan kalian secepatnya." Jawab Tirta cepat.
...***...
Maaf ya kak, baru sempat update. Ini pun cuma bisa satu bab. Sakit kepala othor makin menjadi. Mana si bocil rewel. Aduh, paket komplit! 😵💫😭
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...