
Bila Ana dan Tirta baru saja pulang dari berbulan madu, maka kini giliran pengantin lama serasa baru Abidzar dan Freya yang pergi berbulan madu.
Sebenarnya Freya sedikit ragu pergi berbulan madu sebab ia merasa berat meninggalkan putranya. Ya, mereka pergi berbulan madu hanya berdua saja. Sagita sendiri yang menganjurkan hal tersebut. Untuk menenangkan Freya, Sagita sendiri menawarkan diri untuk merawat cucu kesayangannya. Yang penting stok ASI tersedia jadi ia meminta Freya untuk tidak terlalu khawatir. Apalagi Abrisham memang sepertinya lengket dengan neneknya tersebut. Terbukti Abrisham selalu anteng di bawah pengasuhan Sagita.
"Mas, kira-kira Abri entar rewel nggak ya? Rasanya nggak enak banget jauh dari Abri. Baru kali ini pisah sama Abri, mana sampai seminggu juga." Keluh Freya sambil menyandarkan kepalanya di pundak Abidzar. Saat ini mereka sedang berada di pesawat menuju ke destinasi tujuan mereka.
Abidzar lantas menggenggam tangan Freya sambil tersenyum, "sabar. Nggak perlu khawatir gitu, mama pasti akan menjaga Abri dengan baik. Percaya deh."
"Aku sih percaya, Mas. Siapa pula yang nggak percaya. Malah ya Mas, Abri itu lebih lengket sama Oma nya dibanding aku. Aku sampai cemburu."
Mendengar keluhan sang istri, sontak saja Abidzar terbahak. Ia lantas menutup mulutnya dengan cepat saat sadar beberapa pasang mata telah terarah pada dirinya. Abidzar sampai menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan permintaan maaf.
"Aaakh ... " Sebuah cubitan mendarat di lengan Abidzar membuat laki-laki itu meringis.
"Makanya, ketawa itu dikontrol. Nggak ingat kita ada dimana," desis Freya dengan mata melotot.
Bukannya takut, Abidzar justru mengulum senyum. Baginya pelototan Freya bukannya terlihat menakutkan, sebaliknya, menggemaskan. Seandainya ini di dalam pesawat pribadi, sudah ia sambar bibir merah muda istrinya itu kemudian memagutnya dengan mesra dan panas.
Duh, baru membayangkannya saja sudah membuat miliknya berkedut. Ia heran, kenapa makin hari istrinya itu makin terasa candu. Jangankan untuk memandang, menikmati setiap inci kulitnya saja tak pernah ia merasa bosan. Mungkin inilah yang dikatakan bucin.
Ya, Abidzar sadar dirinya sudah sebucin itu pada istrinya.
...***...
Setelah menempuh perjalanan udara sela berjam-jam, akhirnya pesawat yang Abidzar dan Freya tumpangi mendarat di bandara yang ada di kepulauan Maldives. Mata Freya sampai melotot saat menyadari dimana mereka kini berada. Dulu Freya sempat berkhayal melakukan bukan madu dengan suami tercintanya di sini, tapi sayang impian tinggallah impian. Sebelum keinginannya terwujud, perceraian justru yang ia dapatkan. Tapi Freya tak menyesalinya sebab apa yang ia tabur, itu yang ia tuai. Lalu kini, setelah nyaris melupakan impiannya, tanpa diduga laki-laki yang berhasil meluluhlantakkan hatinya itu membawanya ke mari. Sungguh kejutan yang luar biasa. Ia benar-benar tak menduganya. Pantas saja suaminya itu tidak mau memberitahukan kemana destinasi bulan madu mereka sebab bila ia tahu terlebih dahulu, sudah pasti kejutannya takkan sesurprise ini.
"Mas, ini ... " Lidah Freya kelu. Ia tak mampu mengucapkan meskipun satu patah kata. Ia terlalu bahagia sampai-sampai ekor matanya mengeluarkan bulir bening akibat rasa haru yang terlalu luar biasa.
Abidzar lantas merengkuh pinggang Freya sambil tersenyum lebar, "bagaimana? Kau suka?"
Freya yang tak mampu membendung rasa harunya pun menangis sambil berhambur ke pelukan Abidzar. Ia menangis tergugu dalam pelukan suaminya.
"Suka. Sangat-sangat suka. Terima kasih, Mas. Mas memang suami yang terbaik," ucap Freya di sela isakannya.
"Baguslah kalau kau suka."
"Tapi bagaimana Mas tahu aku memiliki impian pergi ke sini?" tanya Freya dengan tatapan memicing.
Feeling," jawab Abidzar asal sambil senyum-senyum.
"Ckkk ... nggak usah bohong, ayo jujur!" kejar Freya masih penasaran.
"Ih, siapa yang bohong. Emang feeling kok." Kekeh Abidzar yang padahal sebenarnya ia pernah melihat riwayat pencarian di ponsel Freya. Di sana ia melihat kalau istrinya itu melihat-lihat foto pemandangan di pulau romantis tersebut. Namun saat itu Freya tengah hamil besar jadi tak mungkin ia bisa mewujudkan keinginan istrinya itu berlibur ke pulau yang terkenal akan keindahannya tersebut.
Oleh sebab itu, saat merencanakan pernikahan mereka beberapa waktu lalu, ia pun merencanakan merealisasikan keinginan istrinya berlibur ke Maldives alih-alih berbulan madu. Dan sesuai harapannya, Freya tampak begitu bahagia dan merupakan sebuah kepuasan tersendiri bisa membuat istrinya itu merasa amat sangat bahagia.
Tak ingin banyak bertanya, Freya pun memilih menikmati perjalanan menuju lokasi tujuan. Perjalanan yang mereka tempuh ternyata tidak singkat sebab setelah melalui perjalanan darat, mereka pun harus melewati perjalanan laut. Ternyata tempat tujuan mereka terletak di sebuah pulau kecil yang tepat menghadap ke laut. Air laut yang jernih kebiruan membuat perasaan Freya terasa damai dan bahagia. Dalam hati ia mengucapkan syukur, ternyata setelah perjalanan panjang kisah cintanya, akhirnya ia bisa melabuhkan hati pada orang yang tepat. Abidzar, dia adalah anugerah terindah dalam hidupnya. Ia harap, ia dan Abidzar akan terus berjodoh sampai ke Jannah-Nya.
__ADS_1
Dua Minggu kemudian,
"Ah, akhirnya hari ini tepat satu bulan setelah pernikahan Ana dan Tirta. Pasti pagi ini akan ada kabar baik. Huh, rasanya nggak sabar menantikan kabar baik itu," gumam nenek setelah selesai melingkari tanggal di kalender.
"Nenek lagi ngapain?" tanya Ana yang baru saja turun dari anak tangga bersama Tirta. Tirta akan pergi bekerja, tapi sebelum itu, ia akan mengantarkan Ana ke kampus terlebih dahulu. Setelah kepulangan mereka dari bulan madu, Tirta memang langsung mengurus administrasi kuliah Ana agar ia bisa kembali melanjutkan studinya yang tertunda.
"Nah, kebetulan kamu muncul, Sayang. Sini, sini," panggil nenek. Lalu ia mengusap perut rata Ana dengan penuh semangat. Ana dan Tirta pun saling menoleh, tak mengerti dengan apa yang neneknya lakukan.
"Nenek kenapa?" tanya Tirta.
"Kamu ada keluhan apa hari ini? Mual? Pusing? Mata berkunang-kunang? Lemas? Nggak berselera makan? Ayo, apa? Atau kamu ada pingin makan sesuatu, nanti nenek minta Odah masakin buat kamu," tukas nenek penuh semangat. Riana yang melihat ibu mertuanya dan putra serta menantunya berbincang pun ikut mendekat.
"Kalian sedang apa?" tanya Riana yang merasa penasaran.
"Nggak tau Ma, nenek aneh tiba-tiba pegang perut Ana terus ngoceh nggak jelas," sahut Tirta bernada mencibir. Nenek mendengkus sebal karena perkataan cucunya tersebut.
Riana yang tak sengaja menoleh ke arah kalender tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia lantas tersenyum menyeringai ke arah sang mertua yang wajahnya telah ditekuk.
"Enak aja ngoceh nggak jelas. Nenek itu cuma mau ngasih perhatian sama calon cicit nenek di dalam sini," jawab nenek sambil menunjuk ke perut Ana.
Sontak saja Tirta dan Ana membulatkan mata mereka.
"Sayang, kamu hamil?" tanya Tirta tiba-tiba. "Kok nggak ngasi tau aku duluan sih? Malah nenek yang lebih dulu tau," protes Tirta kesal.
"Eh, hamil? Siapa? Aku? Nggak. Hamil dari mana? Aku aja nggak tau apa-apa kok, Aak."
"Aku beneran nggak tahu, Aak. Aku aja nggak ngerasa tanda apa-apa kok."
"Tuh, nek, nenek tau dari mana Aja hamil? Jangan bilang nenek cuma menduga-duga ya?"
"Ya, ya, ya, kan nenek menghitung waktu sejak pertama kali kalian menikah terus malamnya kalian pasti ekhem-ekhem kan? Udah 1 bulan ini lho. Pengalaman nenek dulu, 1 bulan setelah menikah, nenek langsung hamil papa kamu. Mama kamu dulu gitu juga, iya kan Ri?" Nenek menoleh ke arah Riana.
Memang benar apa yang dikatakan ibu mertuanya itu, tapi bukankah setiap orang mengalami proses reproduksi berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Bahkan ada yang sulit sehingga membutuhkan bantuan pihak medis untuk memperlancar prosesnya. Dan Riana tidak akan menuntut anaknya agar segera memberikannya seorang cucu. Sebab tuntutan seperti itu justru akan membuat pasangan tertekan dan hal itu bisa berdampak buruk. Bukannya menantunya cepat hamil, justru sebaliknya membuatnya sulit hamil akibat beban pikiran dan tekanan dari orang-orang sekitar mengenai pertanyaan 'kapan hamil?'.
Mendengar pernyataan itu, tiba-tiba membuat Ana gusar. Bagaimana tidak, hingga saat ini ia belum merasakan tanda-tanda kalau ia hamil. Memang malam pertama mereka dilakukan saat masa suburnya sebab hari dimana mereka menghabiskan malam pertama, hari itu juga merupakan hari pertama ia selesai haid.
Ana tiba-tiba khawatir. Bagaimana kalau ia divonis sulit hamil atau yang lebih parah, ia mengalami suatu kondisi yang disebut infertil. Wajah Ana tiba-tiba pucat. Bagaimana kalau memang ia tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga itu? Apakah ia akan dibuang karena tidak bisa melahirkan seorang bayi?
"Ma," tegur Riana tak cemas saat melihat wajah Ana yang tadinya cerah tiba-tiba memucat.
"Kamu kenapa sih, Ri? Jawab aja jujur, siapa tau memang Ana sudah hamil."
"Nek, kami baru nikah satu bulan, lagipula belum ada tanda-tanda Ana hamil. Tolong jangan buat Ana jadi tertekan karena pertanyaan nenek ini," ucap Tirta serius. Melihat ekspresi Ana, Tirta bisa menyimpulkan kalau perasaan istrinya itu mendadak tidak baik-baik saja.
Nenek mendengkus sebal, "ya udah, Huat mastiin gini aja, nih coba ini!" Nenek lantas mengeluarkan dua buah benda pipih dari saku celananya. Mata ketiga orang itu sampai membeliak kaget. Ternyata si nenek telah mempersiapkan segalanya. "Coba aja dulu! Kalau hamil ya Alhamdulillah, kalau nggak ya ... "
Nenek menatap Tirta dan Ana bergantian. Wajah Ana kian pias ditatatap seperti itu.
__ADS_1
"Ma ... "
"Apa sih?" cetus nenek sambil menepis tangan Riana yang menyentuh pundaknya. "Kalau nggak ya berarti bibit kamu nggak top cer jadi kau harus meningkatkan jam terbang kalian," tukas nenek membuat Tirta mendengkus sebal, sedangkan Riana mesem-mesem.
"Ya udah sayang, biar nenek puas, ayo kita tes sekarang. Buruan, entar kamu terlambat ngmpus lho," Tirta lantas menggestur Ana agar kembali naik ke tangga menuju kamar mereka. Setibanya di kamar, Tirta lantas membaca petunjuk pemakaian tes pack tersebut. Maklumlah, ini pertama kalinya ia ingin memeriksakan kehamilan istrinya. Ia hanya sekedar tahu apa nama alat tersebut, tapi ia belum tahu cara penggunaannya, begitu pula dengan Ana. Setelah paham, ia pun langsung membantu istrinya untuk melakukan pengecekan.
"Aak di luar aja, aku bisa sendiri," usir Ana secara halus saat Tirta hendak membantunya menampung urin.
Tirta menggeleng tegas, "aku mau selalu terlibat dalam setiap proses pemeriksaan seperti ini. Siapa tahu kamu beneran hamil kan! Maka aku akan jadi ayah yang paling bahagia karena terlibat langsung dan jadi orang pertama yang mengetahui kehadirannya di dalam sini," ujar Tirta sambil mengusap perut rata Ana. Ana yang tak mampu membantah pun segera melakukan apa yang suaminya perintahkan.
Setelah selesai, Tirta langsung mencelupkan kedua buah test pack tersebut ke dalam gelas yang berisi urin Ana. Setelah beberapa saat kemudian, Tirta mengangkat test pack tersebut dan memperhatikannya. Ana menunggu hasilnya dengan perasaan campur aduk. Melihat Tirta menggeleng, bahu Ana terasa lemas seketika.
"Garis satu ya, Ak?" tanya Ana lemas.
Tirta mengangguk, "udah, nggak usah galau gitu. Namanya juga kita baru nikah jadi wajar kalau kamu belum hamil," ucap Tirta mencoba menenangkan Ana yang tampak gelisah.
"Tapi kata nenek, nenek dulu langsung hamil setelah satu bulan menikah, terus mama juga, bagaimana kalau ... "
"Jangan menduga-duga kayak gitu, nggak baik. Ingat, ucapan itu adalah doa. Ucapkan saja hal-hal yang baik. Mungkin Allah mau kita pacaran halal dulu. Seperti kata nenek tadi, mungkin benihku memang nggak top cer atau jam terbang kita kurang tinggi, jadi ... " Tirta lantas tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jadi apa?" tanya Ana polos.
"Jadi kita mesti sering-sering melakukannya, benar kan?"
Mendengar itu, Ana berdecak dengan wajah memerah.
"Itu mah maunya Aak." Tirta tergelak mendengarnya.
"Ya udah, kita laporan dulu sama nenek. Pasti dia udah nggak sabar nunggu hasilnya."
Ana mengangguk kemudian mengikuti langkah Tirta menuju pintu. Namun, baru saja pintu terbuka, Tirta pun geleng-geleng kepala sebab ternyata sang nenek tengah berdiri di depan kamar mereka. Sepertinya sang nenek sudah tak sabar menantikan kabar baik dari sepasang suami istri tersebut.
"Bagaimana? Kamu udah hamil kan, Nak?" tanya nenek tak sabaran.
Ana menoleh pada Tirta. Tirta lantas menggenggam tangan Ana sambil tersenyum lembut, "maaf nek, calon cicit nenek kayaknya masih pingin liat ayah bundanya pacaran dulu, jadi ... "
"Jadi ... " Nenek menghela nafasnya sambil menoleh ke arah Riana yang telah tersenyum lebar.
"Aha, mama kalah! Siap-siap pakai baju nanny," seru Riana sambil tergelak kencang. Ana dan Tirta mengerutkan keningnya tak mengerti. Kemudian Riana pun menjelaskan perihal taruhan antara dirinya dan sang ibu mertua. Sontak saja, Ana dan Tirta tergelak kencang. Mereka sudah tak sabar menantikan si nenek menggunakan baju nanny di kesehariannya selama 1 bulan ini.
"Eh, taruhan apa? Mama nggak merasa punya taruhan apa-apa sama kamu. Jangan mengada-ada deh kamu, Ri!" Kilah nenek yang tak ingin mengakui perihal taruhan tersebut.
"Mama nggak bisa berkilah, Riana punya buktinya lho! Nih kalau nggak percaya!" Riana lantas memutar rekaman taruhan antara dirinya dan ibu mertua. Nenek yang merasa tersudutkan akhirnya tak bisa mengelak lagi. Dengan wajah masam, ia bergegas menjauh dari ketiga orang itu dengan mulut yang komat-kamit.
"Kenapa pula aku ngajak menantu kurang ajar itu taruhan? Ah, kenapa pula Ana belum hamil? Masa' aku harus pake baju nanny sih? Ya ampun, apa kata orang-orang kalau liat aku pakai baju nanny?" Si nenek bergidik sendiri membayangkan dirinya memakai baju ala nanny. "Mending aku ngurung diri di kamar aja deh selama 1 bulan daripada jadi bahan ghibah orang-orang. Ya, gitu aja deh! Duh, nggak bisa spa dan meni pedi dong bulan ini? Oh iya, bukannya seminggu lagi ada penampilan Obbie Messakh? Aduh, gimana ini? Ah, aku pergi diam-diam aja! Ya, ya, ya, aku akan pergi diam-diam," gumam Nenek sambil menuruni anak tangga. Ana, Tirta, dan Riana hanya bisa tergelak melihat tingkah nenek yang memang terkadang menggelikan.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...