Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Menggelikan


__ADS_3

Saat Freya, Abidzar, dan keluarganya sedang sibuk bercengkrama di pekarangan rumah sambil memanggang daging ala-ala pesta barbeque, Aja, bi Asih, dan art lainnya tampak membereskan bagian dalam rumah serta dapur. Merasa tak ada yang harus ia kerjakan lagi sementara ini, Ana pun berniat melipir ke taman samping. Tadi ia sempat melihat taman tersebut, tapi belum sempat menghampiri.


Ana duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap ke sebuah kolam ikan kecil. Pikirannya menerawang, memikirkan bagaimana keadaan ibunya saat ini.


Sebenarnya Ana begitu merindukan ibunya, tapi kekecewaannya begitu besar, bukan hanya pada sang ibu, tapi laki-laki yang kini berstatus sebagai ayah sambungnya.


Seketika, tangannya mengepal. Setiap mengingat laki-laki yang umurnya hanya terpaut 10 tahun darinya itu, hatinya seketika meradang. Rasa benci, marah, kecewa, dan sakit hati, bahkan mungkin dendam menyeruak memenuhi rongga dadanya. Entah sampai kapan rasa itu akan terus bertahan dalam dadanya. Ingin melupakan, tapi setahun lebih telah berlalu, namun semua rasa itu tetap sama. Tidak berubah ataupun berkurang sedikit pun.


Ana sudah berusaha berdamai dengan keadaan, tapi kenyataannya tak semudah itu. Kebencian dan kekecewaan itu terlalu besar sehingga untuk berhadapan saja, Ana merasakan sesak di dadanya. Apalagi harus bertemu setiap hari. Demi menjaga kewarasannya, untuk itulah Ana pergi.


"Hei," sebuah tepukan tidak begitu terasa di pundaknya membuat Anak tersentak dari lamunannya.


"Eh, astaghfirullah," seru Ana dengan jantung berdebar kencang. "Kau ... "


"Bisa nggak sehari aja nggak jutek sama aku? Aku harus minta maaf bagaimana lagi supaya kamu mau memaafkan kesalahanku? Atau kau mau menuntut pertanggungjawabanku karena telah ... "Tirta menyeringai sambil menunjuk ke arah bibirnya membuat pipi Ana seketika bersemu merah.


Ana pun segera memalingkan muka untuk menutupi rasa malu yang lagi-lagi menyeruak. Padahal kejadian itu sudah cukup lama, tapi Ana belum dapat melupakannya. Bagaimana tidak, itu merupakan ciuman pertamanya.


"Berhenti ungkit itu!" ketus Ana dengan wajah masih menghadap ke samping.


"Bagaimana aku nggak ungkit lagi, kamu setiap ketemu aku udah kayak liat setan aja, jutek mulu, ketus mulu," sanggah Tirta.


Ana lantas menoleh ke arah Tirta sambil mengerucutkan bibirnya, "ya gimana nggak marah, tuan sudah mencuri ciuman pertamaku, tau nggak," protes Ana kesal.


"Itu bukan ciuman, Ana. Hanya pertemuan bibir dengan bibir, tanpa disengaja juga, kenapa kamu harus marah sampai segitunya?" Tirta menaikkan sebelah alisnya dengan netra tak luput menatap wajah Ana yang sedang bersungut-sungut.


"Bukan ciuman bagaimana? Yang namanya pertemuan bibir dengan bibir yang ciuman dan tuan sudah merenggut ciuman pertamaku tau?"


Tirta menggeleng-gelengkan kepala, "apa aku mesti bertanggung jawab?" Tirta tersenyum simpul membuat mata Ana membulat.


"Ma-maksudnya bagaimana?"


"Ya tanggung jawab, menikah mungkin?"


"Gila. Masa' harus nikah sih?"


"Ya namanya juga pertanggungjawaban. Untuk menebus kesalahanku, kita nikah aja, beres kan!" Jawab Tirta enteng.


"Jangan gila deh, tuan. Mana ada pertanggung jawaban karena ciuman nggak disengaja mesti nikah. Dasar sinting!"

__ADS_1


"Lho, kok sinting? Kan aku hanya ingin bertanggung jawab. Bukannya kita lebih dari sekedar ciuman tempo hari. Aku bisa merasakan ekhem ... tumbuh kamu ... Kamu pasti tau lah,nya kan!"


"Tuan, stop bahas itu!" Pekik Ana geregetan. Ia lantas memukul pundak Tirta kesal membuat Tirta terkekeh. Tapi itu awalnya. Saat Ana masih saja memukulnya karena sebal melihat tawa Tirta yang terus berderai, Tirta pun menangkap kedua tangan Ana dan menariknya mendekat.


Ana yang awalnya kesal seketika gugup. Apalagi jarak mereka kini begitu dekat. Ana sampai bisa melihat wajah laki-laki itu yang begitu mulus bagaikan tanpa pori. Sebagai perempuan, Ana jadi malu sendiri karena kalah dengan laki-laki seperti Tirta.


Karena terlalu larut mempertahankan wajah Tirta yang begitu mulus, membuat Ana tak sadar kalau laki-laki itu telah mengikis jarak diantara mereka.


"Kamu tadi bilang itu ciuman kan, tapi aku jawab bukan," ucap Tirta lirih yang reflek dijawab Ana dengan sebuah anggukan.


"Kalau begitu, aku akan tunjukkan bagaimana ciuman yang sebenarnya itu."


Sepersekian detik kemudian, kejadian tak terduga terjadi. Tirta tiba-tiba saja meraup bibirnya dan melu matnya gemas. Ana sampai mematung di tempat, tak tahu harus merespon bagaimana. Kesadarannya seakan ditarik membuatnya benar-benar mematung. Angannya justru menerawang ke berbagai kiss scene di drama Korea yang kerap ia tonton. Mata Ana yang masih terbuka dapat melihat jelas bagaimana Tirta memagut bibirnya dengan penuh kelembutan dan perasaan.


Ana merasa seakan dirinya merupakan tokoh dalam drama Korea yang kerap ia tonton. Begitu romantis. Ana sampai bagai terhipnotis oleh gerakan Tirta. Saat Tirta melepaskan pagutan itu, barulah Ana tersadar dan mendorong dada Tirta. Sungguh reflek yang terlambat.


Baru saja Ana hendak protes, tiba-tiba Tirta menyodorkan sesuatu ke depan waja gadis itu, "aku punya 2 tiket nonton konser Black pink, kau mau nonton denganku?"


Jelas saja, Ana membelalakkan matanya. Sudah sejak lama ia ingin menonton konser tersebut, tapi ia selalu kehabisan. Lalu kini, Tirta tiba-tiba menawarkan sesuatu yang sudah lama ia inginkan, Ana harus menjawab apa?


Ana yang awalnya ingin marah seketika berubah ceria, tanpa banyak pikir panjang, Ana reflek mengangguk membuat Tirta tersenyum lebar.


"Gadis pintar. Aku akan menjemputmu 2 hari lagi, bersiap yang cantik, oke!" Ucap Tirta seraya mengusap puncak kepala Ana.


"Tapi aku masih marah ya, jangan senang dulu."


"Lho, lho, lho, ... kenapa masih marah?"


"Kamu nanyeak? Kamu bertanyea-tanyea? Udah tahu nanyeak. Dasar nyebelin!" Setelah mengucapkan itu, Ana pun segera pergi membuat Tirta tertawa sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal.


...***...


"Ada yang ingin bertemu denganmu," ujar salah seorang petugas sambil membukakan gembok pintu jeruji besi tempat Erin ditahan.


Erin yang sedari tadi melamun seketika tersentak. Erin mengernyitkan dahinya, ia bertanya-tanya siapakah yang menemuinya.


Tapi Erin enggan bertanya. Ia hanya mengikuti instruksi penjaga tersebut yang akan membawanya bertemu dengan seseorang tersebut.


Saat telah tiba di tempat yang dimaksud, mata Erin seketika berkaca-kaca. Pun seseorang yang menemuinya itu. Dia adalah Laila, ibu Erin. Laila lantas berhambur memeluk sang putri yang kini tampak lebih kurus dari biasanya. Wajahnya pun tampak kusam tak terawat. Hati Laila bagai diiris sembilu, begitu pedih, begitu perih. Ia merasa gagal sebagai seorang ibu. Seandainya ia bisa membimbing anaknya dengan baik, sudah pasti semua takkan menjadi seperti ini.

__ADS_1


"Mama," lirih Erin di dalam pelukan Laila.


"Sayang, mama merindukanmu." Lirih Laila.


"Erin juga," ucap Erin tergugu. "Maafkan Erin Ma sudah membuat mama malu dengan sikap dan perbuatanku. Seandainya ... aku patuh dengan segala nasihat yang selalu mama wejangkan, pasti aku takkan mengalami semua ini."


"Mama juga mau minta maaf. Mama lah yang salah, mama gagal menjadi ibu yang baik untukmu. Seandainya ... "


"Mama nggak salah. Mama sering menasihatiku, tapi aku keras kepala. Aku selalu merasa apa yang aku lakukan sudah benar. Tapi kini aku sadar, aku keliru. Kini aku sudah menerima hukumannya."


"Ssst ... sudah ya, yang penting sekarang kau sudah menyadari kesalahanmu. Tak ada manusia yang sempurna, Rin. Anggap semua itu adalah ujian hidupmu untuk naik level ke tingkat yang lebih baik. Berubahlah. Jalani semuanya dengan ikhlas. Insyaallah hidupmu ke depannya akan lebih baik. Meskipun tidak mudah, tapi cobalah bersabar. Doa Mama selalu menyertaimu." Tutur Laila bijak.


Kemudian, Laila pun mengajak Erin duduk di kursi yang tersedia di sana. Mereka berdua bercengkrama menceritakan hal-hal yang terjadi pada hidup mereka beberapa bulan ini.


"Jadi mama ngontrak?" Tanya Erin dengan mata membulat. Laila mengangguk. Mau bagaimana lagi, semua hartanya disita pihak pengadilan. Itupun masih tak menutupi jumlah kerugian perusahaan milik mantan besannya itu. Aku bank rahasia milik Arifin pun diblokir membuat Laila kesulitan. Beberapa aset mereka juga telah disita. Semuanya habis.


Beruntung Laila masih memiliki simpanan berupa perhiasan dan logam mulia. Tapi itu tidak banyak. Perhiasan dan emas itu miliknya yang ia beli sejak lama. Lebih tepatnya sebelum Arifin melakukan korupsi. Sedangkan harta yang dibeli setelahnya, telah ia berikan kepada pihak pengadilan sebagai ganti rugi uang perusahaan yang dikorupsi suaminya.


Laila lantas memanfaatkan emas dan logam mulia miliknya untuk membuka toko alat tulis dan foto kopi di depan kontrakannya. Ia menyewa warung kecil milik pemilik kontrakan yang tidak digunakan lagi untuk membuka usahanya. Karena lokasi kontrakannya dekat dengan sekolah membuat usahanya pun berjalan lancar.


Laila mengangguk dengan senyuman mengembang, "tak perlu khawatir. Mama baik-baik saja. Usaha mama juga berjalan lancar. Rencananya kalau terus lancar, mama mau beli ruko yang tidak jauh dari sana. Doakan saja, semuanya berjalan lancar sesuai harapan Mama."


"Aamiin. Erin akan selalu berdoa yang terbaik untuk Mama. Lalu ... bagaimana dengan papa?" tanya Erin saat mengingat tentang sang ayah yang juga di penjara.


Laila tersenyum, sebelum menemui Erin, ternyata ia telah menyambangi mantan suaminya tersebut.


Laila mendatanginya untuk memberikan akta cerai. Sepulangnya dari luar negeri tempo hari, ia langsung mengurus gugatan perceraiannya. Terdengar egois memang, di saat suami sedang mendekam di dalam penjara, ia malah mengajukan gugatan cerai.


Awalnya Arifin shock dan tidak terima. Tapi ia sudah tidak bisa bertahan dalam pernikahan itu lagi. Ia benci dengan pengkhianatan dan Arifin telah diam-diam mengkhianatinya. Ia kecewa, ia sakit hati. Akhirnya Laila pun mengambil keputusan untuk bercerai dengan suaminya.


"Mama ... sudah bercerai dengan papa."


Erin tidak terkejut sama sekali. Ia paham pasti mamanya sangat sakit hati dan kecewa dengan perbuatan sang suami yang telah diam-diam menyelingkuhinya.


Erin hanya tersenyum sendu, menghargai keputusan sang Mama. Kini mereka sama menjanda. Sungguh lucu sekali. Tiba-tiba Erin tertawa membuat Laila mengerutkan keningnya, kamu kenapa? Kok tertawa tiba-tiba begitu?" tanya Laila yang mendadak bergidik sendiri. Khawatir kalau putrinya itu tiba-tiba kesurupan.


"Nggak, lucu aja Ma, sekarang kita sama-sama jadi janda. Kalau dibuat sinetron, judulnya mendadak menjanda," seloroh Erin yang akhirnya membuat Laila ikut tertawa.


"Ibu dan anak tiba-tiba menjanda, benar-benar menggelikan," sahut Laila Sambil geleng-geleng kepala. Ya, hidup ini memang kadang-kadang menggelikan.

__ADS_1


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2