
"Hai cantik," panggil Tirta pada Ana yang tengah mengobrol dengan Tinik, temannya sesama art di kediaman Abidzar.
Keduanya lantas menoleh dengan dahi berkerut. Ana yang tak mau kege'eran pun hanya diam membisu.
"Kok pada diem?" tanya Tirta heran.
"Aak sebenarnya godain siapa sih? Aku atau Tinik?"
"Ya kamu lah. Pura-pura nggak tahu," Tirta mencibir membuat Tinik terkekeh geli seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
"Na, aku masuk dulu ya! Selamat pdkt, pak!" seru Tinik membuat Tirta menjulurkan ibu jarinya dengan tersenyum lebar. Berbanding terbalik dengan Ana yang sudah melotot dengan bola mata yang nyaris keluar dari rongganya.
Tinik tak peduli. Ia justru segera berlari dari sana sambil tertawa.
"Aak apaan sih manggil aku kayak gitu? Entar Tinik salah paham terus ngira kita pacaran, gimana?" protes Ana.
"Ya nggak gimana-gimana. Aku malah senang dan mengaamiinkan."
"Maksudnya?" Ana bingung sekaligus heran.
"Ya diaamiinkan aja kalau ada yang bilang kita pacaran. Gimana, kamu mau nggak Mau jadi pacar aak yang ganteng ini?" Tirta mengedipkan sebelah matanya. Bukannya tertarik apalagi terpesona, Ana justru tertawa terpingkal-pingkal.
"Hahahaha ... aak bercandanya lucu."
Jelas saja Tirta memberengut masam karena dianggap bercanda.
"Aku serius, Na. Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Kali ini Tirta bicara dengan mode serius.
Ana yang tadi tertawa terpingkal-pingkal lantas diam dan menatap lekat netra Tirta yang memang tampak serius.
"Aak serius? Nggak lagi bercanda?"
"Aku serius, Na. Aku suka sama kamu, kamu mau nggak jadi pacar aku?"
Ana mengerjapkan matanya, kemudian ia menempelkan punggung tangannya di dahi Tirta, "nggak panas. Artinya aak sedang sehat wal 'afiat, tapi kok ngelantur sampai segitunya?"
"Astaghfirullah, Ana, aku serius juga malah dibilang ngelantur. Gue ci pok juga tuh bibir biar nyadar kalau aku serius. Ihhhh ... mau aak ci pok?"
Jelas saja Ana melotot tajam saat mendengar kata-kata vulgar keluar dari bibir Tirta.
"Ayo, silahkan kalau nggak mau Ana tonjok tuh bibir biar jadi duwer sekalian." Bukannya takut dengan ancaman Tirta, Ana justru mengancam balik.
"Ya makanya kalau orang bicara serius itu, tanggapin dengan serius juga. Ini malah melantur kemana-mana." Tirta melengos. Wajahnya terlihat sekali kesal. Tapi mana bisa ia marah pada Ana. Biar dikata ia sering sok garang pada orang-orang, nyatanya hati Tirta selembut hello Kitty. Hihihi ... Apalagi mau marah pada orang yang disuka, mana bisa dia.
"Jadi ... aak beneran ini su--ka sama Ana?" tanya Ana gugup.
Tirta mengangguk dengan bibir sedikit mencebik.
"Aku suka sama kamu, kamu mau kan jadi ... pacar aku?"
"Tapi aak, aku kan hanya seorang pembantu rumah tangga, kok bisa sih aak suka sama aku?" tahta Ana heran. Tadi nenek Tirta menembaknya untuk menjadi kekasih cucunya, lalu sekarang cucunya sendiri yang menyatakan perasaannya pada dirinya. Apa mereka sekongkol pikirnya?
"Memangnya apa salahnya sama pembantu? Pembantu juga manusia. Dia berhak mendapatkan pasangan, berhak dicintai dan mencintai. Begitu pula kamu."
"Ayolah Na, apa mesti aku berlutut dulu sambil ... Ah, tunggu sebentar! Sekejap sekejap je, 5 menit aja, tunggu di sini. Jangan kemana-mana, oke?" Tiba-tiba Tirta beranjak dari samping Ana. Entah kemana laki-laki itu, Ana pun tak tahu. Tapi ia akan menunggu.
Tak lama kemudian, Tirta kembali lagi dengan sebelah tangan berada di belakang. Entah apa yang disembunyikan laki-laki itu, Ana pun tak tahu. Hingga tiba-tiba saja Tuta berlutut di hadapannya kemudian mengeluarkan sebelah tangannya yang tadi ia sembunyikan di belakang. Ternyata tangan itu tengah memegang setangkai bunga mawar merah yang Ana yakini hasil memetik di taman depan. Dalam hati Ana ingin tergelak kencang karena tingkah absurd Tirta. Tapi ia juga jadi tersipu sendiri dengan ulahnya itu.
"Sementara, bunganya pinjam bunga Freya dulu, entar kalau ke sini lagi, aak bawain buket bunga khusus buat kamu, jadi Na, maukah kau jadi kekasih hatiku?" seru Tirta penuh percaya diri.
Namun tiba-tiba wajah ceria Ana berubah jadi sendu. Matanya berkaca-kaca membuat Tirta bingung, kenapa ekspresi Ana bukannya bahagia, tapi justru tampak sedih.
"Aak, maaf, Aja nggak bisa," lirih Ana dengan wajah tertunduk. Ada nada getir dalam suaranya membuat Tirta menyadari, ada sesuatu yang tengah gadis itu pendam.
"Kenapa? Jelaskan alasannya? Apa ... kamu telah memiliki seseorang yang kamu sukai?" terka Tirta membuat Ana mendongakkan kepalanya. Apa semudah itu menerka isi hati.
Ana terdiam. Ia bungkam. Lidahnya kelu untuk menjawab. Ia sebenarnya tak tega membuat laki-laki baik hati ini patah hati. Tapi memaksakan diri pun tidak lah bagus.
"Jadi benar?" Tirta anggap kebungkaman Ana sebagai jawaban iya. Hati Tirta serasa potek. Kenapa kisah percintaannya selalu kandas sebelum dimulai. Bukan kandas di tengah jalan sebab kalau kandas di tengah jalan, artinya pernah sempat dijalani. Lah ini, jangankan dijalani, dimulai aja belum, Garu sebatas menyatakan. Dengan Freya gagal karena jajan yang tertutup tanpa celah. Lalu dengan Ana, dipaksa layu saat baru saja berkembang.
"Nasibku kok ngenes amat sih?" desah Tirta sambil meraup wajahnya kasar. Ia melirik Ana yang tampak serba salah.
"Katakan ... katakan siapa dia?"
"Buat apa?"
__ADS_1
"Ya mau tau aja, seganteng apa sih dia."
Ana mengulum senyum, "tegang aja, ganteng aak kok."
"Kalau ganteng aku, kenapa kamu malah lebih suka dia?" omel Tirta.
Ana mengedikkan bahunya, "mana tahu. Mungkin karena Ana lebih dulu kenal dia."
"Terus ... dimana dia? Kalian udah jadian?" Tirta terus mencecar Ana dengan berbagai pertanyaan.
"Dia ... " Ana menggantung jawabannya dengan kepala menggeleng. "Kami nggak jadian dan takkan mungkin jadian."
Mendengar itu entah mengapa Tirta merasa seperti ada angin sepoi-sepoi menyapa hatinya.
"Ke-kenapa bisa begitu? Apa ... apa dia tidak menyukai ... kamu?"
"Entahlah, tapi yang pasti kita nggak mungkin jadian. Sebab ... "
"Sebab apa?" Makin tinggi lah rasa penasaran Tirta.
Ana menghela nafas panjang, "sebab dia udah beristri."
"APA???" pekik Tirta membuat Ana melotot dan segera membekap mulut Tirta yang seperti kehilangan rem.
"Bisa nggak mulutnya dikondisikan?" Ana melotot tajam, tapi Tirta justru cengar-cengir dengan mulut masih dibekap Ana. Tirta malah dengan lancang mengecup telapak tangan Ana membuat desir-desir halus merambati hati Ana. Ana pun dengan cepat menari tangannya dan memalingkan wajahnya yang ia yakini telah memerah.
Lalu Tirta menarik kedua tangan Ana dan menggenggamnya erat. Ana membiarkan saja, ingin mengetahui, apa yang ingin Tirta lakukan.
"Ana, kalau kalian mustahil jadian, jadi untuk apa mengharapkannya lagi? Itu hanya akan membuat hati kamu sakit. Lepaskan perasaan itu. Izinkan aku masuk dan memenuhi hati kamu. Izinkan aku menggantikannya menjadi pemilik hatimu. Aku tahu, saat ini mungkin perasaan kamu masih dipenuhi orang itu, tapi tidak menutup kemungkinan kan aku yang kelak akan jadi pemilik seutuhnya. Semua tergantung kamu. Kalau kamu mau mencoba membuka hatimu untukku, maka aku akan berusaha membuatmu jatuh hati padaku, bagaimana? Apa kau mau mencobanya denganku?"
Ana tak dapat menutupi kalau ia terenyuh dengan kata-kata manis Tirta. Memang benar, ya sudah tak mungkin lagi mengharapkan laki-laki itu. Terlebih dia telah menikah. Tapi apakah mungkin ia bisa melupakannya sedang setahun ini ia telah berusaha, tapi rasa hatinya masih saja terpaut padanya?
"Apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa apanya?"
"Apa aak tidak apa-apa kalau aku masih menyukai orang lain? Udah setahun lebih aku mencoba melupakannya, tapi hasilnya nihil. Aku nggak mau aak akhirnya kecewa karena aku yang belum mampu move on." Ana mengungkapkan uneg-unegnya. Ia hanya tak ingin mengecewakan Tirta kelak di kemudian hari.
Tirta tersenyum, "semua ada konsekuensinya. Kita jalani saja. Izinkan aku berusaha membuka hatimu. Hasil akhirnya bagaimana, aku serahkan pada yang kuasa. Jadi ... bagaimana?"
"Ya udah, kita jalani dulu aja." Jawab Aja singkat.
"Pacaran? No. Aku nggak mau pacaran. Kita jalani, bukan berarti harus pacaran kan. Maksudnya, aku akan kasih aak akses untuk membuka hatiku. Terserah caranya bagaimana, asal nggak aneh-aneh aja. Semoga aak bisa ya! Semangat!" seru Ana membuat Tirta merekahkan senyumanmya.
"Oke, kalau begitu, sebagai awal membuka hatimu, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?"
"Tapi aku kan kerja, Aak."
"Hal itu gampang, entar aku yang izinin. Atau kamu selesaikan dulu pekerjaanmu, entar aku jemput sekalian izin, art cantiknya mau aku culik untuk kencan. Hehehe ... "
"Ya, udah terserah Aak saja." Ya, tidak ada salahnya mungkin memberi kesempatan pada Tirta. Siapa tahu, laki-laki itu berhasil membuatnya mampu melupakan sosok laki-laki yang telah lama menghuni hatinya itu.
"Yes, makasih sweety!" seru Tirta bahagia. Saking bahagianya ia sampai melompat-lompat sambil meninju udara membuat Abidzar dan Freya yang mengintip mereka dari balkon kamar tampak terkekeh geli. Ternyata cinta mampu membuat seorang laki-laki dewasa jadi seperti anak-anak ya. Dasar, bucin.
...***...
Berbeda dengan kepergiannya siang tadi yang berwajah murung dan menahan kesal, malam ini Tirta pulang dengan wajah sumringah. Sang nenek dan Riana tampak penasaran dengan ekspresi Tirta yang tampak jelas sedang merasa bahagia.
"Ekhem ... ekhem ... kayaknya ada yang sedang bahagia tuh, Ri," celetuk sang nenek tiba-tiba.
Riana mengangguk, "mungkin karena dia akan segera dijodohkan, Ma, jadi merasa bahagia karena nggak akan menjomblo lagi."
"Wah, kamu benar! Artinya Tirta sudah setuju dong!"
Suara-suara sumbang itu kontan saja membuat wajah ceria Tirta kembali memberengut.
"Nenek dan Mama, please deh jangan jodoh-jodohin Tirta lagi, Tirta nggak suka," geram Tirta. "Lagian ya Ma, Nek, Tirta udah ada seseorang yang Tirta sukai. Jadi please .... tolong kubur angan-angan kalian untuk menjodohkan Tirta sebab Tirta memiliki gadis pujaan hati Tirta sendiri."
Nenek memutar bola matanya, "Halah, paling juga bohong biar nggak dijodohin, iya kan!" delik nenek. Riana mengangguk, sepemikiran dengan ibu mertuanya.
"Siapa yang bohong? Tirta serius kok. Suwer tekewer-kewer."
"Bibir luntuh duwer." ejek Nenek.
"Eh, mana ada. Bibir Tirta nggak duwer ya, Nek. Bibir seksi ini namanya."
__ADS_1
"Pokoknya nenek nggak mau tau, pokoknya kamu harus jadian sama gadis pilihan Nenek. Titik. Nggak pake koma, tanda seru, apalagi tanda tanya."
"Nek ... " Tirta merengek.
"No debat!"
"Maaaa ... "
"Sorry, Mama nggak berani membantah perintah orang tua. Takut kualat." Seru Riana sambil mengulum senyum.
Tirta mengacak rambutnya frustasi, "ya Allah, kenapa nenek dan mamaku kok egois gini sih?" pekik Tirta memasang wajah nelangsa. Setelah itu, ia pun segera beranjak dari sana menuju kamarnya. Setelah Tirta benar-benar berlalu, nenek dan Riana pun tergelak kencang. Entah mengapa mereka begitu kompak mengerjai Tirta. Bila biasanya Tirta yang mengerjai mereka, maka kali ini sebaliknya.
"Tapi Ma, kata Tirta tadi dia udah punya gadis yang dia sukai. Kira-kira dia siapa ya, Ma? Riana takut kalau tindakan kita justru membuatnya tak bahagia. Bagaimana kalau dia memang benar tidak menyukai gadis pilihan kita?" Mendengar pengakuan putranya yang menyukai seorang perempuan jelas saja membuat Riana serba salah. Meskipun awalnya ia merasa Ana memiliki kedekatan tak biasa dengan Tirta, tapi setelah mendengar pernyataan putranya membuat niatnya semula yang ingin menjodohkan Tirta dengan Ana menjadi sedikit mengikis. Bagaimanapun, kebahagiaan anak-anaknya adalah yang utama.
Nenek Tirta terdiam. Sama seperti Riana, ia pun memikirkan hal yang sama. Haruskah ia mundur dengan niatnya itu?
Sementara itu, di kamar, Tirta langsung saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa melepaskan pakaiannya apalagi mandi. Moodnya yang tadinya bagus seketika terjun bebas setelah mendengar perkataan ibu dan neneknya. Ia tak ingin durhaka, tapi ia pun tak bisa melepaskan gadis yang berhasil mencuri perhatiannya begitu saja.
Dengan raut wajah malas, ia membuka WhatsApp miliknya. Memeriksa beberapa pesan yang masuk dan belum sempat ia buka. Hingga akhirnya perhatiannya jatuh ke salah satu pesan dari kontak bernama 'Dekil'.
[Nyet, thanks yang tadi ya! 🙈]
"Bilang makasih tapi ngatain monyet, dasar dekil," gumamnya seraya terkekeh.
[Nggak ada cara berterima kasih yang lebih bagus apa?]
[Emang loe maunya gimana? Traktir? Sorry, duit kecil gue habis. Duit besar buat tabungan nikah. Hahaha ... ]
[Dekil pelit.]
[Rumus cepat kaya, bro.]
[Pelit tak membawa berkah.]
[Ya udah, gue traktir, tapi bayarnya pake duit loe yak!]
Tirta terkekeh sendiri membaca pesan dari temannya itu.
[Sama aja bo'ong.]
[Ya udah deh, gue traktir, tapi gue yang nenetuin dimana, oke?]
[Serah loe dah. Gue mau tidur. Bye.]
[Jiah, baru juga jam berapa usah mau molor. Bilang aja mau telepon sama ayang beb.]
Setelah membaca itu, entah mengapa ia jadi teringat Ana. Tirta pun lantas segera memeriksa akun WhatsApp Ana. Aktif 5 menit yang lalu. Dia pun membuka story' nya. Matanya memicing saat melihat status Ana pagi tadi.
"Apa tadi dia buatin sarapan buat gue, ya? Bagaimana kalau iya? Yah, Ana pasti kecewa banget sama gue?" Tak mau banyak berpikir, Tirta lantas segera menghubungi Ana.
"Halo ... "
"Emmm ... "
"Kok cuma, emmm. Persis kayak orang lagi sariawan."
"Emang iya."
"Hah! Serius?"
"Emmm ... ngapain juga bohong."
"Ya udah, kamu tunggu di sana, oke! Aku beliin obat. Tunggu aku."
"Hah! Ap-apa katamu, tung--, halo ... halo ... "
Belum sempat Ana menyelesaikan kalimatnya, ternyata panggilan telah ditutup. Ana menggelengkan kepalanya.
Tak sampai 30 menit kemudian, Tirta kini telah berada di kediaman Abidzar lagi. Dengan nafas terengah, Tirta menghubungi Ana agar keluar sebab ia telah duduk di kursi teras membawakan obat sariawan untuknya.
"Aak ngapain lagi sih? Malam-malam kemari? Belum juga 2 jam pulang, eh udah nongol lagi." Omel Ana.
"Aku cuma mau anterin ini. Ini obat sariawan oles dan ini vitamin C. Kamu itu kurang vitamin. Kurang minum juga jadi sariawan. Makanya, perbanyak minum air putih dan konsumsi sayur dan buah supaya tidak sariawan lagi."
Mendengar kata-kata sarat perhatian itu, membuat mata Ana berkaca-kaca. Ia jadi terkenang mendiang ayahnya yang memang begitu perhatian padanya. Pun setelah ayahnya meninggal, ia memiliki Martin yang begitu perhatian juga padanya. Perhatian yang membuatnya jatuh hati dan pada akhirnya patah hati.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...