
"Kamu dari mana aja sih, Na? Non Freya mencemaskan kamu dari tadi. Takut terjadi apa-apa sama kamu," tukas Bi Asih yang langsung saja mencecar Ana sepulangnya dari kediaman Tirta.
Ana menghela nafasnya, "maaf, bi. Tadi aku ketemu nenek-nenek di pinggir jalan mau nyeberang. Aku kasihan terus nolong nenek itu. Nenek itu belum makan juga, jadi aku temenin si nenek makan habis itu antar dia pulang karena itu telat kayak gini. Mbak Freya marah nggak ya, Bi, aku kelamaan kayak gini?" Cemas Ana.
Bi Asih menghela nafas lega, "syukurlah. Tadi Bibi ikut cemas tau. Mana kamu nggak bawa handphone. Tapi kamu tenang aja, non Freya kayaknya nggak akan marah kok. Dia cuma cemas aja, takut terjadi apa-apa sama kamu. Apalagi kamu perempuan," ujar Bi Asih menenangkan. "Ya udah, sana gih, anterin belanjaan non Freya. Biar non Freya nggak cemas lagi," imbuh Bi Asih sambil mendorong pundak Ana agar segera ke kamar Freya. Freya sedang berada di kamarnya untuk menyusui putranya.
Ana pun mengangguk kemudian segera melangkah panjang, menaiki tangga setengah berlari menuju kamar sang majikan.
Tok tok tok ...
Ana mengetuk pintu kamar Freya pelan agar tak terlalu berisik. Ia khawatir Abrisham sedang tertidur dan ketukan pintunya bisa saja membangunkan bayi mungil itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka tanpa ada sahutan dari kamar. Seperti dugaannya, baby Abrisham sedang tertidur. Freya yang melihat keberadaan Ana pun langsung menarik gadis itu dan memeriksa tubuhnya. Takut-takut ia terluka.
"Kamu nggak papa 'kan, Na?" tanya Freya panik.
Ana mengulas senyum kecil, "saya nggak papa kok Mbak. Maaf, kelamaan ya?" Ucap Ana tak enak hati telah membuat majikannya itu cemas.
"Alhamdulillah. Emang kamu kenapa bisa lama banget kayak gini? Kamu nggak dapat masalah di perjalanan 'kan?" cecar Freya lagi. Ana pun menggelengkan kepalanya kemudian menceritakan seperti yang ia ceritakan pada Bi Asih tanpa memberitahukan kalau nenek yang ia tolong merupakan nenek Tirta, sepupu majikannya sendiri.
"Syukurlah kalau kamu nggak papa. Makasih ya, Na." Ujar Freya setelah menerima belanjaan yang diberikan Ana.
Sementara itu, di kantor Barokah Tour and Travel milik Abidzar, tampak Tirta muncul dari ambang pintu depan wajah ditekuk masam. Abidzar yang sudah berada di kantor sejak tadi melepaskan kacamata kerjanya yang bertengger di atas hidung sambil menatap wajah sepupunya yang berkerut masam.
"Kenapa loe? Muka udah kayak kertas koran bungkusan terasi aja, lecek," cibir Abidzar membuat Tirta berdecak kemudian segera menghempaskan bokongnya di sofa ruang kerja Abidzar.
"Pusing pala gue," ucapnya seraya menyandarkan kepala di sandaran sofa. Kemudian ia menutup kedua matanya dengan lengan kanan. Mumet. Itu yang Tirta rasakan saat ini.
"Loe kenapa sih? Nenek loe belum ketemu?" tanya Abidzar. Ia pun segera bangkit dari kursi kebesarannya dan ikut duduk di sofa, berseberangan dengan Tirta.
"Udah ketemu."
"Bagus dong, tapi kenapa muka loe kusut kayak gitu? Terjadi sesuatu sama nenek?" tanya Abidzar ikut mencemaskan ibu mertua dari bibinya tersebut.
Tirta menggeleng-gelengkan kepalanya, "nenek sampai dengan selamat tanpa satu kurang apapun. Sebaliknya, justru nenek pulang membawa kelebihan. Kelebihan kabar yang sangat mengejutkan sampai-sampai membuat kepalaku pusing rasanya mau pecah." Tirta menurunkan tangannya. Abidzar mengerutkan dahi. Tampaknya ia begitu penasaran dengan apa yang dimaksud sepupunya itu.
"Kabar apa emangnya sampai seorang Tirta yang biasanya tetap bisa santai dalam keadaan apapun jadi galau kayak ditinggal kawin pacar pas sayang-sayangnya," cibir Abidzar membuat Tirta memicing tajam. Diambilnya bolpoin yang selalu ia bawa di saku kemejanya dan dilempar tepat ke kepala Abidzar.
"Brengsekkk loe!" Umpat Abidzar reflek. "Astaghfirullahal 'adzim. Gara-gara loe kan gue jadi keceplosan," kesal Abidzar.
"Makanya, orang lagi pusing jangan dibuat tambah pusing."
"Lah, loe sendiri nyadar nggak selama ini kek gimana? Setiap gue ada masalah, bukannya kasi solusi, tapi loe malah ngejekin gue. Ngerjain gue. Giliran loe yang diejekin, malah marah-marah. Persis perempuan lagi PMS loe!" omel Abidzar sambil mengusap dahinya yang merah karena hantaman bolpoin.
Tirta menghembuskan nafas berat, "ya, ya, ya, sorry. Sumpah, kepala gue rasanya mau pecah akibat ulah nenek dan nyokap gue."
"Emangnya nenek loe bawa kabar apa sih sampai loe segalau ini?"
"Nenek sama mama gue mau jodohin gue sama cewek yang nolong dia, gila nggak?"
"Nggak gila. Bagus itu jadi loe bisa terbebas dari julukan jokar alias jomblo karatan." Jawab Abidzar sambil tergelak Senang melihat sepupunya akhirnya merasakan bagaimana itu menggalau. Bila selama ini dia yang sering galau dengan segudang permasalahannya, maka kali ini si santuy yang mengalaminya. Menyenangkan sekali melihat ekspresi galau sepupu sekaligus sahabatnya itu.
__ADS_1
"Sialan loe. Gue serius. Pusing pala gue. Nenek sama mama ada-ada saja, masa' jodohin gue sama cewek yang baru pertama kali ketemu. Baru kenal juga. Hanya karena si cewek udah nolong nenek, masa' gue yang harus balas budinya. Kalau dengan kasih uang atau hadiah, okelah, tapi masa' mereka minta gue kawinin eh nikahin maksudnya, bisa gawat kalau gue kawinin tuh cewek tanpa nikahin, bisa-bisa pusaka gue dimuseumkan sama mereka." Saat sedang menggalau pun, Tirta masih sempat-sempatnya berkelakar. "Nah, coba bayangkan loe jadi gue, pasti kepala loe ikut pusing kan!"
"Nggak juga." Jawab Abidzar enteng. "Buktinya dulu pas gue diminta nikah sama Erin, gue langsung setuju-setuju aja meskipun akhirnya pernikahan itu kandas karena penipuan yang Erin lakukan. Tapi tetap aja, pernikahan itu memberikan hikmah ke gue."
"Hikmah apa? Bisa merasa punya bini 2?" sarkas Tirta.
Abidzar terkekeh, "gue nggak seserakah itu kali. Hikmahnya gue bisa menikah sama pujaan hati gue lah. Loe nurut aja kenapa sih? Siapa tau, loe bisa bernasib baik kayak gue. Meskipun diawali dengan nasib yang ... begitulah, tapi yang penting, endingnya bro."
"Tapi gimana dengan nasib percintaan gue? Belum juga layar berkembang, masa' udah harus menepi lagi." Desah Tirta frustasi. Ia mengambil bantal sofa di sampingnya dan menutup wajahnya dengan bantal tersebut.
"Kalau loe nggak mau, ya bawa calon loe lah. Kasi tau kalau loe punya pilihan sendiri."
"Yang jadi masalahnya itu calon gue belum menunjukkan hilal sedikit pun."
Abidzar tergelak kencang, "jadi Ana belum kasi respon apa-apa ke elo? Ck ... nakhlukin satu cewek aja nggak bisa, Ta, malu-maluin aja jadi cowok," ejek Abidzar lagi.
"Tunggu, tunggu, loe ... kok tau gue sedang mencoba pdkt sama Ana? Padahal gue kan belum ada bilang apa-apa ke loe." Tirta penasaran kok Abidzar bisa tahu.
Abidzar berdecak sambil tersenyum meremehkan, "gue punya mata, setiap yang punya mata pun bisa liat gimana cara loe memandang Ana. Gimana cara loe merhatiin Ana. Gimana cara loe bicara sama Ana. Hanya orang buta dan tingkat kepekaan sebesar upil yang nggak bisa melihat binar cinta di mata loe ke Ana." Tukas Abidzar membuat Tirta malu sendiri. Ia mengusap tengkuknya salah tingkah. Apakah sejelas itu, pikirnya? Tapi kenapa Ana sepertinya belum nyadar juga ya?
"Loe mau kemana?" tanya Tirta saat melihat Abidzar telah berdiri sambil mengusap-usap jasnya agar terlihat rapi.
"Pulang." Jawab Abidzar singkat.
"Gue ikut," seru Tirta membuat dahi Abidzar berkerut.
"Udah nggak punya rumah lagi loe? Atau udah dicoret dari KK gara-gara nolak nikah sama gadis pilihan nenek dan mama loe?" seloroh Abidzar.
Abidzar terkekeh, "ya, silahkan. Sekalian bantu kerjaan Ana ya. Lumayan, dapat pembantu gratis dadakan."
"Sialan loe." Umpat Tirta sambil tertawa. Mereka lantas segera pulang menuju rumah Abidzar.
...***...
"Ma, kata Yayuk kamu siang tadi nggak makan lagi ya?" tanya seorang laki-laki pada istrinya yang sedang terbaring di atas ranjang.
Sang istri mengulas senyum, "lagi nggak selera. Kenapa?"
"Ma, kamu liat, badan kamu makin hari makin kurus, kalau kamu nggak makan, kapan kamu sehatnya?" ujar sang suami lembut.
Sang istri menghela nafas panjang, "gimana aku bisa makan dengan tenang, Pa, kalau sampai sekarang Mama belum tahu keberadaan Hana dimana? Mama ... rindu Hana, Pa." Lirih sang istri yang merupakan ibu kandung gadis bernama Rihana atau yang lebih sering dianggap Hana.
"Papa ngerti. Tapi nggak bagus terus-terusan terpuruk seperti ini. Bagaimana Mama bisa menemukan Hana kalau Mama sakit?"
"Mama khawatir dengan keadaan Hana, Pa. Bagaimana kehidupannya di luar sana? Tinggal dimana dia? Bersama siapa? Bagaimana makanya? Bagaimana kalau dia sakit? Kuliahnya pun sudah setahun lebih ini cuti. Bagaimana kalau dia di DO karena tak kunjung hadir. Padahal seharusnya sebentar lagi Hana wisuda, tapi ... karena kecewa sama Mama, Hana pergi. Mendiang ayahnya pasti sangat kecewa sama Mama karena tidak bisa menjaga Hana dengan baik seperti amanatnya."
Ibu Hana tergugu pilu. Ia benar-benar merindukan putrinya, tapi putrinya pergi dan tak pernah kembali lagi setelah mengetahui ia menikah lagi. Ia pikir, putrinya kecewa karena ia menikah lagi, padahal ada sesuatu yang lebih dari itu. Alasan utamanya. Alasan kenapa ia benar-benar kecewa dan memilih pergi. Ia tak sanggup tinggal satu atap dengan ibu dan suami barunya itu. Hatinya sakit saat melihat kemesraan mereka. Hatinya hancur tanpa kedua orang itu sadari.
"Seharusnya kita tidak menikah, Mar. Aku yakin, Hana kecewa karena aku menikah lagi. Ia pikir aku telah mengkhianati papanya dengan menikah lagi. Bagaimana kalau kita berpisah saja, Mar. Dengan begitu, Hana pasti akan kembali lagi. Bagaimana? Kau setuju?" tanya Raisa, ibu Hana.
"Tidak. Aku tidak setuju. Pernikahan bukanlah sebuah permainan, Sa. Aku mencintaimu, sungguh. Sampai kapanpun aku takkan pernah meninggalkanmu," tegas Martin yang tidak setuju dengan ide Raisa.
__ADS_1
"Tapi bila kita tetap bersama, Hana takkan pernah mau kembali." Ucap Raisa nelangsa.
"Jangan pernah berpikir untuk berpisah, Sayang. Sabarlah. Aku akan terus berusaha menemukan Hana dan membawanya kembali. Aku yakin, seiring berjalannya waktu, Hana akan menerima pernikahan kita. Mungkin dia masih terlalu terkejut dengan keputusan kita, sedangkan papanya baru 2 tahun meninggalkan dirinya. Tapi perasaan kita tidak bisa dibohongi, aku cinta kamu, kamu pun cinta aku. Meskipun usia kita terpaut cukup jauh, tapi kita saling mencintai dan saling membutuhkan satu sama lain. Tak ada salahnya kita menikah karena kau pun berhak bahagia." Tukas Martin terus berupaya meyakinkan Raisa.
"Tapi kebahagiaan kita di atas penderitaan dan kesedihan Hana. Bagaimana aku bisa berbahagia bila Hana saja tak tahu ada dimana? Bagaimana bisa aku berbahagia bila putriku sendiri hidupnya menderita."
Melihat kerapuhan Raisa, Martin lantas memeluk erat tubuh wanita yang telah menjadi istrinya itu. Diusapnya punggung Raisa yang bergetar. Seperti inilah hari-hari yang Raisa alami. Tak jauh dari air mata. Karena terlalu memikirkan keadaan putrinya, Raisa jadi sering sakit-sakitan. Oleh sebab itu, sebisa mungkin Martin berusaha menemukan Hana. Ia harap ia bisa segera menemukan Hana dan membawanya kembali agar kesehatan Raisa bisa segera kembali seperti semula.
"Aku mohon bersabarlah. Semoga dalam waktu dekat, aku bisa segera membawa Hana kembali pulang."
...***...
"Halo anak ayah! Wah, udah wangi, pasti baru mandi ya! Ayah jadi pingin cium," ujar Abidzar seraya mendekat ke arah Abrisham yang diletakkan di dalam stroller. Freya dan Abrisham sedang bersantai di taman depan rumah. Jadi setelah turun dari dalam mobil, ia langsung meletakkan tas kerjanya di salah satu kursi yang ada di taman. Ia hendak menghampiri sang putra yang tampaknya sedang asik memandangi mainan yang tergantung di penutup stroller.
"Eit, stop! Jangan dekat-dekat!" sergah Freya saat Abidzar hendak mendekati sang putra. Apalagi saat aroma khas bayinya menyeruak membuatnya ingin segera mencium bayi mungil itu.
Abidzar yang baru saja hendak mencondongkan wajahnya ke arah sang putra lantas segera menghentikan gerakannya dan menatap Freya dengan dahi berkerut.
"Kok stop sih, Sayang? Oh, bundanya cemburu ya? Kalau gitu, ayah cium bunda dulu ya, Bri. Setelah cium bunda, baru deh ayah cium kamu, Sayang."
Abidzar lantas mendekati Freya dan hendak menciumnya, tapi telapak tangan pria lebih dahulu menghentikan aksi Abidzar dengan menempel tepat di wajah suaminya tersebut.
"Mas, mas lupa lagi, ih! Kan aku udah bilang, pulang dari mana-mana tuh harus cuci tangan, cuci wajah dulu, apalagi sepulang kerja sehari gini, seharusnya Mas mandi dulu, baru deketin Abrisham. Mas nyadar nggak sih, Mas itu dipenuhi debu dan kotoran yang tak terlihat. Nggak bagus untuk kesehatan Abrisham." Jelas Freya dengan wajah bersungut-sungut.
Abidzar terkekeh sambil menggaruk tengkuknya, "duh, Mas lupa, Sayang. Maaf. Habisnya kangen. Jangankan sehari, baru satu jam berjauhan dari kalian aja udah bikin Mas kangen. Gimana kalau Mas harus ke luar kota ya? Duh, bisa-bisa kangennya bertumpuk-tumpuk."
"Udah sana mandi dulu kalo beneran kangen."
"Iya, iya, eh Tirta tadi mana ya?" Mata Abidzar celingukan mencari keberadaan sepupunya itu.
"Emang Mas pulang sama kak Tirta?"
Abidzar mengangguk, "ah, pasti dia sedang berusaha mepet Ana tuh."
Freya terkekeh, "mas tau juga ya kalau Kak Tirta sedang berusaha mendekati Ana?"
"Ya iyalah, dia itu ibarat buku terbuka, mudah banget ngeliatnya. Apalagi Mas kenal dia dari orok, dah hafal luar dalam."
"Semoga misinya sukses ya, Mas."
"Hmmm ... kalau gagal, bisa-bisa dia beneran mau dinikahin sama perempuan jodohan nenek dan mamanya."
"Apa? Jadi Tirta mau dijodohkan sama perempuan lain gitu, Mas?"
Abidzar mengangguk, "makanya Mas kasihan kalau dia gagal. Menikah karena terpaksa itu nggak enak. Apalagi kalau saling nggak cinta, bukannya bahagia, malah berujung tertekan."
"Mas benar. Semoga saja misi berjalan lancar, ya, Mas."
Abidzar mengangguk sebelum ia benar-benar berlalu dari sana untuk segera mandi. Ia sudah tak sabar ingin bermain dengan putranya yang menggemaskan itu. Apalagi ibunya. Uh, rasanya ingin segera uyel-uyel keduanya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...