Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
Permintaan maaf


__ADS_3

"Eungh ... " Terdengar suara lenguhan dari bibir Freya yang tengah terbaring di atas ranjang pasien kamar rawat VIP.


Abidzar yang semenjak tadi duduk sambil menggenggam tangan Freya pun segera menegakkan punggungnya. Matanya bersinar saat melihat Freya perlahan membuka matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum. Dadanya pun merasa lega sebab Freya akhirnya sadarkan diri setelah berjam-jam terbaring dengan mata terpejam.


Mata Freya menyipit saat mendapati dirinya bukan berada di kamar paviliun. Seingatnya tadi ia sedang sarapan. Lalu tiba-tiba mual menyerang sehingga ia pun muntah-muntah dan berakhir lemas hingga terduduk di lantai.


"Aku dimana?" gumamnya belum sadar dimana dirinya saat ini. Bahkan ia belum sadar tangannya sedari tadi berada dalam genggaman Abidzar.


"Sayang, kau sudah bangun?" Terdengar suara yang sangat familiar di telinga Freya. Perempuan hamil itu pun lantas menoleh. Dahinya berkerut. Benaknya pun telah penuh dengan tanda tanya, mengapa Abidzar ada di sini? Bukankah tadi ia telah pergi tanpa menghampiri dirinya seperti biasanya.


"Mas Abi? Mas Abi nggak kerja? Dan ini ... ini di rumah sakit? Kenapa aku bisa berada di sini?" Cecar Freya kadung penasaran.


"Nanti Mas jelaskan. Tapi sekarang Mas panggil dokter dulu ya." Ujarnya seraya tersenyum simpul.


Freya hanya mengangguk seraya memasang wajah datar. Ia sebenarnya masih bingung harus menanggapi perhatian Abidzar dengan cara apa sebab perasaannya pada Abidzar masih abu-abu. Ia tak berani menaruh harapan besar apalagi menaruh rasa pada laki-laki yang telah menjadi suaminya tersebut. Bukan tanpa alasan, bagaimana pun Abidzar memiliki istri sah. Meskipun Abidzar pernah menyatakan perasaannya pada Freya, tapi ia tak berani menaruh harapan agar ia dipertahankan. Bagaimana pun ia juga seorang perempuan. Ia tahu sakitnya perasaan diduakan. Sebelum rasa cinta makin berkembang, Freya telah terlebih dahulu membentengi dirinya agar tak jatuh dalam buai cinta yang semu.


Biarlah ia mengikuti alur yang digariskan Tuhan. Freya hanya bisa berdoa, bilamana Abidzar memang jodohnya, ia mohon dekatkan, bila bukan, ia mohon segera jauhkan agar hatinya tak makin patah dan hancur berkeping.


Setelah melewati beberapa pemeriksaan dan tak ada lagi yang mengkhawatirkan, akhirnya dokter pun segera keluar dari ruangan tersebut meninggalkan sepasang anak manusia yang masih dilanda kecanggungan.


"Fre, udah masuk jam makan siang, kau mau makan apa?" tanya Abidzar yang telah duduk di tepi ranjang. Ia menyimpan rambut Freya yang terjuntai di pipi ke belakang telinganya. Freya yang mendapatkan perlakuan manis tersebut pun tersipu. Maklumlah, namanya perempuan memang cenderung mudah baperan. Tapi biar begitu, bukan berarti Freya lantas langsung jatuh hati. Tidak. Namun tak ada yang bisa menebak bagaimana ke depannya. Bila Abidzar terus berlaku seperti itu, bisa saja tembok yang Freya bangun seketika runtuh.


"Aku ... "


"Jangan bilang kamu nggak lapar, sedangkan sarapan pagi tadi saja tidak kamu sentuh sama sekali." Potong Abidzar tiba-tiba membuat Freya mengerucutkan bibirnya.


"Siapa yang mau bilang nggak lapar." Protes Freya membuat Abidzar terkekeh lalu mencubit cuping hidung Freya gemas. "Mas Abi jangan cubit-cubit ih, sakit tahu. Hidung Freya pasti merah ini." Omel Freya yang terdengar manja di telinga Abidzar. Makin senang dan berbunga-bunga lah hati Abidzar. Ia suka sekali momen seperti ini. Apakah Freya baru akan bermanja saat sakit seperti ini? Bolehkah ia anggap sakitnya Freya sebagai berkah sebab dengan begitu ia bisa melihat sikap manja Freya padanya?

__ADS_1


Eh, jangan-jangan! Tentu saja itu tak boleh. Masa' mendoakan orang yang disayang sakit sih? Bantahnya dalam hati.


"Mas pikir kamu mau bilang nggak lapar." Abidzar terkekeh membuat Freya terpana. "Ngapain liatin Mas kayak gitu, hm? Baru sadar kalau Mas ganteng." Selorohnya membuat Freya membuang muka.


"Narsis. Freya nggak nyangka, laki-laki yang awalnya sok dingin, ketus, kejam, angkuh, dan pemarah bisa jadi sok manis dan narsis kayak gini." Cibir Freya membuat Abidzar makin melebarkan tawanya.


Tawa yang berderai itu akhirnya menular pada Freya.


"Jadi mau makan apa, hm? Biar Mas pesan. Atau mau minta dianterin aja dari rumah? Kalau iya, Mas bisa telepon Bi Asih biar minta Ana anterin ke mari."


"Jangan ah, Mas! Nggak enak ngerepotin mereka. Biasanya kan pasien dapat jatah makanan dari rumah sakit, Mas. Freya bisa nunggu jatah aja. Kalau Mas mau pesan, pesan aja. Freya nggak papa."


Dahi Abidzar mengernyit, "emangnya kamu nggak ada pingin makan sesuatu apa gitu? Bilang aja, jangan ragu."


Freya tampak berpikir, "nggak papa kah?"


Freya mengangguk sambil menggigit bibirnya, "ada." Cicitnya membuat Abidzar makin memfokuskan pendengaran. "Freya pingin makan gado-gado, Mas. Tapi yang pedas. Sama minumnya es Dogan campur gula aren dan susu." Ucapnya. Abidzar tersenyum lalu mengusap puncak kepala Freya. Perlakuan Abidzar terasa amat sangat manis. Tapi sisi batin Freya terus mengingatkan agar tidak cepat terbuai dengan gelora cinta yang semu. Tak ada jaminan ia akan terus menjadi istri dari Abidzar. Tak ada jaminan ia akan terus dipertahankan. Ia tak mau setelah diterbangkan setinggi awan lalu dihempas ke dalam jurang. Cukuplah masa lalu jadi pelajaran agar ia bisa terus membentengi diri dari kehancuran yang bisa kapanpun terjadi.


Setelah mendengarkan permintaan istrinya, Abidzar pun segera mencari pesanan sang istri di aplikasi yang ada di ponselnya. Namun saat mencari es Dogan seperti yang istrinya inginkan, ia justru tak menemukannya.


Tak kehilangan ide, ia lantas mengirimkan pesan pada ibunya. Ia yakin, bila ini untuk Freya dan calon buah hatinya, ibunya akan melakukan apapun. Dan benar saja, setelah pesannya terbaca, Sagita langsung menghubunginya dan mencecarnya. Bukan tanpa alasan sebab Abidzar meminta pesanan tersebut diantarkan ke rumah sakit. Sontak saja Sagita terkejut. Bagaimana bisa Abidzar tidak mengabarkan apapun padanya tentang menantunya yang masuk rumah sakit.


Setelah mendapatkan penjelasan, Sagita pun menutup panggilan agar bisa segera memenuhi keinginan menantunya tersebut.


"Fre," panggil Abidzar membuat Freya yang tadinya tengah melamun pun sontak menoleh.


"Ya, Mas. Ada apa?"

__ADS_1


"Ekhem ... " Abidzar berdeham. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai pembicaraannya. "Aku mau bahas masalah kemarin."


Setelah mengucapkan itu, awan mendung tiba-tiba melintasi netra Freya. Freya menundukkan wajahnya. Entah apa lagi yang akan dibahas Abidzar pikir Freya. Apa jangan-jangan Abidzar masih ingin menyalahkannya? Kalaupun iya, haruskah ia melakukan pembelaan diri? Atau ia diam seperti sebelum-sebelumnya. Sebab percuma saja pikirnya menjelaskan. Bila seseorang telah menilai salah dan membenarkan kekeliruan, maka akan sulit menerangkan kebenarannya. Buktinya kemarin ia sudah mencoba menjelaskan, tapi Abidzar justru langsung menyalahkannya tanpa bertabayun terlebih dahulu.


"Kenapa diam?" tanya Abidzar bingung saat melihat respon Freya yang diam dan acuh tak acuh.


"Lantas aku harus apa? Menjelaskan lagi? Apa Mas mau mendengarkan? Apa Mas akan mempercayai perkataanku?" Satu sudut bibir Freya terangkat ke atas. Sebuah senyum sinis terpatri di bibir pucat wanita hamil itu. Abidzar tertegun mendengarnya. Ia yakin, Freya merasa sakit hati dan kecewa karena sikap dan kata-katanya kemarin. Tapi ia tak bisa egois. Ia tetap harus meminta maaf atas kekeliruannya tersebut. Ia salah dan ia sadari itu.


"Maaf." Ucap Abidzar lirih dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Maaf? Maaf untuk?"


"Maaf untuk sikap dan kata-kataku kemarin. Aku sadar, aku terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Maaf atas ketidakbijaksanaanku. Aku benar-benar minta maaf, Fre. Maafkan aku." Ucap Abidzar tulus.


Freya terhenyak. Ia tak menyangka akan mendengar kalimat permintaan maaf dari suaminya itu. Bahkan Abidzar dengan lantang mengakui kekeliruannya.


"Tak apa, Mas. Aku sudah memaafkan mu. Aku maklum kenapa Mas langsung membelanya. Ya, siapalah aku. Aku hanya orang baru dalam hidupmu. Aku sadar posisiku. Kedatangan ku juga bukan keinginanmu. Jadi aku sangat memakluminya. Aku juga maklum mengapa Erin sampai melakukan itu. Mungkin dia merasa posisinya mulai terancam. Padahal Erin tak perlu sampai melakukan itu. Aku tak mungkin merebut posisinya. Aku ... "


Mendengar kalimat penuh keputusasaan itu membuat hati Abidzar terasa sakit bak ditikam berkali-kali. Mengapa ia lupa, Freya yang sekarang bukanlah Freya yang dulu. Freya yang sekarang begitu rapuh. Dia bukanlah Freya yang penuh ambisi, keberanian, dan kesombongan seperti dulu. Abidzar lantas segera membungkam bibirnya dengan sebuah kecupan membuat Freya membelalakkan matanya. Ia tak menyangka Abidzar akan senekat itu menciumnya saat berada di rumah sakit.


"Jangan lanjutkan! Hatiku sakit mendengarnya. Kau ... bukan orang baru bagiku. Ingat, kau telah bertahta di hati ini sejak belasan tahun yang lalu."


Setelah mengucapkan itu, Abidzar kembali menyatukan bibirnya dan bibir Freya. Bila tadi hanya sebuah kecupan, beda dengan sekarang. Abidzar memagut dan melu mat bibir Freya atas dan bawah bergantian. Freya yang mendapatkan serangan mendadak pun hanya bisa mematung. Hingga sebuah arahan dari Abidzar membuatnya perlahan memejamkan mata dan mulai menikmati sekaligus membalas cumbuan itu tak kalah hangatnya. Abidzar pun tersenyum di sela-sela ciuman mesra itu.


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2