
Hari yang ditunggu-tunggu Tirta dan Ana pun tiba. Tirta menjemput Ana lebih awal sebab untuk menghindari desak-desakan dengan para penonton lain yang pastinya akan membeludak. Tak dapat dipungkiri, meskipun masing-masing penonton telah memiliki tiket, tapi antusiame yang tinggi membuat mereka rela berdesak-desakan akibat rasa tak sabar ingin melihatnya penyanyi idola mereka.
"Kita makan dulu sebentar. Aku nggak mau pulang dari konser kau malah sakit," ujar Tirta seraya membelokkan mobilnya ke salah satu restoran yang tidak jauh dari lokasi konser.
Ana mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap Tirta akhir-akhir ini yang menurutnya kian perhatian. Apa mungkin laki-laki itu menyukainya? Bukannya ia kege'eran, tapi apa namanya kalau seorang pria tiba-tiba memberikan perhatiannya, bahkan rela berdesak-desakan untuk mengajaknya nonton konser girl band K-Pop kesukaannya kalau bukan karena memiliki perasaan suka padanya?
Ah, Ana tak mau memikirkan hal tersebut. Ia menepis jauh-jauh pikiran itu. Apalagi statusnya saat ini adalah seorang art, mana mungkin laki-laki seperti Tirta menyukainya. Kalau pun iya, pasti keluarganya akan menentang. Kecuali bila ia menggunakan identitasnya yang sebenarnya, tapi rasanya ia enggan melakukan itu. Ia lebih suka menjadi Ana daripada Hana. Meskipun harus menjadi seorang asisten rumah tangga, tapi ia mendapatkan kesenangan sendiri. Dan yang lebih penting, ia tak harus bertemu orang-orang yang menyakiti hatinya.
Ana mengangguk saja sebagai jawaban. Tirta pun tersenyum kemudian ia pun segera membawa Ana masuk ke dalam restoran itu dan mulai memesan makanan.
Sepanjang di dalam restoran, Tirta tak luput memperhatikan Ana. Sikapnya begitu tenang. Bahkan Ana memesan menu dengan santai seolah ia telah biasa makan di tempat mewah seperti itu. Bahkan Ana dapat menyebutkan pesanannya dengan santai padahal menu yang tersedia sebagai besar berbahasa Italia. Ya, Tirta membawa Ana ke restoran Italia. Kalau Ana orang biasa, bukankah ia akan kebingungan untuk memesan sendiri makanannya?
"Bagaimana? Enak makanannya?" tanya Tirta seraya mengelap bibirnya menggunakan kain yang telah disediakan di atas meja.
Ana mengangguk. Kemudian ia mengangkat gelas berisi granita-nya dan menikmatinya dengan santai. Granita merupakan salah satu minuman khas Italia yang disajikan dengan slushee ice, dengan bentuk menyerupai es serut.
"Sepertinya kau sudah biasa makan di restoran ini?" Tirta tersenyum miring.
"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...." Mendengar pertanyaan atau yang lebih tepatnya seperti sebuah pernyataan itu, tiba-tiba saja Ana tersedak. Ia lupa dengan statusnya saat ini. Dia hanya seorang asisten rumah tangga jadi seharusnya ia bersikap seperti seorang gadis udik atau kampungan, bukannya berlagak santai seperti ini. "Kata siapa? Saya saja baru pertama kali makan di restoran ini. Wah, restoran ini mewah sekali ya, tuan. Pasti harganya mahal-mahal. Duh, bagaimana ini tuan, saya bawa uang hanya sedikit. Kalau tidak cukup bagaimana? Apa mereka menerima jasa mencuci piring?" Ucap Ana berpura-pura menjadi orang udik.
Tirta mendengkus, mau berpura-pura bagaimanapun, Tirta bisa melihat kalau ia biasa makan di restoran ini. Bahkan ia memiliki table manner yang baik.
"Sayangnya mereka tidak menerima jasa cuci piring. Yah, paling kita akan dilemparkan ke jalanan atau dipekerjakan jadi pelayan selama jangka waktu yang tak dapat ditentukan." Jawab Tirta asal.
"Tuan jangan aneh-aneh deh. Jadi gimana ini?" Ana mengerucutkan bibirnya membuat Tirta terkekeh.
"Yang membawamu kemari siapa?"
"Tuan."
"Please, stop panggil aku tuan karena aku bukan tuanmu. Aku juga bukan majikanmu. Bukan pula atasanmu. Aku memang sepupu majikanmu, tapi hanya sebatas itu. Bisa?"
"Tapi ... "
"Nggak ada tapi-tapian. Ayo, coba pakai panggilan yang lain."
"Panggilan seperti apa?" tanya Ana polos membuat Tirta gemas dan menarik cuping hidungnya.
"Awh ... sakit tau," protes Ana.
__ADS_1
"Ayo ganti!"
"Iya, aku harus manggil apa? Pak? Bos? Asisten tuan Abi? Sepupu bos?"
Pletak ...
Tirta menjitak dahi Ana membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal.
"Panggilan apa itu."
"Lantas aku harus panggil apa sih? Ribet bener. Udah benar dipanggil tuan, malah protes." Ana bersungut-sungut.
"Panggil ayang kek, baby kek, bebeb, atau apa gitu yang enak di dengar." Ucap Tirta seraya mengulum senyum saat melihat ekspresi Ana yang bergidik sendiri.
"Tuan salah makan obat ya? Atau tuan pagi tadi jatuh atau kejedot pintu mungkin jadi otaknya rada geser?"
"Sembarangan," protes Tirta sambil melempar kentang goreng ke wajah Ana membuat gadis itu tertawa renyah.
"Ya udah yuk, kita ke lokasi sekarang. Entar makin membeludak, susah masuk." Tukas Tirta sambil berdiri. Ana pun setuju dan ikut berdiri berjalan mengekori Tirta ke meja kasir untuk melakukan pembayaran.
"Duitnya cukup nggak?" bisik Ana sambil cekikikan di telinga Tirta membuat laki-laki itu merinding seketika. Tahu kalau Ana hanya mengusilinya pun Tirta dengan cepat menolehkan wajahnya. Ana yang belum sempat menarik wajahnya pun terkesiap saat bibirnya tiba-tiba singgah di pipi Tirta. Wajah keduanya seketika memerah. Mbak-mbak kasir yang melayani mereka pun ikut tersipu melihat mereka. Mereka bagai pasangan yang sedang dimabuk asmara. Padahal nyatanya, jangankan menjadi pasangan kekasih, berteman pun tidak. Lah, jadi mereka ini hubungannya opo? Entahlah, othor pun bingung. Hahaha ...
"Tunggu," seru Ana saat Tirta hendak turun dari dalam mobil.
"Ada apa?" Tirta bertanya dengan sorot mata sedikit curiga sebab merasa aneh dengan senyum dari gadis di sampingnya itu. Lalu gadis itu membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
Mata Tirta terbelalak. Kemudian ia menatap Ana dengan sorot mata bertanya, untuk apa itu?
"Masa' nonton konser gini aja sih. Mana seru." Lalu Ana menyerahkan sesuatu ke tangan Tirta. Tirta menelan ludahnya, haruskah ia memakainya.
Bagaimana tidak, Ana memberinya pernak-pernik yang berhubungan dengan girl band kesukaannya. Tak lupa ia memasangkan bando di kepalanya. Tirta menarik nafas panjang alias pasrah. Bagaimana pun, ini salahnya sendiri yang mengajak gadis itu ke konser girl band kesukaannya.
Awalnya Tirta ingin protes, tapi melihat binar keceriaan di wajah Ana membuat Tirta akhirnya mengalah. Entah ada apa dengan dirinya. Padahal dirinya paling anti berdesak-desakan termasuk menonton konser. Bagi Tirta, bila ada waktu luang, ia lebih memilih tidur. Maklumlah, kaum rebahan. Tapi kini ia justru jadi bagian dari manusia pencinta gadis-gadis cantik dari negeri ginseng. Beruntung bukan hanya dirinya saja yang laki-laki di sana sebab Tirta dapat melihat cukup banyak penonton laki-laki di sana. Artinya, dia tidak terjebak sendiri di dalam keriuhan ini.
Tirta memang bukan penggemar K-Pop sehingga membuatnya sedikit bosan saat berada di sana. Tapi entah kenapa lama-kelamaan, dia justru ikut menikmati lagu-lagu yang mereka lantunkan. Tangan dan kepalanya bahkan reflek ikut bergerak mengikuti irama musik. Diiringi tarian yang enerjik membuat semua orang berteriak antusias sambil memainkan light stick di tangan mereka. Hal serupa pun dilakukan Ana membuat Tirta tanpa sadar tersenyum.
'Kenapa jantung gue tiba-tiba deg-degan, Njirr!' gumamnya seraya memalingkan wajah agar tidak keterusan memandang wajah Ana.
"Aak, fotoin dong!" Sebuah tepukan mendarat di pundaknya. Tirta pun menoleh ke samping dengan alis terangkat.
__ADS_1
"Kamu panggil aku apa tadi?" Tirta sebenarnya mendengar, tapi pura-pura budek biar bisa mendengar panggilan Ana padanya.
"Ck ... " Ana berdecak sambil memalingkan wajahnya, "aak. Gimana? Udah kedengaran kan sekarang?"
"Sebentar. Tolong ulangi lagi kamu minta apa tadi?" Masih pura-pura budek. 😝
"Aak, fotoin dong! Please!" Ucap Ana dengan wajah memelas. Tirta sampai tersenyum lebar dengan jantung yang makin jedag-jedug.
"Ayo, sini! Sekalian aja kita foto bersama." Tiba-tiba saja Tirta merengkuh pundak Ana, kemudian dengan tangan kiri ia merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Kemudian Tirta pun mulai mengarahkan kameranya ke arah mereka. Mereka pun mulai berpose dengan ceria.
Saat konser selesai, Tirta pun menggenggam tangan Ana keluar menyusuri lorong venue. Raut wajah Ana tampak begitu bahagia membuat senyum itupun ikut menular padanya.
"Sekarang kita pulang?" tanya Ana.
"Memangnya masih ada tempat yang mau kamu mampiri? Kalau ada bilang aja. Atau kamu laper lagi?"
Ana cekikikan, "tau aja laper lagi."
Tirta tersenyum, "mau makan apa?"
"Apa ya?" Ana memasang ekspresi berpikir membuat Tirta kian gemas. Ingin rasanya ia menciumnya lagi, tapi sayang, hal itu hanya berani ia angankan.
"Kayaknya tadi habis hujan deh?" gumam Tirta saat berada di depan venue.
"Wah, iya!"
"Dingin-dingin begini z enaknya ngebakso, kamu mau?"
"Mau." Seru Ana semangat membuat Tirta reflek mengangkat tangan dan mengusap puncak kepala Ana.
Ana sampai mematung di tempat. Gerakan reflek ini mengingatkan Ana pada seseorang yang ingin ia lupakan. Gerakan ini sama, tapi kenapa perasaannya justru tiba-tiba menghangat? Apalagi saat Tirta kembali menggandengnya menuju mobil membuatnya merasakan sesuatu yang membuncah di dalam dadanya.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1