Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
110 S2


__ADS_3

Setelah selesai makan, mereka lanjut berbincang sambil tertawa. Binar bahagia terlihat jelas di netra mereka berdua. Tapi semua itu hanya sementara. Binar itu seketika redup saat seseorang yang tidak ingin Ana temui tiba-tiba telah berdiri di hadapannya membuat mata Ana terbelalak dengan jantung berdebar kencang.


"Hana," panggil seseorang itu membuat cangkir yang sedang Ana pegang tiba-tiba saja terlepas dari tangan dan meluncur ke lantai hingga pecah berkeping-keping.


"O-Om Martin," cicitnya dengan jantung yang meronta bertalu-talu.


"Ternyata kamu benar, Hana. Ya Allah, sayang, kamu tahu, Om sampai bingung mencari keberadaan kamu. Beruntung akhirnya Om bisa menemukan kamu juga." Ucap Martin antusias.


Itu. Itu yang membuat Ana salah paham. Itu yang membuat Ana sampai jatuh hati pada sosok Martin. Sikapnya yang lembut, penuh perhatian, bahkan tak sungkan memanggilnya 'sayang' itulah yang membuatnya kian terperdaya pada sikap sang laki-laki yang telah dianggap papanya seperti adik sendiri. Ia jatuh hati. Ia pikir, laki-laki itu memperlakukannya seperti itu karena memiliki rasa yang sama. Tapi kenyataan menamparnya. Laki-laki itu justru menikahi mamanya. Artinya, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Ana terluka. Ana kece. Ana sakit hati. Apalagi mereka menikah tiba-tiba tanpa sepatah dua patah katapun. Seolah dirinya tak berarti bagi keduanya. Baik ibunya maupun Martin, keduanya tega.


Wajah pias Ana seketika berubah datar. Tak ada lagi binar ceria yang tadi terpancar di wajahnya. Hanya ada tatapan datar dan sorot mata penuh kekecewaan.


"Aak, ayo kita pulang sekarang!" Ajak Aja yang telah berdiri terlebih dahulu. Tampak sorot mata penuh tanya di netra Tirta, tapi Ana sedang tak ada waktu untuk menjelaskan. Yang ia inginkan sekarang hanyalah segera pulang ke rumah. Lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan berbalut selimut seperti biasanya.


Namun belum sempat Ana berlalu dari sana, Martin sudah lebih dahulu menghentikannya dengan mencengkram tangannya.


"Hana, kita perlu bicara! Sebentar saja," ujar Martin dengan tatapan memelas.


"Bicara? Apa yang mesti kita bicarakan? Memangnya aku mengenalmu?" sinis Ana membuat Martin menghela nafasnya.


"Hana, sebenarnya kamu kenapa? Apa kau marah karena Om menikah dengan mamamu? Kalau iya, Om minta maaf. Om akan menjelaskan mengapa kami menikah tiba-tiba seperti itu." Ujar Martin mencoba membujuk Ana agar mau bicara dengannya.


"Lepas!" desis Ana dengan gigi bergemeletuk.


"Han, Om mohon! Apa kamu tidak merindukan mama mu? Apa kau tahu, mama jadi sakit-sakitan setelah kepergianmu. Om mohon, dewasalah. Kabur tidak akan menyelesaikan masalah. Hal tersebut justru akan menimbulkan masalah baru. Jangan sampai sikap keras kepalamu ini membuatmu menyesal di kemudian hari," tegas Martin tapi dengan basa rendah. Ia tak ingin membuat Ana semakin menjauh dari mereka.


Ana mendengkus, "jadi menurut Om, aku belum dewasa begitu?"


"Orang dewasa takkan menghindari masalah. Ia justru akan menghadapinya apapun risikonya."


Ana bungkam. Lalu ia melirik Tirta yang sejak tadi diam. Bahkan ia tak mau menginterupsi sedikitpun ataupun bertanya siapa laki-laki yang bicara dengannya saat ini. Hanya ada lirikan penuh tanya yang tersirat di netranya.


"Baiklah. Kita akan bicara." Ujar Ana akhirnya memberikan kesempatan pada Martin untuk bicara dengannya. Martin tampak sumringah. Ia tersenyum lebar berharap upayanya kali ini membuahkan hasil. Ia harap upayanya kali ini dapat membawa Ana pulang ke rumah bertemu dengan ibunya yang telah begitu merindukannya. "10 menit. Hanya 10 menit. Tak lebih." Tegas Ana membuat Martin menyurutkan senyumnya.


Lalu Ana kembali menatap Tirta, "aak, boleh aku minta waktu sebentar untuk bicara dengannya?" tahta Ana pada Tirta .


Tirta pun mengangguk tanpa bantahan. Sebenarnya Ana merasa sedikit curiga. Bukankah seharusnya Tirta mencecarnya dengan banyak tanya siapa laki-laki ini. Tapi Tirta bungkam. Entah karena Tirta tak tak ingin ikut campur urusannya atau karena Tirta telah mengetahui tentang siapa Martin sebenarnya.


"Baiklah. Aku tunggu di meja sebelah sana saja ya." Ana mengangguk. Lalu ia kembali duduk diikuti Martin setelah Tirta pindah ke meja lain.

__ADS_1


Tak ingin membuang waktu, Martin pun langsung berbicara.


"Hana, sebenarnya kamu kenapa? Kenapa kau pergi tiba-tiba seperti itu? Kau tahu, mama mu sedih selalu memilihmu. Mamamu jadi sering sakit. Bahkan kini tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya." Martin mulai mengeluarkan pertanyaan yang lama bercokol dalam benaknya.


"Om masih bertanya aku kenapa?" sinis Ana.


"Tentu saja. Apa karena pernikahan Om dan mamamu? Om dan mama minta maaf kalau kau merasa kecewa dengan pernikahan kami. Kami pun tak menyangka akan menikah. Kau tahu kan saat itu nenekmu sedang sakit. Dan kau tahu, pernikahan ini atas permintaan nenekmu sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Nenekmu hanya ingin melihat mamamu memiliki seorang yang bisa menjaga dan melindunginya. Atas permintaannya, kami pun menikah. Maaf kalau kami tidak sempat memberitahumu terlebih dahulu." Papar Martin menjelaskan duduk perkara bagaimana pernikahan mereka sampai terjadi.


Ana tersenyum sinis, "benarkah hanya karena permintaan nenek? Lantas, bagaimana dengan perasaan Om sendiri?"


"Kau bertanya tentang perasaan Om ke Mamamu? Tentu cinta. Om sebenarnya telah sejak lama mencintai mamamu."


Mendengar kata-kata itu, dada Ana seketika terasa nyeri, "lantas ... apa arti perhatian Om selama ini ke aku? Apa?" desis Ana dengan gigi bergemeletuk. Matanya pun telah memerah.


"Apa maksud pertanyaanmu itu?" Martin mengerutkan keningnya saat mencoba mencerna maksud pertanyaan Ana. "Jangan bilang kau ... "


"Ya, aku sakit hati. Aku kecewa. Aku pikir Om mencintai aku, tapi nyatanya ... aku tak lebih dari bocah bodoh yang begitu mudahnya jatuh cinta pada laki-laki sok baik seperti Om. Om melambungkan aku. Membawaku terbang tinggi hingga berani berharap lebih. Tapi tiba-tiba Om menghempaskan aku. Bukan hanya ke dasar tanah, tapi ke lembah berduri. Om pikir, bagaimana aku bisa tetap satu atap dengan orang yang menorehkan luka di hatiku? Apa aku harus berpura-pura buta saat melihat kemesraan dan romantisme kalian?" Desis Ana parau.


Martin sampai tertegun mendengar penuturan yang sungguh tak terduga itu. Ia pikir Ana hanya kecewa karena ibunya menikah lagi dan mengkhianati papanya. Tapi ternyata, kenyataannya lebih dari itu. Fakta ini benar-benar di luar nalarnya. Ia tak menyangka perhatian dan kasih sayangnya disalahartikan gadis yang kini telah menjadi anak sambungnya.


"Han ... "


"Maaf," hahya satu kata itu yang terlontar dari bibir kehitaman Martin. "Maaf karena sikap Om membuatmu salah mengartikan kebaikan Om. Om hanya berusaha menggantikan peran papamu. Apalagi saat itu, kau pun terpuruk karena kepergian papamu. Om hanya melakukan seperti apa yang sering mendiang Mas Ardan lakukan. Maaf, bila apa yang Om lakukan justru membuatmu terluka. Om ... benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Jujur, Om sangat menyayangi kamu, tapi ... hanya sebatas sayang seperti seorang adik. Namun kini, statusmu sudah menjadi anak sambung Om. Om kini menyayangimu seperti anak Om sendiri. Apalagi Om divonis tidak bisa memiliki keturunan dan kalian berdua telah Om anggap seperti anak kandung Om sendiri. Sekali lagi, maafkan Om. Om memang salah, Hana, tapi mamamu ... " Martin menggeleng, "tidak. Dia tidak bersalah sama sekali. Om mohon, maafkan Om dan kembalilah. Bukan demi Om, tapi demi mamamu. Kasihan mamamu. Dia benar-benar merindukanmu. Om tidak akan memaksamu kembali saat ini juga, tapi Om akan menunggu kesediaanmu sendiri."


Martin menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, "bila kau telah bersedia, Om mohon hubungi Om. Kapanpun itu, Om akan segera menjemputmu. Nomor Om masih yang lama. Om harap kau bisa menurunkan sedikit egomu. Demi mamamu. Kalau begitu, Om pergi dulu. Om harus segera memeriksa keadaan mamamu. Mama sekarang jarang makan. Dia baru mau makan bila Om paksa. Sekali lagi Om mohon, maafkan Om dan kembalilah. Sebelum ... segalanya terlambat dan hanya menyisakan penyesalan."


Setelah mengucapkan itu, Martin pun berdiri. Tangannya terulur ingin mengusap puncak kepala Ana seperti biasa, tapi tangannya justru berhenti menggantung di udara. Ia mengurungkan niatnya itu. Ia tak mau, Ana kembali menaruh hati padanya. Ia harap, Ana bisa segera melupakannya. Melupakan rasa cinta padanya.


Martin lantas menarik tangannya kembali. Setelah itu, ia memutar badannya dan segera pergi dari sana. Meninggalkan Ana yang tengah duduk mematung dengan pikiran yang berkecamuk.


Di meja lainnya atau lebih tepatnya meja membelakangi Ana, ternyata Tirta bisa mendengar semua pembicaraan Ana dan Martin. Ia pun masih duduk mematung, tak menduga kalau Ana jatuh cinta pada yang jauh lebih dewasa darinya. Dan yang lebih mengejutkan, laki-laki itu adalah ayah sambung Ana sendiri.


Tirta terkekeh sumbang di tempatnya. Entah apa yang harus ia lakukan setelah ini. Entahlah, dia merasa Ana masih memiliki perasaan lebih pada Martin. Lantas, bagaimana dengan perjuangannya selama ini? Apakah akan berakhir sia-sia?


Setelah termenung beberapa saat, Tirta pun menarik nafasnya dalam-dalam. Ia akan berusaha pura-pura tak mendengar pembicaraan Ana dan Martin. Ia menarik senyum selebar mungkin untuk menutupi kegundahannya.


Setelah menghembus nafas hingga berkali-kali dan perasaannya sudah cukup tenang, Tirta pun segera berdiri, hendak menghampiri Ana. Tapi saat tubuhnya berbalik, ternyata Ana telah berdiri di belakangnya.


"An, su-sudah?" Tirta tiba-tiba saja gugup.

__ADS_1


Ana memaksakan diri untuk tersenyum sambil mengangguk, "sudah. Kita ... pulang sekarang?"


"I-- ah, sebentar. Aku sepertinya mau ke toilet dulu. Kamu tunggu sebentar, nggak papa kan?"


Ana mengangguk. Ia pun segera duduk di kursi Tirta tadi setelah laki-laki itu berlalu menuju toilet. Saat Ana telah menandaskan bokongnya di kursi, ponsel Tirta yang ternyata tergelak di atas meja berbunyi. Ana awalnya masa bodoh dengan ponsel itu, tapi saat melihat deretan angka yang tampil di layar pop up, ia jadi tertarik. Deretan angka itu begitu familiar dengannya. Terang saja ia langsung bisa menebak siapa si pengirim pesan tersebut.


Dengan jantung yang berdegup kencang, Ana lantas memegang ponsel itu dan membaca kalimat yang terlihat dari atas layar.


"Terima kasih atas bant--"


Ana meremas ponsel Tirta yang masih dalam genggamannya. Jantungnya kini kain berdebar kencang. Bukan debaran karena melihat seseorang yang menarik hatinya. Bukan. Tapi berdebar kencang karena menahan sesak dan amarah di dada.


Pantas saja Tirta tampak diam saja, pikir Ana. Pantas saja ia seolah tak mau ikut campur. Pantas saja ia seolah setuju saja saat ada laki-laki yang tidak ia kenal tiba-tiba berbicara dengannya, bahkan ingin berbicara berdua saja pun ia tampak mengizinkan begitu saja. Ia bersikap seolah ia tidak mau ikut campur urusannya. Padahal sebenarnya laki-laki itu telah ikut campur sejak awal. Ia kecewa. Ia marah. Ia merasa dibodohi oleh laki-laki tersebut.


"Yuk, kita pulang!" ajak Tirta yang ternyata telah berdiri di belakangnya. Ana lantas menoleh dengan sorot mata penuh kekecewaan dan juga amarah. "Kamu kenapa?" tanya Tirta heran.


Ana lantas memberikan ponsel Tirta dengan kasar. Ia menghempaskan ponsel itu di dada Tirta membuat Tirta tampak kebingungan dengan ekspresi gadis tersebut.


"Ada apa? Kamu kenapa? Apa ada yang salah?" cecar Tirta.


"Kau tanya apa ada yang salah?" sinis Ana membuat Tirta terhenyak dengan perubahan sikap Ana padanya. "Apa hakmu ikut campur urusanku? Ayo katakan, apa hakmu ikut campur dalam urusanku?" sentak Ana tak peduli kalau orang-orang mulai memperhatikan mereka.


"Apa maksudmu? Ikut campur? Ikut campur apa? Bahkan saat mau berbicara dengan laki-laki tadi pun aku tidak ikut campur sama sekali." Kilah Tirta yang memang belum paham ke mana arah pembicaraan Ana.


Ana tersenyum sinis, "baca pesan masuk mu. Itu yang kau bilang tidak ikut campur? Bukankah kau yang telah mengatur pertemuan ini? Iya? Ayo katakan padaku, benarkan kau yang telah mengatur pertemuan ini! Jangan berusaha berkelit lagi!" sentak Ana dengan suara sedikit meninggi membuat Tirta kian tertegun dengan perasaan gusar.


"Maaf, tapi aku ... aku bisa menjelaskan semuanya ... "


"Menjelaskan apa?" potong Ana. "Apalagi yang perlu kau jelaskan? Katakan?" desis Ana dengan suara tertahan. "Memangnya kau siapa sampai ikut campur urusanku? Katakan apa hakmu ikut campur dalam urusanku? Ayo katakan! Kau siapa? Apa hakmu, hah? KATAKAN!!!" Ana yang telah dikuasai emosi pun menyentak Tirta membuat laki-laki itu terhenyak. Ia tak dapat berkata-kata lagi. Benar kata Ana, dirinya memangnya siapa? Apa haknya ikut campur urusan gadis tersebut?


Tirta merasa hatinya patah. Kata-kata Ana nyatanya mampu membuat retakan yang cukup besar dalam hatinya. Sepertinya perjuangannya selama ini sia-sia. Dirinya memang bukan siapa-siapa gadis tersebut. Dirinya memang tidak memiliki hak apapun. Tak sepatutnya ia ikut campur urusan gadis itu.


"Ya, aku memang bukan siapa-siapa bagimu. Dan aku ... tidak memiliki hak apapun untuk ikut campur urusanmu. Maaf. Sekali lagi maafkan aku. Ayo, aku antar kau pulang!" ucapnya lemah dan lirih.


Setelah mengucapkan itu, Tirta pun segera membalikkan badannya, beranjak dari sana menuju mobilnya.


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...

__ADS_1


__ADS_2