
"Eungh ... " Freya melenguh sambil mengerjapkan matanya. Setelah pergi ke salon dengan Sagita dan Freya, tadi mereka juga mampir ke butik langganan Sagita. Di sana ia dibelikan banyak pakaian dan segala perintilannya. Ia tak menyangka Sagita memperlakukannya sebaik itu. Maklumlah, pernikahan pertamanya ia tidak mendapatkan perlakuan baik dari mertuanya. Namun Freya tidak menyalahkan mereka sebab itu adalah buah dari perbuatannya sendiri. Ia yang menikah dengan cara tak baik, alhasil perlakuan yang ia dapat pun tak baik. Mungkin ini yang disebut apa yang kau tabur, itu yang kau tuai.
"Astaga, udah jam 5!" Freya sedikit syok. Padahal ia berniat tidur siang sebentar saja. Sekedar untuk melepas penat saja. Tapi ia justru terlelap hingga hampir 3 jam lamanya.
Freya lantas segera menuju kamar mandi. Ia belum melaksanakan shalat Ashar. Waktu shalat tinggal sebentar lagi jadi ia pun bergegas melaksanakan kewajibannya sesegera mungkin.
Setelah selesai, ia mengangkat pakaiannya dan menyapu rumah hingga ke teras. Barulah setelahnya ia mandi.
Setelah mandi, ia duduk-duduk santai di dekat kolam ikan. Saat sedang asik memberi makan ikan, tiba-tiba Erin muncul dengan wajah bengisnya.
"Bagaimana rasanya perhatikan oleh keluarga Mas Abi? Senang? Puas kau merebut semua kasih sayang mereka dariku? Puas kau merebut kebahagiaan ku? Kau senang berhasil menyingkirkan aku secara perlahan, hah? Kau puas?" Sentak Erin tiba-tiba membuat Freya tersentak hingga refleks mundur ke belakang. Hampir saja ia tercebur ke dalam kolam andai saja ia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Apa maksudmu?" tanya Freya dengan dahi berkerut.
"Kau masih mau bertanya maksudku apa? Tak usah kau berpura-pura, Freya. Aku sangat hafal dengan sifat serakahmu itu. Aku tak menyangka telah menolong seekor ular berbisa. Aku membantumu, membebaskan mu, bukan untuk merebut kebahagiaan ku, sialan. Kenapa dari dulu kau selalu merebut apa yang ku sukai? Kau selalu saja merebut apa yang aku inginkan. Kau merebut Mas Abi. Kau merebut kasih sayang Mas Abi. Kau merebut perhatian Mas Abi. Kau juga merebut kasih sayang dan perhatian dari semua orang terdekatku. Kau jahat, Freya. Kau jahat." Pekik Erin dengan wajah merah padam.
"Stop, Rin! Jangan menuduhku sembarangan! Aku tak pernah pernah memintamu membantuku apalagi membebaskan ku. Kau sendirilah yang datang dan menawarkan bantuan, jadi jangan playing victim." Balas Freya yang tak terima disalahkan seperti ini. "Dan apa katamu tadi, kenapa aku selalu merebut apa yang kau sukai? Kapan? Kapan aku melakukan itu? Jangan bilang karena di masa lalu setiap laki-laki yang kau sukai justru lebih menyukai ku. Iya? Harus kau ingat, bukan aku yang merebut mereka darimu, tapi mereka sendiri yang datang padaku. Dan apalagi yang kau katakan, aku merebut Mas Abi? Perlu kau ingat, kau yang membawaku masuk ke dalam rumah tanggamu, jadi jangan salahkan kalau Mas Abi perhatian padaku. Kau belum pikun bukan, aku sekarang sedang hamil. Hamil anak suamimu jadi wajar suamimu memperhatikan ku. Aku tak sepicik itu Rin untuk merebut Mas Abi dan orang tuanya. Aku masih sadar diri, siapa aku dan untuk apa aku ada di sini. Aku sadar, jadi tolong jangan kau menilaiku semau mu dan jangan menuduhku sembarangan karena aku tak sepicik itu." Balas Freya menggebu.
Tubuh Freya bergetar dan dadanya naik turun karena nafas yang sulit dikontrol.
__ADS_1
Tiba-tiba tangan Erin terangkat seakan ingin menampar Freya, lantas Freya pun reflek menepis tangan itu. Lalu tiba-tiba saja tubuh Erin terhuyung ke belakang dan byurrrr ...
"Erin ... " Pekik Abidzar yang entah sejak kapan telah berlarian menuju ke arah mereka. Freya yang syok mematung ditempatnya. Ia menatap tangannya yang masih menggantung di udara. Ia hanya menepis ringan lengan Erin. Ia tak menyangka apa yang ia lakukan membuat Erin tercebur ke dalam air kolam.
Tak lama kemudian, Abidzar telah berada di sisi kolam dan mengulurkan tangannya ke arah Erin yang tampak syok. Melihat tangan Abidzar terulur, Erin pun mengulurkan tangannya. Lalu Abidzar menarik pelan Erin hingga naik ke atas.
Setelah berada di atas, Erin dengan cepat memeluk tubuh Abidzar dan menangis tersedu. Ia menangis seperti seorang yang telah sangat tersakiti. Freya masih berusaha mencerna situasi.
"Mas," cicit Erin. "Aku takut." Lanjutnya membuat Abidzar mengeratkan pelukannya.
"Tidak papa. Semua sudah baik-baik saja. Mas ada di sini. Kau tak perlu takut lagi." Ucap Abidzar mencoba menenangkan Erin sebab ia tahu Erin memiliki fobia dengan air yang banyak seperti kolam apalagi laut dan pantai. Saat remaja ia pernah nyaris meninggal karena tercebur di dalam kolam renang saat ada kegiatan renang dari sekolah. Akibatnya, hingga kini Erin tak berani untuk berenang. Bahkan ke kolam ikan pun ia tak mau. Oleh sebab itu, di rumah Abidzar tidak ada kolam renang. Hanya ada kolam ikan yang tidak dalam sebab Abidzar memang memiliki hobi memelihara ikan hias.
Setelah tangis Erin agak reda, Abidzar pun melepaskan pelukannya dan memanggil Mina untuk mengambilkan handuk untuk Erin kemudian membalutkannya di tubuh Erin.
Setelah sejak tadi penasaran, akhirnya Abidzar pun melontarkan pertanyaannya.
"Itu ... maaf Mas, aku ... aku hanya ingin menghampiri Freya dan mengajaknya duduk di dalam saja. Apalagi suasana berangin seperti ini. Aku pikir tidak baik untuk kesehatan Freya dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Tapi ... tapi ... "
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Tapi sepertinya Freya tak suka dengan perhatian dariku. Dia justru marah dan mengatakan aku perempuan tak berguna karena ... karena tidak bisa hamil." Erin berucap sambil terisak membuat Abidzar menggerakkan giginya.
"Rin, apa yang kau katakan? Kapan aku mengatakan itu? Mas, itu tidak benar. Aku tidak pernah mengatakan itu pada Erin." Sergah Freya yang tak terima Erin mengatakan hal yang tidak-tidak tentangnya.
"Cukup, Fre. Jangan karena kau bisa hamil jadi kau bisa mengatakan sesuatu seenaknya. Setidaknya hargai Freya. Kau pikir ini kemauannya. Tidak. Dia pun ingin menjadi seorang ibu, tapi sayang, semesta belum mengizinkan. Dan jangan karena semua orang mempedulikan mu jadi kau bersikap angkuh. Aku tak menyangka, ku kira kau telah berubah. Tapi nyatanya, kau masih sama. Angkuh dan tak berperasaan." Sentak Abidzar membuat nafas Freya tercekat.
Abidzar memang mencintai Freya, tapi ia tak ingin Erin dilukai. Apalagi setelah pengorbanan yang Erin lakukan untuknya dan keluarganya.
Setelah mengucapkan itu, Abidzar pun segera berlalu dari hadapan Freya. Andai ia tidak ingat Freya sedang mengandung buah hatinya, ia pasti sudah membentaknya lebih keras lagi.
Di kamarnya, Erin masih saja menangis tersedu. Bahkan setelah mandi pun Erin masih saja meneteskan air matanya. Abidzar pun kembali memeluk Freya untuk menenangkannya.
"Mas, apa Mas akan meninggalkan ku setelah bayi itu lahir?" tahta Erin tiba-tiba.
Abidzar mengerutkan keningnya, "mengapa kau bertanya seperti itu?"
"Soalnya ... tadi Freya bilang dia takkan melepaskanmu. Sebaliknya, dia akan merebutmu dariku. Dia akan memintamu meninggalkan ku. Mas, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tahu aku hanyalah perempuan cacat. Mandul. Tak bisa hamil. Laki-laki mana yang mau dengan perempuan mandul sepertiku? Nggak ada. Hanya kamu, Mas. Hanya kamu yang tulus padaku. Aku mohon, Mas, tetaplah di sisiku. Aku tak masalah bila kau nantinya lebih memperhatikan Freya dan anak kalian. Asal jangan tinggalkan aku. Aku mohon." Lirih Erin dengan wajah yang telah basah bersimbah air mata.
"Siapa yang bilang kau cacat, hm? Kau tidak cacat. Jangan merasa insecure dengan dirimu sendiri. Dan siapa bilang aku akan melepaskan mu? Sampai kapanpun aku takkan melepaskan mu. Begitu pula Freya. Maaf kalau Mas terpaksa egois dan serakah sebab Mas tak tega memisahkan seorang ibu dengan anaknya pun sebaliknya." Tutur Abidzar lembut membuat Erin mendesis dalam hati. Jelas saja ia tak terima bila Abidzar ingin mempertahankan Freya juga di sisinya. Tapi untuk saat ini, ia tak masalah. Yang penting rencananya hari ini berjalan lancar.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...