Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)

Rahim Tebusan (Terpaksa Hamil Anak Suami Musuhku)
108


__ADS_3

Ana keluar dari bioskop dengan wajah memberengut masam. Bagaimana tidak, sepanjang menonton film, Tirta hanya asik dengan Melan. Mereka tampak begitu menikmati film sambil bertukar argumen, bercanda berdua, membahas film berdua, mengabaikan keberadaan dirinya. Ana merasa dirinya sudah seperti obat nyamuk diantara kedua orang itu. Hahaha segelas matcha latte dan popcorn ekstra pedas yang menemaninya sepanjang film diputar. Sungguh menjengkelkan.


"Ta, kayaknya gue nggak jadi ikut makan malam, gue udah ditelepon nyokap suruh pulang. Maklumlah, anak perawan, takut diapa-apain orang. Hahaha ... " Melan berujar santai dengan wajah ceria.


Tirta pun mengangguk, sedangkan Ana memasang wajah datarnya.


"Dek, kapan-kapan kita jalan bareng lagi yak! Kalo berdua nggak baik, takut ada setannya, jadi mending bertiga kayak gini jadi kami nggak berani macam-macam," ujar Melan sambil terkekeh sendiri.


"Mau macam-macam juga nggak papa kok, Mbak. Kan sama-sama masih single," seloroh Ana dengan wajah datar menahan jengkel. 'Dari pada dijadiin obat nyamuk kayak gini mending kalian pergi berdua aja deh. Siapa yang diajak pergi, siapa yang diladenin. Emang gue manekin, makhluk tak kasat mata, diabaikan begitu aja. Dasar sialan.'


"Eh, nggak boleh gitu dek. Nggak baik tau. Entar kami khilaf gimana? Ya nggak, Ta?" Melan melempar pertanyaan kepada Tirta yang diangguki santai laki-laki tersebut.


'Khilaf, khilaf, khilaf dari Hongkong. Kenapa sih orang-orang kalau buat kesalahan selalu saja nyalahin khilaf? Padahal diri mereka yang salah, tapi pas kepergok orang lain jawabnya khilaf,' dumel Ana dalam hati.


"Ya udah Ta, see you next time," ujar Melan seraya tersenyum manis.. Sebelum ia berlalu, Melan dengan cepat mengecup pipi Tirta membuat laki-laki itu membeliakkan matanya. Pun Ana sudah melebarkan bola matanya dengan dada kembang kempis.


Setelah Melan benar-benar menghilang di balik pintu lift, Tirta lantas mengajak Ana makan di salah satu good court yang ada di mall tersebut. Sepanjang berjalan menuju food court, Ana hanya bungkam. Malas bicara. Kesal melanda hati, jiwa, dan raga. Berbeda dengan Tirta, ia justru senyum-senyum sendiri. Membuat hati Ana kian panas saja sebab gadis itu pikir, Tirta pasti sedang membayangkan ciuman Melan tadi.


'Dia pasti sedang mikirin ciuman perempuan tadi. Baru dicium gitu aja udah bahagia banget. Gimana kalo dicium di bibir, pasti tambah ... ' Tiba-tiba Ana teringat Tirta pernah mencium bibirnya. 'Apa dia juga kayak gitu setelah cium aku waktu itu ya? ' batin Ana bertanya-tanya.


"Na, Ana, Ana ... woy Anaaaa ... " pekik Tirta di telinga Ana membuat gadis itu terlonjak kaget.


"Kau ... kenapa mesti teriak-teriak sih? Malu tau." Kesal Ana saat beberapa orang memperhatikan mereka.


"Salah sendiri, dipanggil-panggil malah nggak dengar. Udah kayak orang budek," cibir Tirta.


Ana menekuk wajah masam, "ngapain sih?"


"Mau pesan apa?"


"Terserah," ketus Ana.


"Mana ada menu terserah Ana-ku yang cantik .... " goda Tirta.


Ana memicing tajam, "kataku terserah ya terserah, ngerti nggak sih, aku lagi kesel." Ana menggerakkan giginya.


"Ya ampuuun, kamu kalau lagi marah kok makin cantik sih? Jadi pingin ... "


"Pingin apa? Pingin aku gampar?" mata Ana sudah melotot sepakan ingin meloncat dari rongganya.


"Ya Allah, kamu kok jadi marah-marah terus kayak gini sih, Na? Jangan-jangan kamu kesambet setan penunggu gedung bioskop tadi ya?" Tirta memasang ekspresi bergidik ngeri. Ana yang kadung kesal entah apa alasannya lantas mencubit perut Tirta begitu kencang.


"Aaaarghhh ... sakit, Sayang," pekik Tirta sengaja membuat orang-orang kembali mengalihkan perhatian pada mereka. Ana yang tersadar pun segera melepaskan cubitannya dengan wajah memerah karena malu. "Kamu kok belum nikah udah kdrt sih? Gimana kalau udah nikah entar?" Tirta memasang wajah seperti orang yang paling tersakiti.

__ADS_1


"Mbak, nggak boleh galak-galak sama calon suami, entar ditinggalin baru nyesel lho. Apalagi mas nya ganteng kayak gini, gampang buat cari pengganti mbak yang lebih cantik lagi." Tiba-tiba saja ada beberapa perempuan yang menghampiri mereka. Makin merah padam saja wajah Ana. Dalam hati ia menggerutu, kenapa ia sampai lepas kendali seperti ini.


'Ah, ini bukan salah gue. Ini salah si sontoloyo ini. Kalau dia nggak bikin gue kesel, gue nggak akan sampai lepas kendali kayak gini.'


"Kamu benar. Dari tadi kami perhatiin mbak lho, mbak masang muka cemberut mulu padahal si mas nya udah senyum manis, berbicara lembut, mencoba meluluhkan hati si mbak, eh si mbak malah cubit-cubit, kasar banget jadi cewek mbak." Timpal yang lainnya.


"Nggak usah ikut campur urusan kami deh. Kalian nggak tau apa-apa juga, tapi sok tau," ketus Ana.


"Ya ampun Mas, kasian banget kamu punya pacar kayak si mbak ini, mana kasar, ketus juga, nggak ada ramah-ramahnya jadi cewek. Yang sabar ya, Mas," imbuh yang lainnya.


"Mas, mas, kalau mas udah jengah sama si mbak ini, aku mau kok jadi pendampingnya si Mas. Ini kartu nama saya, Mas. Hubungi saya, oke!" Ujar salah seorang perempuan berwajah cantik dan berpenampilan seksi.


Hati Ana kian panas membara. Baru saja Ana hendak menyentak tangan perempuan itu, tapi respon Tirta membuat hati Ana bagai disiram gletser. Ademmmm ...


"Maaf ya, mbak," Tirta menolak halus kartu nama tersebut dengan mendorongnya kembali. "Bagaimanapun sifat dan sikap calon istri saya, saya udah menerimanya lahir dan batin. Sebagai calon suami, saya harus menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Lagian sebenarnya calon istri saya ini baik kok. Dia cuma lagi kesal sama saya. Mana lagi PMS juga." Tirta terkekeh membuat para perempuan itupun ikut terkekeh.


"Oh, pantes." Koor beberapa perempuan itu.


"Tapi aku salut lho sama si Mas nya, udah sabar, masih mau membela pula. Tapi seriusan, kalau si mbaknya masih begitu, aku mau kok gantiin."


"Jangankan kamu, aku pun mau."


"Terima kasih ya mbak. Maaf, kami pergi dulu."


"Lho, Mas nya kan belum makan?"


"Uuuu ... so sweet."


"Mbak, dijaga ya mbak calon suaminya. Calon suami idaman tuh. Kalau emang mbak nggak mau lagi, kami mau kok gantiin," seloroh para gadis itu.


"Mbak kayak nggak laku aja, masa' ngincerin milik orang," cibir Ana.


Mereka lantas terkekeh, "zaman sekarang mah nggak peduli milik orang mbak, asal suka, sikat aja. Makanya sekarang zaman pelakor, nggak peduli yang diincar udah punya anak bini, yang penting laki-laki idamannya bisa mereka dapatkan. Tapi tenang aja mbak, kami bukan pelakor. Makanya kami peringatin mbak buat dijaga Mas nya. Kalau mbak nggak mau lagi, kami siap kok nampung," ujar salah satunya sambil tergelak.


"Aak, yuk pergi dari sini. Lama-lama kamu beneran digaet sama mereka lagi," kesal Ana sambil menarik-narik lengan Tirta. Tirta hanya pasrah saja. Tapi dalam hati ia menjerit kegirangan. Berharap ini awal Ana menaruh perasaan padanya.


Para perempuan itupun tergelak kencang melihat reaksi Ana yang tampak kesal.


***


"Jadi kita mau makan dimana?"


Ana melirik Tirta sebal, tapi Tirta stay cool saja.

__ADS_1


"Drive thru aja. Aku mau makan burger. Lagian udah malam banget ini. Entar Mbak Freya marah kalau kita pulangnya terlalu larut," jawab Ana sedikit ketus.


Tirta mengangguk-anggukan kepalanya. Kebetulan posisi mereka tak jauh dari restoran fast food yang Ana maksud jadi Tirta langsung saja masuk ke area Drive thru untuk memesan sesuai yang Ana inginkan. Setelah selesai, mereka pun segera pergi dari sana.


Ana pun membuka burger nya dan menyantap miliknya.


"Aak nggak makan?" tahta Ana saat melihat Tirta masih fokus menyetir.


"Gimana mau makan kan lagi nyetir," jawab Tirta apa adanya. Ana jadi tak enak hati. Masa' dia makan sendiri saja, sedangkan Tirta tidak. Ana lantas berinisiatif menyuapi Tirta. Ia pun membuka burger milik Tirta dan menyodorkannya ke mulut Tirta.


Tirta mengernyitkan dahi, bingung.


"Buka mulutnya! Masa' nggak ngerti sih!" ketus Ana membuat Tirta tersenyum lebar dan membuka mulutnya. Ia pun memakan burger miliknya dengan bantuan Ana. Ana juga membantu memberi Tirta minum. Andai Ana tahu, Tirta saat ini sedang bersorak dalam hati kegirangan karena Ana mau berinisiatif menyuapinya tanpa ia minta.


"Kamu kok dari tadi masang muka jutek gitu sih? Mana ketus juga. Emang aku salah apa?" tanya Tirta saat mereka berada di lampu merah.


"Tau. Mikir aja sendiri," ketus Ana melengos ke arah jendela.


"Yah mana aku tahu kalau nggak dikasih tahu. Emangnya aku cenayang yang bisa baca pikiran orang? Nggak. Makanya bilang, biar aku tahu," ujar Tirta sambil memandangi wajah Ana dari samping. Tapi Ana diam saja membuat Tirta menghela nafasnya. "Gimana film tadi? Bagus nggak?" Tirta mengalihkan perhatian Ana.


"Bagus apanya? Nggak bagus sama sekali," celetuk Ana membuat Tirta mengerutkan dahi.


"Bagus gitu, kok kamu bilang nggak bagus?" tahta Tirta heran.


"Gimana mau bagus, aku nggak dengar sama sekali. Soalnya suara kalian berdua berisik. Ngobrol melulu. Padahal siapa yang diajak nonton, tapi yang diajak ngobrol malah siapa. Nyebelin. Kalau tau bakal jadi obat nyamuk begitu, mending tadi nggak usah pergi sama aku. Enakan tiduran di rumah sambil drakoran," gerutu Ana akhirnya membuat Tirta tertawa terpingkal-pingkal. Akhirnya Ana mau mengeluarkan unek-uneknya setelah sejak tadi bungkam.


"Maaf," ucapnya sambil mengulum senyum.


"Maaf tapi nggak ikhlas, buat apa."


"Siapa yang bilang nggak ikhlas?"


"Itu sambil senyum-senyum. Dasar nyebelin."


Makin tergelak lah Tirta. Ia bahkan mengulurkan tangannya mengacak rambut Ana gemas membuat gadis itu tertegun.


"Emang siapa yang jadiin kamu obat nyamuk? Lagian, nyamuk kok diobatin, makin sehat lah mereka." Tirta tergelak lagi.


"Iih, itukan istilah soalnya kalian sibuk ngobrol berdua aja. Aku dikacangin," gerutu Ana, tapi kali ini tidak terdengar ketus. Justru bernada manja membuat Tirta berseru kegirangan dalam hati.


"Maaf. Habisnya kamu masang muka jutek melulu. Tiap ditanya, ketus. Entar aku ajak kamu ngobrol pas lagi nonton, kamu malah marah jadi ya udah, aku ngobrol sama Melan aja. Aku pikir kamu nggak mau diganggu." Mendengar penuturan Tirta, Ana lantas terdiam. Ia pun bingung dengan dirinya sendiri yang mendadak kesal setelah kehadiran Melan. Tidak mungkin kan ia cemburu pada perempuan tersebut?


'Cemburu? Nggak mungkin. Memangnya dia siapa?' Ana terus menepis gelenyar aneh yang mulai mengusik relung jiwanya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 😍😍😍...


__ADS_2