
Tirta yang masih penasaran tegangan tinggi pun segera mengejar taksi tersebut dengan mobilnya. Namun dirinya sedikit menjaga jarak agar gadis mirip Ana tersebut tidak menyadari keberadaannya. Hingga tak sampai 30 menit kemudian, taksi yang membawa gadis bernama Hana itu berhenti di depan lobby sebuah apartemen kelas menengah ke atas.
Tirta mengerutkan keningnya, benar-benar bingung. Benarkah gadis itu adalah Ana? Tapi bagaimana mungkin seorang art tinggal di sebuah apartemen kelas menengah ke atas tersebut. Memang apartemen itu tidak termasuk apartemen mewah. Tapi untuk orang seperti Ana rasanya tak mungkin ia membeli ataupun menyewa apartemen di sana. Biarpun kelas menengah ke atas, tapi harganya masih kisaran ratusan juta. Harga sewanya pun bisa jutaan bahkan sampai belasan juta perbulan.
"Hana? Ana? Apa mereka satu orang yang sama? Atau apa mereka saudara kembar?" gumam Tirta sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Saat ini mobilnya sedang menepi tak jauh dari apartemen yang dimasuki Hana.
Setelah menepi beberapa saat, Tirta pun kembali melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Tak lama setelah Tirta pergi, tampak seorang gadis keluar dengan mengenakan celana kulot dan hoodie. Tidak seperti gadis sebelumnya yang mengenakan barang-barang branded, kali ini gadis yang keluar mengenakan pakaian murah yang kerap di obral di pasar. Tak lama kemudian, sebuah ojek online datang. Gadis itupun segera naik ke atas motor. Tak butuh waktu lama, motor itu pun segera melaju mengantarkan penumpangnya ke alamat tujuan.
Sementara itu, di kediaman orang tua Abidzar, tampak putra satu-satunya keluarga itu memasuki rumah dengan langkah panjang. Sang ayah yang belum tidur pun menegurnya.
"Dari mana, Bi?"
"Eh, papa kok belum tidur?"
"Jawab dulu pertanyaan, Papa. Bukannya malah balik nanya."
"Abi barusan ketemuan sama seseorang, Pa."
"Siapa? Sampai selarut ini."
"Seseorang pokoknya, Pa. Sebenarnya Abi mau cerita sekarang, tapi lebih baik besok aja."
Abraham mengangguk, "papa juga ingin menyampaikan sesuatu besok. Jadi sekalian saja." Ucap Abraham. Abidzar pun mengangguk, mengiyakan. "Ya sudah, ke kamarlah. Kasihan istrimu sedang hamil malah ditinggal-tinggal."
Abidzar tersenyum, "ya, sudah. Selamat malam, Pa. Papa juga, buruan ke kamar. Entar mama marah lho diduakan sama berita melulu." Seloroh Abidzar membuat Abraham tersenyum. Ia pun gegas mematikan televisi mengikuti saran putranya. Setelahnya, ia pun segera ke kamar menyusul sang istri yang entah sudah tidur atau belum.
Di dalam kamar Abidzar, laki-laki itu masuk dengan perlahan. Khawatir mengganggu tidur sang istri yang tampak pulas. Ia pun segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan, muka, dan kaki. Setelahnya ia pun berganti pakaian. Sebelum menghampiri sang istri yang telah terlelap, ia terlebih dahulu menuju ke meja rias. Ia mengambil serum perawatan wajah miliknya. Meskipun ia seorang laki-laki, penting baginya untuk menjaga kesehatan kulit wajah. Walaupun hanya memakai serum, tapi cukuplah untuk membuat kulitnya tetap sehat terawat. Setelah selesai, barulah ia merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
__ADS_1
Namun baru saja ia membaringkan tubuhnya, mata Abidzar terbelalak. Sebab ternyata istrinya sedang menangis dalam tidurnya.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu mimpiin apa? Atau ada yang sakit?" tanya Abidzar panik. Ia mencoba membangunkan Freya dengan menepuk-nepuk pipinya pelan. Hingga tak berapa lama, mata cantik itupun terbuka. Bukannya tangisnya mereda, Freya justru makin terisak sambil memukul-mukul dada Abidzar.
"Mas jahat, katanya cinta aku, sayang aku. Tapi Mas masih aja selingkuh. Mas jahat. Kenapa Mas jahat? Apa Mas masih mau membalas dendam sama aku? Huhuhu ... Padahal aku sudah susah payah membuka hati kembali, tapi kenapa Mas justru mengkhianati? Apa pernikahan keduaku juga akan berakhir tragis? Huhuhu ... " Tangis Freya pecah. Ia terus memukuli dada Abidzar menggunakan tangannya. Wajahnya telah basah oleh air mata. Matanya pun telah memerah. Begitu pula hidung. Sampai-sampai Freya kesulitan bernafas karena hidungnya yang mulai tersumbat.
Abidzar jelas saja bingung. Kapan dirinya berselingkuh? Meskipun ia tidak mencintai Erin saja ia tidak pernah selingkuh. Soal hubungannya dengan Freya, dia juga tak selingkuh. Bukankah wajar seorang suami mencurahkan cinta dan kasih sayangnya pada sang istri. Apalagi saat ini istrinya itu sedang mengandung buah hati mereka.
Abidzar membiarkan saja Freya mengeluarkan segala kemarahannya. Setelah tak ada lagi kata yang terucap dari bibir Freya, barulah ia menangkup pipi Freya dan memaksanya menatap matanya.
"Kamu kenapa, sayang? Kapan Mas selingkuh, hah?" Dahi Abidzar berkerut dalam. Ia pun penasaran dengan apa yang barusan Freya ucapkan. Apa ada yang memfitnah dirinya selingkuh? Atau ada hal yang lain yang membuat berpikir ia selingkuh di belakangnya.
"Tadi. Mas tadi selingkuh. Aku liat dengan mata kepalaku sendiri. Mas masuk ke sebuah restoran mewah dengan seorang perempuan cantik dan seksi. Terus Mas kencan dengannya di restoran itu. Mas juga sampai mendekor restoran itu agar makan malam Mas terasa berkesan dan romantis. Mas jahat. Aku ... aku ... "
Mata Abidzar membulat. Kapan dirinya makan malam dengan seorang perempuan di restoran, coba? Diam-diam, Abidzar mengulum senyum. Ia yakin, istrinya ini baru saja bermimpi tentang perselingkuhan dirinya.
Mana ada dalam kamus Abidzar. Dia adalah tipe laki-laki setia. Mengenai dirinya yang lebih mengutamakan Freya, bukan salahnya dong. Erin sendirilah yang memulai. Bahkan kehadiran Freya pun merupakan skenario dirinya.
"Kapan kamu liat, hm?"
"Tadi."
"Kapan?"
"Tadi. Aku bilang tadi ya tadi." Ketus Freya dengan mata melotot.
"Tapi tadi 'kan kamu tidur?" Abidzar mengulum senyum membuat Freya tersentak dan seketika salah tingkah. "Kamu pasti mimpi, iya 'kan?" Freya menutup mulutnya rapat. Bila diingat-ingat, memang tadi dia tidak kemana-mana, sudah pasti yang dilihatnya tadi hanya dalam mimpi.
__ADS_1
"Biarpun mimpi Mas jahat tau nggak. Dalam mimpi pun Mas bisa selingkuhin aku apalagi di dunia nyata. Apalagi aku hanya sebatas istri ... " Freya tak melanjutkan kata-katanya. Abidzar yang paham pun segera menggenggam tangannya.
"Sesegera mungkin, Mas akan meresmikan pernikahan kita. Kalau perlu, kita akad nikah ulang dengan kakakmu sebagai walinya, bagaimana?" tawar Abidzar yang memang sudah memikirkan semua itu. Ia juga enggan membahas masalah mimpi aneh sang istri daripada membuat wanita hamil itu terus kepikiran yang tidak-tidak.
Mata Freya membulat. Tentu saja ia bahagia bila itu benar terjadi. Namun tiba-tiba binar matanya berubah sendu kala mengingat ada seseorang yang pasti menentang rencana suaminya tersebut.
"Bagaimana dengan Erin? Aku yakin dia pasti akan menentang rencana Mas itu." Ujarnya dengan wajah tertunduk lesu.
Abidzar meraih tangan Freya dan mengecup punggungnya, "kau tak perlu pikirkan itu. Itu urusan Mas. Yang perlu kau pikirkan hanyalah kebahagiaan mu dan calon buah hati kita. Ingat, kau tak boleh banyak pikiran sebab itu bisa berpengaruh pada kandunganmu, oke!" Ucap Abidzar mencoba menenangkan.
Freya tersenyum sendu, "semoga niat baikmu dimudahkan Allah ya, Mas. Aku hanya bisa menyerahkan segalanya pada Allah. Semoga ini yang terbaik sebab kadangkala apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah." Balas Freya yang kini sudah mulai tenang.
Abidzar mengusap pipi Freya yang masih basah.
"Ingat ini, Mas mencintaimu dan sampai kapanpun takkan mungkin mengkhianatimu apalagi berselingkuh. Jangan mau tertipu daya setan. Apa tadi istri Mas ini lupa membaca doa, hm?" Freya yang merasa bersalah pun mengangguk. Bagaimana ia mau membaca doa, sedangkan dirinya saja tidak sadar kalau ketiduran. Tadi dia sibuk menunggu kepulangan suaminya sambil memainkan ponsel pemberian Abidzar hingga tak lama kemudian matanya terpejam tanpa sadar. Tapi satu yang ia ingat jelas, sebelum tidur ia sempat membaca cuplikan novel di aplikasi berwarna biru. Cuplikan tersebut menceritakan bagaimana sang istri sah memergoki suaminya sedang makan malam romantis dengan selingkuhannya. Sang istri merasa hancur, sakit hati, dan kecewa. Mungkin karena terlalu terbawa perasaan sampai-sampai Freya pun memimpikan kalau dirinya lah perempuan tersebut.
Melihat raut wajah malu-malu sang istri, membuat Abidzar tergelak kencang. Padahal jam sudah menunjukkan hampir jam 12 malam, tapi dia malah kehilangan rasa kantuknya karena merasa tak habis pikir dengan istrinya itu.
...***...
Hayo cung, siapa di sini kalau baca sesuatu yang bikin baper suka kepikiran? Apalagi kalo ada scene memergoki kayak gitu? Kalau othor juga suka gitu. Mata merem, tapi otak sibuk menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. 😂
Untung aja sore ini othor udah mendingan. Tadi sebenarnya sempat niat nggak mau update soalnya hari ini othor tiba-tiba drop. Dari selama ulu hati othor sakit banget. Belum lagi dari jam 2 dini hari itu nggak sudah-sudah naik-turun tangga ke kamar mandi gara-gara diare. Mana ditambah mual mau muntah. Badan othor tadi sampai lemes banget. Nggak biasanya kayak gini. Biasanya paling sakit kepala, tapi semalam ya Allah, othor sampai pucat banget gara-gara darah kayak naik dari kaki ke kepala. Othor sendiri nggak ngerti istilahnya apa. Syukurlah sore ini agak mendingan. Jadi bisa nulis satu bab, tapi entah malam entar bisa nambah nggak tergantung sikon.
Makasih buat yang terus mantengin kisah Freya dan kasi support dengan like, komen, vote, de-el-el. Semoga kakak semuanya diberikan kesehatan. Aamiin ...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1
...HAPPY READING 😍😍😍...