
Ana tengah termenung di kamarnya. Ia memikirkan apa yang telah Tirta lakukan untuknya. Bohong bila ia tidak terenyuh. Apalagi Tirta merupakan laki-laki kedua ketiga yang memperlakukannya dengan begitu baik dan penuh perhatian setelah mendiang ayahnya dan Martin.
"Apa mungkin aku bisa membuka hatiku untuknya? Jujur saja, aku pun tak nyaman dengan perasaan terlarang ini," gumamnya sambil memperhatikan langit-langit kamarnya.
Ya, Ana menganggap perasaannya merupakan perasaan terlarang sebab laki-laki yang ia sukai telah menikahi mamanya sendiri. Tidak mungkin lagi kan ia mengharapkan laki-laki itu.
Tapi satu yang menjadi pertanyaan Ana, apakah laki-laki itu tulus mencintai mamanya? Apakah mamanya bahagia dengan keputusan tak terduganya itu?
Sakit sebenarnya, saat mamanya pulang dan tiba-tiba mengatakan dirinya telah menikah dengan Martin. Orang kepercayaan papanya, adik angkat papanya sendiri, orang yang Ana kira pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi kenyataan menamparnya. Mamanya tiba-tiba saja mengatakan mereka telah menikah. Tanpa menanyakan pendapat Ana terlebih dahulu. Tanpa membicarakannya lagi, tiba-tiba saja mereka mengumumkan kalau mereka telah menikah. Bagaimana Ana tidak syok dan sakit hati. Ana kecewa. Ana terluka. Baik dengan sikap mamanya yang menikah tanpa meminta pendapatnya sebagai seorang anak, maupun pada Martin yang ia kira memiliki perasaan khusus padanya.
Sakit akan kenyataan tak terduga itu, tanpa menanyakan kronologis pernikahan mereka, Ana segera masuk ke dalam kamar dan mengepak barang-barangnya dan pergi dari rumahnya sendiri. Rumah dibangun mendiang ayahnya untuk keluarga kecilnya. Teriakan dan tangisan Mamanya, ia abaikan. Martin yang mencoba menghentikannya pun tidak ia pedulikan. Panggilan adik laki-lakinya juga ia tidak hiraukan.
Rasa sakit itu membuatnya bersikap impulsif dan pergi dari rumah. Berharap, kepergiannya dapat menyembuhkan luka hati, tapi nyatanya, luka itu masih bersemayam. Entah kapan luka itu akan sembuh. Melihat kegigihan Tirta, bolehkah ia berharap laki-laki itu mampu menyembuhkan luka hatinya? Menggantikan luka lara menjadi cinta luar biasa.
...***...
"Ngapain kamu kemari? Sore-sore gini." Tanya Abidzar pada Tirta yang datang ke rumahnya sore itu. Padahal belum satu jam yang lalu mereka pulang ke rumah, tapi tak lama kemudian, Tirta telah muncul kembali di hadapannya. Tapi kali ini bukan di kantor, tapi di rumah.
Tirta tersenyum kecil, "mau aja Ana jalan, nggak papa kan, Fre!" Tirta justru meminta izin pada Freya, saja nyonya rumah. Freya yang tadi bermain dengan bayinya pun mengangguk kecil sambil tersenyum menggoda.
"Cie ... cie, yang mau pdkt," goda Freya membuat Tirta mesem-mesem.
"Thanks ya!"
__ADS_1
Freya mengangguk, "mau ke mana? Pulangnya jangan malam-malam. Anak gadis dilarang pulang terlalu larut."
"Iya, iya, tenang saja, nggak pulang malam kok. Paling pulangnya jam 12 malam," canda Tirta.
"Awas kalau loe serius pulangin dia jam segitu, gue langsung bawa ke KUA kalian," seru Abidzar yang kini sudah mengambil alih Abrisham dari gendongan Freya.
"Wah, bagus tuh! Gue setuju sama ide loe, bro. Jadi gue bawa pulang Ana jam 12 yak!"
Plakkk ...
Sebuah tutup toples dipukulkan Freya ke kepala Tirta membuat laki-laki itu meringis dengan bibir mencebik. Ana yang baru saja muncul di sana terkekeh geli melihatnya.
"Kenapa aku dikeplak sih? Emang salah?" tanya Tirta yang memasang wajah sok tanpa dosa.
"Ya salah lah. Aku yakin, Ana itu punya keluarga. Jadi kamu nggak boleh asal nikahin gitu. Nggak baik. Pasti orang tuanya akan kecewa kalau kamu kayak gitu." Ujar Freya yang ternyata berhasil menyentil Abidzar. Padahal sebelum putranya lahir ia sempat mengatakan akan kembali menikahi Freya dengan Tio sebagai walinya.
"Ya."
"Itu, Mas hampir lupa, kamu ingat kan Mas pernah bilang mau nikahin kamu lagi dengan Mas Tio sebagai walinya, menurut kamu bagaimana? Apalagi kita belum mengesahkan pernikahan kita di KUA."
Freya tersenyum, ia tak menyangka, suaminya akan berpikir sampai sejauh itu. Ya, meskipun itu memang perlu. Bukan hanya untuk diri mereka, tapi pura mereka. Mereka belum mengurus akta kelahiran Abrisham. Jadi sebelum itu, mereka harus mengesahkan pernikahan mereka dahulu agar mereka bisa mengurus akta kelahirannya.
"Mana baiknya aja, Mas. Freya serahkan semuanya pada Mas. Freya manut aja."
__ADS_1
Abidzar tersenyum, "bagaimana kalau habis masa nifas kamu aja? Jadi mulai sekarang Mas akan meminta bantuan mama untuk mempersiapkannya."
"Kenapa harus minta bantuan mama, Mas? Kan kita hanya perlu ke KUA aja."
Abidzar menggeleng tegas, "aku ingin memperkenalkan kamu sebagai istriku dengan keluarga, kerabat, teman, rekan kerja, dan semuanya. Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan kita. Aku ingin memperkenalkanmu sebagai istriku pada semua. Kamu nggak boleh menolak, oke?"
"Tapi kan pernikahan kita sudah hampir satu tahun, Mas. Bagaimana kalau mereka berpikir macam-macam tentang kita." Freya cemas. Bagaimana pun beberapa bulan sebelumnya Erin masih menyandang status sebagai istri
sah Abidzar. Meskipun semua orang mungkin sudah tahu mengenai pernikahannya dari berita yang sempat Erin viralkan saat itu dan telah ada pemberitaan tentang penipuan yang Erin lakukan termasuk bagaimana mereka bisa menikah, tapi mereka belum pernah melakukan klarifikasi secara langsung kalau Erin lah yang membawanya masuk ke dalam rumah tangganya.
"Jangan terlalu over thinking! Orang bijak pasti tidak akan berpikir macam-macam tentang kita. Meskipun kita tidak pernah klarifikasi secara langsung, tapi pihak kepolisian telah mengungkapkan kronologisnya. Kau hanya perlu duduk diam di rumah, biar aku, Tirta, dan mama yang menyiapkan semua."
"Lha, kenapa namaku disebut-sebut?" protes Tirta. Siapa yang mau menikah, siapa yang mau direpotkan.
"Nggak usah banyak protes. Nurut aja. Kalau nggak mau cuan, ya udah. Toh sekarang mau mempersiapkan pernikahan itu gampang. Tinggal undang WO, semua beres. Lagian, bukannya ini bisa loe manfaatkan untuk belajar. Siapa tahu, setelah ini, loe yang bakal nikah," ujar Abidzar sambil memainkan alisnya.
Mendengar kalimat tersebut, bibir Tirta merekah dengan lebarnya. Sorot matanya kini terpaku pada Ana yang sedari tadi diam.
"Benar juga ya, Na. Kamu nanti bantuin aku ya. Siapa tahu setelahnya, kita yang nikah," sahut Tirta sambil tersenyum penuh arti.
Ana malu sendiri mendengar hal tersebut di depan kedua majikannya. Bagaimana mereka mau nikah, lah mereka saja baru mau pdkt. Dirinya saja belum memiliki perasaan apa-apa dengan laki-laki tersebut. Tapi ia sakit dengan kepercayaan diri Tirta. Sikap laki-laki itu menunjukkan kalau ia benar-benar serius dengan dirinya. Bolehkah ia menaruh harapan pada laki-laki itu?
Freya terkekeh melihat ekspresi salah tingkah Ana. Lantas ia meraih pundak Ana dan mendorongnya ke arah Tirta, "jaga adikku baik-baik ya! Awas kalau ada yang kurang, aku sentil ginjal mu," ancam freya membuat Tirta merinding seketika.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...