
"Mas, kayaknya ini bukan jalan pulang ke rumah mama deh. Mas mau ajak aku ke mana?" tanya Freya saat mobil yang dikendarai Abidzar tidak melewati jalan biasanya.
Abidzar tersenyum sumringah, kemudian meraih tangan kanan Freya dan menggenggamnya.
"Ke suatu tempat. Semoga kamu suka tempat itu." Ujar Abidzar. Lalu ia melabuhkan kecupan hangat di punggung telapak tangan Freya membuat pipi Freya bersemu kemerahan.
"Emangnya kemana?"
"Mau tau aja apa mau tau banget?"
"Mas Abi ih, nggak usah main-main deh. Aku serius tau." Freya mencebik.
Abidzar terkekeh. Ia terus mengemudikan mobilnya tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Kejutan dong. Kalo Mas kasi tau namanya bukan kejutan."
"Iya juga sih." Freya pun tersenyum geli. Seumur hidup ia tidak pernah mendapatkan perlakuan semanis ini. Meskipun dulu ia memiliki banyak kekasih, tapi mereka semua memperlakukannya manis hanya dengan maksud tertentu. Namun untuk perlakuan tulus, hanya ia dapatkan dari Abidzar.
Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam, mobil yang Abidzar kendarai belok ke area yang dipenuhi oleh pepohonan rindang. Sejauh mata memandang, kehijauan terhampar luas membuat mata Freya berbinar ceria. Ia pun membuka kaca mobil membuat semilir angin berhembus menerpa wajahnya. Rambut Freya berkibar membuat kecantikan Freya makin terlihat memukau.
"Angin di sini beda beda banget dengan angin di kota, Mas. Ini di daerah mana sih? Kok aku baru tau ada tempat seperti ini. Kayak mau ke daerah puncak aja, tapi kayaknya bukan."
"Nanti juga kamu tahu. Sebentar lagi sampai kok. Anggap aja ini baby moon kita. Kalau pasangan pengantin baru kan honeymoon. Berhubung istri Mas sedang hamil, jadi baby moon." Ujar Abidzar dengan wajah tak kalah ceria.
Sudah sejak lama Abidzar ingin menghabiskan waktu berdua seperti ini, tapi karena kesibukannya ia tidak memiliki banyak waktu. Khusus hari ini dan selama 3 hari ke depan, memang ia sengaja mengosongkan jadwal. Ia telah berkoordinasi dengan Tirta agar bisa memberinya libur tanpa diganggu gugat selama 3 hari untuk berlibur bersama Freya.
Meskipun Barokah Tour and Travel miliknya sendiri, tapi ia tetap tidak bisa libur seenaknya. Ada banyak hal yang mesti diurus. Apalagi bisnisnya ini bukan hanya berdiri sendiri, tapi bekerja sama dengan banyak pihak, mulai dari pihak jasa transportasi, pemerintah setempat, pihak hotel, tempat wisata, dan lain-lain.
__ADS_1
'Ya Tuhanz bolehkah aku egois ingin memiliki Mas Abi sebagai suamiku sebenarnya? Aku tahu, aku salah. Tak semestinya aku meminta seperti ini sebab ada yang lebih berhak atas Mas Abi. Aku tahu, keinginan ku ini sama saja kesakitan bagi perempuan lain yang merupakan istri pertama Mas Abi. Tapi ... aku hanyalah manusia biasa. Aku pun ingin memiliki seseorang yang mencintai dan menyayangi dengan tulus apa adanya. Dan ... sosok itu aku temukan dalam diri Mas Abi. Ya Tuhan, salahkah aku bila menginginkan Mas Abi? Aku bukannya ingin memilikinya seorang diri. Aku sadar, aku bisa merasakan manisnya dicintai ini pun berkat seseorang. Aku akan menjadi manusia paling jahat bila berniat merebut Mas Abi darinya. Aku tidak ingin egois, Ya Tuhan. Tidak. Aku hanya ingin menjadi bagian darinya. Jadi salah satu wanita yang beruntung bisa merasakan cinta dan kasihnya. Ya Tuhan, tolong aku. Bantu aku. Bila rasa ini salah, tolong hapuskan rasa ini sebelum benar-benar berkembang. Ya Tuhan, bila dia benar jodohku, dekatkanlah, dan bila bukan mohon berikan lah jalan terbaik untuk kami berdua.'
Bila mereka tidak berjodoh, Freya sengaja tidak meminta dijauhkan sebab diantara mereka ada sosok yang kelak akan jadi penghubung. Mana mungkin ia meminta dijauhkan. Bila anaknya kelak memang diambil Abidzar, lalu bagaimana dengan dirinya. Pun bila Abidzar tidak tega mengambil anaknya, tak mungkin juga ia mencoba ingin menjauhkan anak dengan ayahnya. Bagaimana pun, anaknya berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
"Kenapa melamun?" tanya Abidzar saat melihat Freya tampak melamun sambil menatap ke luar jendela.
Freya tersentak. Lalu ia menoleh dengan sedikit tergagap.
"Emmm ... nggak. Aku hanya sedang bersyukur."
"Bersyukur?"
"Ya, bersyukur sebab aku masih diberikan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan ini. Saat di penjara, aku sempat berpikir, mungkin masa itu adalah akhir segalanya. Kebahagiaan, cinta, kasih sayang, kehangatan, semua seperti fatamorgana yang takkan mungkin aku gapai lagi. Semua hanya mimpi yang takkan mungkin bisa aku dapatkan di dunia nyata ini. Tapi ... sekarang aku ... aku ... " Lidah Freya terasa kelu. Ia kesulitan untuk mengungkapkan betapa ia bahagia. Walaupun entah kebahagiaan ini akan bertahan berapa lama, sementara ataukah selamanya, tetap saja, ia merasa benar-benar bahagia.
Mendengar suara Freya yang tampak bergetar, Abidzar tahu perasaan ibu hamil itu sedang tidak stabil. Abidzar pun segera menepikan mobilnya di dekat sebuah danau buatan. Ia melepaskan seat beltnya pun dengan Freya. Lalu ia menarik Freya ke dalam pelukannya. Didekapnya erat tubuh Freya yang mulai padat berisi semenjak hamil. Diusapnya punggung Freya membuat wanita hamil itu terisak di dalam dekapan suaminya.
Freya lantas mengeratkan pelukannya pada Abidzar. Ditumpahkannya segala sesak yang memenuhi dadanya melalui tangisan di pelukan Abidzar. Tak pernah ia merasa senyaman ini.
''Terima kasih, Mas. Terima kasih atas segalanya. Maaf bila aku belum bisa membalas cintamu. Maaf sebab rasa takutku ternyata masih lebih besar daripada keinginanku untuk membalas cintamu.'' Ucap Freya masih berada dalam pelukan Abidzar.
"Kau tak perlu minta maaf, sayang. Mas paham, tidak mudah bagimu untuk melabuhkan cinta sedang awal hubungan kita saja dimulai dengan cara yang tak biasa. Melihat mu sudah mulai membuka hati pada Mas saja bagai sebuah anugerah. Mas yakin, perlahan tapi pasti, cinta kita akan tumbuh subur. Apalagi kita memiliki penghubung yang luar biasa. Anak kita. Dia yang akan mempererat hubungan kita. Membuat cinta kita makin tumbuh dan berkembang."
Freya tersenyum. Lalu ia melepaskan pelukannya sambil menyeka air mata di pipi. Sedetik kemudian, matanya terbelalak saat melihat keindahan danau buatan dimana mereka berada saat ini.
"Ini ... "
"Ini pulau buatan milik teman, Mas. Teman Mas membuat resort dengan pemandangan danau buatan. Tempat ini belum dibuka untuk umum jadi kita adalah tamu pertama di pulau ini." Ujar Abidzar bangga.
__ADS_1
"Mas serius? Ini bagus banget lho. Kayak danau yang terbentuk alami aja." Puji Freya yang rasanya tak sabar ingin melihatnya secara langsung. Abidzar yang paham pun segera membuka kunci mobil. Lalu ia keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Freya. Ia mengajak Freya bersantai di atas batu yang terletak di tepi danau. Freya pun melepaskan sepatunya dan mencelupkan sebagian kakinya ke dalam sana. Rasa dingin air membuat tubuhnya seketika rileks. Abidzar pun mengikuti apa yang Freya lakukan. Ia duduk tepat di samping Freya dan merangkul pundaknya sambil menikmati pemandangan danau buatan yang juga telah diisi aneka macam ikan.
Sementara Abidzar sedang menikmati liburannya dengan Freya di sebuah resort, Tirta yang hanya tahu Abidzar meminta cuti untuk menikmati hari-harinya bersama Freya pun datang ke kediaman Abidzar. Sejak tadi Tirta mencoba menghubungi Abidzar, tapi tak bisa sebab nomornya yang memang sengaja ia nonaktifkan. Ia pikir kalaupun Abidzar dan Freya hendak berlibur, mungkin saja siang itu mereka masih berada di rumah jadi ia pun mendatangi rumah Abidzar begitu saja untuk menunjukkan rekaman yang ia dapatkan beberapa saat yang lalu. Tapi setibanya di sana, ternyata Abidzar tidak ada.
"Beneran Abi nggak ada, Na."
"Udah dibilangin nggak ada ya nggak ada. Tuan Abi udah jarang pulang ke rumah ini." Ketus Ana membuat Tirta garuk-garuk kepala.
"Kamu kok ketus banget sih, Na. Nggak bosen apa ngajakin aku berantem mulu?"
"Siapa yang ngajakin berantem? Situ duluan yang dibilangin nggak percaya." Omel Ana dengan mata mendelik.
"Na, kamu masih marah sama aku?"
"Udah ah, nggak usah banyak cing-cong. Saya masih banyak kerjaan. Kalau masih mau nunggu ya tungguin aja." Setelah mengatakan itu, Ana pun membalikkan badannya untuk menjauhi Tirta. Sumpah mati, sebenarnya Ana gugup setengah mati saat menghadapi Tirta. Sikap ketusnya sebenarnya sebuah tameng untuk menutupi rasa malunya atas kejadian di masa lalu.
"Aaargh, kenapa sih dia pake kesini jadi ingat lagi kan. Duh, malunya. Mau ditaruh dimana muka ini?"
"Nggak perlu ditaruh dimana-mana. Tetap aja di situ. Kalau dipindahin, entar orang-orang malah takut ngirain kamu setan." Bisik Tirta tepat di samping telinga Ana membuat gadis itu terlonjak kaget. Entah sejak kapan Tirta tiba-tiba telah berada di sampingnya.
"Kamu ... "
Mata Ana melotot tajam, tapi justru dibalas Tirta dengan kerlingan mata menggoda dengan bibir sedikit dimaju-majukan membuat wajah gadis itu merah padam karena malu teringat lagi dengan kebodohannya di masa lalu.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1