
Selesai makan bakso, Ana pun segera melajukan motornya ke rumah nenek yang tengah tersesat itu. Ternyata jarak rumah sang nenek tidak begitu jauh jadi hanya dalam waktu 30 menit, motor Ana telah masuk ke sebuah pekarangan rumah yang tampak asri dan indah. Rumah yang berdiri di dalamnya juga tidak begitu besar, namun tetap terlihat megah karena penataan dan lokasi yang bagus.
"Benar ini rumah nenek?" tanya Ana memastikan sambil mematikan motornya.
Nenek pun mengangguk, "benar. Sebenarnya bukan rumah nenek, tapi putra dan menantu Nenek. Nenek juga cuma berlibur ke sini karena Nenek tinggal di kampung dengan putra Nenek yang lain," jelas Nenek. Bahkan terlalu jelas membuat Ana mengangguk-anggukan kepalanya.
Ana pun segera meminta Nenek turun dari motornya. Pekarangan rumah itu sepi, tak ada yang menjaga. Jadi mereka langsung saja menuju pintu depan rumah itu.
Baru saja Ana ingin mengetuk pintu, tapi Nenek justru langsung menerobos masuk ke dalam rumah.
"Spadaaaa ... yuhuuuu ... any body home? Helloooo ... kalian dimana???" pekik sang nenek membuat Ana nyaris menjatuhkan rahangnya melihat tingkah nenek yang benar-benar membuatnya speechless.
"Astaga, si nenek, dikiranya ini di luar negeri kali ya?" gumam Ana sambil tersenyum geli.
"Kamu bilang sesuatu?" tanya nenek saat menyadari Ana sepertinya menggumamkan sesuatu. Baru saja Ana ingin menyanggah dan menggelengkan kepalanya, Nenek sudah bersuara kembali, "oh, kamu pasti mencari cucu nenek yang tampan kan? Ah, sayangnya dia sedang bekerja. Coba dia ada di sini, pasti kamu akan langsung jatuh cinta. Hahaha ... " Ucap Nenek dengan percaya diri. Seolah begitu yakin Ana akan langsung jatuh cinta dengan cucunya pada pandangan pertama.
Ana menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Bu-bukan begitu ... " Belum sempat Ana menyelesaikan kalimatnya, sebuah mobil masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, dua orang turun dari dalam mobil sambil membawa barang-barang belanjaan mereka.
Salah seorang yang melihat nenek pun langsung berlarian menuju sang nenek.
"MAma, Masya Allah, alhamdulilah, ternyata mama udah pulang duluan. Riana pikir mama kemana. Riana khawatir tau nggak sih, Ma. Mama tiba-tiba aja ngilang, bikin Riana panik. Nyaris aja Riana jantungan gara-gara kehilangan Mama." Wanita paruh baya bernama Riana itupun tersedu sambil memeluk sang ibu mertua yang rasa ibu kandung sendiri. Meskipun ibu mertuanya kerap bertingkah aneh, tapi hatinya baik dan begitu penyayang.
Sang nenek tersenyum lebar kemudian menepuk-nepuk punggung Riana lembut dan penuh kasih sayang.
"Jadi kamu takut kehilangan nenek tua ini? bukannya nenek tua ini cerewet bin bawel. Banyak maunya dan nyebelin?" kelakar sang nenek.
Riana menyeka air matanya pun mengelap cairan yang mengalir dari kedua lubang hidungnya.
"Mama ih, Riana serius, malah di bercandain. Iya, mama emang cerewet, bawel, nyebelin, banyak maunya juga, tapi Riana kan sayang mama. Anggap aja cerewetnya mama itu vitamin supaya hidup Riana jadi lebih berwarna. Apalagi Riana belum punya cucu, jadi Riana nggak punya hiburan lain. Lain kalau udah punya cucu, mungkin Riana bakal lebih sibuk sama cucu Riana," ujar Riana bersungut-sungut.
Nenek pun tersenyum lebar, "kamu mau cucu?" Riana mengangguk cepat. "Nenek udah bawa calon mantu. Tuh ... " nenek menunjuk ke arah belakang, Riana pun menoleh dan membelalakkan matanya. "Kamu ... "
"Dia cantik kan! Dia pasti cocok sama Tirta," ujar Nenek bangga.
"Ibu ... " cicit Ana salah tingkah. Ia tak menyangka nenek yang ia temui di pinggir jalan merupakan nenek dari laki-laki yang kerap mengusiknya beberapa waktu ini.
"Kalian saling kenal?" tanya nenek Tirta tersebut.
"Kamu art Abi kan?"
"Iya, Bu."
"Oh, baguslah kalau kalian saling kenal jadi nenek nggak perlu repot-repot ngenalin kalian. Kamu tau, Ri, dia inilah yang menolong mama waktu mau nyeberang. Dia bela-belain nyeberang biar bisa bantu mama nyeberang. Terus Ana juga traktir mama bakso. Padahal Mama mau makan makanan Korea, tapi sayang, di sana nggak ada restoran Korea. Selesai makan bakso, Ana juga dengan baik hatinya anterin mama pulang. Ah, kurang baik apalagi. Udah cantik, baik, pokoknya mama suka. Mama mau Ana jadi cucu menantu mama. Titik." Ucap nenek Tirta panjang kali lebar membuat Ana menganga tak percaya dengan apa yang sang nenek ucapkan. Ia pikir si nenek hanya bercanda saja ingin menjodohkannya dengan cucunya yang ternyata adalah Tirta, sepupu majikannya. Tapi ternyata, apa yang ia ucapkan benar-benar ingin ia realisasikan.
'Bagaimana ini? Gimana kalau Bu Riana berpikir macam-macam tentangku? Ah, jangan sampai. Aku harus segera bicara pada Bu Riana.'
"Nenek nggak usah berlebihan. Aku hanya membantu sebagai rasa kemanusiaan aja. Kalau begitu, Ana pamit dulu ya, nek, bu. Mbak Freya pasti udah nungguin di rumah." Ucap Ana. Ya, semenjak tinggal di rumah baru Abidzar, Freya meminta Ana memanggilnya mbak saja, jangan nyonya. Ia tak suka panggilan seperti itu. Lagipula usia Ana terlihat sekali masih di bawah Freya, jadi Freya memanggilnya mbak saja agar lebih akrab.
"Eh, kok kamu buru-buru mau pulang sih? Saya kan belum terima kasih sama kamu. Makasih ya, nak udah bantu ibu mertua saya yang bawel ini." Ujar Riana sambil cekikikan. Ia melirik Nenek yang wajahnya sudah ditekuk sudah seperti kertas origami yang baru dibongkar.
"Iya, Bu, sama-sama. Cuma saya memang harus segera pulang, soalnya ... "
"Ri, kenapa nggak kamu telepon aja istri keponakan kamu itu, bilang kita mau pinjam Ana sebentar. Terus telepon Tirta supaya pulang."
__ADS_1
Makin terperangah lah Ana. Ia pikir setelah tahu status dirinya yang hanya seorang asisten rumah tangga, maka si nenek akan berubah bersikap biasa saja, tapi nyatanya, si nenek malah seperti tadi dan kini ingin mempertemukannya dengan Tirta.
"Astaghfirullah, Riana sampai lupa, Ma. Tadi Tirta bantuin nyari mama. Pasti dia panik banget belum ketemu mama sampai sekarang. Padahal yang dicari sedang sibuk mau jodohin dia. Hahaha ... " Riana tergelak. Ana benar-benar salut dengan keluarga itu. Mereka tidak merendahkan seseorang karena pekerjaannya. Bahkan mereka tampak biasa saja ingin mempertemukannya dengan Tirta yang mana sebenarnya bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dirinya, baik dari segi keluarga, pekerjaan, status. Meskipun ia pun dari keluarga yang cukup berada, tapi siapa yang tahu. Orang-orang tahunya dirinya adalah seorang asisten rumah tangga. Tapi sepertinya keluarga Tirta tidak mempermasalahkan dirinya sama sekali.
"Nek, maaf, tapi Aja harus segera pulang. Mbak Freya pasti sedang nungguin belanjaan Ana."
"Yah, jadi gimana dong? Kapan kamu punya waktu lagi buat kemari?"
Ana bingung. Mau kesana lagi? Buat apa?
"Tunggu sebentar lagi aja, ya, nak. Tunggu Tirta pulang, biar dia yang anterin."
"Tapi Bu, Ana kan bawa motor. Ana juga nggak mau merepotkan a' eh tuan Tirta maksudnya. Apalagi ini kan jam kerja." Tolak Ana secara halus.
Riana menaikkan sebelah alisnya saat mendengar bagaimana cara Ana mengucapkan nama putranya. Entah mengapa ia memiliki feeling kalau keduanya memiliki kedekatan yang tak biasa. Tapi Riana tidak mempermasalahkan itu. Ia justru senang. Dari caranya menolong sang ibu mertua tanpa diminta pun dapat ia simpulkan kalau Ana memiliki sifat yang baik. Ia tak peduli dengan status dan pekerjaan Ana, yang penting baginya ia perempuan baik-baik dan memang memiliki sifat yang baik. Itu saja sudah cukup.
"Ya udah kalau begitu, sekali lagi makasih ya, nak. Kapan-kapan kamu mau kan main ke sini. Tenang aja, nanti Tirta yang jemput, kamu mau kan?" tawar Riana.
Ana bingung harus menjawab apa. Tapi kemudian ia pun mengangguk. Iyakan saja supaya ia bisa lekas pulang, pikiranya.
Setelah itu, ia pun berpamitan dengan sang nenek dan Riana. Nenek memberengut masam saat melihat Ana pulang. Tapi ia bisa apa, ia tak bisa terus menahannya. Ingin rasanya sang nenek menahan Aja agar tetap berada di rumah itu. Kalau perlu segera melamarnya agar segera menjadi bagian dari keluarga mereka.
10 menit setelah kepergian Ana, mobil Tirta masuk ke dalam pekarangan rumah. Dengan nafas tersengal, ia berlarian masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri sang nenek.
"Nenek, nenek nggak papa kan? Nenek pulang sama siapa?" cecar Tirta sambil memegang kedua tangan sang nenek.
Nenek pun melepas salah satu genggaman tangan Tirta dan mengusap pipinya. Ia bahagia dikaruniai keluarga yang harmonis dan saling menyayangi seperti ini. Sungguh semua itu berhasil ia raih setelah menikah dengan mendiang kakek Tirta. Sebab masa kecil dulu begitu berat.
Sepeninggal sang ibu, ayahnya menikah lagi dan semenjak itu tak ada lagi yang namanya kebahagiaan. Ibu tirinya kejam dan sering semena-mena terhadapnya. Ia juga kerap main tangan dan memfitnahnya. Ayahnya lebih mempercayai ucapan ibu tirinya. Barulah setelah ia menikah, ia akhirnya bisa bebas dari kekejaman kedua ayah dan ibu tirinya.
"Nenek nggak papa. Sebab nenek ketemu seseorang yang dengan baik hatinya mau menolong Nenek m, mentraktir makan, dan mengantarkan nenek pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun," ucap Nenek membuat Tirta bernafas lega.
"Siapa gerangan orang itu, Nek? Kita berhutang budi padannya."
"Ya, kita memang berhutang budi padanya. Karena itu, rencananya nenek ingin membalas budi baiknya itu sesegera mungkin." Ucap nenek penuh arti. Ia melirik Raina-sang menantu. Ia pun tersenyum penuh arti sambil geleng-geleng kepala. Riana sudah tahu kemana arah pembicaraan sang ibu mertua.
'Mama benar-benar pandai memanfaatkan situasi,' monolog Riana dalam hati. Bukan setahun dua tahun ia mengenal sang ibu mertua, tapi bertahun-tahun jadi wajar ia bisa memahami jalan pikiran sang ibu mertua yang terkadang memang sedikit menggila.
"Tirta setuju. Sangat jarang ada orang yang seperti itu, mau membantu tanpa pamrih bahkan dengan totalitas seperti itu."
Nenek mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi kau setuju kita membalas budi baiknya pada nenek?"
"Tentu saja. Tirta pasti akan mendukung apapun rencana Nenek."
"Bagus, kau memang cucu Nenek yang baik dan bijak," puji Nenek sambil menepuk pundak Tirta.
Tirta tersenyum jumawa, "Tirta gitu lho."
Nenek lantas mengerlingkan sebelah matanya pada Raina yang dibalas senyuman lebarnya. Mertua dan menantu benar-benar setali tiga uang.
"Jadi ... Nenek ada rencana apa untuk membalas budi baik orang tersebut? Apakah Tirta harus menyiapkan bingkisan? Menyediakan uang? Atau memberinya hadiah spesial? Nenek bilang aja, biar Tirta siapkan." Ujar Tirta.
Nenek lantas tersenyum lebar, "ya, kau memang perlu menyiapkan bingkisan, tapi bingkisan itu berupa hantaran. Nanti mamamu yang akan membantumu menyiapkan apa saja yang kamu perlukan sebagai hantaran."
__ADS_1
Tirta seketika tertegun mendengarnya. Mengapa mereka harus menyediakan bingkisan hantaran? Seperti mau melamar seseorang saja. Memangnya siapa yang mau menikah? Aneh.
"Hantaran? Kok kita malah harus menyiapkan bingkisan hantaran, Nek? Udah kayak mau melamar anak gadis orang aja."
Tirta lantas terkekeh. Kemudian bi Onah datang seraya menghidangkan 3 cangkir teh untuk majikannya itu.Tyrta pun lantas mengangkat cangkir dan meminum tehnya dengan perlahan. Namun kata-kata yang neneknya ucapkan tiba-tiba membuat tenggorokannya menyempit. Alhasil, teh yang baru saja hendak ia telah justru keluar lagi. Ya, Tirta tersedak. Bagaimana tidak, ia dikejutkan dengan kalimat kalau dia akan melamar gadis yang menolong neneknya itu menjadi istrinya.
Istrinya?
Hello ... kenal aja nggak, tiba-tiba disuruh melamar. Tentu Tirta tak mau membeli kucing dalam karung. Hanya karena menolong, masa' harus membalasnya dengan cara melamarnya menjadi seorang istri. Big No!!!
"Ya, memang kita mau melamar gadis itu untuk dijadikan istri kamu. Kenapa? Kamu keberatan?" Mata nenek memicing tajam membuat Tirta menelan ludahnya.
"Nek, apa nggak ada cara lain? Masa' Tirta harus menikah sama orang yang tidak Tirta kenali sama sekali sih? Tirta nggak mau. Masih banyak cara lain untuk membalas budi, Nek. Tidak mesti dengan menikahi, bisa kan. Dikasi uang kek, dikasi perhiasan, kendaraan, atau apapun yang pantas, yang penting bukan menikah. Lagipula belum tentu dia benar-benar baik, Nek. Bisa saja dia memang sengaja membantu untuk mendapatkan imbalan yang lebih besar." Sergah Tirta kekeh tak terima permintaan neneknya itu.
Eh, bukan permintaan, tapi perintah. Ya, neneknya memerintahkankan dia untuk menikah dengan gadis yang telah menolongnya. Sungguh tak masuk akal.
"Kata siapa dia tak baik. Mama pun bisa melihat dia gadis yang baik dan Mama setuju dengan nenek kamu. Lagian kamu kelamaan menjomblo, entar lama-lama pusaka kamu karatan karena tidak pernah dipakai, baru tau rasa kamu," timpal Riana mendukung rencana sang mama mertua.
"Mama ... " rengek Tirta persis anak kecil. "Mama kok ikut-ikutan nenek sih. Mama kok bisa yakin banget dia baik, bagaimana kalau dia nipu? Mama mau menjerumuskan aku ke dalam pernikahan semu? Kalau Tirta nggak bahagia gimana? Mama tega sama Tirta? Lagian mama tenang aja, pusaka aku pusaka keramat, makin tambah umur, staminanya makin mantap, jadi nggak mungkin lah bisa karatan," Tirta tetap berusaha menggoyahkan rencana ibu dan neneknya.
Riana menggeleng tegas, "tega tak tega sih, Ta. Lagian dari mana kamu tahu pusaka kamu makin tua makin mantap, heh? Kamu pernah melakukannya sebelum menikah? Ayo, jujur sama mama? Kamu diam-diam udah melakukan sesuatu yang dilarang agama? Ayo jujur Tirta, jangan berusaha berbohong sama mama?" sentak Riana sambil menggebrak meja membuat Tirta sampai berjengit kaget.
Sang nenek pun sampai mengelus-elus dada karena terkejut. Untung saja jantungnya kuat, kalau tidak sudah ikutan lompat dari sarangnya sejak tadi.
"Ma, eling, Ma. Mama kalau marah serem juga," Tirta masih berusaha untuk bercanda agar sang Mama tidak marah-marah lagi.
"Mama tidak sedang bercanda, Tirta. Cepat jawab saja pertanyaan Mama tadi!" Ucap Riana masih dengan suara meninggi.
"Astaghfirullah, Ma, nggak. Sumpah, aku nggak pernah melakukannya sama orang lain. Beneran deh." Mata Riana masih memicing seolah belum percaya dengan ucapan Tirta. "Ya Allah Ma, nggak percayaan banget sama anak sendiri."
"Ya wajar dong mama nggak percaya, jadi dari mana kamu tahu kalau pusaka kamu makin tua makin mantap kalau nggak nyobain membajak sawah."
Tirta mendengkus, apa mesti ia berkata jujur kalau yang memerjakainya adalah tangannya sendiri? Tirta meringis dalam hati.
"Buat nyobain nggak mesti dengan membajak sawah, Ma. Solo karir kan bisa," jawab Tirta pelan dengan wajah melengos. Entah mama dan neneknya mendengar atau tidak. Justru ia lebih malu kalau mereka mendengar sih.
1 detik
2 detik
3 detik
Tawa nenek dan Riana pun pecah. Menertawakan Tirta yang telah menyerahkan keperjakaannya pada sang tangan.
"Hahaha ... Kasihan sekali cucu Nenek. Karena itu, Tirta, Nenek mau menjodohkan kamu sama penyelamat Nenek. Daripada main sama tangan kan mending main ke sawahnya beneran. Kamu pasti bakal ketagihan dan keenakan, percaya deh!" Ucap Sang Nenek entah serius atau mengejek, Tirta tak mengerti.
"Tapi Nek ... "
"Tak ada tapi-tapian, Tirta. Nenek kasi kamu waktu untuk berpikir. Nenek dan mama kamu nggak mungkin milihin kamu sembarangan perempuan untuk dijadikan calon istri, cam kan itu!" Tegas sang Nenek tanpa mau menceritakan kalau gadis pilihan mereka itu adalah Ana. Biarlah mereka rahasiakan dulu perihal itu. Biarlah Tirta menggalau terlebih dahulu. Ternyata menyenangkan juga melihat wajah nelangsa Tirta.
Setelah Tirta pergi untuk kembali ke kantor, Riana dan sang ibu mertua bertos ria. Mereka memang pasangan ibu mertua dan menantu yang cocok dan klop.
...***...
...HAPPY READING 😍😍😍...
__ADS_1